Koridor Opini

Puisi untuk Nenek

Dalam Doaku

(Oleh Dewi Meisari, terinspirasi oleh Puisi Sapardi Joko Damono)

 

Dalam doaku subuh ini

Kuangankan sendu matamu menjadi damai

Kubayangkan kaku bibirmu menjadi luwes tersenyum

Ketika matahari menyapa

Dalam doaku

Tak henti-henti kubisikkan angin agar menyejukkan jiwamu

Tak henti-henti kurayu awan agar teduhkan hatimu

Dalam doaku sore ini

Ku jelmakan gagak itu menjadi kenari

Ku jelmakan kicau seram itu menjadi alunan nada merdu, untukmu

Ketika matahari tenggelam

Kubayangkan lilin-lilin kecil hiasi malammu

Tenangkan pikiranmu lewat romansa sinar sayunya

Dalam doaku malam ini

Ku mogakan agar hanya mimpi indah yang temani tidurmu

Ku mogakan agar harmoni suara-suara alam hiasi masa menunggumu

 

Aku mencintaimu

Karenanya,

Takkan pernah selesai aku

Mendoakan kedamaian dan kebahagiaanmu

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Dear Pak Prabowo, Would you be our Hero?

image

Akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikan aspirasi politik saya untuk kedua kalinya. Kali ini berupa surat terbuka untuk Pak Prabowo. Curahan hati ini terpicu oleh wawancara Pak Prabowo di BBC News Impact 11 Juli 2014 (silakan saja nonton videonya di youtube). Mungkin karena itulah otak saya berpikir dalam bahasa inggris waktu itu. Jadi deh surat terbukanya dalam bahasa Inggris. Ini murni aspirasi pribadi. Saya tidak mengajak orang lain untuk berpandangan sama. Tapi saya juga akan menghargai jika pandangan saya ini dibiarkan, dan tidak perlu dicaci maki. Lakum dii nukum waliyadiin. Biarkan aku dengan keyakinanku, kamu dengan keyakinanku. Akan selalu ada jalan damai untuk mufakat: karena kita selalu bisa bersepakat untuk tidak bersepakat. Agree to disagree 🙂

Sekian prolognya, berikut curahan hati saya untuk Pak Prabowo.

Dear Pak Prabowo,

I was enchanted by your charisma, also by your high spirit and patriotic vision to work for a more prosperous Indonesia. I gave my vote for your party several times, but why do you now seem to be blinded by your ambition to be our president?  What in the world happened to you? Your coallition scares me. Your own quick counts bother me. Your inconsistent attitude on election result, disappoints me. You have massive wealth. You are actually the wealthiest presidential candidate. Why does it seem that to you there is only one way to bring indonesia to be more prosperous? Do you have to be our president first before you can make us prosperer and re-become the Macan Asia?

Well, do you know Bill Gates, Pak? He is not a president of any countries but his work and wealth have helped and stimulated a lot positive changes in the world. I hope you know him. I also hope that instead of aspiring to become our “Bung Karno”, you can eventually realize that it will be much more useful if you would become our “Bill Gates”.


Continue reading

Categories: Koridor Opini | Tags: , , , | 2 Comments

Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Halo pembaca salamduajari 🙂  pertama-tama mohon maaf karena saya belum bisa mendisiplinkan diri dalam mengunggah tulisan. Niat hati pengen rutin tiap senin dan jumat tapi kok belum jalan-jalan ya haha xD Mudah-mudahan kedepan bisa lebih disiplin. Adapun untuk kali ini, saya menemukan tulisan menarik dari Koran Tempo. Mengingat kemarin kita mengenang hari Sumpah  Pemuda, rasanya menyenangkan juga sesekali diakrabkan lagi dengan sejarah Bangsa. Nah, tulisan ini adalah karangan opini yang mengandung sejarah. Soal niat saya untuk mengunjungi Singapura setelah membaca artikel ini, jujur biasa saja, karena dari dulu tidak pernah gandrung ke sana. Saya juga belum pernah ke Singapura untuk tujuan murni jalan-jalan, baru pernah untuk urusan kunjungan kerja.  

Adapun niat berbagi artikel ini tidak lain tidak bukan adalah untuk berbagi wawasan. Wawasan saya bertambah setelah membaca artikel ini, semoga Anda juga. Demikian, salam cakrawala!

 

Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Ditulis oleh: Asvi Warman Adam,
Sejarawan LIPI

Singapura menjadi tempat pertemuan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dengan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Tubagus Chaeri Wardana, adik kandung Atut, untuk membicarakan soal pemilihan kepala daerah. Demikian disampaikan Pia Akbar Nasution, pengacara Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, kepada media pada 16 Oktober 2013. “Pertemuannya enggak lama kok, cuma 15 menit,” kata Pia. Pertemuan itu berlangsung di Hotel JW Marriot, yang berjarak hanya 500 meter dari RS Mount Elizabeth, tempat Ratu Atut menjalani cek kesehatan. Namun hal ini dibantah pengacara Akil ataupun juru bicara keluarga Atut.

Sebuah media nasional berhasil mencatat bahwa Akil dan Atut berangkat dengan pesawat yang sama, Singapore Airlines SQ 953, pada Sabtu, 21 September 2013. Akil lebih dulu melintas dalam pemeriksaan imigrasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta daripada Atut. Akil melintas pada pukul 05.08 WIB, sementara Atut pukul 06.50 WIB. Pesawat SQ 953 jenis Boeing 777-200 itu berangkat pukul 07.55 WIB. Tapi keduanya pulang pada hari yang berbeda. Akil pulang ke Indonesia pada Senin, 23 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 825. Sedangkan Atut baru pulang ke Indonesia pada Rabu, 25 September 2013, menggunakan pesawat SQ 966.

Dalam data yang sama pada saat Akil dan Atut pergi ke Singapura, Wawan juga berada di sana. Wawan berangkat lebih dulu dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 836, pada Jumat, 20 September 2013, pukul 19.00 WIB dan baru kembali ke Indonesia pada Selasa, 24 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 825.
Continue reading

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Esensi Hari Raya Kurban: Ikhlas

Besok adalah Hari Raya Idul Adha, atau yang sering juga yang kita sebut dengan Hari Raya Kurban. Dalam hidup saya, besok akan menjadi hari raya kurban saya yang ke-30. Banyak juga ya? Layaknya kondisi iman atau keyakinan yang turun naik sehingga perlu disegarkan saban hari dengan Sholat, saban tahun esensi hari raya kurban juga perlu disegarkan. Kalau tidak, hari raya ini hanya akan menjadi ritual badaniah yang saban tahun kita lakukan hanya dan hanya karena sudah menjadi tradisi. Saya tidak ingin itu terjadi setidaknya pada diri saya sendiri.

goatAdapun tulisan ini saya tulis dalam kondisi jiwa yang tidak tenang. Mengapa? Saya sedang bingung dengan diri saya sendiri, yaitu bingung karena saya sama sekali tidak lagi bisa merasakan indahnya syahdu takbir. Jujur, saya malah merasa kesal karena saya harus mendengarkan suara takbir anak-anak yang sumbang, namun dikumandangkan dengan  lantang melalui pengeras suara dari mesjid dekat tempat tinggal saya. Mungkin karena saya adalah tipe orang yang bisa menikmati indahnya zikir dalam keheningan. Keheningan membuat saya merasakan hubungan yang sangat intim dengan Tuhan, karena yang mengetahui dan merasakan, hanya saya dan Tuhan. Tidak perlu orang satu kampung tahu bahwa saya sedang berzikir. Pendeknya, saya tidak tenang karena semalaman saya harus mendengarkan takbir sumbang ini. Apakah artinya saya menjauh dari Tuhan? Masa’ saya tidak senang ketika mendengarkan namaNya dikumandangkan?

Pikiran pun berkecamuk. “Wi, dulu Nabi Ibrahim diuji keihlasannya dengan perintah untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail (walau kemudian dengan kuasaNya berubah menjadi domba yang sehat), masa lo dengerin takbir sumbang aja ga bisa ikhlas? Lagian kan esensi Idul Adha adalah napak tilas keikhlasan Nabi Ibrahim yang pada saat itu rela menyembelih anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Tuhan. Ikhlas wi, ikhlas! Santai dong jeng”, kira-kira seperti itulah ceramah dari, oleh, dan untuk saya sendiri di kepala. Continue reading

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Jakarta’s True Colors: My City, My Agony

Ini adalah sebuah tulisan lama yang drafting-nya sudah dimulai sejak Agustus 2008. Saya ga ngerti mengapa tulisan ini ga selesai-selesai. Ini awal tahun yang baru, mungkin ada baiknya memulai dengan menyelesaikan hal-hal yang belum terselesaikan. So, this is it.. the finally finished unfinished piece.

This slideshow requires JavaScript.

“Indonesia’s sprawling capital Jakarta is an urban planner’s nightmare. In just three generations its population has exploded from two to thirteen million people. At first glance, Jakarta’s wide boulevards, slick malls, and glass-sheated skyscrapers suggest order and prosperity. A few hours spent exploring the city, however, quickly undermines this impression. Traffic crawls. Exhaust fumes cover buildings with a layer of grime. The city’s sanitation system are inadequate. Its waterways are clogged with garbage and sewage.

There is no single, prominent slum area in Jakarta. Instead, the urban poor are scattered, living in hundreds of pockets of poverty throughout the city. One-quarter of Jakarta’s population live in kampungs, poorer neighborhoods that are often remnants of villages absorbed by the swelling metropolis. Another 5 percent are the slum dwellers found in ubiquitous illegal settlements that have formed under highway overpasses, near railway tracks, and along the edges of riverbanks and drainage canals. The Indonesian language has no precise word for these communities, whose inhabitants scratch out raw dwellings in the cracks of Jakarta’s public spaces.

Aside from routine evictions, fires, and cramped living quarters, slum dwellers must also contend with the threat of severe flooding, as two-fifth of Jakarta sits below sea level. Many of the poorest neighborhoods are located near the city’s trash-filled storm drains, and have little protection from the annual monsoons that send torrents of water into the city from the surrounding deforested hills. Two weeks after my stay in early 2007, all but one of the five homes pictured in this chapter were destroyed in one of Jakarta’s worst ever floods, displacing all the families in them. The one remaining home was demolished during an eviction six month later.”

Having read that article, the beat of my excited heart suddenly stopped. I was very excited to have the opportunity to study in Norway. I was also very excited to have a free chance to visit the Nobel Peace Center in Oslo, such a cozy place to learn. It is such a comprehensive, interactive, and absolutely representative place to perpetuate the history of the Nobel Prize and the story of all its laureates.  There was also an awesome photography exhibition with an advanced multimedia installation, screening a slideshow of pictures and the audio testimony of the people portrayed. It was an intriguing exhibition that induced me to come over and have a look. Unfortunately, this cool exhibition turned out to be the reason that ended all my excitement.

The article was taken from “The Place We Live”, by Jonas Bendiksen, a photography exhibition capturing slum life in four big cities of the world. Together with Caracas (Venezuela), Mumbai (India), and Nairobi (Kenya), Jakarta’s slums were represented in his photographs. The lady in the Nobel Peace Center said that his mission was to give some kind of a wake-up call for people in the developed world that in the same planet we live, there are still some areas with conditions far, far worse than in their countries. I think he did a very good job. I believe many people were inspired or awaken by his exhibition but to me it was far more than a wake-up call. It was like a slap in the face, no, worse, it was like a spit on the face as it slammed my dignity, especially among other international students from about 43 countries.

There was a moment that I felt angry, “why should they expose this ugly side as if there is no beautiful side of Indonesia??”, “why should this be the first impression my potential new friends will have of my country?? “. But then I told myself that I shouldn’t feel angry because everything in the slideshow revealed the true colors of Jakarta. So yes, I shouldn’t have felt angry, I should have probably just felt… sad? I actually didn’t know how I felt, it was like a mixture of many feelings, but I know for sure that I should be more aware that there are many of our brothers and sisters who live in the hard-paper house under the highways; some of them live very close to the railway, and some others live by the dirty river and use its water to wash, shower, and cook. How contrasted it was with what I saw in Norway, where the water quality was so good that the same water used for cooking and drinking was used to shower, and wash as well. This Norwegian photographer, Bendiksen, lived in the slums for about two weeks in each country, not only to take the pictures of them, but also to live the inhabitant’s life, the life in the slums. Have any of us done remotely the same thing to at least grasp the concept of real empathy?

Maybe some of us had done something, but probably couldn’t do anything more other than helping them to at least have a good meal for one day. Maybe there were some of us who could do more, but it still would not have been enough to solve the root of this big problem since there are only few people who care that much. Or maybe, we have too many “mind your own business” kinds of people. Maybe?

We almost always have incidences where concerts of international artists are sold-out in spite of how expensive they are. Many Jakarta citizens spend the average monthly labor wage over the course of one night. Some of them even have more than 10 cars in their garage, or probably have a mobile phone which costs almost as much as a brand new middle-class family car. Do they ever at least think about the human beings that live under the highway? Maybe yes. But maybe they end up with conclusions like, “that’s the result of your own laziness,” and that’s why they don’t do anything. And unfortunately, maybe the middle class put the blame on the rich as they believe that the rich are the ones who are really obliged to help the poor. Thus, as the final result, nobody is actually doing a significant thing to help the poor in a holistic way; that is by empowering them and enabling them to help themselves. All of us, together, never do anything significant to solve the problem. Instead we all contribute to the sin of making Jakarta as part of the top 4 city with the ‘grandest’ slums in the world. We, Indonesians, especially Jakarta citizens: the government, businessman, academics, students, and all other members of society, are contributing in the destruction of Indonesia’s image. In a place where many countries have names of their people written on the Nobel Laureates wall, we on the other hand have the portrait of our poor brothers and sisters living in the slum quarters to show to the world.

Sad? Angry? Disappointed? Ashamed? I felt all of that. What are the many fancy malls and classy skyscrapers for if we still have to see a large lot of slums stretching behind them? What kind of city view do we, the people of Jakarta, actually want or would love to see? Mr Governor, I would love to see a view of Jakarta that shows the warm face of togetherness. Do you think it is attainable or quite simply too naive? Hhmm… probably too naive. Okay then, I will just try to get used to Jakarta’s current bitchy face of to-get-theirs-ness. If a wise man said, “where there is a will, there is a way”, in this case it is probably more accurate to say, if you can’t get a villa on a hill, you can always live under the highway. Doesn’t that sound more realistic, Mr Governor?

(DM)

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Kereta Khusus Perempuan yang “Lebay”

Kereta-Khusus-Wanita-

Saya bukan pemakai rutin kereta commuter line, tapi termasuk yang cukup sering menggunakan moda transportasi tersebut, khususnya ketika jalur jalan raya Depok-Jakarta-Depok sedang dalam jam-jam macet. Walaupun ramai, kereta commuter tetap efektif dalam menghemat waktu perjalanan (namun tetap perlu digaris bawahi soal masalah ketidaktepatan jadual yang masih cukup sering terjadi sehingga waktu perjalanan memang lebih hemat, tapi waktu menunggu keretanya? Belum tentu lebih hemat).

Pada sabtu kemarin (15/12) saya memilih untuk menggunakan moda kereta commuter Tn. Abang, untuk menuju stasiun Karet (karena tujuan akhir saya adalah daerah Permata Hijau). Siang itu memang terjadi masalah, jadual sedang tidak dapat dideteksi. Jadi daripada tidak jelas saya menunggu sampai kapan, saya putuskan naik kereta apa saja yang penting menyelamatkan saya dari kemacetan di Lenteng Agung. Yang mengejutkan adalah, kereta Commuter yang akhirnya muncul adalah yang ke Kota dan merupakan Kereta Khusus Wanita. Saya baru tahu ternyata ada Kereta Khusus Wanita, jadi bukan hanya gerbong khusus saja, tapi seluruh keretanya khusus wanita!

Saya sendiri adalah seorang wanita tapi mengapa saya merasa terganggu dengan kebijakan penyediaan kereta khusus wanita tersebut. Mengapa?
1. Masyarakat menggunakan kereta dengan berbagai tujuan, ada yang memang ada keperluan pribadi sehingga berangkat solo seperti saya, ada juga yang bepergian untuk keperluan keluarga sehingga berangkat bersama-sama dengan suami, anak, atau anggota keluarga lainnya yang berjenis kelamin pria. Mengapa kalangan ini, yang mungkin tiba lebih dulu di stasiun kereta, jadi harus menunggu lebih lama dibanding kalangan yang mungkin baru datang tapi memang merupakan sekelompok wanita?

2. Pada hari itu jadual kereta sedang tidak jelas, jadi saya merasa ada ketidakadilan yang terjadi pada mereka-mereka yang menunggu bersama teman atau keluarga pria. Mereka harus menunggu kereta berikutnya yang tidak jelas kapan datangnya hanya karena mereka bersama laki-laki. Bukankah ini menjadi bentuk lain diskriminasi? Pada siang itu ada sepasang suami istri, dan 2 keluarga yang saya lihat sendiri dilarang masuk karena membawa anak laki-laki yang berusia lebih dari 5 tahun. “Tapi ini kan anak, mba”, rayu calon penumpang pada satpam wanita yang bertugas waktu itu. “Ga bisa bu, kecuali untuk anak-anak berusia 5 tahun ke bawah”. Walau setelah peristiwa itu saya dengar pengumuman di kereta bahwa yang diperbolehkan masuk adalah anak laki-laki berusia 3 tahun ke bawah. Entah yang mana yang benar.

3. Sebagai pendukung kampanye persamaan gender, saya merasa ada yang kebablasan dan salah arah disini. Yang diharapkan adalah persamaan hak atau ketersediaan akses bagi perempuan, bukan pengistimewaan bagi perempuan dengan pemberian hak atau akses berlebihan yang ujung-ujungnya melahirkan bentuk diskriminasi atau pembatasan hak bagi kaum laki-laki. Hal ini menjadi semacam usaha mewujudkan keadilan dengan menciptakan ketidakadilan baru. Hal inii kemudian juga berarti tujuan mewujudkan keadilan yang dicita-citakan menjadi tergagalkan dengan sendirinya. Saya sangat penasaran dengan latar belakang penerapan Kereta Khusus Wanita ini, karena berdasarkan logika sederhana, keputusan tersebut benar-benar tidak masuk akal.

Pendek kata, saya wanita, saya pendukung kampanye persamaan hak atau akses untuk wanita (gender equality), dan saya berpandangan bahwa penyediaan fasilitas Kereta Khusus Wanita tidak sejalan dengan visi persamaan gender tersebut, atau dengan bahasa kekinian adalah: “lebay”. Mengapa bukan gerbong khusus wanitanya saja yang ditambah? Dengan demikian, bukankah kalangan yang berangkat dengan kerabat atau keluarga tidak lagi harus menunggu lebih lama hanya karena mereka bersama laki-laki?

Ayolah, seorang wanita ga akan pernah bisa jadi seorang ibu tanpa laki-laki, dan laki-laki ga akan pernah bisa jadi bapak tanpa wanita. Wanita dan laki-laki adalah partner setara yang saling melengkapi. Jika perempuan harus terlalu diistimewakan dengan menghilangkan sebagian hak laki-laki, tentu ada yang salah sedang terjadi disini. (DM)

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Liberal Arts untuk Kualitas Demokrasi Indonesia

The School of Athens karya Raphael (1510–1511) yang menggambarkan sekolah dimana para filsuf yunani zaman dulu berkumpul dan berfilsafat

 

Iklim pendidikan di Indonesia adalah salah satu hal yang suka membuat risih sebelum tidur (not really). Dimana masih ada beberapa daerah di Indonesia yang memperbolehkan seorang guru memberi hukuman fisik jika salah satu siswanya menjawab pertanyaan dengan salah, dan dimana mempertanyakan sesuatu di kelas yang bertentangan dengan pengetahuan konvensional akan berujung pada pengucilan. Terkadang saya bertanya-tanya apakah pendidikan kita ini bertujuan untuk menghasilkan pemikir kritis dan kreatif, atau sekedar manusia patuh. Berpikir kritis berarti kita harus mengerti apa itu yang kita kritik: If we cannot control the criticism, control the information on which to base the criticism.

Dibawah ini adalah kolom opini mengenai hubungan liberal arts (rumpun ilmu yang menekankan analisis atas suatu fenomena dengan berbagai sudut pandang dan alur logika) dengan demokrasi: bahwa penyebab kebanyakan masalah di masyarakat bukanlah westernisasi atau globalisasi atau berbagai macam faktor lainnya yang bersifat eksternal, melainkan ketidaktahuan masyarakat akan peran masing-masing dan ketidakmampuan mereka dalam “menyaring” informasi. Pengetahuan dan kemampuan tersebut dipandang dapat diperoleh dari pendidikan liberal arts. Jika masyarakat Indonesia sudah mendapatkan ilmu ini, sudah terbiasa menyaring informasi, memperdebatkan suatu masalah sebelum menyetujui, tentunya dengan memasukkan segala pertimbangan termasuk nilai-nilai lokal yang diyakini, tentunya demokrasi di Indonesia akan lebih efektif dalam menghasilkan pemimpin terbaik untuk bangsa.

 

Seringkali dikatakan bahwa degradasi moral yang terlihat di masyarakat serta kekerasan yang terjadi di banyak SMA baru-baru ini merupakan hasil dari westernisasi dan sekulerisme. Namun bagi beberapa orang masalahnya bukanlah sekedar bentroknya nilai-nilai barat dan timur tetapi yang berakar pada perubahan dalam sistem pendidikan modern yang mempengaruhi seluruh dunia.

Dalam bukunya yang polemik Not For Profit: Why Democracy needs the Humanities, Martha C. Nussbaum menyatakan bahwa demokrasi dimana-mana sedang dilanda bahaya karena masyarakat semakin lama semakin dirampas akan pendidikan bersifat liberal arts yang sangat dibutuhkan agar demokrasi tersebut dapat berkembang. Continue reading

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Lebaran Haji, Pak Menteri, dan Doktrinasi

Tulisan ini sebenarnya sudah lama, tepatnya dari 27 November 2009,  tapi saya upload lagi karena sebentar lagi Hari Raya Kurban.

Tidak ada yang istimewa dengan hari ini. Rutinitas berjalan seperti biasa. Bangun pagi, sarapan pisang, bersih-bersih, jalan kaki ke kampus, lalu duduk di ruang belajar untuk membaca dan meringkas bersiap untuk menghadapi ujian. Hari ini sungguh normal, walau hati kecil sangat menyadari betapa istimewanya hari ini jika diri berada di tanah air. Gema takbir akan menguasai langit semalam, langkah-langkah kaki menuju masjid akan menjadi pemandangan pagi ini, dan kemesraan bersama keluarga dan tetangga akan menjadi nuansa indah hari ini. Hari ini adalah 10 Dzulhijjah 1430H, selamat Hari Raya Idul Adha untuk sahabat dan saudaraku semua 🙂

Di tengah kenormalan kegiatan dan keistimewaan makna hari, terdapat rasa ingin tahu yang lebih tinggi dari biasanya. Bagaimana aktivitas orang-orang di tanah air hari ini? Pejabat-pejabat dan artis-artis hari ini solat di mana? Siapa tau ada foto sapi-sapi kurban sumbangan pejabat atau selebriti? Biasalah, gelitik rasa ingin tahu rakyat biasa. Akhir cerita, gatal jemari pun berujung pada beberapa situs media ternama tanah air. Lantas diri ini pun mengetahui, oh, ternyata Pak SBY menyumbang sapi seberat 1.35 ton, oh ternyata salah satu sapi dari pejabat tinggi Polri berpenyakit, tak kalah, organisasi artis Parfi pun menyiapkan 4 sapi dan 8 kambing untuk dikurbankan hari ini. Semua berita tersebut menarik bibir dan meniupkan rasa senang di hati. Sampai terbaca satu berita tentang isi ceramah seorang menteri di Lapangan Kantor Gubernur Sumbar (judul artikel: Menkominfo: Bencana Berhubungan dengan Kerusakan Moral). Nah, artikel yang satu ini, mengganggu hati.

Inti dari ceramah Pak Menteri adalah bahwa banyaknya bencana di Indonesia berhubungan dengan degradasi moral yang merupakan bukti bahwa manusia sudah ingkar akan perintah Allah SWT. Selain itu, manusia sekarang hanya takut kepada manusia lainnya, ketimbang kepada Sang Pencipta. Pak menteri lantas mengungkap fakta soal kemaksiatan yang kian menjadi-jadi di Indonesia, seperti status Indonesia sebagai negara terkorup rangking satu se-Asia, dan peringkat tiga se-dunia, lalu fakta bahwa warga negara Indonesia sendiri sudah memproduksi sebanyak 500 jenis VCD porno. Pak Menteri juga menyinggung soal mafia peradilan. Lalu Pak Menteri menutup ceramahnya dengan doa yang indah, yaitu memohon agar negeri kita dijauhkan dari bencana dan dijadikan negeri yang damai dan tenteram (amiiiiiiin). Continue reading

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Kancah Sinetron Indonesia di Negeri Jiran: “Indonesia tu dah macam Hollywood Asia Tenggara, lah!”

Sebagai orang yang pernah mencetak dan menjual kaos ANTI SINETRON, harus saya akui bahwa kini saya tengah berpikir kembali mengenai sinetron yang sempat saya anggap tidak berkualitas dan kurang mendidik. Khususnya ketika saya berkunjung ke desa-desa dan mendengar ibu-ibu yang berjualan di pasar seru sekali mendiskusikan episode terakhir suatu sinetron, dan betapa gemasnya mereka bahwa suatu karakter di sinetron tersebut tidak mengambil keputusan seperti yang mereka harapkan. Kesedihan tokoh sinetron seakan menjadi bagian dari kesedihan mereka. Dalam hati saya, “urusan pendidikan anak mereka dipikirkan seserius itu juga, ga, ya?”.

Anyway, pada akhirnya pasarlah yang menentukan. Sinetron adalah produk yang laris manis, dan ternyata tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negeri jiran seperti Singapura. Wajarlah jika industri sinetron terus berkembang biak. Haruskah kita khawatir? Saya yakin tidak semua sinetron mengajarkan hal-hal buruk, ada dinamika dan cerita mengenai dilemma di dalamnya, mungkin masyarakat bisa mengambil hikmah dari cara tokoh-tokoh tersebut mengatasi dilemanya? Atau paling tidak, sinetron tersebut berhasil menghibur hati banyak  orang. Hal tersebut tentu cukup bearti dan patut dihargai. Lagipula, apa yang para kritikus tajam sinetron sudah lakukan untuk masyarakat? Memang menghibur itu jauh lebih mudah daripada menghibur sambil mendidik orang lain. Saya pikir, tantangan saat ini adalah untuk menghasilkan lebih banyak sinetron yang menghibur dan mendidik sekaligus, khususnya dalam membangun karakter bangsa. Indonesia sudah membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan. Bukankah sudah pernah ada “Si Doel Anak Sekolahan” , atau, “Para Pencari Tuhan”? Kita hanya perlu lebih kreatif lagi, ya ga sih?  Continue reading

Categories: Koridor Opini | 5 Comments

Human Touch dalam Sales Force Management: Sebuah Kearifan Lokal Indonesia

Disadari atau tidak budaya asli Indonesia sejatinya telah banyak berkontribusi dalam pembentukan karakter jati diri bangsa. Tidak perlu jauh-jauh dulu menganalisis pemikiran yang disumbangkan Miller-Heiman atau Zoltner-Sinha dalam menelaah perihal sales force management yang mencerahkan dunia marketing saat ini, dahulunya keteraturan yang terjadi di pasar-pasar pada zaman kolonial sudah menunjukkan bagaimana sebuah manajemen terhadap sales force secara tradisional diaplikasikan. Pada zaman penjajahan, misalnya, pasar-pasar yang beroperasi di Jakarta khususnya diatur berdasarkan hari. Tuan tanah pada masa itu diberi keleluasaan untuk membangun pasar dengan hari yang ditentukan. Dari sinilah muncul nama-nama pasar yang sekarang menjadi nama daerah seperti Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Minggu, dan sebagainya. Continue reading

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.