Koridor Inspirasi

Kunci sukses

Dari cukup banyaknya pengalaman hidup yang saya lewati, ada beberapa pertanyaan yang secara stabil menjadi trending topic dari dulu sampe sekarang. Salah satunya adalah, apa sih kunci sukses itu?

Saya berani bilang pertanyaan ini cukup retoris. Mengapa? Karena jawabannya dari dulu sampai sekarang sama aja. Ga jauh-jauh dari: tekad, disiplin, rajin belajar, pantang menyerah, dan doa. Kalau diperas lagi, semua kata-kata kunci sukses itu bisa menjadi dua kata saja, berdoa dan berusaha. Ya, seperti peribahasa Yunani dulu, ora et labora.

Tapi mengapa ya seakan-akan kita selalu butuh diyakinkan? Termasuk saya, pada saat berkesempatan diskusi dengan pelaku UKM yang omzetnya sudah menembus Rp 10 milyar/tahun, saya minta beliau untuk berbagi kunci kepada rekan-rekan pelaku usaha lain yang belum sesukses beliau. “Apa sih, Pak kunci suksesnya?”, tanya saya.

Lalu beliau menjawab singkat, dan jawabannya sama sekali tidak mengejutkan. Menurut beliau, kunci sukses adalah: nekad, tekad, pantang menyerah, dan doa. Posisi doa diletakkan paling akhir karena doa diposisikan sebagai “bumbu pelengkap”, agar apa yang diusahakan dapat berjalan dengan lancar.

Dalam hati saya tersenyum simpul, “bener juga bapak ini nyebut doa terakhir, biar gimana pun yang ga doa tapi usaha giat lebih banyak yang berhasil (sepertinya), daripada yang rajin berdoa tapi ga giat usaha”.

Categories: Koridor Inspirasi | Tags: | Leave a comment

Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang

Salamduajari.com, Depok (14/02) – Saya bahagia hari ini melihat statistik website blog ini, ternyata rata-rata kunjungan pada 3 bulan terakhir sudah berada di kisaran 50 – 80 orang per hari. Saya jadi semakin semangat untuk membagi berbagai tulisan yang menginspirasi, menambah pengetahuan, dan semoga (yang paling penting), terus membangkitkan semangat kita untuk berkarya lebih dan lebih lagi untuk diri kita sendiri, keluarga, masyarakat sekitar lingkungan hidup kita, sampai bangsa dan negara.
Hari ini saya mendapat hasil wawancara menarik, yang dibagi oleh kolega saya melalui milis dosen Ilmu Ekonomi di FEUI. Wawancara ini mengisahkan soal cara pemerintah dan kampus di Jepang memperlakukan tenaga pendidik alias dosennya. Selaku tenaga pendidik di Indonesia, saya tentu termasuk orang yang juga mengidamkan hal tersebut dapat terjadi di Indonesia. Mungkin tidak perlu semewah yang di Jepang ini. Kalau aspirasi saya pribadi adalah beban administrasi yang banyak untuk dosen, khususnya dalam mengakses berbagai dana hibah, baik untuk dana pengabdian masyarakat (community engagement), maupun penelitian. Kita tidak tahu seberapa nyaman atau tidak nyaman kondisi kita saat ini jika tidak ada pembanding, bukan?
Berikut adalah cerita pembanding dari Jepang, yang dilansir dari sini, mengenai bapak Dr.Andi Bangkit Setiawan. Ia mendapatkan gelar Doktor di usia 29 tahun dan sekarang menjadi  Designated Associate Professor di Graduate School of Education and Human Development Nagoya University, Jepang. Cerita ini mengilhami saya, semoga Anda juga 🙂 
Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang
 

 Bisa diceritakan sedikit tentang perjalanan akademik Mas Andy?

Saya dulu kuliah S1 di Program Studi Sastra Jepang Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) UI, masuk tahun 1999 melalui jalur PPKB (PMDK). Tahun 2002 saya alhamdulillah dapat beasiswa dari Toyota Foundation untuk belajar satu tahun di Nanzan University Nagoya Jepang hingga pertengahan 2003. Saat itulah saya kemudian belajar bidang yang saya tekuni saat ini yaitu Intellectual History terutama untuk Asia. Pada waktu akan pulang dari Nanzan University tahun 2003 itulah kemudian saya mencoba mencari jalan untuk bisa kuliah lagi di Jepang untuk memperdalam bidang tersebut, hingga akhirnya salah satu teman profesor saya ketika di Nanzan yang mengajar di Hiroshima University mengizinkan saya untuk belajar di tempatnya. Akhirnya saya pulang tahun 2003 itu dengan “saling janji” antara saya dengan seorang profesor di Hiroshima University (nama beliau Prof. Nakamura Shunsaku) itu untuk saling tukar kabar dan beliau akan mengirimi saya formulir untuk kuliah lagi di sana nanti kalau sudah lulus.

Berbekal janji itu, saya segera selesaikan skripsi yang sebenarnya sudah saya pesiapkan selama ada di Nanzan Univ. Alhamdulillah, tahun 2004 bulan januari saya bisa lulus dan segera memberi kabar ke Prof Nakamura bahwa saya sudah lulus. Bulan Februari di tahun 2004 itulah datang formulir2 yang harus sy isi dan ternyata di dalamnya ada pula formulir untuk pengajuan beasiswa Monbusho melalui jalur U to U. Akhirnya, semuanya lancar, alhamdulillah, dan bulan oktober 2004 saya berangkat lagi ke Jepang untuk ikut ujian masuk program master di Hiroshima University. Kebetulan lab Prof Nakamura (yang meski beliau bidangnya Intellectual History) berada di Graduate School of Education di klaster kajian budaya, sehingga untuk ujian masuk saya harus belajar pula 3 bidang ilmu yang akan diujian baik tertulis maupun wawancara yaitu: Ilmu Pendidikan, Ilmu Budaya dan Susastra serta Ilmu Linguistik. Alhamdulillah, bisa lolos dengan nilai yang cukup memuaskan dan saya mulai masuk program master di situ tahun 2005 bulan April.

Pada akhir tahun 2006, di mana program master saya hampir selesai dan tesis saya pun sudah final, Prof Nakamura kemudian menawarkan untuk melanjutkan studi saja menuju jenjang Doktoral. Saya sempat ragu karena saya sendiri belum punya posisi di Indonesia (meskipun ada beberapa pihak kampus dulu di UI yang men”janji”kan akan merekrut saya bila sudah pulang nanti) tetapi karena besarnya keinginan saya untuk tetap belajar dulu sampai selesai akhirnya saya terima tawaran tersebut dan lanjut masuk program doktor mulai 2007 dan selesai tahun 2010. Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | 2 Comments

Dari Office Boy Outsourcing hingga Jadi Mahasiswa FEUI

Hidup itu memang tak pernah datar..  Atau sama saja hidup tak selamanya mulus.

Ya, mungkin hal itulah yang menggambarkan hidupku (dan pastinya hidup setiap orang). Kadang kita menggelinjang kesakitan kala badai kehidupan menerjang, tidak taunya kita terbawa olehnya sampai ke tempat yang baik untuk kemudian bersyukur.

Aku dulu hanya seorang murid SMK, disebuah SMK yang belum faforit bernama SMK PGRI 1 Sentolo jika dibandingkan SMK berlabel “negeri” di Kulon Progo. SMK yang tak terlalu besar namun kekeluargaannya begitu kental. Bahkan aku yakin guru-gurunya juga berkwalitas dan sabar.

Aku banyak bermimpi di sana, dan mimpiku yang paling besar adalah melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi paling faforit di negeri ini. Bukan, aku bukan hanya hendak mengejar gengsi. Hatiku selalu berdesis ketika berita tentang ekonomi dan berbagai macam percakapan strategi bisnis serta finansial masuk di telingaku. Jadi aku yakin sekali bahwa itu adalah suara passion-ku.

Di SMK aku mengikuti beberapa lomba. Satu hal yang lucu adalah selain aku mengikutinya untuk menguji kemampuanku, aku mengikutinya juga karena aku butuh uang hadiahnya ntuk membiayai sekolahku. Ya, orang tuaku sudah tak sanggup membiayai sekolahku. Aku beruntung bisa sekolah dari hasil lomba itu. Lombanya beragam, mulai dari kompetisi ekonomi, riset, tangkas trampil perkoprasian sampai lomba artikel FEKSI. Alhamdulillah banyak yang aku menangkan dengan keterbatasan sarana dan kecerdasanku dibanding mereka yang berasal dari kota. Hinga akhirnya aku lulus SMK pada 2012.

Impian kuliah di fakultas ekonomi terbaik di negeri ini sudah seperti di depanku kala itu. Namun semuanya ternayata sirna. Aku gagal masuk UI-UGM lewat jalur undangan, gagal amsuk UGM lewat SNMPTN Tulis dan kembali gagal dalam Seleksi Masuk UI (SIMAK-UI) tahun 2012. Hatiku benar-benar hancur kala itu.

Sebulan aku mengaggur dan kemudian mencari kerja. Berbekal info dari twitter aku menuju ke walk in interview rekrutmen pegawai hotel Tentrem. Aku tak tahu apa-apa soal sistem kerja Outsourcing kala itu. Karena hanya berbekal ijazah SMK yang bukan SMK Perhotelan aku rasional mendaftar sebagai Housekeeping. Setelah melewati berbagai interview aku akhirnya diterima dan baru tahu bahwa hotel Tentrem baru akan buka pada awal tahun. Karenanya, penempatan pertamaku pada 6 September 2012 adalah sebagai Office Boy di kantor Pre-Openingnya, Office Boy Outsourcing. Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Menjadi Bagian dari “Lipatan” Keluarga Besar Sabang Merauke

Merantaulah…

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena dia tertahan.

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ‘kan keruh menggenang.

Singa takkan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur takkan kena sasaran.

~ Imam Syafi’i ~ 

NAD versi Taman Mini :)

NAD versi Taman Mini 🙂

Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali)

Saya mengenal program ini dari sebuah pesan di milis penerima beasiswa Goodwill, entah kenapa saat itu juga langsung “klik” dengan program itu, langsung download form pendaftaran FSM (Famili Sabang Merauke) mengisi dan mengirim kembali sebelum ijin suami (karena yakin suami tercinta pasti setuju  ). Setelah beres semua urusan pendaftaran baru ijin suami dan didukung dengan penuh cinta, terima kasih suami

Kurang lebih 2 minggu saya dihubungi via email bahwa tim Sabang Merauke akan datang ek rumah untuk diskusi sekaligus interview “kepantasan” kami menjadi FSM. Setelah disepakati hari pertemuannya, Kak Dhani sebagai perwakilan SM (Sabang Merauke) datang dan ngobroool panjang lebar tentang aktifitas kami sehari-hari, kebiasaan yang kami lakukan, kemauan kami menerima keberagaman dari calon ASM (Anak Saang Merauke) yang akan datang.

Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Membangun bangsa itu tugas siapa sebenarnya?

Selamat pagi pembaca!

Setelah cukup lama absen akhirnya saya menulis lagi.. Ada yang menarik yang saya dapat dari suatu milis yang saya ikuti. Setelah saya cari-cari, sepertinya kutipan ini tergolong anonim karena tersebar di mana-mana, termasuk di website http://www.columbia.edu (Columbia University di New York). Saya terinspirasi dengan kutipan ini, dan kutipan ini ada kaitannya dengan kutipan dari Einstein yang sempat dimuat di salamduajari dulu, karena intinya, Einstein berpendapat bahwa dunia ini bisa menjadi tempat yang berbahaya bukan karena orang-orang jahat, melainkan karena orang-orang yang tidak berbuat apa-apa atas kejahatan itu. Kurang lebih kutipan ini memberikan pesan yang sama. Silakan membaca, dan semoga membuat kita tambah semangat untuk ambil peran dalam proses pembangunan bangsa. Kalau saya pribadi melalui lembaga UKM Center FEUI, cukup aktif mendorong semangat kewirausahaan di kalangan anak muda, agar semakin banyak yang menciptakan lapangan kerja, sehingga pencari kerja yang sudah hampir pasti akan tambah banyak, dapat diimbangi dan perekonomian dapat berjalan dan berkembang dengan lebih seimbang. Semoga. Setidaknya kita melakukan sesuatu 🙂  Salam  damai selalu…

WHOSE JOB IS IT?

This is a story about four people named: everybody, somebody,anybody and nobody.
There was an important job to be done, and
Everybody was sure somebody would do it.
Anybody could have done it, but nobody did it 
Somebody got angry about that, because it was everybody’ s job.
Everybody thought anybody could do it but,
Nobody realized that everybody wouldn’t do it

It ended up that everybody blamed somebody 

when Nobody did what anybody could have done

ketika hal buruk terjadi.. "bukan gw yang salah, kok!", jawab ketiga penguin.. LAH IKI PIYE TOH??! xD

“bukan gw bukan gw, sumpah bukan gw!”

Intinya, kalau kita sayang dan perhatian sama anak cucu, pasti kita ingin berusaha agar bisa mewariskan dunia yang baik untuk mereka kelak. Setiap perbuatan baik kecil pasti berarti, lagi pula, sampai kapan kita mau saling menyalahkan? (DM)

Categories: Koridor Inspirasi | 1 Comment

Memenuhi Panggilan Anies Baswedan untuk Program Kelas Inspirasi

kelas inspirasi

sumber foto: http://www.kelasinpirasi.org
PS: dari foto ini terlihat bahwa salam dua jari masih kalah ngetop dibandingkan salam metal haha xD

Salamduajari senang sekali bisa turut berpartisipasi dalam memenuhi panggilan Anies Baswedan untuk Program Kelas Inspirasi. Memangnya apa sih Program Kelas Inspirasi itu? Ya, Program Kelas Inspirasi adalah program panggilan kepada kaum profesional untuk secara serentak mengambil cuti 1 hari pada 20 Februari 2013, yaitu hari ini, di Jakarta, Bandung, Jogjakarya, Pekanbaru, Solo, dan Surabaya. Di hari itu, para profesional akan memberikan inspirasi kepada anak-anak SD di kota-kota tersebut seputar profesi mereka dan mengapa mereka memilih profesi itu, dalam rangka menumbuhkan mimpi dan menanamkan semangat kejujuran, kerja keras, dan kemandirian pada anak-anak Indonesia, para calon pemimpin bangsa.

Adapun program ini dikemas 100% bersifat sukarela di mana profesional yang turut berpartisipasi tidak dibayar sama sekali, malah mengeluarkan biaya. Seperti saya paling tidak keluar biaya untuk transportasi ke Jakarta – Bandung – Jakarta, dan tentunya biaya penginapan juga. Tapi entah mengapa, kok gapapa ya? Kok malah seneng ya bisa ikut berpartisipasi ke dalam program ini? Melalui program ini memang Pak Anies  “memanggil” rasa cinta terhadap tanah air kepada generasi pembaharu bangsa. Ada 7 sikap yang harus dimiliki oleh para relawan program ini, yaitu: sukarela, bebas kepentingan, tanpa biaya, siap belajar, turun tangan langsung, siap silaturahmi, dan terakhir, tulus. Kata terakhir ini yang paling mengena di saya. Setelah berinteraksi dengan teman-teman relawan lain yang hebat-hebat dan berasal dari berbagai profesi, dari akademisi sampai pencipta lagu, didapati bahwa kami semua hadir disini karena satu alasan yang sama: cinta tanah air. Kami semua peduli dengan arah nasib bangsa, kami semua rela meluangkan waktu, uang, tenaga, dan pikiran untuk menumbuhkan cita-cita dan menanamkan semangat untuk para calon pemimpin bangsa di masa depan. Semua serius memikirkan struktur dan metode pengajarannya, walau semua sadar betul mereka tidak akan dibayar sepeser pun. Saya bahagia sekali, karena dari pengalaman ini saya disadarkan kembali, bahwa cinta itu bukan suatu konsep yang naif, cinta itu nyata, cinta itu sumber dari segala sumber kekuatan dalam menghasilkan suatu karya nyata.

Ibu Nining Soesilo pernah menyampaikan suatu kisah nasihat kepada saya. Kira-kira seperti ini: “gunung-gunung tinggi dapat diratakan oleh traktor-traktor besar yang terbuat dari besi dan baja; besi dan baja itu bisa dimuaikan oleh api; api itu bisa dipadamkan oleh air; dan air itu dapat diporakporandakan oleh angin. Sesuatu yang wujudnya tak terlihat itu, justru adalah zat yang paling kuat. Itulah metafora sederhana untuk menggambarkan Tuhan. Ia tak dapat terlihat tapi keberadaannya sungguh sangat terasa.” Saya pikir, begitu pula dengan inspirasi, di mana inspirasi berada? Seperti apa rupanya? Tak ada yang tahu. Yang kita tahu, ketika inspirasi datang, proses berkarya kita menjadi lebih lancar. Tuhan memang bekerja dengan cara yang misterius. Cara Beliau memberikan petunjuk pun dengan cara yang seringkali tak berwujud nyata, namun saya yakin, salah satu cara Beliau adalah melalui inspirasi itu. Tak terlihat, namun terasa sekali keberadaan dan manfaatnya. Sama seperti Dirinya, ya? Tak terlihat, namun sangat terasa jelas keberadaannya. Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

10 Questions for the Dalai Lama: Wawancara Majalah Time

Time Magazine interviewed His Holiness in New York City in May of 2010 for its “10 Questions to His Holiness the Dalai Lama”.

Question: Do you ever feel angry or outraged? —Kantesh Guttal, PUNE, INDIA

His Holiness: Oh, yes, of course. I’m a human being. Generally speaking, if a human being never shows anger, then I think something’s wrong. He’s not right in the brain. [Laughs.]

Question: How do you stay so optimistic and faithful when there is so much hate in the world? —Joana Cotar, FRANKFURT

His Holiness: I always look at any event from a wider angle. There’s always some problem, some killing, some murder or terrorist act or scandal everywhere, every day. But if you think the whole world is like that, you’re wrong. Out of 6 billion humans, the troublemakers are just a handful.

Question: How has the role set out for you changed since you first came to be the Dalai Lama? —Andy Thomas, CARMARTHEN, WALES

His Holiness: I became the Dalai Lama not on a volunteer basis. Whether I was willing or not, I [had to study] Buddhist philosophy like an ordinary monk student in these big monastic institutions. Eventually I realized I have a responsibility. Sometimes it is difficult, but where there is some challenge, that is also truly an opportunity to serve more.

Question: Do you see any possibility of reconciliation with the Chinese government in your lifetime? —Joseph K.H. Cheng, MELBOURNE

His Holiness: Yes, there is a possibility. But I think past experience shows it is not easy. Many of these hard-liners, their outlook is very narrow and shortsighted. They are not looking at it in a holistic way. However, within the People’s Republic of China, there is wider contact with the outside world. There are more and more voices of discontentment among the people, particularly among the intellectuals. Things will change — that’s bound to happen.

Question: How can we teach our children not to be angry? —Robyn Rice, GRAND JUNCTION, COLO.

His Holiness: Children always look to their parents. Parents should be more calm. You can teach children that you face a lot of problems but you must react to those problems with a calm mind and reason. I have always had this view about the modern education system: we pay attention to brain development, but the development of warmheartedness we take for granted.

Question: Have you ever thought about being a normal person instead of being the Dalai Lama? —Grego Franco, MANILA

His Holiness: Yes, at a young age. Sometimes I felt, “Oh, this is a burden. I wish I was an unknown Tibetan. Then I’d have more freedom.” But then later I realized that my position was something useful to others. Nowadays I feel happy that I’m Dalai Lama. At the same time, I never feel that I’m some special person. Same — we are all the same.

Question: Do you miss Tibet? —Pamela Delgado Córdoba, AGUASCALIENTES, MEXICO

His Holiness: Yes. Tibetan culture is not only ancient but relevant to today’s world. After seeing the problems of violence, we realize that Tibetan culture is one of compassion and nonviolence. There is also the climate. In India during monsoon season, it is too wet. Then, I very much miss [ Tibet].

Question: What do you say to people who use religion as a pretext to violence or killing? —Arnie Domingo,QUEZON CITY, PHILIPPINES

His Holiness: There are innocent, faithful people that are manipulated by some other people whose interest is different. Their interest is not religion but power or sometimes money. They manipulate religious faith. In such cases, we must make a distinction: these [bad things] are not caused by religion.

Question: Have you ever tried on a pair of trousers? —Ju Huang, STAMFORD, CONN.

His Holiness: When it’s very, very cold. And particularly in 1959, when I escaped, I wore trousers, like laypeople dressed. So I have experience.

Question: Do you believe your time here on earth has been a success? —Les Lucas, KELOWNA, B.C.

His Holiness: Hmmm. That’s relative. It’s so difficult to say. All human life is some part failure and some part achievement.

 

Sumber:

http://www.dalailama.com/messages/transcripts/10-questions-time-magazine

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Selamat Beristirahat Russell Means, Tokoh Pejuang Suku Asli Amerika

Foto diambil oleh Robert L. Jones ©2000
Jones mewawancarai Russell Means untuk websitenya.

Menurut laporan salah seorang perwakilan dari Oglala Lakota Sioux, Russell Means, aktivis suku asli Amerika, meninggal pada hari Senin akibat kanker tenggorokan.

Means telah memimpin pemberontakan yang berlangsung selama 71 hari di tanah suci Wounded Knee, South Dakota pada tahun 1973.

“Means telah mengabdikan hidupnya untuk memberantas rasisme, sebagai hasilnya beliau telah meninggalkan warisan sebagai ketua suku Indian yang paling revolusioner selama akhir abad ke-20,” tertulis demikian dalam situsnya. “Russell Means, seorang visioner yang patut dikagumi, hingga kini masih dianggap sebagai salah satu suara paling menggugah diseluruh AS. Baik ketika beliau memimpin sebuah demo, memperjuangkan hak-hak konstitusional, membintangi film, atau ketika tengah menyelenggarakan music rap-ajo, pesan yang dikirim selalu konsisten dengan pandangan hidup beliau.”

Website Russell Means dapat dikunjungi disini.

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Mungkin bersedih itu perlu: Selamat Jalan Ogie

Beberapa hari lalu seorang mahasiswa memberi tahu saya soal kisah seorang mahasiswa UI jurusan arsitektur angkatan 2011 dalam melawan kankernya, yang bernama panggilan Ogie. “Ibu tolong bantu sebarkan info ini ya, Bu”, imbuhnya melalu twitter sembari juga ia menyertakan link ke sebuah blog yang secara lengkap menjelaskan kisah perjuangan Ogie. Saya kenal cukup dekat dengan mahasiswa itu, sehingga saya sempatkan membaca link yang ia kirimkan. Disitulah awal cerita saya mengetahui sosok bernama Ogie, yang sejak SMU harus berjuang melawan kanker tulang ganas. Satu serangan selesai, muncul serangan baru. Seperti tiada hentinya. Saya saja yang hanya membaca kisahnya melalui blog itu merasa lelah. Ya Tuhan, mengapa tak kunjung Kau ringankan beban untuknya, bisik saya di dalam hati.

Tapi syukurnya, walau merasa sedikit sesak, saya berhasil menyelesaikan kisah perjuangan Ogie pada link blog tersebut. Ada dua hal yang membuat saya salut dari kisah perjuangan Ogie:
1. Semangat hidup dan sikap positif Ogie dalam menghadapi penyakit ganasnya, sungguh luar biasa
2. Rasa kesetiakawanan sahabatnya yang begitu indah. Sampai-sampai mereka melakukan aksi untuk mengumpulkan dana untuk pengobatan Ogie dengan menuliskan runutan kisah perjuangannya dengan cukup komprehensif.

Kisah perjuangan Ogie dan sahabatnya membuat saya teringat kembali dengan kisah dalam lagu Blackbird (karangan Paul McCartney) yang menginspirasi saya, yaitu kisah tentang burung-burung hitam bersayap patah yang tiada henti rindukan terbang. Orang-orang yang konon katanya rasional atau berpikiran waras kemungkinan besar melihat harapan itu tidak masuk akal. “Sudah tahu kondisi sayap patah, masih saja berangan-angan untuk bisa terbang?? Mimpi kali yeeee?”, mungkin itu kebanyakan respon yang akan didapat. Begitu pula dengan kisah Ogie, kemungkinan besar orang-orang “logis” tidak akan berpikir untuk ikut ujian masuk UI ditengah kondisi kesehatan yang masih rentan; atau mungkin sudah akan patah harapan sejak dokter di Cina menyebutkan potensi keberhasilan teknik pengobatan yang ia tawarkan untuk Ogie hanya 50:50, sehingga berpikir bahwa hal yang paling logis untuk dilakukan adalah menyiapkan mental untuk menghadapi kematian saja.

Namun tidak demikian ceritanya pada Ogie. Seperti blackbird yang selalu belajar terbang, ditengah ketidaktahuannya tentang apakah suatu saat dia akan benar-benar bisa terbang, Ogie bersama keluarga dan sahabatnya terus berjuang ditengah ketidaktahuan mereka akan peluang didapatkannya kesembuhan. Seperti blackbird yang harus mengakhiri masa hidupnya dalam kondisi masih belajar dan memperjuangkan dirinya untuk bisa terbang, Ogie juga harus pergi dalam kondisi masih berjuang melawan kanker yang ganas. Seperti blackbird pula, Ogie berjuang sampai nafas terakhir bukan untuk mendapatkan kesembuhan, melainkan semata-mata karena Ia ingin berjuang. Kalau pun harus kalah, tentu ia akan kalah dengan puas. Ya, puas, karena ia tahu ia telah kerahkan segalanya, karena ia tahu bahwa perasaan menang tidak perlu selalu berasal dari kemenangan, tapi dapat juga berasal dari keberanian untuk terus berjuang sekuat tenaga walau tahu akan berhadapan dengan kekalahan.

Blackbird singing in the dead of night, take this broken wings and learn to fly.. All your life. You were only waiting for this moment to arise. Blackbird fly, blackbird fly, into the light of a dark black night. Sulitnya mendapatkan kesembuhan mungkin sesulit menemukan secercah cahaya ditengah gelap malam yang hitam. Namun Ogie tetap saja berjuang. Seperti blackbird, kisah Ogie adalah adalah kisah setulus-tulusnya perjuangan, yaitu suatu proses perjuangan yang fokus untuk melakukan yang terbaik, bukan untuk mendapatkan yang terbaik. Sungguh langka, sungguh hebat. Blackbird fly, blackbird fly, into the light of a dark black night.

Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | 2 Comments

Niluh Djelantik: Cita-cita, Cinta, dan Sepatu

Bersantai di rumah pada malam sabtu memang nikmat, khususnya karena ada salah satu acara  TV favorit yang sering memberi saya informasi dan inspirasi baru. Untuk malam ini, sosok inspiratif yang diperkenalkan adalah Niluh Djelantik, seorang wanita wirausaha yang dari aura wajahnya, terasa sekali bahwa beliau ini merupakan pribadi yang bekerja dengan cinta. Tak heran produk yang dihasilkan pun (baca: sepatu wanita), dicintai.
Sebagai seorang anak yang hampir selalu dibelikan sepatu baru dengan dua ukuran lebih besar, cita-cita Niluh kecil adalah sangat sederhana. “bu, suatu saat nanti aku ingin membeli sepatu baru dengan ukuran yang pas”, ucapnya kepada ibunya. Hal itu pun tercapai ketika ia sudah mulai bekerja. Sepatu pertama yang berukuran pas dan dibeli sendiri pada tahun 1995 itu berbanderol harga Rp 15,000. Pas ukurannya, tapi masih  kurang nyaman dipakai katanya. Sejalan dengan peningkatan karirnya sebagai pemasar profesional dan sering safari ke luar negeri untuk menjalankan tugas, Niluh menjadi semakin mampu memanjakan kakinya, agar tampil penuh gaya dan tetap, nyaman. Sepatu pun, menjadi salah satu bagian utama dalam hidupnya. Continue reading
Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.