Warung Prosa

Puisi untuk Nenek

Dalam Doaku

(Oleh Dewi Meisari, terinspirasi oleh Puisi Sapardi Joko Damono)

 

Dalam doaku subuh ini

Kuangankan sendu matamu menjadi damai

Kubayangkan kaku bibirmu menjadi luwes tersenyum

Ketika matahari menyapa

Dalam doaku

Tak henti-henti kubisikkan angin agar menyejukkan jiwamu

Tak henti-henti kurayu awan agar teduhkan hatimu

Dalam doaku sore ini

Ku jelmakan gagak itu menjadi kenari

Ku jelmakan kicau seram itu menjadi alunan nada merdu, untukmu

Ketika matahari tenggelam

Kubayangkan lilin-lilin kecil hiasi malammu

Tenangkan pikiranmu lewat romansa sinar sayunya

Dalam doaku malam ini

Ku mogakan agar hanya mimpi indah yang temani tidurmu

Ku mogakan agar harmoni suara-suara alam hiasi masa menunggumu

 

Aku mencintaimu

Karenanya,

Takkan pernah selesai aku

Mendoakan kedamaian dan kebahagiaanmu

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Dear Pak Prabowo, Would you be our Hero?

image

Akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikan aspirasi politik saya untuk kedua kalinya. Kali ini berupa surat terbuka untuk Pak Prabowo. Curahan hati ini terpicu oleh wawancara Pak Prabowo di BBC News Impact 11 Juli 2014 (silakan saja nonton videonya di youtube). Mungkin karena itulah otak saya berpikir dalam bahasa inggris waktu itu. Jadi deh surat terbukanya dalam bahasa Inggris. Ini murni aspirasi pribadi. Saya tidak mengajak orang lain untuk berpandangan sama. Tapi saya juga akan menghargai jika pandangan saya ini dibiarkan, dan tidak perlu dicaci maki. Lakum dii nukum waliyadiin. Biarkan aku dengan keyakinanku, kamu dengan keyakinanku. Akan selalu ada jalan damai untuk mufakat: karena kita selalu bisa bersepakat untuk tidak bersepakat. Agree to disagree šŸ™‚

Sekian prolognya, berikut curahan hati saya untuk Pak Prabowo.

Dear Pak Prabowo,

I was enchanted by your charisma, also by your high spirit and patriotic vision to work for a more prosperous Indonesia. I gave my vote for your party several times, but why do you now seem to be blinded by your ambition to be our president?  What in the world happened to you? Your coallition scares me. Your own quick counts bother me. Your inconsistent attitude on election result, disappoints me. You have massive wealth. You are actually the wealthiest presidential candidate. Why does it seem that to you there is only one way to bring indonesia to be more prosperous? Do you have to be our president first before you can make us prosperer and re-become the Macan Asia?

Well, do you know Bill Gates, Pak? He is not a president of any countries but his work and wealth have helped and stimulated a lot positive changes in the world. I hope you know him. I also hope that instead of aspiring to become our “Bung Karno”, you can eventually realize that it will be much more useful if you would become our “Bill Gates”.


Continue reading

Categories: Koridor Opini | Tags: , , , | 2 Comments

Kunci sukses

Dari cukup banyaknya pengalaman hidup yang saya lewati, ada beberapa pertanyaan yang secara stabil menjadi trending topic dari dulu sampe sekarang. Salah satunya adalah, apa sih kunci sukses itu?

Saya berani bilang pertanyaan ini cukup retoris. Mengapa? Karena jawabannya dari dulu sampai sekarang sama aja. Ga jauh-jauh dari: tekad, disiplin, rajin belajar, pantang menyerah, dan doa. Kalau diperas lagi, semua kata-kata kunci sukses itu bisa menjadi dua kata saja, berdoa dan berusaha. Ya, seperti peribahasa Yunani dulu, ora et labora.

Tapi mengapa ya seakan-akan kita selalu butuh diyakinkan? Termasuk saya, pada saat berkesempatan diskusi dengan pelaku UKM yang omzetnya sudah menembus Rp 10 milyar/tahun, saya minta beliau untuk berbagi kunci kepada rekan-rekan pelaku usaha lain yang belum sesukses beliau. “Apa sih, Pak kunci suksesnya?”, tanya saya.

Lalu beliau menjawab singkat, dan jawabannya sama sekali tidak mengejutkan. Menurut beliau, kunci sukses adalah: nekad, tekad, pantang menyerah, dan doa. Posisi doa diletakkan paling akhir karena doa diposisikan sebagai “bumbu pelengkap”, agar apa yang diusahakan dapat berjalan dengan lancar.

Dalam hati saya tersenyum simpul, “bener juga bapak ini nyebut doa terakhir, biar gimana pun yang ga doa tapi usaha giat lebih banyak yang berhasil (sepertinya), daripada yang rajin berdoa tapi ga giat usaha”.

Categories: Koridor Inspirasi | Tags: | Leave a comment

Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang

Salamduajari.com, Depok (14/02) – Saya bahagia hari ini melihat statistik website blog ini, ternyata rata-rata kunjungan pada 3 bulan terakhir sudah berada di kisaran 50 – 80 orang per hari. Saya jadi semakin semangat untuk membagi berbagai tulisan yang menginspirasi, menambah pengetahuan, dan semoga (yang paling penting), terus membangkitkan semangat kita untuk berkarya lebih dan lebih lagi untuk diri kita sendiri, keluarga, masyarakat sekitar lingkungan hidup kita, sampai bangsa dan negara.
Hari ini saya mendapat hasil wawancara menarik, yang dibagi oleh kolega saya melalui milis dosen Ilmu Ekonomi di FEUI. Wawancara ini mengisahkan soal cara pemerintah dan kampus di Jepang memperlakukan tenaga pendidik alias dosennya. Selaku tenaga pendidik di Indonesia, saya tentu termasuk orang yang juga mengidamkan hal tersebut dapat terjadi di Indonesia. Mungkin tidak perlu semewah yang di Jepang ini. Kalau aspirasi saya pribadi adalah beban administrasi yang banyak untuk dosen, khususnya dalam mengakses berbagai dana hibah, baik untuk dana pengabdian masyarakat (community engagement), maupun penelitian. Kita tidak tahu seberapa nyaman atau tidak nyaman kondisi kita saat ini jika tidak ada pembanding, bukan?
Berikut adalah cerita pembanding dari Jepang, yang dilansir dari sini, mengenai bapakĀ Dr.Andi Bangkit Setiawan. IaĀ mendapatkan gelar Doktor di usia 29 tahun dan sekarang menjadiĀ Ā Designated Associate Professor diĀ Graduate School of Education and Human DevelopmentĀ Nagoya University,Ā Jepang. Cerita ini mengilhami saya, semoga Anda juga šŸ™‚Ā 
Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang
Ā 

Ā Bisa diceritakan sedikit tentang perjalanan akademik Mas Andy?

Saya dulu kuliah S1 di Program Studi Sastra Jepang Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) UI, masuk tahun 1999 melalui jalur PPKB (PMDK). Tahun 2002 saya alhamdulillah dapat beasiswa dari Toyota Foundation untuk belajar satu tahun di Nanzan University Nagoya Jepang hingga pertengahan 2003. Saat itulah saya kemudian belajar bidang yang saya tekuni saat ini yaitu Intellectual History terutama untuk Asia. Pada waktu akan pulang dari Nanzan University tahun 2003 itulah kemudian saya mencoba mencari jalan untuk bisa kuliah lagi di Jepang untuk memperdalam bidang tersebut, hingga akhirnya salah satu teman profesor saya ketika di Nanzan yang mengajar di Hiroshima University mengizinkan saya untuk belajar di tempatnya. Akhirnya saya pulang tahun 2003 itu dengan ā€œsaling janjiā€ antara saya dengan seorang profesor di Hiroshima University (nama beliau Prof. Nakamura Shunsaku) itu untuk saling tukar kabar dan beliau akan mengirimi saya formulir untuk kuliah lagi di sana nanti kalau sudah lulus.

Berbekal janji itu, saya segera selesaikan skripsi yang sebenarnya sudah saya pesiapkan selama ada di Nanzan Univ. Alhamdulillah, tahun 2004 bulan januari saya bisa lulus dan segera memberi kabar ke Prof Nakamura bahwa saya sudah lulus. Bulan Februari di tahun 2004 itulah datang formulir2 yang harus sy isi dan ternyata di dalamnya ada pula formulir untuk pengajuan beasiswa Monbusho melalui jalur U to U. Akhirnya, semuanya lancar, alhamdulillah, dan bulan oktober 2004 saya berangkat lagi ke Jepang untuk ikut ujian masuk program master di Hiroshima University. Kebetulan lab Prof Nakamura (yang meski beliau bidangnya Intellectual History) berada di Graduate School of Education di klaster kajian budaya, sehingga untuk ujian masuk saya harus belajar pula 3 bidang ilmu yang akan diujian baik tertulis maupun wawancara yaitu: Ilmu Pendidikan, Ilmu Budaya dan Susastra serta Ilmu Linguistik. Alhamdulillah, bisa lolos dengan nilai yang cukup memuaskan dan saya mulai masuk program master di situ tahun 2005 bulan April.

Pada akhir tahun 2006, di mana program master saya hampir selesai dan tesis saya pun sudah final, Prof Nakamura kemudian menawarkan untuk melanjutkan studi saja menuju jenjang Doktoral. Saya sempat ragu karena saya sendiri belum punya posisi di Indonesia (meskipun ada beberapa pihak kampus dulu di UI yang menā€janjiā€kan akan merekrut saya bila sudah pulang nanti) tetapi karena besarnya keinginan saya untuk tetap belajar dulu sampai selesai akhirnya saya terima tawaran tersebut dan lanjut masuk program doktor mulai 2007 dan selesai tahun 2010. Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | 3 Comments

Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Halo pembaca salamduajari šŸ™‚ Ā pertama-tama mohon maaf karena saya belum bisa mendisiplinkan diri dalam mengunggah tulisan. Niat hati pengen rutin tiap senin dan jumat tapi kok belum jalan-jalan ya haha xD Mudah-mudahan kedepan bisa lebih disiplin. Adapun untuk kali ini, saya menemukan tulisan menarik dari Koran Tempo. Mengingat kemarin kita mengenang hari Sumpah Ā Pemuda, rasanya menyenangkan juga sesekali diakrabkan lagi dengan sejarah Bangsa. Nah, tulisan ini adalah karangan opini yang mengandung sejarah. Soal niat saya untuk mengunjungi Singapura setelah membaca artikel ini, jujur biasa saja, karena dari dulu tidak pernah gandrung ke sana. Saya juga belum pernah ke Singapura untuk tujuan murni jalan-jalan, baru pernah untuk urusan kunjungan kerja. Ā 

Adapun niat berbagi artikel ini tidak lain tidak bukan adalah untuk berbagi wawasan. Wawasan saya bertambah setelah membaca artikel ini, semoga Anda juga. Demikian,Ā salam cakrawala!

 

Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Ditulis oleh: Asvi Warman Adam,
Sejarawan LIPI

Singapura menjadi tempat pertemuan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dengan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Tubagus Chaeri Wardana, adik kandung Atut, untuk membicarakan soal pemilihan kepala daerah. Demikian disampaikan Pia Akbar Nasution, pengacara Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, kepada media pada 16 Oktober 2013. “Pertemuannya enggak lama kok, cuma 15 menit,” kata Pia. Pertemuan itu berlangsung di Hotel JW Marriot, yang berjarak hanya 500 meter dari RS Mount Elizabeth, tempat Ratu Atut menjalani cek kesehatan. Namun hal ini dibantah pengacara Akil ataupun juru bicara keluarga Atut.

Sebuah media nasional berhasil mencatat bahwa Akil dan Atut berangkat dengan pesawat yang sama, Singapore Airlines SQ 953, pada Sabtu, 21 September 2013. Akil lebih dulu melintas dalam pemeriksaan imigrasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta daripada Atut. Akil melintas pada pukul 05.08 WIB, sementara Atut pukul 06.50 WIB. Pesawat SQ 953 jenis Boeing 777-200 itu berangkat pukul 07.55 WIB. Tapi keduanya pulang pada hari yang berbeda. Akil pulang ke Indonesia pada Senin, 23 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 825. Sedangkan Atut baru pulang ke Indonesia pada Rabu, 25 September 2013, menggunakan pesawat SQ 966.

Dalam data yang sama pada saat Akil dan Atut pergi ke Singapura, Wawan juga berada di sana. Wawan berangkat lebih dulu dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 836, pada Jumat, 20 September 2013, pukul 19.00 WIB dan baru kembali ke Indonesia pada Selasa, 24 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 825.
Continue reading

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Esensi Hari Raya Kurban: Ikhlas

Besok adalah Hari Raya Idul Adha, atau yang sering juga yang kita sebut dengan Hari Raya Kurban. Dalam hidup saya, besok akan menjadi hari raya kurban saya yang ke-30. Banyak juga ya? Layaknya kondisi iman atau keyakinan yang turun naik sehingga perlu disegarkan saban hari dengan Sholat, saban tahun esensi hari raya kurban juga perlu disegarkan. Kalau tidak, hari raya ini hanya akan menjadi ritual badaniah yang saban tahun kita lakukan hanya dan hanya karena sudah menjadi tradisi. Saya tidak ingin itu terjadi setidaknya pada diri saya sendiri.

goatAdapun tulisan ini saya tulis dalam kondisi jiwa yang tidak tenang. Mengapa? Saya sedang bingung dengan diri saya sendiri, yaitu bingung karena saya sama sekali tidak lagi bisa merasakan indahnya syahdu takbir. Jujur, saya malah merasa kesal karena saya harus mendengarkan suara takbir anak-anak yang sumbang, namun dikumandangkan denganĀ  lantang melalui pengeras suara dari mesjid dekat tempat tinggal saya. Mungkin karena saya adalah tipe orang yang bisa menikmati indahnya zikir dalam keheningan. Keheningan membuat saya merasakan hubungan yang sangat intim dengan Tuhan, karena yang mengetahui dan merasakan, hanya saya dan Tuhan. Tidak perlu orang satu kampung tahu bahwa saya sedang berzikir. Pendeknya, saya tidak tenang karena semalaman saya harus mendengarkan takbir sumbang ini. Apakah artinya saya menjauh dari Tuhan? Masa’ saya tidak senang ketika mendengarkan namaNya dikumandangkan?

Pikiran pun berkecamuk. “Wi, dulu Nabi Ibrahim diuji keihlasannya dengan perintah untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail (walau kemudian dengan kuasaNya berubah menjadi domba yang sehat), masa lo dengerin takbir sumbang aja ga bisa ikhlas? Lagian kan esensi Idul Adha adalah napak tilas keikhlasan Nabi Ibrahim yang pada saat itu rela menyembelih anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Tuhan. Ikhlas wi, ikhlas! Santai dong jeng”, kira-kira seperti itulah ceramah dari, oleh, dan untuk saya sendiri di kepala. Continue reading

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Dari Office Boy Outsourcing hingga Jadi Mahasiswa FEUI

Hidup itu memang tak pernah datar.. Ā Atau sama saja hidup tak selamanya mulus.

Ya, mungkin hal itulah yang menggambarkan hidupku (dan pastinya hidup setiap orang). Kadang kita menggelinjang kesakitan kala badai kehidupan menerjang, tidak taunya kita terbawa olehnya sampai ke tempat yang baik untuk kemudian bersyukur.

Aku dulu hanya seorang murid SMK, disebuah SMK yang belum faforit bernama SMK PGRI 1 Sentolo jika dibandingkan SMK berlabel ā€œnegeriā€ di Kulon Progo. SMK yang tak terlalu besar namun kekeluargaannya begitu kental. Bahkan aku yakin guru-gurunya juga berkwalitas dan sabar.

Aku banyak bermimpi di sana, dan mimpiku yang paling besar adalah melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi paling faforit di negeri ini. Bukan, aku bukan hanya hendak mengejar gengsi. Hatiku selalu berdesis ketika berita tentang ekonomi dan berbagai macam percakapan strategi bisnis serta finansial masuk di telingaku. Jadi aku yakin sekali bahwa itu adalah suara passion-ku.

Di SMK aku mengikuti beberapa lomba. Satu hal yang lucu adalah selain aku mengikutinya untuk menguji kemampuanku, aku mengikutinya juga karena aku butuh uang hadiahnya ntuk membiayai sekolahku. Ya, orang tuaku sudah tak sanggup membiayai sekolahku. Aku beruntung bisa sekolah dari hasil lomba itu. Lombanya beragam, mulai dari kompetisi ekonomi, riset, tangkas trampil perkoprasian sampai lomba artikel FEKSI. Alhamdulillah banyak yang aku menangkan dengan keterbatasan sarana dan kecerdasanku dibanding mereka yang berasal dari kota. Hinga akhirnya aku lulus SMK pada 2012.

Impian kuliah di fakultas ekonomi terbaik di negeri ini sudah seperti di depanku kala itu. Namun semuanya ternayata sirna. Aku gagal masuk UI-UGM lewat jalur undangan, gagal amsuk UGM lewat SNMPTN Tulis dan kembali gagal dalam Seleksi Masuk UI (SIMAK-UI) tahun 2012. Hatiku benar-benar hancur kala itu.

Sebulan aku mengaggur dan kemudian mencari kerja. Berbekal info dari twitter aku menuju ke walk in interview rekrutmen pegawai hotel Tentrem. Aku tak tahu apa-apa soal sistem kerja Outsourcing kala itu. Karena hanya berbekal ijazah SMK yang bukan SMK Perhotelan aku rasional mendaftar sebagai Housekeeping. Setelah melewati berbagai interview aku akhirnya diterima dan baru tahu bahwa hotel Tentrem baru akan buka pada awal tahun. Karenanya, penempatan pertamaku pada 6 September 2012 adalah sebagai Office Boy di kantor Pre-Openingnya, Office Boy Outsourcing. Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Menjadi Bagian dari ā€œLipatanā€ Keluarga Besar Sabang Merauke

Merantaulahā€¦

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena dia tertahan.

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ā€˜kan keruh menggenang.

Singa takkan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur takkan kena sasaran.

~ Imam Syafiā€™i ~Ā 

NAD versi Taman Mini :)

NAD versi Taman Mini šŸ™‚

Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali)

Saya mengenal program ini dari sebuah pesan di milis penerima beasiswa Goodwill, entah kenapa saat itu juga langsung ā€œklikā€ dengan program itu, langsung download form pendaftaran FSM (Famili Sabang Merauke) mengisi dan mengirim kembali sebelum ijin suami (karena yakin suami tercinta pasti setujuĀ Ā ). Setelah beres semua urusan pendaftaran baru ijin suami dan didukung dengan penuh cinta, terima kasih suami

Kurang lebih 2 minggu saya dihubungi via email bahwa tim Sabang Merauke akan datang ek rumah untuk diskusi sekaligus interview ā€œkepantasanā€ kami menjadi FSM. Setelah disepakati hari pertemuannya, Kak Dhani sebagai perwakilan SM (Sabang Merauke) datang dan ngobroool panjang lebar tentang aktifitas kami sehari-hari, kebiasaan yang kami lakukan, kemauan kami menerima keberagaman dari calon ASM (Anak Saang Merauke) yang akan datang.

Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Membangun bangsa itu tugas siapa sebenarnya?

Selamat pagi pembaca!

Setelah cukup lama absen akhirnya saya menulis lagi.. Ada yang menarik yang saya dapat dari suatu milis yang saya ikuti. Setelah saya cari-cari, sepertinya kutipan ini tergolong anonim karena tersebar di mana-mana, termasuk di website http://www.columbia.edu (Columbia University di New York). Saya terinspirasi dengan kutipan ini, dan kutipan ini ada kaitannya dengan kutipan dari Einstein yang sempat dimuat di salamduajari dulu, karena intinya, Einstein berpendapat bahwa dunia ini bisa menjadi tempat yang berbahaya bukan karena orang-orang jahat, melainkan karena orang-orang yang tidak berbuat apa-apa atas kejahatan itu. Kurang lebih kutipan ini memberikan pesan yang sama. Silakan membaca, dan semoga membuat kita tambah semangat untuk ambil peran dalam proses pembangunan bangsa. Kalau saya pribadi melalui lembaga UKM Center FEUI, cukup aktif mendorong semangat kewirausahaan di kalangan anak muda, agar semakin banyak yang menciptakan lapangan kerja, sehingga pencari kerja yang sudah hampir pasti akan tambah banyak, dapat diimbangi dan perekonomian dapat berjalan dan berkembang dengan lebih seimbang. Semoga. Setidaknya kita melakukan sesuatu šŸ™‚ Ā Salam Ā damai selalu…

WHOSE JOB IS IT?

This is a story about four people named: everybody, somebody,anybody and nobody.
There was an important job to be done, and
Everybody was sure somebody would do it.
Anybody could have done it, but nobody did itĀ 
Somebody got angry about that, because it was everybody’ s job.
Everybody thought anybody could do it but,
Nobody realized that everybody wouldn’t do it

It ended up that everybody blamed somebodyĀ 

whenĀ Nobody did what anybody could have done

ketika hal buruk terjadi.. "bukan gw yang salah, kok!", jawab ketiga penguin.. LAH IKI PIYE TOH??! xD

“bukan gw bukan gw, sumpah bukan gw!”

Intinya, kalau kita sayang dan perhatian sama anak cucu, pasti kita ingin berusaha agar bisa mewariskan dunia yang baik untuk mereka kelak. Setiap perbuatan baik kecil pasti berarti, lagi pula, sampai kapan kita mau saling menyalahkan?Ā (DM)

Categories: Koridor Inspirasi | 1 Comment

Memenuhi Panggilan Anies Baswedan untuk Program Kelas Inspirasi

kelas inspirasi

sumber foto: http://www.kelasinpirasi.org
PS: dari foto ini terlihat bahwa salam dua jari masih kalah ngetop dibandingkan salam metal haha xD

Salamduajari senang sekali bisa turut berpartisipasi dalam memenuhi panggilan Anies Baswedan untuk Program Kelas Inspirasi. Memangnya apa sih Program Kelas Inspirasi itu? Ya, Program Kelas Inspirasi adalah program panggilan kepada kaum profesional untuk secara serentak mengambil cuti 1 hari pada 20 Februari 2013, yaitu hari ini, di Jakarta, Bandung, Jogjakarya, Pekanbaru, Solo, dan Surabaya. Di hari itu, para profesional akan memberikan inspirasi kepada anak-anak SD di kota-kota tersebut seputar profesi mereka dan mengapa mereka memilih profesi itu, dalam rangka menumbuhkan mimpi dan menanamkan semangat kejujuran, kerja keras, dan kemandirian pada anak-anak Indonesia, para calon pemimpin bangsa.

Adapun program ini dikemas 100% bersifat sukarela di mana profesional yang turut berpartisipasi tidak dibayar sama sekali, malah mengeluarkan biaya. Seperti saya paling tidak keluar biaya untuk transportasi ke Jakarta – Bandung – Jakarta, dan tentunya biaya penginapan juga. Tapi entah mengapa, kok gapapa ya? Kok malah seneng ya bisa ikut berpartisipasi ke dalam program ini? Melalui program ini memang Pak Anies Ā “memanggil” rasa cinta terhadap tanah air kepada generasi pembaharu bangsa. Ada 7 sikap yang harus dimiliki oleh para relawan program ini, yaitu: sukarela, bebas kepentingan, tanpa biaya, siap belajar, turun tangan langsung, siap silaturahmi, dan terakhir, tulus. Kata terakhir ini yang paling mengena di saya. Setelah berinteraksi dengan teman-teman relawan lain yang hebat-hebat dan berasal dari berbagai profesi, dari akademisi sampai pencipta lagu, didapati bahwa kami semua hadir disini karena satu alasan yang sama: cinta tanah air. Kami semua peduli dengan arah nasib bangsa, kami semua rela meluangkan waktu, uang, tenaga, dan pikiran untuk menumbuhkan cita-cita dan menanamkan semangat untuk para calon pemimpin bangsa di masa depan. Semua serius memikirkan struktur dan metode pengajarannya, walau semua sadar betul mereka tidak akan dibayar sepeser pun. Saya bahagia sekali, karena dari pengalaman ini saya disadarkan kembali, bahwa cinta itu bukan suatu konsep yang naif, cinta itu nyata, cinta itu sumber dari segala sumber kekuatan dalam menghasilkan suatu karya nyata.

Ibu Nining Soesilo pernah menyampaikan suatu kisah nasihat kepada saya. Kira-kira seperti ini:Ā “gunung-gunung tinggi dapat diratakan oleh traktor-traktor besar yang terbuat dari besi dan baja; besi dan baja itu bisa dimuaikan oleh api; api itu bisa dipadamkan oleh air; dan air itu dapat diporakporandakan oleh angin. Sesuatu yang wujudnya tak terlihat itu, justru adalah zat yang paling kuat. Itulah metafora sederhana untuk menggambarkan Tuhan. Ia tak dapat terlihat tapi keberadaannya sungguh sangat terasa.”Ā Saya pikir, begitu pula dengan inspirasi, di mana inspirasi berada? Seperti apa rupanya? Tak ada yang tahu. Yang kita tahu, ketika inspirasi datang, proses berkarya kita menjadi lebih lancar. Tuhan memang bekerja dengan cara yang misterius. Cara Beliau memberikan petunjuk pun dengan cara yang seringkali tak berwujud nyata, namun saya yakin, salah satu cara Beliau adalah melalui inspirasi itu. Tak terlihat, namun terasa sekali keberadaan dan manfaatnya. Sama seperti Dirinya, ya? Tak terlihat, namun sangat terasa jelas keberadaannya. Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.