Eksperimen Joshua Bell, Apakah kita sudah cukup menghargai keindahan?

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS. Sumber: www.peaceformeandtheworld.ning.com
Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS.
Sumber: http://www.peaceformeandtheworld.ning.com

Di Stasiun Metro, Washington DC, pada suatu pagi yang dingin di bulan Januari tahun 2007, seorang lelaki dengan sebuah biola memainkan enam buah partitur klasik selama kurang lebih 45 menit. Selama itu, sekitar 1097 orang lalu lalang melewatinya, sebagian besar dari mereka akan berangkat bekerja, yang sebagian besar dari mereka bekerja untuk pemerintah, seperti analis kebijakan, project manager, petugas anggaran, fasilitator, dan mungkin konsultan.

Setelah sekitar empat menit, seorang lelaki paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi yang sedang bermain musik. Ia memperlambat langkahnya dan berhenti selama beberapa detik, kemudian ia kembali terburu-buru mengejar jadwalnya.

Sekitar empat menit kemudian, pemain biola tersebut menerima dollar pertamanya. Seorang wanita memasukkan uang ke dalam topi sang pemain biola, tanpa berhenti, sambil langsung berlalu begitu saja.

Pada menit keenam, seorang laki-laki muda bersandar ke dinding untuk mendengarkan permainan biola itu, kemudian memandang jam dindingnya dan kembali berjalan.

Pada menit kesepuluh, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berhenti, namun ibunya segera membawanya pergi. Anak itu berhenti dan kembali memandang pemain biola, akan tetapi sang ibu mendorong anak tersebut dengan kuat dan anak itupun akhirnya pergi, sambil terus melihat ke belakang sepanjang perjalanan. Aksi serupa kembali terulang pada beberapa anak yang lain, namun setiap orangtua- tanpa terkecuali- memaksa anak mereka untuk segera pergi.

Pada menit keempat puluh: musisi tersebut memainkan biolanya terus menerus. Hanya ada enam orang yang berhenti dan mendengarkannya sesaat. Sekitar dua puluh orang memberi uang sambil berlalu begitu saja. Musisi tersebut akhirnya berhasil mengumpulkan 32 dollar.

Setelah satu jam: musisi itu selesai memainkan biolanya dan terdiam sesaat. Tak seorang pun melihat ke arahnya dan memberikan tepuk tangan. Tak ada yang mengapresiasinya sama sekali.

Tidak ada yang mengetahui bahwa pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, salah satu musisi terbaik di dunia. Ia baru saja memainkan salah satu bagian musik yang paling rumit yang pernah ditulis di dunia, dengan biola seharga 3,5 juta dollar. Dua hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston berhasil terjual habis dimana setiap penontonnya membayar rata-rata 100 dolar untuk duduk dan mendengarkan  Ia memainkan musik yang sama.

Ini adalah kisah nyata. Joshua Bell yang memainkan incognito di stasiun Metro D.C merupakan eksperimen sosial tentang persepsi yang dilakukan oleh Washington Post untuk mengetahui selera dan prioritas masyarakat.

Eksperimen ini memunculkan beberapa pertanyaan:

Dengan nuansa kondisi dan waktu yang kurang nyaman, apakah keindahan tetap dapat menembus hati manusia?

Dialihbahasakan dari bagian artikel ini.

Perubahan pada Planet Bumi Kita

Teknologi membuat banyak hal yang dulu tidak mungkin dilakukan, menjadi mungkin. Termasuk salah satu diantaranya adalah potret satelit yang menangkap beberapa lokasi di planet bumi kita, yang kemudian disusun dari waktu ke waktu, membentuk suatu animasi keren yang membuat kita dapat melihat tranformasi yang terjadi pada permukaan bumi.

Berikut adalah beberapa animasi transformasi di beberapa titik permukaan bumi yaitu Dubai, dimana kita dapat melihat perluasan daratan yang telah dibuat manusia menyerupai pohon Palm; Arab Saudi, dimana kita bisa melihat transformasi wilayah gurun pasir menjadi wilayah pertanian yang dimungkinkan oleh adanya teknologi irigasi; Las Vegas (Amerika Serikat), dimana lahan kosong menjadi dipenuhi oleh titik-titik abu-abu pembangunan gedung-gedung perkotaan; dan Brazil yang mengalami deforestasi, sebagian karena alih fungsi kawasan hutan sebagai lahan pengembangan kedelai, sehubungan dengan kebijakan negara tersebut yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan menggantikannya dengan bahan bakar minyak nabati berupa ethanol yang diproses dari kacang kedelai.

dubai

saudi

vegas

brazil

Diambil dari sini.

Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin

"Black Untitled, 1948" (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.
“Black Untitled, 1948” (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.
"No 5/No 22" (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.
“No 5/No 22” (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.
"Number 1" (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.
“Number 1” (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

Gerakan seni modern Amerika selama tahun 1950-60an sangatlah unik. Sepertinya tidak ada gerakan lain yang dapat begitu mengundang perselisihan intelektual dibanding ekspresionisme abstrak. Bahkan dalam kongres Amerika pun perdebatan mengenai pendanaan karya seni seolah tidak pernah berhenti. Seorang anggota kongres zaman itu pun pernah berkata, “Saya hanya warga Amerika bodoh yang membayar pajak untuk sampah seperti ini.” Meski demikian kaum bohemia dan para intelektual muda liberal yang memegang peran begitu penting dalam lingkaran seni di zaman tersebut sangat mendukung gerakan ini. Bahkan sekarang hampir terdapat sebuah konsensus bahwa cipratan cat warna-warni Jackson Pollock, yang sering diejek seolah dibuat oleh seorang bocah berumur 5 tahun, adalah mahakarya seni yang penuh makna.

Bagaimana sebuah gerakan yang memicu sedemikian banyak pendapat yang saling bertentangan ini dapat terus berkembang, bahkan mendominasi dunia seni dunia selama berlangsungnya era perang dingin, dan kemudian diagungkan pada masa kini? Terdapat banyak spekulasi sekitar peran CIA sebagai patron untuk seniman era tersebut seperti Pollock, de Kooning, dan Rothko, bagaikan Paus bagi gerakan seni renaisans Italia, dan spekulasi tersebut tidak pernah dibantah maupun dikonfirmasi hingga pertengahan tahun 1990an ketika kejadian saat perang dingin sudah mulai mendingin (pun intended? Maybe). Pada tahun 1995, sebuah artikel dalam koran The Independent memastikan spekulasi tersebut sebagai kenyataan. Yah, memang sudah lama waktu berlalu setelah berita ini pertama kali muncul tetapi bagi saya ini adalah informasi yang lumayan mencengangkan ketika pertama kali membacanya dalam sebuah situs yang sering membahas propaganda dalam karya seni, khususnya dalam era peperangan. Kemudian saya berpikir apakah mungkin hingga kini pun, para seniman kontemporer dengan statemen politik kentalnya masing-masing hanyalah bagian dari skema rumit yang elegan dalam upaya mengarahkan jalur perubahan kebudayaan manusia  ke arah tertentu? Sepertinya hampir sudah pasti begitu, tapi cukup sudah sesi konspirasinya! Dibawah ini adalah terjemahan artikel Open Culture mengenai kisah dibalik gerakan ekspresionisme abstrak Amerika dan peran CIA.

How the CIA Secretly Funded Abstract Expressionism During the Cold War

Mengenai kemungkinan akan karya seni yang proletar, kritikus sastra Inggris William Empson pernah menyatakan, “alasan dibalik dapatnya masyarakat Inggris menikmati film propaganda Rusia adalah karena propaganda yang terkandung begitu irrelevan untuk dianggap menjengkelkan.” Mungkin karena inilah para seniman Amerika dan kaum bohemia dapat begitu tertarik dengan ikonografi dari politik rezim-rezim terpencil, baik dari segi fantasi maupun ironi. Yang dianggap realisme sosialis yang menjemukan bagi satu pihak adalah sebuah eksotika yang radikal bagi pihak lain.

Namun apakah ekspor budaya Amerika memiliki efek yang sama? Kita hanya perlu menengok kesuksesan branding terdangkal AS untuk menjawab, “Ya.” Tetapi tiada seorangpun yang akan menggolongkan lukisan-lukisan abstrak ekspresionis dengan hal-hal seperti fast-food dan Disney. Walaupun demikian, karya-karya seniman seperti Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Willem de Kooning termasuk bagian dari program rahasia CIA selama puncaknya perang dingin yang bertujuan mempromosikan ideologi Amerika diluar negeri.

Para seniman yang terlibat sama sekali tidak mengetahui bahwa karya mereka digunakan sebagai propaganda. Dalam operasi yang disebut agen CIA sebagai “Long Leash,” mereka mengikuti beberapa pameran yang secara tersembunyi diselenggarakan oleh CIA, contohnya pameran keliling “The New American Painting” yang ditunjukkan dalam kota-kota besar Eropa selama 1958-59 dan menyertakan karya modern primitive seperti Dwarf (1947) milik seniman surealis, William Baziotes. Continue reading “Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin”

Merk Lokal yang Go International

Tahukah anda bahwa walaupun belum banyak, indonesia sudah memiliki beberapa merk yang sudah Go International selain Indomie dan Tolak Angin? Ini dia beberapa merk national yang sedang go international 🙂

Dalam dunia bisnis, kita sering dengar kata “branding”. Branding adalah konsep yang ternyata paling banyak salah dimengerti dalam dunia pemasaran.

Branding bukanlah periklanan dan bukan pula pemasaran atau humas. Branding adalah cara membentuk konsumen potensial agar memandang Anda sebagai satu satunya pemecahan masalah mereka.

Begitu Anda dipandang sebagai satu satunya, tidak ada tempat lain untuk berbelanja. Sedangkan Merek adalah “kepribadian sejati perusahaan.” Merek adalah apa yang dipikirkan dan dikatakan konsumen.

Selain itu merek adalah sebuah janji dan branding merupakan tindakan mewujudkan janji yang dibuat perusahaan kepada dunia.

 

ouval research

Ouval Research

Maraknya komunitas skateboard di Bandung membuat trio Rizki, Maskom dan Firman, pada 1997 menciptakan Ouval Research. Tujuan semula adalah untuk menyuplai peranti juga fesyen buat para skateboarder.

Kekuatan label ini terletak pada koleksi kaosnya yang hadir dengan print unik dan erat sekali dengan budaya street style yang dinamis, fun dan berjiwa muda. Dari kaos, koleksi Ouval Research berkembang hingga ke aksesori, mulai dari tas, sepatu, bahkan sampai MP3 dan otopet.

Kini Ouval Research semakin memperlihatkan keseriusan dan kemajuan bisnisnya hingga mengekspor produknya ke mancanegara seperti Singapura di butik Fyeweraz dan skateboard di Jerman.

 

le monde

Le Monde

Le Monde diambil dari Bahasa Prancis yang artinya dunia. Perusahaan ini merupakan bisnis keluarga memiliki yang didirikan oleh Zakiah Ambadar (Jackie Ambadar) dengan aset Rp 13 miliar dengan omset Rp 3 miliar per bulan.

Saat ini, perusahaan perlengkapan bayi ini mempunyai 10 outlet yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bogor dan Malang. Selain memiliki banyak outlet, Le Monde telah melakukan franchise sejak tahun 2001.

Kini produk produk Le Monde sudah diekspor keberbagai negara di Asia, Australia, Jerman, hingga negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Bahrain. Berkat keberhasilannya menjaga mutu prima, Le Monde pernah menyabet penghargaan Best Asean Infant Wear 2005.

 

mimsy

Mimsy

Christyna Theosa, seorang mahasiswi Art Center College of Design Pasadena, Perempuan kelahiran Tuban, 2 Januari 1982, sukses dengan tas buatannya yang diberi nama label Mimsy pada 2004.
Ia banyak bereksperimen dengan bahan dan warna untuk menciptakan desain yang elegan, unik, dan classy, namun juga seksi dan funky. Ia mendesain clutch-nya dengan bahan terbaik seperti kulit Italia, kain lace Jepang dan Prancis, pita sutra, beludru, hingga kristal Swarovski.

Semua tas dan clutch-nya juga dilapisi dengan bahan suede Italia dan satin. Tas-tas buatannya ini dijual dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta. Kini tas karyanya bisa ditemui di Amerika (New York, Los Angeles, Chicago), Jepang, Malaysia, dan tentunya Indonesia (Grand Indonesia Shopping Town).

 

petersaysdenim

PeterSaysDenim

PeterSaysDenim adalah nama merek celana jins yang cukup terkenal di Bandung, didirikan oleh Peter Firmansyah. Produk-produknya sudah diekspor ke beberapa negara. Bahkan jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek PeterSaysDenim, bahkan dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat (AS), I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs PeterSaysDenim.

 

al madad

Al-Madad

Al Madad adalah merek cokelat yang digagas Sofihah dan mulai dikenal pasar lokal sejak 2008 lalu. Sofihah memang berniat mengangkat kekhasan lokal Banten dari produk cokelatnya. Mulai penamaan yang bernuansa religi dan budaya khas Banten, hingga penggunaan bahan baku cokelat yang berasal dari sejumlah pabrikan cokelat di Banten.

Sejumlah pabrikan ini juga menggunakan bahan baku cokelat dari perkebunan yang ada di provinsi berusia 10 tahun ini. Produk lokal cokelat Al Madad di bawah kepemimpinan Sofi, membuktikan kemampuan bisnis skala kecil memenuhi permintaan konsumen dan menarik kepercayaan perusahaan untuk menjadi mitra.

Dengan tambahan modal dari mitra, Sofi mampu menambah produksi cokelat untuk tetap konsisten memenuhi permintaan pasar. Dalam dua tahun, Al Madad dikenal sebagai produk unggulan khas Banten, serta berhasil menggaet pasar di kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Bukan mustahil nantinya dark chocolate asli Banten ini mendunia. Toh sejumlah produk impor nyatanya mengambil bahan baku dari lahan yang sama, tanah Banten.

 

jco

J.Co Donuts & Coffee

Johnny Andrean yang sebelumnya terkenal sebagai pengusaha salon yang sukses. Tak kurang dari 168 jaringan salon dan 41 sekolah salon dimilikinya, namun insting sang penata rambut kemudian membawanya terjun ke bisnis makanan.

Sejak tahun 2003 ia aktif mengembangkan J.COJ.COadalah produk dalam negeri dengan menggunakan konsep dari luar negeri dan disempurnakan dengan modernisasi dan kualitas terbaik. J.CO ditujukan untuk menyerbu pasar asing.

 

klenger burger

Klenger Burger

Pada awalnya adalah Velly Kristanti dan suaminya, Gatut Cahyadi, ingin mencoba sebuah usaha sendiri, mereka pun nekat keluar dari pekerjaan dan memulai bisnis sendiri tahun 2004, dari bisnis advertising syariah, bisnis IT, ternyata semua berujung gagal.

Kebetulan pada awalnya mereka punya usaha Pondok Sayur Asem di daerah Pekayon, Bekasi, yang sempat tidak mereka pedulikan. Berawal dari situ, ide membuat makanan untuk anak muda yang cepat, halal, dan nikmat pun terbersit dan burger dipilih sebagai pilot project-nya.

Segala macam buku tentang burger dipelajari hingga akhirnya Velly membuat sendiri burger yang Indonesia banget. Terbuat dari roti yang lembut dan daging berurat serta saus spesial, burger bikinan Velly ternyata digemari dan semakin laris dipesan.

Intinya, bikin orang jadi ‘klenger’!. Begitulah nama ‘klenger’ akhirnya dikenal masyarakat, khususnya anak muda yang menjadi target market Klenger Burger.

 

77

Es Teler 77

Es Teler 77 bermula ketika Murniati Widjaja memenangkan juara kompetisi memasak dengan membuat minuman tradisional Indonesia itu. Saat itu pada 1982, Murniati dengan dukungan suaminya membuka restoran khusus es teler yang diberinya nama Es Teler 77. Dua angka di belakang bukan tanpa makna. Bagi keluarga Widjaja, 77 merupakan nomor keberuntungan. Modal Rp 1 juta dipakainya untuk mendirikan tenda kecil di emperan pusat perbelanjaan Duta Merlin, Harmoni, Jakarta Pusat. Terkadang, dagangannya terpaksa tutup ketika hujan mendera dan genangan mulai meninggi. Pada 1987, franchise pertama dibuka di Solo Jawa Tengah. Namun saat ini, Es Teler 77 telah mencapai 180 cabang dan mempekerjakan dua ribu orang, hampir di seluruh provinsi ada. Tak hanya di dalam negeri, Es Teler 77 telah go international ke Singapura dan Australia, masing-masing tiga outlet. “Kami sedang bersiap merambah Beijing dan Jeddah dengan mengikuti pameran di sana pada Mei ini,” kata Anton yang merupakan generasi kedua dari bisnis ini.

 

partners in crime

Partner in Crime

Fahrani memang sudah malang melintang di dunia modeling Internasional. Namun cewek bernama lengkap Fahrani Pawaka Empel ini ternyata punya insting bisnis yang baik. Yaitu merek sepatu buatannya, Partner In Crime. bisnis sepatu wanitanya berlabel Partner in Crimes, mendapat sambutan positif dari publik, baik lokal maupun international. Karakter yang rebellious dengan detail stud yang sangat digemari wanita urban mendominasi desainnya, yang tak hanya kondang di Bali. Disalurkan lewat butik multibrand di Jakarta, merek ini sudah berekspansi ke Ibiza, spanyol. Rencananya kedepan giliran Australia yang bakalan ‘ditodong’. Merek ini siap menjajah benua Kangguru.

 

hatten

Hatten Bali Wine

Wine yang beredar di Indonesia masih didominasi produk Impor, tetapi ada Wine Lokal yang mutunya tak kalah dengan impor yaitu Hatten Bali Wines. Wine ini mulai diproduksi oleh anak negeri asal Bali bernama I B Rai Budarsa tahun 1994. Gus Rai, panggilan akrabnya, sungguh tak asing dengan ilmu membuat minuman dari anggur, lantaran keluarganya sudah membuat brem dan arak Bali sejak tahun 1960-an, plus latar belakang pendidikannya di jurusan food processing, dan ia memang pecinta wine. Anggur-anggur didatangkan dari vineyard alias ladang anggur pribadi seluas 14,5 hektar yang berlokasi di Singaraja, Bali. Tidak hanya vineyard, Hatten juga mempunyai winery untuk memproduksi lebih dari 8 jenis wine, dan itu membuat Hatten Wines menjadi winery pertama di tanah air yang bisa dikatakan 100% Indonesia. Hatten Wine Rose hingga kini menjadi produk andalan dari Hatten Wine, dan sempat memenangkan penghargaan di London pada tahun 2003. Ekspor Hatten Wines kini sudah mencapai negara-negara Eropa seperti Belgia, Inggris dan Belanda, Aserta Singapura hingga Maladewa.

Sumber: Dari posting seorang kawan di milis.

Ikan Keberuntungan Temuan Ilmuan Kanada yang Menyelamatkan Banyak Jiwa di Kamboja

Seekor ikan kecil menjadi solusi masalah kekurangan zat besi di kalangan wanita Kamboja. Masalah tersebut dipecahkan oleh seorang peneliti dari University of Guelph.
Seekor ikan kecil menjadi solusi masalah kekurangan zat besi di kalangan wanita Kamboja. Masalah tersebut dipecahkan oleh seorang peneliti dari University of Guelph

Inti dari kisah ini adalah seekor ikan kecil. Namun Christopher Charles, seorang peneliti dari University of Guelph, menyatakan bahwa ikan kecil tersebut telah menjadi solusi dari sebuah masalah medis di pedalaman hutan Kamboja, dan ia bersumpah bahwa kisah ini bukanlah dongeng namun merupakan suatu kisah nyata. Semuanya berawal tiga tahun yang lalu ketika Charles, sang jenius  dari Milton yang baru saja mendapatkan gelar sarjananya dalam ilmu biomedis, mengerjakan sebuah penelitian kecil di Kamboja. Tugasnya adalah membantu ilmuwan lokal untuk membujuk wanita-wanita di pedesaan untuk menaruh bongkahan besi ke dalam panci ketika memasak, dalam rangka meningkatkan kadar zat besi dalam asupan konsumsi mereka dan mengurangi resiko anemia. Secara teori upaya ini memang bagus, tetapi dalam praktek, para wanita tersebut enggan melakukannya.

Tugas tersebut adalah tantangan yang begitu menggoda khususnya karena Kamboja adalah negara dengan kasus kekurangan zat besi yang cukup parah, di tambah dengan fakta bahwa60 persen wanita mengalami persalinan prematur, pendarahan selama melahirkan, dan bayi mereka mengalami perkembangan otak yang buruk. Sebagai penyakit yang merupakan cerminan dari fenomena kemiskinan, kekurangan zat besi telah menyerang sekitar3.5 milyar orang di dunia. Kegiatan tersebut  memang merupakan suatu penelitian awal namun telah berhasil membuat Chris Charles sangat penasaran. Tetapi di saat yang sama ia juga harus segera kembali ke Guelph untuk memulai program S2-nya.

Beberapa minggu sebelum ia harus kembali, Charles menghubungi pembimbing akademisnya untuk menarik program S2-nya dalam penelitian tentang hormon. Namun karena kerja kerasnya, , pembimbingnya justru tidak memperbolehkan Charles untuk menarik diri dari program S2-nya, melainkan justru memberitahu Charles bahwa sesungguhnya ia telah menemukan proyek penelitian S2 yang sesungguhnya.

Dari basecamp barunya yang berupa pondok bambu, Charles menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan dua orang peneliti dari Research Development International di Kamboja dengan pendanaan dari University of Guelph, International Development Research Centre di Ottawa, serta hibah penghargaan program doctor dari Canadian Institutes of Health Research.

“Terkadang saya mempertanyakan, sesungguhnya saya ini sudah menenggelamkan diri ke dalam hal apa? Saya berada di suatu desa di mana air bersih yang mengalir tidak ada, begitu juga dengan listrik sehingga saya tidak dapat menggunakan komputer. Seolah saya hanya menyulitkan diri sendiri.”, ujar Charles.

Orang-orang yang harus dihadapi adalah kalangan orang termiskin (poorest of the poor) yang tidak mampu membeli daging merah atau pil zat besi yang memang tidak murah, selain itu para wanitanya tidak ingin menggunakan panci besi karena lebih berat dan mahal harganya. Padahal, sedikit saja tambahan zat besi ke dalam air dan makanan dapat menyelamatkan nyawa mereka. Tetapi benda mengandung zat besi berbentuk apakah yang para wanita desa tersebut bersedia masukkan dalam panci mereka?

“Kami sudah tahu bahwa bongkahan besi saja tidak akan berguna… jadi kami harus memikirkan ide bentuk yang menarik,” ujar Charles. “Tugas kami berubah menjadi sebuah tantangan pemasaran untuk masyarakat.”

Tim peneliti awalnya mencoba bentuk lingkaran besi kecil. Ternyata perempuan-perempuan Kamboja tetap tidak ingin menggunakannya.Kemudian mereka membentuk besinya menjadi bunga lotus. Mereka juga tidak menyukainya.

Tetapi ketika Tim Charles membentuk besinya sehingga menyerupai seekor ikan dari sungai di kawasan tersebut yang dipercayai memberi keberuntungan? Bingo! Perempuan-perempuan tersebut dengan senang hati memasukannya ke dalam panci mereka. Selang beberapa bulan berikutnya, tingkat zat besi di desa tersebut mulai meningkat.

“Kami merancang ukuran ikannya sekitar 3 sampai 4 inci, cukup kecil untuk diaduk dengan mudah, namun cukup besar untuk memberikan sekitar 75 persen kebutuhan zat besi untuk sehari,” kata Charles. Mereka menemukan seorang pekerja skrap logam yang bisa membuat ikan tersebut seharga $1.50 per buahnya, dan sejauh ini mereka telah menggunakan ulang ikan tersebut selama 3 tahun.

“Kami memperoleh hasil yang luar biasa; kelihatannya kasus anemia telah turun secara drastis dan wanita desa merasa sehat dan tidak begitu sering pusing lagi. Ikan besi ini sangat manjur.”

Dalam 3 tahun, Charles telah menemukan solusi dari permasalahan kekurangan zat besi yang begitu mempesona karena kesederhanaannya. Solusi itu mungkin sekali telah menyelamatkan nyawa banyak orang, dan tentu saja telah memberinya gelar S2 dan tidak lama lagi gelar S3 (PhD). Di sepanjang jalan, pria berumur 26-tahun ini telah mempelajari bahasa Khmer, dan telah menjadi ahli dalam seni pengambilan darah, bahkan dari seseorang yang tengah mengayuh sebuah kano sembari ia menjaga keseimbangan di kano satunya lagi, dan mendapati bahwa orang tersebut mengidap demam berdarah.

Kini Charles telah kembali ke Guelph, mengolah data untuk menyerahkan penelitiannya untuk publikasi, serta menfinalisasi disertasi S3-nya.

Pembimbing akademis yang ia hubungi 3 tahun lalu yaitu Alastair Summerlee, seorang professor endokirnologi,  yang juga merupakan Presiden University of Guelph, hampir sama antusiasnya dengan Charles. Summerlee tahu bahwa ia telah mengambil resiko ketika membolehkan Charles mengubah jalur penelitian akademisnya.

We were flying by the seat of our pants, Chris harus bekerja di suatu tempat dimana ia harus mempelajari segalanya (termasuk bahasa Khmer) dengan trial and error, sedangkan saya selalu khawatir apakah ini merupakan keputusan yang benar atau bukan. Apakah dia mampu menyelesaikannya?” kata Summerlee.

“Tetapi hasilnya sungguh luar biasa. Dia telah mempresentasikan temuannya di Asia, Eropa dan Amerika Utara dan mendapatkan pengakuan. Selain itu ada kemungkinan besar bahwa penemuan yang sederhana ini dapat memberi dampak yang signifikan terhadap kondisi kesehatan perempuan-perempuan di Asia.”

Pelajaran lain yang telah Charles dapati adalah bahwa pemasaran atau marketing merupakan sisi lain dari ilmu pengetahuan.

“Karena pengobatan paling efektif sedunia pun tidak akan berguna jika tidak ada yang ingin menggunakannya.”

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel Louise Brown dalam The Star tanggal 12 November 2011.

Michelangelo, Sang Pujangga

Michelangelo Buonarroti
Michelangelo Buonarroti

Pelajaran pertama yang kebanyakan orang peroleh mengenai kesenian zaman Renaisans Italia diajarkan ketika berusia 7 atau 8 tahun. Waktu itu para pelajar diajarkan 4 nama tokoh penting dalam perkembangan kesenian dan kesusastraan renaisans yang bahkan tidak berasal dari sekolah atau buku pintar yang sering dicekokan oleh orang tua yang ambisius. Tidak, nama-nama tersebut dapat dipelajari dari kartun Kura-kura Ninja. Empat tokoh penting yang berkontribusi banyak kepada ilmu pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan lingkungannya, serta bagaimana ia dapat mengekspresikan pengetahuan tersebut dalam seni adalah Leonardo, Donatello, Michelangelo dan Raphael.

Dalam kesempatan ini mari kita pelajari dengan lebih seksama sang kura-kura ninja dengan ikat kepala warna kuning, Michelangelo. Michelangelo Buonarroti adalah seniman asal Tuscanny, Italia yang paling dikenal karena patung mahakaryanya “David” serta lukisan-lukisan fresco (atau lukisan di langit-langit dan dinding) yang menghiasi Gereja Sistine di Vatikan. Nama beliau tentu sudah tidak asing lagi di telinga kebanyakan orang, setidaknya bagi yang belum pernah mendengar namanya (atau selama ini memang beranggapan bahwa Michelangelo hanyalah nama siluman kura-kura belaka) pasti tahu atau pernah melihat karya-karyanya.

This slideshow requires JavaScript.

Continue reading “Michelangelo, Sang Pujangga”

Mengapa Manusia Menikah?

Melihat dan mendengar seringnya pemberitaan mengenai perceraian, tanpa terasa mungkin sebagian dari kita mendapatkan kesan bahwa dewasa ini semakin banyak orang yang bercerai. Selebriti A bercerai, tokoh B bercerai, bahkan terkadang kita juga mendengar berita bahwa artis A kembali bercerai dari pasangan kedua atau ketiganya. Seringnya pemberitaan memberikan kesan kepada kita seolah-olah kasus perceraian terjadi cukup sering, sehingga membuat sebagian dari kita mungkin menjadi takut untuk menikah.  Di Indonesia sendiri dilaporkan bahwa kasus perceraian mengalami peningkatan. Pada 2010 dilaporkan sekitar 285,184 perceraian di seluruh Indonesia, meningkat dari angka 216,286 pada 2009. Memang secara kasus meningkat, tapi jangan-jangan kasus cerai meningkat karena jumlah pernikahannya juga meningkat?

Hal tersebut  logis untuk dipertanyakan karena setiap tahun jumlah penduduk Indonesia tumbuh sekitar 1.49% per tahun atau sekitar 3.5 juta jiwa per tahun. Jadi wajar jika kita curiga bahwa setiap tahun mungkin jumlah pernikahan juga meningkat. Sayangnya hasil pencarian saya tidak menemukan angka jumlah perkawinan per tahun, hanya menemukan angka untuk tahun 2010 yaitu sekitar 2 juta orang menikah, dengan interpretasi yang mungkin sotoy, berarti sama saja dengan 1 juta pernikahan.  Dengan demikian, rasio perceraian:pernikahan di Indonesia pada 2010 sekitar 28.5%. Tinggi ya? Kalau dibandingkan dengan rasio perceraian:pernikahan Amerika Serikat yang sekitar 53%, ya masih tergolong rendah; tapi kalau dibandingkan dengan Brazil yang sekitar 21%, agaknya cukup tinggi yah.  Tapi ada fakta menarik dari Inggris dan Amerika Serikat lho, yaitu tren tingkat perceraian di kedua negara tersebut mengalami penurunan pada 2000-2011.

Sekilas dari gambaran di atas, di mana di Indonesia rasio peristiwa cerai versus pernikahan sekitar 1:3, sementara di Amerika Serikat sekitar 1:2, memang rasanya cukup wajar lah ya kalau masyarakat mulai merasa lebih khawatir atau takut untuk menikah. Pertanyaan mendasar pun lantas muncul ke permukaan. Kalau pada akhirnya akan cerai juga, ngapain nikah  ?

Orang bijak pernah berkata, kalau ingin merubuhkan pagar, sebaiknya kita mempelajari terlebih dulu soal mengapa pagar tersebut didirikan. Hal ini kemudian membuat saya kembali kepada nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang kita miliki. Satu hal yang menarik bagi saya pribadi adalah tradisi suap-suapan (atau saling menyuapi) yang umum dilakukan oleh setiap pasangan yang baru menikah. Kasarnya, peristiwa saling menyuapi itu merupakan pose  atau adegan wajib yang harus dilakukan dan diabadikan (difoto) bagi setiap pasangan yang baru resmi menikah. Suatu hari saya bertanya dengan seorang kolega senior, mengapa sih pasangan pengantin baru tuh harus difoto pada saat saling menyuapi? Berikut jawaban yang saya dapat (ditulis berdasarkan ingatan):

“Inilah lo lo ini anak-anak muda udah ga kenal lagi dengan nilai-nilai budaya leluhur. Tapi baguslah lo nanya. Jadi gini, tradisi suap-suapan tu merupakan simbol bahwa sebagai sepasang suami istri, dua insan tu berjanji sehidup semati, saling menemani dalam kondisi susah senang. Nanti akan ada masanya sang istri ga berdaya, bahkan sampai ga berdaya untuk makan sendiri sehingga harus disuapin, Begitu pula sebaliknya, mungkin suami yang akan sebegitu tidak berdayanya sampai ga bisa makan sendiri jadi harus disuapin sama sang istri. Pada saat suap-suapan itu, kedua mempelai mestinya saling memaknai bahwa kalau orang ini ga berdaya, gw yang akan nemenin dan ngerawat dia; harus dua-duanya memaknai itu, karena kalo cuma salah satu aja, pasti akan ada yang tersakiti. Jadi pada saat lo mutusin mau nikah, jangan mikir seneng-senengnya aja. Bayangkan masa-masa susahnya, ketika pasangan lo ga berdaya. Siap ga lo ngerawat dia? Kalau siap, ya menikahlah.”


Continue reading “Mengapa Manusia Menikah?”

Harapan atas kebahagiaan di era Internet: mengenal dan mengenang Aaron Swartz

"Information is power. But like all powers, there are those who want to keep it for themselves" - Aaron Swartz
“Information is power. But like all powers, there are those who want to keep it for themselves” – Aaron Swartz

Saya  lupa kapan tepatnya, mungkin 2-3 hari lalu, seperti biasa saya senang melihat-lihat timeline halaman facebook, jika ada link yang menarik yang ditempatkan pada status teman-teman, saya buka. Nah, hari itu saya membuka link tentang Aaron Swartz, aktivis muda yang giat memperjuangkan hak masyarakat atas informasi, khususnya informasi-informasi yang proses pengumpulan dan pelaporannya dibiayai oleh dana publik yaitu dana pajak. Saya tertarik untuk membuka link itu karena hak atas informasi belum disadari banyak orang, apalagi untuk konteks Indonesia di mana masyarakat hanya diam  dan nyaris tidak menuntut apa-apa terkait sulitnya mendapatkan informasi, baik dari informasi tentang proses membuat SIM, mengurus paspor, mengurus perizinan usaha, membuat badan hukum, mengurus sertifikasi halal, sampai informasi atas nomor-nomor telepon aparat atau satuan kerja yang diperlukan masyarakat dalam mengurus segala bentuk keperluan. Semua informasi tersebut tidak hanya sulit diakses, terkadang bahkan, tidak ada. Sehingga luas memang ruang gerak bagi calo atau oknum untuk mengambil keuntungan dari ketiadaan informasi tersebut. Beda orang beda prosedur, beda orang beda harga untuk setiap urusan. Sayangnya, itulah Indonesia. Saya sendiri terbilang cukup rajin menyuarakan hak atas informasi publik tersebut manakala punya kesempatan untuk berdialog dengan kalangan pemerintahan. Pendek kata, akhirnya saya berkunjung ke link tersebut, dan untuk pertama kali saya jadi mengenal seorang sosok yang bernama Aaron Swartz.

Ia berusia 26 tahun, cukup tampan, dan digelari orang computer prodigy karena kegeniusannya di bidang teknologi informasi. Ia merupakan salah satu pembangun system RSS (yang logonya sering kita lihat di berbagai liputan di internet) ketika umurnya 14 tahun! Ia hanya kuliah 1 tahun di Stanford University sebelum resmi drop-out (mungkin karena ia menyadari semua yang diajarkan di kampus dapat ia pelajari sendiri?), namun eksistensinya di dunia internet membuatnya menjadi peneliti pada suatu pusat studi Korupsi, yaitu di Harvard Ethics Center Lab on Institutional Corruption. Adapun dari banyaknya hal yang mungkin Ia pertanyakan, Aaron percaya bahwa informasi, khususnya yang dibiayai oleh dana publik dan terkait dengan ilmu pengetahuan, harusnya dapat diakses oleh masyarakat (publik) secara gratis. Hal ini yang membuatnya mengakses dokumen-dokumen rekaman sidang Amerika Serikat – yang dikenai biaya jika masyarakat hendak mengaksesnya – lalu menyediakannya kembali ke dunia internet secara gratis. Hal ini dilakukannya pada 2008, berhasil dihentikan oleh pemerintah AS, namun Aaron waktu itu tidak dikenai hukuman apapun.

Continue reading “Harapan atas kebahagiaan di era Internet: mengenal dan mengenang Aaron Swartz”

Dissecting Dali

Dali

Dalam masyarakat yang dicekoki begitu banyak iklan dan informasi baru, bagaimanakah cara sebuah creative entity dapat menarik perhatian pejalan kaki pada umumnya? Tentu saja dengan menyeret tiga pelukis ikonik dalam sejarah seni modern, menggeletakan mereka diatas meja bedah, dan membelah dada mereka sehingga ‘organ tubuh’nya terlihat!

dissect

Sebuah kampus seni di São Paulo, Brazil menggunakan gambar Salvador Dali, Pablo Picasso, dan Vincent van Gogh yang dibedah layaknya seekor tikus dalam pelajaran anatomi  di kelas biologi. Hanya saja organ tubuh mereka dilukis dalam gaya lukis mereka masing-masing. Jantung Dali yang membara dilukis dalam gaya surealis dengan warna cerah dan detil rumit yang dapat kita temukan dalam lukisan-lukisannya. Garis tegas dan berani yang membentuk hati Picasso begitu kaya akan emosi yang menghiasi karyanya. Lambung dan usus besar van Gogh dari kejauhan terlihat seperti bagian dari lukisan Starry Night namun dari dekat sebenarnya tampak agak grotesque.

Iklan tersebut seolah mengajak siapapun yang melihat untuk ikut ‘membedah’ seperti apa batin dari ketiga jenius tersebut dan mencari tahu apa yang membedakan mereka dari seniman serta individu lainnya. Walaupun memang jawaban aslinya tidak mungkin seeksplisit dalam iklan tersebut, what a deliciously tongue-in-cheek way to prove a point!

HIV/AIDS: Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya

koranMengingat potongan koran ini saya teringat dengan ucapan salah seorang cendikia muslim di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa inti dari ajaran Islam adalah membenci perbuatan dosa, bukan pendosanya. “Hate the sin, not the sinner,” begitu katanya. Begitu pula dengan konteks HIV/AIDS, yang perlu dijauhi adalah penyakitnya, bukan orangnya.

Sekedar mengingatkan, HIV/AIDS tidak menular melalui udara ataupun persentuhan kulit, melainkan melalui darah ataupun cairan semen (mani), jadi mengapa terlalu paranoid dengan penderita HIV/AIDS atau yang biasa disebut dengan ODHA (orang dengan HIV/AIDS)? Mereka sudah cukup menderita dengan virus atau penyakit tersebut, belum lagi umumnya mereka dikucilkan oleh sanak saudara mereka sendiri, mengapa kita perlu menambahkan penderitaan mereka?

Dunia kita sudah cukup banyak penderitaan, sudah cukup banyak pula bentuk-bentuk ketidakadilan atau diskriminasi yang meresahkan. Apa perlunya kita tambahkan lagi? Dunia kita perlu lebih banyak persaudaraan, dunia kita rindukan senyum-senyum perdamaian yang menentramkan. Mengapa tidak kita berikan itu saja bagi dunia kita? Salah satunya adalah dengan memberikan jabat tangan persaudaraan dan senyum perdamaian bagi saudara-saudara kita yang terkena HIV/AIDS dan tengah berjuang menceriakan dan mengoptimalkan pemanfaatan sisa hidup mereka. Ya, jauhi penyakitnya, bukan orangnya. Selamat hari HIV/AIDS sedunia. Salam damai dari salamduajari 🙂