Category: Tahukah Kamu?

Finding Resonance in Art’s Hollowness

It’s funny how memory works and how it recollects random observations we make of a given moment. Sometimes the things we remember aren’t really historic or so emotionally groundbreaking, sometimes they’re actually quite trivial details of a particular moment. I remember from years ago I was sitting in class, I don’t remember how many years ago or what class it was. The lights were turned off because we were shown a powerpoint presentation, I don’t remember by whom or of what the presentation was given. The popular kids were seated in the back of the class like usual, leaning back and balancing on the two hind legs of their chairs, occupied with their own version of playground gossip just as I was with my circle of friends a few rows in front of them. I remember silence overtaking the room as one particular slide showed up on the projector screen. It was a photograph of a child sitting on dry grounds, ribs protruding out of the skins of her torso. In the background, slightly off focus, was a vulture. That was the day I first saw the iconic Pulitzer winning photo shot by Kevin Carter of the vulture and the starving child. I don’t remember what I said after seeing that picture but I remembered feeling like I needed to get out of the room and run as far away from there as possible.

the vulture and the starving child

The only other thing I remembered from the presentation was that we were asked by the presenter on what we thought of the photograph. They asked us, “What do you think of this picture? Do you think it was the right thing to do to have taken that photo instead of actually helping the child? What would you have done in that situation?” The question really disconcerted me, I’m sure it did most if not all of my peers as well. We could not have been twelve at most. At the time I thought, “Well obviously something’s wrong with the guy if he insisted on clicking away at his camera as he watched the life extinguish out of a helpless child right before him!” which in retrospect seems kind of judgmental and off-putting of me to say. Then we were told that the photographer had died, committing suicide caused by the insufferable guilt as a direct result of the image that haunted him for the remainder of his life. Or so it was implied.

It was a memorable moment in my life because we were suddenly confronted by this very real and very complex question of prioritisation and purpose. Continue reading “Finding Resonance in Art’s Hollowness”

Advertisements

Budaya Memuliakan Tamu, Kearifan Lokal?

Pontianak, 7 September 2013 – Sebagai seorang pemelajar yang ingin mengurai masalah akses keuangan untuk masyarakat pra-sejahtera, saya sering berdialog dengan berbagai kalangan yang memang, kurang disukai oleh lembaga keuangan formal, khususnya bank. Mereka-mereka adalah kalangan petani, pelaku usaha ultra mikro (pendapatan kotor atau omset usahanya kurang dari Rp 250,000/hari), nelayan, sampai pemulung. Sejauh ini, dari berbagai perjalanan saya dari sabang sampai merauke, ada satu kesamaan yang saya temukan pada budaya masyarakat kita, yaitu budaya memuliakan tamu.

Sumber gambar: www.indonesia.travel
Sumber gambar: http://www.indonesia.travel

Waktu saya ke Serdang Bedagai di Sumatera Utara, oleh pelaku usaha mikro penghasil opak singkong membungkusi saya berenteng-renteng buah rambutan. Jika saya tidak menolak dengan tegas, sekitar 6-10 buah durian juga ingin beliau berikan sebagai buah tangan. Waktu saya ke Kabupaten Pati di Jawa Tengah, saya dimasakkan bamdeng gpreng dan pepes jeroan bandeng untuk makan siang. Tidak kalah, waktu ke Salatiga, saya dimasakkan tahu goreng sambal kecap dan sayur ceriwis. Begitu pula yang terjadi di wilayah timur Indonesia. Di Kabupaten Timur tengah Selatan (NTT) saya dikalungi tenunan khas mereka, dan waktu ke Papua saya di-oleh-olehi kopi. Indah memang budaya ini. Indah karena menurut saya, porsinya masih “pas”. Ketika porsinya berlebihan… hmmm.

Adapun contoh alkisah yang berlebihan adalah seperti ini:

  1. Di NTT, adalah budaya untuk menjamu tamu, apalagi sanak saudara yang datang dari kampung lain dan sampai menginap di rumah. Kasus yang pernah saya dengar sendiri dari masyarakat adalah di mana si tuan rumah bisa sampai rela menyembelih hewan ternak mereka untuk menjamu tamu. Wajar jika hewan ternak yang dimiliki banyak, namun jika yang dimiliki terbatas dan dulunya dibeli dengan dana pinjaman? Aksi itu selain membuat tuan rumah kehabisan sumber mata pencaharian, juga membuat proses pengembalian pinjaman mereka juga menjadi macet.
  2. Di Papua, budaya cinta kasih sering mengalahkan disiplin berusaha. Orang sulit menolak jika ada anggota keluarga yang meminta bantuan berupa sembako, rokok, atau barang dagangan lainnya. Akhirnya, modal tidak berputar sempurna, karena barang yang sudah dibeli, tidak dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi, melainkan menjadi pemberian atau penjualan dengan hutang “lunak” untuk sanak saudara. Ada pengakuan menarik yang pernah saya dengar dari pelaku usaha mikro yang mengakui kegagalan usaha warung sembakonya dulu. Beliau berkata, “kalau nagasaki dan hiroshima hancur karena bom, maka warung saya hancur karena bon!” Continue reading “Budaya Memuliakan Tamu, Kearifan Lokal?”

Out of the Blue: Bagaimana Google berharap dapat berbagi koneksi internet dengan balon

Ketika pertama kali terbentuk di tahun 80an, internet memiliki fungsi yang sangat berbeda dari yang kita ketahui saat ini. Di pertengahan tahun 90an ketika penggunaan internet mulai booming di kalangan publik, semuanya sangat tergila-gila dengan e-mail, chatting dan surfing the web dengan sambungan lemot—waktu itu saya masih terlalu kecil untuk bisa merasakan sendiri sih, tapi saya pernah nonton film You’ve Got Mail which is basically the same thing, right? 20 tahun kemudian internet telah berubah menjadi suatu hal yang baru sama sekali. Kita diperkenalkan pada istilah-istilah baru seperti ‘google’, ‘blog’ dan ‘tweet’, dan juga pada situs jejaring sosial yang tampaknya berhasil memperbudak kehidupan sehari-hari kebanyakan dari kita (RT ini kalau setuju!). Internet telah merombak pengertian dari kata ‘jarak’ dimana kini segalanya tersedia di ujung jari kita namun tetap saja terasa amat jauh. But that’s a story for another day.

Siapa yang dapat menduga 30 tahun yang lalu bahwa suatu teknologi yang dirancang untuk kegunaan militer kini telah menjadi integral dalam kehidupan kita sehari-hari? Setidaknya bagi mereka yang memiliki akses internet. Banyak orang menganggap hanya karena kakek dan nenek dan saudara jauh kita semua terhubung di dunia maya bahwa kakek dan nenek dan saudara jauh setiap orang juga menikmati hal yang sama. Kenyataannya hanya 1 dari 3 orang di muka bumi ini memiliki akses internet, di Indonesia sendiri hanya 22% penduduk kita merupakan pengguna internet. Karena dunia masa kini menuntut semua orang semakin terhubung, internet proficiency menjadi suatu hal yang begitu diperlukan selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu memastikan bahwa lebih banyak orang dapat menyambung ke internet untuk melihat foto-foto kucing dan hal penting lainnya telah menjadi suatu prioritas. Google, para pelopor teknologi informasi, telah memikirkan sebuah solusi bernama Project Loon yang bertujuan menyediakan akses internet yang cepat dan murah untuk sisa 2 dari 3 orang tadi. Bagaimana mereka berupaya menyebarkan aksesibilitas bagi daerah-daerah terpencil di muka bumi? Jawaban mereka? Dengan meniup balon.

Berikut adalah terjemahan postingan blog official Google mengenai Project Loon pada 14 Juni oleh Mike Cassidy, pemimpin Project Loon:

Introducing Project Loon: Balloon-powered Internet access

Internet adalah salah satu teknologi yang paling mengubah hidup kita sejauh ini. Tetapi bagi 2 dari 3 orang di dunia, sambungan internet yang cepat dan murah tidak tersedia bagi mereka. Dan masalah ini belum juga terpecahkan.

Beberapa hambatan dari konektivitas internet yang terkait masalah geografis—daerah hutan, kepulauan, pegunungan. Beberapa hambatan lainnya terkait biaya yang muncul. Contohnya saat ini dalam kebanyakan negara di bumi bagian selatan, biaya sambungan internet dapat melebihi tingkat pendapatan sebulan.

Memecahkan perihal diatas bukan sekedar masalah waktu tetapi juga memaksa kita memandang masalah aksesibilitas dari sudut pandang lainnya. Dengan demikian kami mempersembahkan moonshot terbaru dari Google[x]: Akses internet tenaga balon.

Continue reading “Out of the Blue: Bagaimana Google berharap dapat berbagi koneksi internet dengan balon”

Eksperimen Joshua Bell, Apakah kita sudah cukup menghargai keindahan?

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS. Sumber: www.peaceformeandtheworld.ning.com
Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS.
Sumber: http://www.peaceformeandtheworld.ning.com

Di Stasiun Metro, Washington DC, pada suatu pagi yang dingin di bulan Januari tahun 2007, seorang lelaki dengan sebuah biola memainkan enam buah partitur klasik selama kurang lebih 45 menit. Selama itu, sekitar 1097 orang lalu lalang melewatinya, sebagian besar dari mereka akan berangkat bekerja, yang sebagian besar dari mereka bekerja untuk pemerintah, seperti analis kebijakan, project manager, petugas anggaran, fasilitator, dan mungkin konsultan.

Setelah sekitar empat menit, seorang lelaki paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi yang sedang bermain musik. Ia memperlambat langkahnya dan berhenti selama beberapa detik, kemudian ia kembali terburu-buru mengejar jadwalnya.

Sekitar empat menit kemudian, pemain biola tersebut menerima dollar pertamanya. Seorang wanita memasukkan uang ke dalam topi sang pemain biola, tanpa berhenti, sambil langsung berlalu begitu saja.

Pada menit keenam, seorang laki-laki muda bersandar ke dinding untuk mendengarkan permainan biola itu, kemudian memandang jam dindingnya dan kembali berjalan.

Pada menit kesepuluh, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berhenti, namun ibunya segera membawanya pergi. Anak itu berhenti dan kembali memandang pemain biola, akan tetapi sang ibu mendorong anak tersebut dengan kuat dan anak itupun akhirnya pergi, sambil terus melihat ke belakang sepanjang perjalanan. Aksi serupa kembali terulang pada beberapa anak yang lain, namun setiap orangtua- tanpa terkecuali- memaksa anak mereka untuk segera pergi.

Pada menit keempat puluh: musisi tersebut memainkan biolanya terus menerus. Hanya ada enam orang yang berhenti dan mendengarkannya sesaat. Sekitar dua puluh orang memberi uang sambil berlalu begitu saja. Musisi tersebut akhirnya berhasil mengumpulkan 32 dollar.

Setelah satu jam: musisi itu selesai memainkan biolanya dan terdiam sesaat. Tak seorang pun melihat ke arahnya dan memberikan tepuk tangan. Tak ada yang mengapresiasinya sama sekali.

Tidak ada yang mengetahui bahwa pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, salah satu musisi terbaik di dunia. Ia baru saja memainkan salah satu bagian musik yang paling rumit yang pernah ditulis di dunia, dengan biola seharga 3,5 juta dollar. Dua hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston berhasil terjual habis dimana setiap penontonnya membayar rata-rata 100 dolar untuk duduk dan mendengarkan  Ia memainkan musik yang sama.

Ini adalah kisah nyata. Joshua Bell yang memainkan incognito di stasiun Metro D.C merupakan eksperimen sosial tentang persepsi yang dilakukan oleh Washington Post untuk mengetahui selera dan prioritas masyarakat.

Eksperimen ini memunculkan beberapa pertanyaan:

Dengan nuansa kondisi dan waktu yang kurang nyaman, apakah keindahan tetap dapat menembus hati manusia?

Dialihbahasakan dari bagian artikel ini.

Perubahan pada Planet Bumi Kita

Teknologi membuat banyak hal yang dulu tidak mungkin dilakukan, menjadi mungkin. Termasuk salah satu diantaranya adalah potret satelit yang menangkap beberapa lokasi di planet bumi kita, yang kemudian disusun dari waktu ke waktu, membentuk suatu animasi keren yang membuat kita dapat melihat tranformasi yang terjadi pada permukaan bumi.

Berikut adalah beberapa animasi transformasi di beberapa titik permukaan bumi yaitu Dubai, dimana kita dapat melihat perluasan daratan yang telah dibuat manusia menyerupai pohon Palm; Arab Saudi, dimana kita bisa melihat transformasi wilayah gurun pasir menjadi wilayah pertanian yang dimungkinkan oleh adanya teknologi irigasi; Las Vegas (Amerika Serikat), dimana lahan kosong menjadi dipenuhi oleh titik-titik abu-abu pembangunan gedung-gedung perkotaan; dan Brazil yang mengalami deforestasi, sebagian karena alih fungsi kawasan hutan sebagai lahan pengembangan kedelai, sehubungan dengan kebijakan negara tersebut yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan menggantikannya dengan bahan bakar minyak nabati berupa ethanol yang diproses dari kacang kedelai.

dubai

saudi

vegas

brazil

Diambil dari sini.

Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin

"Black Untitled, 1948" (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.
“Black Untitled, 1948” (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.
"No 5/No 22" (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.
“No 5/No 22” (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.
"Number 1" (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.
“Number 1” (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

Gerakan seni modern Amerika selama tahun 1950-60an sangatlah unik. Sepertinya tidak ada gerakan lain yang dapat begitu mengundang perselisihan intelektual dibanding ekspresionisme abstrak. Bahkan dalam kongres Amerika pun perdebatan mengenai pendanaan karya seni seolah tidak pernah berhenti. Seorang anggota kongres zaman itu pun pernah berkata, “Saya hanya warga Amerika bodoh yang membayar pajak untuk sampah seperti ini.” Meski demikian kaum bohemia dan para intelektual muda liberal yang memegang peran begitu penting dalam lingkaran seni di zaman tersebut sangat mendukung gerakan ini. Bahkan sekarang hampir terdapat sebuah konsensus bahwa cipratan cat warna-warni Jackson Pollock, yang sering diejek seolah dibuat oleh seorang bocah berumur 5 tahun, adalah mahakarya seni yang penuh makna.

Bagaimana sebuah gerakan yang memicu sedemikian banyak pendapat yang saling bertentangan ini dapat terus berkembang, bahkan mendominasi dunia seni dunia selama berlangsungnya era perang dingin, dan kemudian diagungkan pada masa kini? Terdapat banyak spekulasi sekitar peran CIA sebagai patron untuk seniman era tersebut seperti Pollock, de Kooning, dan Rothko, bagaikan Paus bagi gerakan seni renaisans Italia, dan spekulasi tersebut tidak pernah dibantah maupun dikonfirmasi hingga pertengahan tahun 1990an ketika kejadian saat perang dingin sudah mulai mendingin (pun intended? Maybe). Pada tahun 1995, sebuah artikel dalam koran The Independent memastikan spekulasi tersebut sebagai kenyataan. Yah, memang sudah lama waktu berlalu setelah berita ini pertama kali muncul tetapi bagi saya ini adalah informasi yang lumayan mencengangkan ketika pertama kali membacanya dalam sebuah situs yang sering membahas propaganda dalam karya seni, khususnya dalam era peperangan. Kemudian saya berpikir apakah mungkin hingga kini pun, para seniman kontemporer dengan statemen politik kentalnya masing-masing hanyalah bagian dari skema rumit yang elegan dalam upaya mengarahkan jalur perubahan kebudayaan manusia  ke arah tertentu? Sepertinya hampir sudah pasti begitu, tapi cukup sudah sesi konspirasinya! Dibawah ini adalah terjemahan artikel Open Culture mengenai kisah dibalik gerakan ekspresionisme abstrak Amerika dan peran CIA.

How the CIA Secretly Funded Abstract Expressionism During the Cold War

Mengenai kemungkinan akan karya seni yang proletar, kritikus sastra Inggris William Empson pernah menyatakan, “alasan dibalik dapatnya masyarakat Inggris menikmati film propaganda Rusia adalah karena propaganda yang terkandung begitu irrelevan untuk dianggap menjengkelkan.” Mungkin karena inilah para seniman Amerika dan kaum bohemia dapat begitu tertarik dengan ikonografi dari politik rezim-rezim terpencil, baik dari segi fantasi maupun ironi. Yang dianggap realisme sosialis yang menjemukan bagi satu pihak adalah sebuah eksotika yang radikal bagi pihak lain.

Namun apakah ekspor budaya Amerika memiliki efek yang sama? Kita hanya perlu menengok kesuksesan branding terdangkal AS untuk menjawab, “Ya.” Tetapi tiada seorangpun yang akan menggolongkan lukisan-lukisan abstrak ekspresionis dengan hal-hal seperti fast-food dan Disney. Walaupun demikian, karya-karya seniman seperti Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Willem de Kooning termasuk bagian dari program rahasia CIA selama puncaknya perang dingin yang bertujuan mempromosikan ideologi Amerika diluar negeri.

Para seniman yang terlibat sama sekali tidak mengetahui bahwa karya mereka digunakan sebagai propaganda. Dalam operasi yang disebut agen CIA sebagai “Long Leash,” mereka mengikuti beberapa pameran yang secara tersembunyi diselenggarakan oleh CIA, contohnya pameran keliling “The New American Painting” yang ditunjukkan dalam kota-kota besar Eropa selama 1958-59 dan menyertakan karya modern primitive seperti Dwarf (1947) milik seniman surealis, William Baziotes. Continue reading “Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin”

Merk Lokal yang Go International

Tahukah anda bahwa walaupun belum banyak, indonesia sudah memiliki beberapa merk yang sudah Go International selain Indomie dan Tolak Angin? Ini dia beberapa merk national yang sedang go international 🙂

Dalam dunia bisnis, kita sering dengar kata “branding”. Branding adalah konsep yang ternyata paling banyak salah dimengerti dalam dunia pemasaran.

Branding bukanlah periklanan dan bukan pula pemasaran atau humas. Branding adalah cara membentuk konsumen potensial agar memandang Anda sebagai satu satunya pemecahan masalah mereka.

Begitu Anda dipandang sebagai satu satunya, tidak ada tempat lain untuk berbelanja. Sedangkan Merek adalah “kepribadian sejati perusahaan.” Merek adalah apa yang dipikirkan dan dikatakan konsumen.

Selain itu merek adalah sebuah janji dan branding merupakan tindakan mewujudkan janji yang dibuat perusahaan kepada dunia.

 

ouval research

Ouval Research

Maraknya komunitas skateboard di Bandung membuat trio Rizki, Maskom dan Firman, pada 1997 menciptakan Ouval Research. Tujuan semula adalah untuk menyuplai peranti juga fesyen buat para skateboarder.

Kekuatan label ini terletak pada koleksi kaosnya yang hadir dengan print unik dan erat sekali dengan budaya street style yang dinamis, fun dan berjiwa muda. Dari kaos, koleksi Ouval Research berkembang hingga ke aksesori, mulai dari tas, sepatu, bahkan sampai MP3 dan otopet.

Kini Ouval Research semakin memperlihatkan keseriusan dan kemajuan bisnisnya hingga mengekspor produknya ke mancanegara seperti Singapura di butik Fyeweraz dan skateboard di Jerman.

 

le monde

Le Monde

Le Monde diambil dari Bahasa Prancis yang artinya dunia. Perusahaan ini merupakan bisnis keluarga memiliki yang didirikan oleh Zakiah Ambadar (Jackie Ambadar) dengan aset Rp 13 miliar dengan omset Rp 3 miliar per bulan.

Saat ini, perusahaan perlengkapan bayi ini mempunyai 10 outlet yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bogor dan Malang. Selain memiliki banyak outlet, Le Monde telah melakukan franchise sejak tahun 2001.

Kini produk produk Le Monde sudah diekspor keberbagai negara di Asia, Australia, Jerman, hingga negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Bahrain. Berkat keberhasilannya menjaga mutu prima, Le Monde pernah menyabet penghargaan Best Asean Infant Wear 2005.

 

mimsy

Mimsy

Christyna Theosa, seorang mahasiswi Art Center College of Design Pasadena, Perempuan kelahiran Tuban, 2 Januari 1982, sukses dengan tas buatannya yang diberi nama label Mimsy pada 2004.
Ia banyak bereksperimen dengan bahan dan warna untuk menciptakan desain yang elegan, unik, dan classy, namun juga seksi dan funky. Ia mendesain clutch-nya dengan bahan terbaik seperti kulit Italia, kain lace Jepang dan Prancis, pita sutra, beludru, hingga kristal Swarovski.

Semua tas dan clutch-nya juga dilapisi dengan bahan suede Italia dan satin. Tas-tas buatannya ini dijual dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta. Kini tas karyanya bisa ditemui di Amerika (New York, Los Angeles, Chicago), Jepang, Malaysia, dan tentunya Indonesia (Grand Indonesia Shopping Town).

 

petersaysdenim

PeterSaysDenim

PeterSaysDenim adalah nama merek celana jins yang cukup terkenal di Bandung, didirikan oleh Peter Firmansyah. Produk-produknya sudah diekspor ke beberapa negara. Bahkan jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek PeterSaysDenim, bahkan dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat (AS), I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs PeterSaysDenim.

 

al madad

Al-Madad

Al Madad adalah merek cokelat yang digagas Sofihah dan mulai dikenal pasar lokal sejak 2008 lalu. Sofihah memang berniat mengangkat kekhasan lokal Banten dari produk cokelatnya. Mulai penamaan yang bernuansa religi dan budaya khas Banten, hingga penggunaan bahan baku cokelat yang berasal dari sejumlah pabrikan cokelat di Banten.

Sejumlah pabrikan ini juga menggunakan bahan baku cokelat dari perkebunan yang ada di provinsi berusia 10 tahun ini. Produk lokal cokelat Al Madad di bawah kepemimpinan Sofi, membuktikan kemampuan bisnis skala kecil memenuhi permintaan konsumen dan menarik kepercayaan perusahaan untuk menjadi mitra.

Dengan tambahan modal dari mitra, Sofi mampu menambah produksi cokelat untuk tetap konsisten memenuhi permintaan pasar. Dalam dua tahun, Al Madad dikenal sebagai produk unggulan khas Banten, serta berhasil menggaet pasar di kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Bukan mustahil nantinya dark chocolate asli Banten ini mendunia. Toh sejumlah produk impor nyatanya mengambil bahan baku dari lahan yang sama, tanah Banten.

 

jco

J.Co Donuts & Coffee

Johnny Andrean yang sebelumnya terkenal sebagai pengusaha salon yang sukses. Tak kurang dari 168 jaringan salon dan 41 sekolah salon dimilikinya, namun insting sang penata rambut kemudian membawanya terjun ke bisnis makanan.

Sejak tahun 2003 ia aktif mengembangkan J.COJ.COadalah produk dalam negeri dengan menggunakan konsep dari luar negeri dan disempurnakan dengan modernisasi dan kualitas terbaik. J.CO ditujukan untuk menyerbu pasar asing.

 

klenger burger

Klenger Burger

Pada awalnya adalah Velly Kristanti dan suaminya, Gatut Cahyadi, ingin mencoba sebuah usaha sendiri, mereka pun nekat keluar dari pekerjaan dan memulai bisnis sendiri tahun 2004, dari bisnis advertising syariah, bisnis IT, ternyata semua berujung gagal.

Kebetulan pada awalnya mereka punya usaha Pondok Sayur Asem di daerah Pekayon, Bekasi, yang sempat tidak mereka pedulikan. Berawal dari situ, ide membuat makanan untuk anak muda yang cepat, halal, dan nikmat pun terbersit dan burger dipilih sebagai pilot project-nya.

Segala macam buku tentang burger dipelajari hingga akhirnya Velly membuat sendiri burger yang Indonesia banget. Terbuat dari roti yang lembut dan daging berurat serta saus spesial, burger bikinan Velly ternyata digemari dan semakin laris dipesan.

Intinya, bikin orang jadi ‘klenger’!. Begitulah nama ‘klenger’ akhirnya dikenal masyarakat, khususnya anak muda yang menjadi target market Klenger Burger.

 

77

Es Teler 77

Es Teler 77 bermula ketika Murniati Widjaja memenangkan juara kompetisi memasak dengan membuat minuman tradisional Indonesia itu. Saat itu pada 1982, Murniati dengan dukungan suaminya membuka restoran khusus es teler yang diberinya nama Es Teler 77. Dua angka di belakang bukan tanpa makna. Bagi keluarga Widjaja, 77 merupakan nomor keberuntungan. Modal Rp 1 juta dipakainya untuk mendirikan tenda kecil di emperan pusat perbelanjaan Duta Merlin, Harmoni, Jakarta Pusat. Terkadang, dagangannya terpaksa tutup ketika hujan mendera dan genangan mulai meninggi. Pada 1987, franchise pertama dibuka di Solo Jawa Tengah. Namun saat ini, Es Teler 77 telah mencapai 180 cabang dan mempekerjakan dua ribu orang, hampir di seluruh provinsi ada. Tak hanya di dalam negeri, Es Teler 77 telah go international ke Singapura dan Australia, masing-masing tiga outlet. “Kami sedang bersiap merambah Beijing dan Jeddah dengan mengikuti pameran di sana pada Mei ini,” kata Anton yang merupakan generasi kedua dari bisnis ini.

 

partners in crime

Partner in Crime

Fahrani memang sudah malang melintang di dunia modeling Internasional. Namun cewek bernama lengkap Fahrani Pawaka Empel ini ternyata punya insting bisnis yang baik. Yaitu merek sepatu buatannya, Partner In Crime. bisnis sepatu wanitanya berlabel Partner in Crimes, mendapat sambutan positif dari publik, baik lokal maupun international. Karakter yang rebellious dengan detail stud yang sangat digemari wanita urban mendominasi desainnya, yang tak hanya kondang di Bali. Disalurkan lewat butik multibrand di Jakarta, merek ini sudah berekspansi ke Ibiza, spanyol. Rencananya kedepan giliran Australia yang bakalan ‘ditodong’. Merek ini siap menjajah benua Kangguru.

 

hatten

Hatten Bali Wine

Wine yang beredar di Indonesia masih didominasi produk Impor, tetapi ada Wine Lokal yang mutunya tak kalah dengan impor yaitu Hatten Bali Wines. Wine ini mulai diproduksi oleh anak negeri asal Bali bernama I B Rai Budarsa tahun 1994. Gus Rai, panggilan akrabnya, sungguh tak asing dengan ilmu membuat minuman dari anggur, lantaran keluarganya sudah membuat brem dan arak Bali sejak tahun 1960-an, plus latar belakang pendidikannya di jurusan food processing, dan ia memang pecinta wine. Anggur-anggur didatangkan dari vineyard alias ladang anggur pribadi seluas 14,5 hektar yang berlokasi di Singaraja, Bali. Tidak hanya vineyard, Hatten juga mempunyai winery untuk memproduksi lebih dari 8 jenis wine, dan itu membuat Hatten Wines menjadi winery pertama di tanah air yang bisa dikatakan 100% Indonesia. Hatten Wine Rose hingga kini menjadi produk andalan dari Hatten Wine, dan sempat memenangkan penghargaan di London pada tahun 2003. Ekspor Hatten Wines kini sudah mencapai negara-negara Eropa seperti Belgia, Inggris dan Belanda, Aserta Singapura hingga Maladewa.

Sumber: Dari posting seorang kawan di milis.