Dunia Kita

Apakah Berjilbab dapat menjadi Indikator kedalaman Iman?

Didapat dari path temen. Jadi ini adalah sebuah "re-path" melalui media blog :)

Didapat dari path temen. Jadi ini adalah sebuah “re-path” melalui media blog 🙂

Quote dari Mufti Menk ini cukup menarik, karena memang beberapa orang – tidak tahu mana yang lebih banyak – suka merasa lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang lain, jika dirinya sudah berjilbab. Atau merasa anaknya, atau istrinya, akan lebih dekat dan disayangi oleh Tuhan, jika dia berjilbab, dibandingkan dengan yang tidak berjilbab. Seakan-akan, jilbab adalah indikator terpenting. Seakan-akan jilbab adalah indikator kedalaman iman seseorang. Padahal isi lubuk hati seseorang siapa yang tahu? Semoga kita bisa semakin fokus dengan mendekatkan diri kita sendiri kepada Tuhan, tanpa perlu kita membanding-bandingkan kedekatan kita dengan orang lain. Karena mungkin, ketika kita sudah mulai merasa “lebih bersih” atau “lebih dekat” kepada-Nya, dibandingkan dengan si A, si B, atau si C, mungkin tanpa kita rasakan, bibit kesombongan sudah merasuki jiwa kita. Mari kita mulai berhenti menghakimi orang lain, walaupun hanya berada di tataran pikiran saja. Seperti yang dikatakan Pak Mufti, “Ia mungkin memiliki 1 kekurangan yang terlihat, sementara Anda memiliki 50 kekurangan yang tersembunyi”.

Oh ya, Mufti Menk adalah seorang cendikia muslim yang lahir di Zimbabwe yang mendapatkan sarjana di bidang Syariah dari Universitas Madinah. Beliau sudah menjadi seorang Hafiz alias penghapal Al-Quran di usia yang sangat muda. Kalau ingin tahu lebih lanjut soal Mufti Menk, silakan ke website ini.

Advertisements
Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Balada Mengurus SIM sesuai Prosedur

Depok, 11/03/2014 – Tadi saya naik ojek mau ke kantor Polresta Depok untuk urus SIM A. SIM saya sudah lama mati, lama-lama merasa buruk sendiri juga kalau menyetir tanpa SIM. Memang Pak Polisi belum ada yang menangkap atau merazia, tapi saya merasa buruk dan sudah melanggar hukum saja. Oh ya, tukang ojek saya tadi anak remaja yang dengan gaya cengengesan menasehati saya: “kalo cuma ke kantor Samsat ngapain pake helm mbak”. Lalu saya jawab: “pakai dong, kan aturannya demikian, kita patuhi saja. Masyarakat kita ini susah diatur, kalau ga bisa disiplin ya wajar ga bisa maju-maju. Lagian saya bukan mau ke Samsat, tapi ke Polresta.” Dia diam saja. Lalu di tengah perjalanan, seperti biasa tukang ojek suka nyelap-nyelip, kaki saya menabrak tubuh angkot karena tukang ojek nyelip dari kiri (untuk mendahului) dengan jarak yang terlalu dekat. Saya lalu refleks memukul bahu kanannya sambil menggerutu: “aduh sakit tahu! Ugal-ugalan sih”. 

Dia sepertinya tadi bilang maaf sambil malu-malu dan melanjutkan perjalanan. Sesampai di depan Polresta, dia lansung nembak ongkosnya Rp 30,000. Saya kaget, “Ga 20 ribu? Naik taksi aja ga nyampe 30,000 argonya kalau dari komplek saya tadi”. Lalu dia mengaku tidak punya kembalian, dan saya putuskan untuk ambil semua uang yang ia tunjukkan berjumlah 24,000. Tidak begitu ikhlas, tapi saya terima. Anak itu mungkin masih perlu banyak belajar. 

Sesampai di kantor Polres saya langsung ke ruang ujian teori, karena hari ini sesungguhnya ujian ulang saya, sempat ga lulus waktu tes pertama dihari yang sama ketika pendaftaran awal 2 minggu lalu. Saya bayar 25,000 untuk urus surat keterangan sehat (yang sebenarnya bisa diurus sendiri diluar kantor polisi), lalu Rp 120,000 untuk formulir (untuk SIM A baru, bukan perpanjangan), dan Rp 30,000 untuk asuransi. Total saya keluar uang Rp 175,000. Kata orang-orang, kalau lewat calo bisa sekitar Rp 500,000. Anyway, waktu ujian tadi, ada sekitar 7 orang dalam ruangan dan semua tidak lulus kecuali saya dan 1 orang lagi yang urus SIM C. Ada 1 orang yang tidak lulus lalu minta tolong Pak Polisi untuk ujian ulang hari ini juga karena suaminya harus kembali ke Papua. Pak Polisi takut dan meminta si ibu menunggu di luar agar nanti ditemui langsung oleh atasannya saja. Saya tidak tahu ceritanya setelah itu. Continue reading

Categories: Dunia Kita | 1 Comment

Pengumuman dari Bapak Supir Taksi: “To all passengers, please talk in English, I want to improve my English”

Salah satu nasihat kehidupan yang sering saya terima adalah “dimana ada kemauan ada jalan”, atau nasihat versi globalnya, “where there is a will, there is a way”. Contoh nyata dari pelaksanaan nasihat itu adalah kisah Pak Tarnedi ini, seorang supir taksi yang memiliki cita-cita sederhana ingin lebih bisa berbahasa Inggris, agar tidak kalah dengan bangsa lain dan agar dapat menjadi lebih pintar. Jalan yang Ia tempuh unuk mencapai cita-citanya pun tergolong kreatif, karena tidak memakan biaya sepeser pun alias gratis. Bagaimana memang caranya? Ia minta saja penumpangnya untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Ia mulai dengan memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris-nya yang walau terbata-bata, namun menarik, karena beliau memperkenalkan diri sambil bernyanyi: “My name is Tarmedi, I live in Bekasi, my occupation taxi driver, I want to be smarter… I have 2 sons....”.

Saya terinspirasi membaca kisah ini, semoga teman-teman pembaca juga 🙂 berikut liputan utuh tentang Pak Tarnedi yang diambil dari http://www.merdeka.com. (DM)

Continue reading

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Mengenal Tahapan Perkembangan Moral Manusia

Selamat sore! 🙂

Di tengah deras hujan yang melankolis ini saya jadi ingin menulis singkat sambil berbagi sebuah tulisan yang saya pikir bagus. Kenapa? Karena ada unsur teori psikologi sekaligus potret kehidupan nyatanya. Tema tulisan yang akan saya bagi ini adalah tentang moral manusia. Sejenak saya teringat, dulu kalau belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sewaktu SD dan SMP, lalu belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), rasanya bosaaaaan sekali. Saya adalah bagian dari siswa yang tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Namun setelah saya semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa pendidikan moral itu sangatlah penting. Dalam suatu forum diskusi yang membahas soal krisis keuangan global 2008, kesimpulan para pemapar pada sesi tersebut adalah bahwa akar masalah dari proses pengelolaan perekonomian dunia kita adalah masalah moral. Mengapa? Karena perekonomian sudah bukan lagi soal need, tapi juga greed. Masih maraknya kemiskinan, di mana sekitar setengah penduduk dunia saat ini masih hidup di bawah $ 2.5/hari/orang – yang jika disetarakan dengan tingkat harga nasional kita, angka tersebut kurang lebih setara dengan Rp 18,000/hari/orang – juga terjadi karena masalah moral akut bernama korupsi. Saya lantas berandai-andai, jika saja pendidikan moral tidak seperti yang saya alami dulu, yang lebih berat pada hapalan dan teori, dan bukan pada pembahasan kasus, praktik, dan contoh perilaku yang ditunjukkan guru dan penduduk senior dalam kehidupan sehari-hari seperti metode pembelajaran di Jepang, akankah moral kita akan lebih baik? Akankah negeri kita saat ini akan lebih sejahtera?

Hal inilah yang membuat tulisan ini menarik, karena membahas soal teori moral. Intinya, moral dapat dibentuk. Dimulai dengan hal terkecil berupa doa kita. Kok bisa dari doa? Gimana ceritanya? Silakan baca saya artikel selengkapnya di bawah ini, yang ditulis oleh Profesor Sarlito, Guru Besar Fakultas Psikologi UI. Saya hanya menambahkan beberapa foto dari internet agar lebih menarik. Adapun saya membagi artikel ini bukan untuk mengajak kita semua setuju dengan pesan beliau, namun lebih untuk mengajak kita semua untuk lebih bersedia memperkaya diri kita dengan wawasan, yang diharapkan kemudian dapat berdampak pula pada rasa kepedulian kita. Demikian, selamat membaca, ya! 🙂

MORAL MANUSIA INDONESIA
Penulis: SARLITO WIRAWAN SARWONO, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

bayi inosenTiada bayi yang lahir sudah bermoral. Karena itu wajar kalau anak sampai umur tiga atau empat tahun berbuat sukasuka dia sendiri. Ia bisa bermain sama teman-teman seusianya sambil berlari-larian dan menjeritjerit tanpa peduli ada mbahnya yang sakit, atau tetangga yang kebisingan.

Baru sesudah orang tuanya marah, dia berhenti. Jadi dia berbuat baik (tidak mengganggu orang) karena takut dimarahi mamanya, takut kena hukuman. Atau bisa juga karena mamanya mengiming-imingi permen atau mainan. Jadi anak menurut karena mencari hadiah. Psikolog Lawrence Kohlberg (1927-1967) menyebut perilaku anak yang seperti itu sebagai tahap paling awal dari perkembangan moral, yang dinamakannya tahap “taat karena ganjaran (reward) atau hukuman (punishment).

Continue reading

Categories: Dunia Kita | Tags: , , , | Leave a comment

Tips Melawan Rasa Kantuk ketika Menyetir Jarak Jauh

Selain orang yang menyeberang sembarangan, motor berkendara dengan arah berlawanan arah, angkot yang parkir ditempat yang nyaman (murni untuk dirinya sendiri), salah satu yang sangat umum juga kita lihat di jalanan adalah truk-truk besar pengangkut berbagai jenis barang. Nah, supir truk ini cukup banyak yang harus berkendara lintas propinsi yang berjalak jauh sehingga tidak jarang dari mereka harus terus menyetir walau sudah larut malam atau bahkan, dini hari.

Berkaitan dengan itu, tentu para supir kerap harus melawan rasa kantuk. Tahukah kamu apa tips yang beredar di komunitas supir truk lintas propinsi untuk melawan rasa kantuk? Ini dia tips yang didapat oleh salamduajari dari sumber terpercaya yang tidak berkenan namanya disebut:

1. “Buka celana dalem”, ujar narasumber

2. “Basahin celana dalemnya”, tambahnya

3. “Pake lagi deh celana dalemnya”, jawabnya dengan sumringah

Kami cukup tertegun dan terkejut ketika mendengar tips itu. Tapi karena itu fakta dan masuk akal juga, jadinya kami laporkan deh. Semoga dapat menambah wawasan kamu juga yaa.. 🙂

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Tags: , | Leave a comment

Perubahan pada Planet Bumi Kita

Teknologi membuat banyak hal yang dulu tidak mungkin dilakukan, menjadi mungkin. Termasuk salah satu diantaranya adalah potret satelit yang menangkap beberapa lokasi di planet bumi kita, yang kemudian disusun dari waktu ke waktu, membentuk suatu animasi keren yang membuat kita dapat melihat tranformasi yang terjadi pada permukaan bumi.

Berikut adalah beberapa animasi transformasi di beberapa titik permukaan bumi yaitu Dubai, dimana kita dapat melihat perluasan daratan yang telah dibuat manusia menyerupai pohon Palm; Arab Saudi, dimana kita bisa melihat transformasi wilayah gurun pasir menjadi wilayah pertanian yang dimungkinkan oleh adanya teknologi irigasi; Las Vegas (Amerika Serikat), dimana lahan kosong menjadi dipenuhi oleh titik-titik abu-abu pembangunan gedung-gedung perkotaan; dan Brazil yang mengalami deforestasi, sebagian karena alih fungsi kawasan hutan sebagai lahan pengembangan kedelai, sehubungan dengan kebijakan negara tersebut yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan menggantikannya dengan bahan bakar minyak nabati berupa ethanol yang diproses dari kacang kedelai.

dubai

saudi

vegas

brazil

Diambil dari sini.

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Ikan Keberuntungan Temuan Ilmuan Kanada yang Menyelamatkan Banyak Jiwa di Kamboja

Seekor ikan kecil menjadi solusi masalah kekurangan zat besi di kalangan wanita Kamboja. Masalah tersebut dipecahkan oleh seorang peneliti dari University of Guelph.

Seekor ikan kecil menjadi solusi masalah kekurangan zat besi di kalangan wanita Kamboja. Masalah tersebut dipecahkan oleh seorang peneliti dari University of Guelph

Inti dari kisah ini adalah seekor ikan kecil. Namun Christopher Charles, seorang peneliti dari University of Guelph, menyatakan bahwa ikan kecil tersebut telah menjadi solusi dari sebuah masalah medis di pedalaman hutan Kamboja, dan ia bersumpah bahwa kisah ini bukanlah dongeng namun merupakan suatu kisah nyata. Semuanya berawal tiga tahun yang lalu ketika Charles, sang jenius  dari Milton yang baru saja mendapatkan gelar sarjananya dalam ilmu biomedis, mengerjakan sebuah penelitian kecil di Kamboja. Tugasnya adalah membantu ilmuwan lokal untuk membujuk wanita-wanita di pedesaan untuk menaruh bongkahan besi ke dalam panci ketika memasak, dalam rangka meningkatkan kadar zat besi dalam asupan konsumsi mereka dan mengurangi resiko anemia. Secara teori upaya ini memang bagus, tetapi dalam praktek, para wanita tersebut enggan melakukannya.

Tugas tersebut adalah tantangan yang begitu menggoda khususnya karena Kamboja adalah negara dengan kasus kekurangan zat besi yang cukup parah, di tambah dengan fakta bahwa60 persen wanita mengalami persalinan prematur, pendarahan selama melahirkan, dan bayi mereka mengalami perkembangan otak yang buruk. Sebagai penyakit yang merupakan cerminan dari fenomena kemiskinan, kekurangan zat besi telah menyerang sekitar3.5 milyar orang di dunia. Kegiatan tersebut  memang merupakan suatu penelitian awal namun telah berhasil membuat Chris Charles sangat penasaran. Tetapi di saat yang sama ia juga harus segera kembali ke Guelph untuk memulai program S2-nya.

Beberapa minggu sebelum ia harus kembali, Charles menghubungi pembimbing akademisnya untuk menarik program S2-nya dalam penelitian tentang hormon. Namun karena kerja kerasnya, , pembimbingnya justru tidak memperbolehkan Charles untuk menarik diri dari program S2-nya, melainkan justru memberitahu Charles bahwa sesungguhnya ia telah menemukan proyek penelitian S2 yang sesungguhnya.

Dari basecamp barunya yang berupa pondok bambu, Charles menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan dua orang peneliti dari Research Development International di Kamboja dengan pendanaan dari University of Guelph, International Development Research Centre di Ottawa, serta hibah penghargaan program doctor dari Canadian Institutes of Health Research.

“Terkadang saya mempertanyakan, sesungguhnya saya ini sudah menenggelamkan diri ke dalam hal apa? Saya berada di suatu desa di mana air bersih yang mengalir tidak ada, begitu juga dengan listrik sehingga saya tidak dapat menggunakan komputer. Seolah saya hanya menyulitkan diri sendiri.”, ujar Charles.

Orang-orang yang harus dihadapi adalah kalangan orang termiskin (poorest of the poor) yang tidak mampu membeli daging merah atau pil zat besi yang memang tidak murah, selain itu para wanitanya tidak ingin menggunakan panci besi karena lebih berat dan mahal harganya. Padahal, sedikit saja tambahan zat besi ke dalam air dan makanan dapat menyelamatkan nyawa mereka. Tetapi benda mengandung zat besi berbentuk apakah yang para wanita desa tersebut bersedia masukkan dalam panci mereka?

“Kami sudah tahu bahwa bongkahan besi saja tidak akan berguna… jadi kami harus memikirkan ide bentuk yang menarik,” ujar Charles. “Tugas kami berubah menjadi sebuah tantangan pemasaran untuk masyarakat.”

Tim peneliti awalnya mencoba bentuk lingkaran besi kecil. Ternyata perempuan-perempuan Kamboja tetap tidak ingin menggunakannya.Kemudian mereka membentuk besinya menjadi bunga lotus. Mereka juga tidak menyukainya.

Tetapi ketika Tim Charles membentuk besinya sehingga menyerupai seekor ikan dari sungai di kawasan tersebut yang dipercayai memberi keberuntungan? Bingo! Perempuan-perempuan tersebut dengan senang hati memasukannya ke dalam panci mereka. Selang beberapa bulan berikutnya, tingkat zat besi di desa tersebut mulai meningkat.

“Kami merancang ukuran ikannya sekitar 3 sampai 4 inci, cukup kecil untuk diaduk dengan mudah, namun cukup besar untuk memberikan sekitar 75 persen kebutuhan zat besi untuk sehari,” kata Charles. Mereka menemukan seorang pekerja skrap logam yang bisa membuat ikan tersebut seharga $1.50 per buahnya, dan sejauh ini mereka telah menggunakan ulang ikan tersebut selama 3 tahun.

“Kami memperoleh hasil yang luar biasa; kelihatannya kasus anemia telah turun secara drastis dan wanita desa merasa sehat dan tidak begitu sering pusing lagi. Ikan besi ini sangat manjur.”

Dalam 3 tahun, Charles telah menemukan solusi dari permasalahan kekurangan zat besi yang begitu mempesona karena kesederhanaannya. Solusi itu mungkin sekali telah menyelamatkan nyawa banyak orang, dan tentu saja telah memberinya gelar S2 dan tidak lama lagi gelar S3 (PhD). Di sepanjang jalan, pria berumur 26-tahun ini telah mempelajari bahasa Khmer, dan telah menjadi ahli dalam seni pengambilan darah, bahkan dari seseorang yang tengah mengayuh sebuah kano sembari ia menjaga keseimbangan di kano satunya lagi, dan mendapati bahwa orang tersebut mengidap demam berdarah.

Kini Charles telah kembali ke Guelph, mengolah data untuk menyerahkan penelitiannya untuk publikasi, serta menfinalisasi disertasi S3-nya.

Pembimbing akademis yang ia hubungi 3 tahun lalu yaitu Alastair Summerlee, seorang professor endokirnologi,  yang juga merupakan Presiden University of Guelph, hampir sama antusiasnya dengan Charles. Summerlee tahu bahwa ia telah mengambil resiko ketika membolehkan Charles mengubah jalur penelitian akademisnya.

We were flying by the seat of our pants, Chris harus bekerja di suatu tempat dimana ia harus mempelajari segalanya (termasuk bahasa Khmer) dengan trial and error, sedangkan saya selalu khawatir apakah ini merupakan keputusan yang benar atau bukan. Apakah dia mampu menyelesaikannya?” kata Summerlee.

“Tetapi hasilnya sungguh luar biasa. Dia telah mempresentasikan temuannya di Asia, Eropa dan Amerika Utara dan mendapatkan pengakuan. Selain itu ada kemungkinan besar bahwa penemuan yang sederhana ini dapat memberi dampak yang signifikan terhadap kondisi kesehatan perempuan-perempuan di Asia.”

Pelajaran lain yang telah Charles dapati adalah bahwa pemasaran atau marketing merupakan sisi lain dari ilmu pengetahuan.

“Karena pengobatan paling efektif sedunia pun tidak akan berguna jika tidak ada yang ingin menggunakannya.”

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel Louise Brown dalam The Star tanggal 12 November 2011.

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Harapan atas kebahagiaan di era Internet: mengenal dan mengenang Aaron Swartz

"Information is power. But like all powers, there are those who want to keep it for themselves" - Aaron Swartz
“Information is power. But like all powers, there are those who want to keep it for themselves” – Aaron Swartz

Saya  lupa kapan tepatnya, mungkin 2-3 hari lalu, seperti biasa saya senang melihat-lihat timeline halaman facebook, jika ada link yang menarik yang ditempatkan pada status teman-teman, saya buka. Nah, hari itu saya membuka link tentang Aaron Swartz, aktivis muda yang giat memperjuangkan hak masyarakat atas informasi, khususnya informasi-informasi yang proses pengumpulan dan pelaporannya dibiayai oleh dana publik yaitu dana pajak. Saya tertarik untuk membuka link itu karena hak atas informasi belum disadari banyak orang, apalagi untuk konteks Indonesia di mana masyarakat hanya diam  dan nyaris tidak menuntut apa-apa terkait sulitnya mendapatkan informasi, baik dari informasi tentang proses membuat SIM, mengurus paspor, mengurus perizinan usaha, membuat badan hukum, mengurus sertifikasi halal, sampai informasi atas nomor-nomor telepon aparat atau satuan kerja yang diperlukan masyarakat dalam mengurus segala bentuk keperluan. Semua informasi tersebut tidak hanya sulit diakses, terkadang bahkan, tidak ada. Sehingga luas memang ruang gerak bagi calo atau oknum untuk mengambil keuntungan dari ketiadaan informasi tersebut. Beda orang beda prosedur, beda orang beda harga untuk setiap urusan. Sayangnya, itulah Indonesia. Saya sendiri terbilang cukup rajin menyuarakan hak atas informasi publik tersebut manakala punya kesempatan untuk berdialog dengan kalangan pemerintahan. Pendek kata, akhirnya saya berkunjung ke link tersebut, dan untuk pertama kali saya jadi mengenal seorang sosok yang bernama Aaron Swartz.

Ia berusia 26 tahun, cukup tampan, dan digelari orang computer prodigy karena kegeniusannya di bidang teknologi informasi. Ia merupakan salah satu pembangun system RSS (yang logonya sering kita lihat di berbagai liputan di internet) ketika umurnya 14 tahun! Ia hanya kuliah 1 tahun di Stanford University sebelum resmi drop-out (mungkin karena ia menyadari semua yang diajarkan di kampus dapat ia pelajari sendiri?), namun eksistensinya di dunia internet membuatnya menjadi peneliti pada suatu pusat studi Korupsi, yaitu di Harvard Ethics Center Lab on Institutional Corruption. Adapun dari banyaknya hal yang mungkin Ia pertanyakan, Aaron percaya bahwa informasi, khususnya yang dibiayai oleh dana publik dan terkait dengan ilmu pengetahuan, harusnya dapat diakses oleh masyarakat (publik) secara gratis. Hal ini yang membuatnya mengakses dokumen-dokumen rekaman sidang Amerika Serikat – yang dikenai biaya jika masyarakat hendak mengaksesnya – lalu menyediakannya kembali ke dunia internet secara gratis. Hal ini dilakukannya pada 2008, berhasil dihentikan oleh pemerintah AS, namun Aaron waktu itu tidak dikenai hukuman apapun.

Continue reading

Categories: Dunia Kita | Leave a comment

HIV/AIDS: Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya

koranMengingat potongan koran ini saya teringat dengan ucapan salah seorang cendikia muslim di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa inti dari ajaran Islam adalah membenci perbuatan dosa, bukan pendosanya. “Hate the sin, not the sinner,” begitu katanya. Begitu pula dengan konteks HIV/AIDS, yang perlu dijauhi adalah penyakitnya, bukan orangnya.

Sekedar mengingatkan, HIV/AIDS tidak menular melalui udara ataupun persentuhan kulit, melainkan melalui darah ataupun cairan semen (mani), jadi mengapa terlalu paranoid dengan penderita HIV/AIDS atau yang biasa disebut dengan ODHA (orang dengan HIV/AIDS)? Mereka sudah cukup menderita dengan virus atau penyakit tersebut, belum lagi umumnya mereka dikucilkan oleh sanak saudara mereka sendiri, mengapa kita perlu menambahkan penderitaan mereka?

Dunia kita sudah cukup banyak penderitaan, sudah cukup banyak pula bentuk-bentuk ketidakadilan atau diskriminasi yang meresahkan. Apa perlunya kita tambahkan lagi? Dunia kita perlu lebih banyak persaudaraan, dunia kita rindukan senyum-senyum perdamaian yang menentramkan. Mengapa tidak kita berikan itu saja bagi dunia kita? Salah satunya adalah dengan memberikan jabat tangan persaudaraan dan senyum perdamaian bagi saudara-saudara kita yang terkena HIV/AIDS dan tengah berjuang menceriakan dan mengoptimalkan pemanfaatan sisa hidup mereka. Ya, jauhi penyakitnya, bukan orangnya. Selamat hari HIV/AIDS sedunia. Salam damai dari salamduajari 🙂

Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Swedia Kekurangan Sampah

sweden-landfill-waste-to-energy-program-flickrSwedia yang haus akan sampah telah berpaling ke Norwegia untuk sampahnya . Swedia adalah teladan dalam mendaur ulang. Berkat sistem pengelolaan sampahnya yang sangat efisien, sebagian besar limbah domestik yang terhasilkan dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Hasilnya, Swedia telah kehabisan sampah dan tampaknya keberhasilan tersebut justru telah menjadi masalah sendiri. Karena tidak dapat menghasilkan burnable waste yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energinya, Swedia harus menghadapi pahitnya menjadi model of recycling. Secara rata-rata 38% dari seluruh limbah di Eropa berakhir menjadi landfill, sedangkan bagi Swedia hanya 1%.

Angka tersebut diperoleh dari Eurostat, dimana dinyatakan bahwa hanya 1% dari seluruh sampah domestik sampai pada TPA. Hal ini begitu bertolak belakang dengan negara-negara Eropa lainnya. Di Swedia sebagian dari limbah antara didaur ulang atau dijadikan kompos. Mereka harus mengimpor 800.000 ton sampah per tahun dari Eropa untuk pembangkit listirknya. Kebanyakan impor sampah ini datang dari Norwegia. Limbah ini digunakan untuk program Waste-to-Energy yang diimplementasikan Swedia dimana tujuan akhirnya adalah agar dapat merubah limbah menjadi tenaga panas dan listrik. Norwegia setuju untuk mengekspor sebagian dari limbahnya karena jauh lebih ekonomis dibanding ketika harus membakar limbah tersebut. Bagian dari persetujuan tersebut adalah untuk memberi kembali limbah beracun dalam bentuk abu yang tersisa dari proses pembakaran yang kaya akan dioksin kepada Norwegia. Continue reading

Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.