Dibalik Karya Seni

Finding Resonance in Art’s Hollowness

It’s funny how memory works and how it recollects random observations we make of a given moment. Sometimes the things we remember aren’t really historic or so emotionally groundbreaking, sometimes they’re actually quite trivial details of a particular moment. I remember from years ago I was sitting in class, I don’t remember how many years ago or what class it was. The lights were turned off because we were shown a powerpoint presentation, I don’t remember by whom or of what the presentation was given. The popular kids were seated in the back of the class like usual, leaning back and balancing on the two hind legs of their chairs, occupied with their own version of playground gossip just as I was with my circle of friends a few rows in front of them. I remember silence overtaking the room as one particular slide showed up on the projector screen. It was a photograph of a child sitting on dry grounds, ribs protruding out of the skins of her torso. In the background, slightly off focus, was a vulture. That was the day I first saw the iconic Pulitzer winning photo shot by Kevin Carter of the vulture and the starving child. I don’t remember what I said after seeing that picture but I remembered feeling like I needed to get out of the room and run as far away from there as possible.

the vulture and the starving child

The only other thing I remembered from the presentation was that we were asked by the presenter on what we thought of the photograph. They asked us, “What do you think of this picture? Do you think it was the right thing to do to have taken that photo instead of actually helping the child? What would you have done in that situation?” The question really disconcerted me, I’m sure it did most if not all of my peers as well. We could not have been twelve at most. At the time I thought, “Well obviously something’s wrong with the guy if he insisted on clicking away at his camera as he watched the life extinguish out of a helpless child right before him!” which in retrospect seems kind of judgmental and off-putting of me to say. Then we were told that the photographer had died, committing suicide caused by the insufferable guilt as a direct result of the image that haunted him for the remainder of his life. Or so it was implied.

It was a memorable moment in my life because we were suddenly confronted by this very real and very complex question of prioritisation and purpose. Continue reading

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Eksperimen Joshua Bell, Apakah kita sudah cukup menghargai keindahan?

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS. Sumber: www.peaceformeandtheworld.ning.com

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS.
Sumber: http://www.peaceformeandtheworld.ning.com

Di Stasiun Metro, Washington DC, pada suatu pagi yang dingin di bulan Januari tahun 2007, seorang lelaki dengan sebuah biola memainkan enam buah partitur klasik selama kurang lebih 45 menit. Selama itu, sekitar 1097 orang lalu lalang melewatinya, sebagian besar dari mereka akan berangkat bekerja, yang sebagian besar dari mereka bekerja untuk pemerintah, seperti analis kebijakan, project manager, petugas anggaran, fasilitator, dan mungkin konsultan.

Setelah sekitar empat menit, seorang lelaki paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi yang sedang bermain musik. Ia memperlambat langkahnya dan berhenti selama beberapa detik, kemudian ia kembali terburu-buru mengejar jadwalnya.

Sekitar empat menit kemudian, pemain biola tersebut menerima dollar pertamanya. Seorang wanita memasukkan uang ke dalam topi sang pemain biola, tanpa berhenti, sambil langsung berlalu begitu saja.

Pada menit keenam, seorang laki-laki muda bersandar ke dinding untuk mendengarkan permainan biola itu, kemudian memandang jam dindingnya dan kembali berjalan.

Pada menit kesepuluh, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berhenti, namun ibunya segera membawanya pergi. Anak itu berhenti dan kembali memandang pemain biola, akan tetapi sang ibu mendorong anak tersebut dengan kuat dan anak itupun akhirnya pergi, sambil terus melihat ke belakang sepanjang perjalanan. Aksi serupa kembali terulang pada beberapa anak yang lain, namun setiap orangtua- tanpa terkecuali- memaksa anak mereka untuk segera pergi.

Pada menit keempat puluh: musisi tersebut memainkan biolanya terus menerus. Hanya ada enam orang yang berhenti dan mendengarkannya sesaat. Sekitar dua puluh orang memberi uang sambil berlalu begitu saja. Musisi tersebut akhirnya berhasil mengumpulkan 32 dollar.

Setelah satu jam: musisi itu selesai memainkan biolanya dan terdiam sesaat. Tak seorang pun melihat ke arahnya dan memberikan tepuk tangan. Tak ada yang mengapresiasinya sama sekali.

Tidak ada yang mengetahui bahwa pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, salah satu musisi terbaik di dunia. Ia baru saja memainkan salah satu bagian musik yang paling rumit yang pernah ditulis di dunia, dengan biola seharga 3,5 juta dollar. Dua hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston berhasil terjual habis dimana setiap penontonnya membayar rata-rata 100 dolar untuk duduk dan mendengarkan  Ia memainkan musik yang sama.

Ini adalah kisah nyata. Joshua Bell yang memainkan incognito di stasiun Metro D.C merupakan eksperimen sosial tentang persepsi yang dilakukan oleh Washington Post untuk mengetahui selera dan prioritas masyarakat.

Eksperimen ini memunculkan beberapa pertanyaan:

Dengan nuansa kondisi dan waktu yang kurang nyaman, apakah keindahan tetap dapat menembus hati manusia?

Dialihbahasakan dari bagian artikel ini.

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin

"Black Untitled, 1948" (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.

“Black Untitled, 1948” (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.

"No 5/No 22" (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.

“No 5/No 22” (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.

"Number 1" (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

“Number 1” (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

Gerakan seni modern Amerika selama tahun 1950-60an sangatlah unik. Sepertinya tidak ada gerakan lain yang dapat begitu mengundang perselisihan intelektual dibanding ekspresionisme abstrak. Bahkan dalam kongres Amerika pun perdebatan mengenai pendanaan karya seni seolah tidak pernah berhenti. Seorang anggota kongres zaman itu pun pernah berkata, “Saya hanya warga Amerika bodoh yang membayar pajak untuk sampah seperti ini.” Meski demikian kaum bohemia dan para intelektual muda liberal yang memegang peran begitu penting dalam lingkaran seni di zaman tersebut sangat mendukung gerakan ini. Bahkan sekarang hampir terdapat sebuah konsensus bahwa cipratan cat warna-warni Jackson Pollock, yang sering diejek seolah dibuat oleh seorang bocah berumur 5 tahun, adalah mahakarya seni yang penuh makna.

Bagaimana sebuah gerakan yang memicu sedemikian banyak pendapat yang saling bertentangan ini dapat terus berkembang, bahkan mendominasi dunia seni dunia selama berlangsungnya era perang dingin, dan kemudian diagungkan pada masa kini? Terdapat banyak spekulasi sekitar peran CIA sebagai patron untuk seniman era tersebut seperti Pollock, de Kooning, dan Rothko, bagaikan Paus bagi gerakan seni renaisans Italia, dan spekulasi tersebut tidak pernah dibantah maupun dikonfirmasi hingga pertengahan tahun 1990an ketika kejadian saat perang dingin sudah mulai mendingin (pun intended? Maybe). Pada tahun 1995, sebuah artikel dalam koran The Independent memastikan spekulasi tersebut sebagai kenyataan. Yah, memang sudah lama waktu berlalu setelah berita ini pertama kali muncul tetapi bagi saya ini adalah informasi yang lumayan mencengangkan ketika pertama kali membacanya dalam sebuah situs yang sering membahas propaganda dalam karya seni, khususnya dalam era peperangan. Kemudian saya berpikir apakah mungkin hingga kini pun, para seniman kontemporer dengan statemen politik kentalnya masing-masing hanyalah bagian dari skema rumit yang elegan dalam upaya mengarahkan jalur perubahan kebudayaan manusia  ke arah tertentu? Sepertinya hampir sudah pasti begitu, tapi cukup sudah sesi konspirasinya! Dibawah ini adalah terjemahan artikel Open Culture mengenai kisah dibalik gerakan ekspresionisme abstrak Amerika dan peran CIA.

How the CIA Secretly Funded Abstract Expressionism During the Cold War

Mengenai kemungkinan akan karya seni yang proletar, kritikus sastra Inggris William Empson pernah menyatakan, “alasan dibalik dapatnya masyarakat Inggris menikmati film propaganda Rusia adalah karena propaganda yang terkandung begitu irrelevan untuk dianggap menjengkelkan.” Mungkin karena inilah para seniman Amerika dan kaum bohemia dapat begitu tertarik dengan ikonografi dari politik rezim-rezim terpencil, baik dari segi fantasi maupun ironi. Yang dianggap realisme sosialis yang menjemukan bagi satu pihak adalah sebuah eksotika yang radikal bagi pihak lain.

Namun apakah ekspor budaya Amerika memiliki efek yang sama? Kita hanya perlu menengok kesuksesan branding terdangkal AS untuk menjawab, “Ya.” Tetapi tiada seorangpun yang akan menggolongkan lukisan-lukisan abstrak ekspresionis dengan hal-hal seperti fast-food dan Disney. Walaupun demikian, karya-karya seniman seperti Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Willem de Kooning termasuk bagian dari program rahasia CIA selama puncaknya perang dingin yang bertujuan mempromosikan ideologi Amerika diluar negeri.

Para seniman yang terlibat sama sekali tidak mengetahui bahwa karya mereka digunakan sebagai propaganda. Dalam operasi yang disebut agen CIA sebagai “Long Leash,” mereka mengikuti beberapa pameran yang secara tersembunyi diselenggarakan oleh CIA, contohnya pameran keliling “The New American Painting” yang ditunjukkan dalam kota-kota besar Eropa selama 1958-59 dan menyertakan karya modern primitive seperti Dwarf (1947) milik seniman surealis, William Baziotes. Continue reading

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Michelangelo, Sang Pujangga

Michelangelo Buonarroti

Michelangelo Buonarroti

Pelajaran pertama yang kebanyakan orang peroleh mengenai kesenian zaman Renaisans Italia diajarkan ketika berusia 7 atau 8 tahun. Waktu itu para pelajar diajarkan 4 nama tokoh penting dalam perkembangan kesenian dan kesusastraan renaisans yang bahkan tidak berasal dari sekolah atau buku pintar yang sering dicekokan oleh orang tua yang ambisius. Tidak, nama-nama tersebut dapat dipelajari dari kartun Kura-kura Ninja. Empat tokoh penting yang berkontribusi banyak kepada ilmu pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan lingkungannya, serta bagaimana ia dapat mengekspresikan pengetahuan tersebut dalam seni adalah Leonardo, Donatello, Michelangelo dan Raphael.

Dalam kesempatan ini mari kita pelajari dengan lebih seksama sang kura-kura ninja dengan ikat kepala warna kuning, Michelangelo. Michelangelo Buonarroti adalah seniman asal Tuscanny, Italia yang paling dikenal karena patung mahakaryanya “David” serta lukisan-lukisan fresco (atau lukisan di langit-langit dan dinding) yang menghiasi Gereja Sistine di Vatikan. Nama beliau tentu sudah tidak asing lagi di telinga kebanyakan orang, setidaknya bagi yang belum pernah mendengar namanya (atau selama ini memang beranggapan bahwa Michelangelo hanyalah nama siluman kura-kura belaka) pasti tahu atau pernah melihat karya-karyanya.

This slideshow requires JavaScript.

Continue reading

Categories: Dibalik Karya Seni | 1 Comment

Dissecting Dali

Dali

Dalam masyarakat yang dicekoki begitu banyak iklan dan informasi baru, bagaimanakah cara sebuah creative entity dapat menarik perhatian pejalan kaki pada umumnya? Tentu saja dengan menyeret tiga pelukis ikonik dalam sejarah seni modern, menggeletakan mereka diatas meja bedah, dan membelah dada mereka sehingga ‘organ tubuh’nya terlihat!

dissect

Sebuah kampus seni di São Paulo, Brazil menggunakan gambar Salvador Dali, Pablo Picasso, dan Vincent van Gogh yang dibedah layaknya seekor tikus dalam pelajaran anatomi  di kelas biologi. Hanya saja organ tubuh mereka dilukis dalam gaya lukis mereka masing-masing. Jantung Dali yang membara dilukis dalam gaya surealis dengan warna cerah dan detil rumit yang dapat kita temukan dalam lukisan-lukisannya. Garis tegas dan berani yang membentuk hati Picasso begitu kaya akan emosi yang menghiasi karyanya. Lambung dan usus besar van Gogh dari kejauhan terlihat seperti bagian dari lukisan Starry Night namun dari dekat sebenarnya tampak agak grotesque.

Iklan tersebut seolah mengajak siapapun yang melihat untuk ikut ‘membedah’ seperti apa batin dari ketiga jenius tersebut dan mencari tahu apa yang membedakan mereka dari seniman serta individu lainnya. Walaupun memang jawaban aslinya tidak mungkin seeksplisit dalam iklan tersebut, what a deliciously tongue-in-cheek way to prove a point!

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Menyatukan Dunia Melalui Musik

Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and life to everything” -Plato

Lupakan bahasa Inggris, bahasa matematis atau gerakan tubuh, Playing For Change telah membuktikan bahwa sesungguhnya bahasa universal yang dapat dimengerti setiap jiwa di dunia ini adalah bahasa musik.

Playing For Change adalah gerakan yang bertujuan untuk menginspirasi dan menghubungkan orang-orang, serta menciptakan kedamaian di bumi melalui media musik. Gerakan ini dimulai ketika kru Playing For Change mendengar musisi jalanan (for lack of a better term for “street performers”) bernama Roger Ridley menyanyikan lagu Stand By Me di Santa Monica, Kalifornia pada tahun 2005 dan sejak itu mereka telah mengelilingi dunia untuk merekam ratusan musisi jalanan membawa berbagai macam lagu yang mempromosikan perdamaian, kasih sayang dan keterikatan antar manusia seperti One Love karya Bob Marley, A Change Is Gonna Come karya Sam Cooke, dan pastinya Imagine karya John Lennon. Bahkan telah merekam film dokumenter berjudul Playing For Change: Peace Through Music.

“Tidak satupun dari musisi ini pernah bertemu secara langsung, musiklah yang telah menyatukan mereka, serta keyakinan bahwa kita dapat berkontribusi lebih banyak kepada dunia jika melakukannya bersama-sama dibanding secara terpisah.” Kata Mark Johnson, pelopor gerakan tersebut.

Situs resminya dapat dilihat disini, sedangkan channel youtube disini.

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Stevie Wonder: the 8th Wonder of the World

“Sungguh luar biasa, saya telah berkecimpung dalam bisnis ini selama 10 tahun, sekarang akan memasuki tahun ke-11, dan saya akan mengingat kembali dan melihat bahwa telah terjadi begitu banyak hal, begitu banyak perubahan, dan terkadang rasanya seolah saya sudah menjadi orang yang tua… Perubahan dalam musik, bagaimana era-era yang berbeda telah silih berganti, banyak orang yang saya kira akan sukses telah meninggal dunia.”

Stevie Wonder dalam majalah Rolling Stone pada tahun 1973 setelah ia sendiri mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.

Sejak 62 tahun kelahirannya dan 50 tahun setelah dunia pertama kali diperkenalkan dengan talentanya, Stevie Wonder telah menjadi figur penting dan inspiratif, baik dalam industri musik pada khususnya, maupun dalam perkembangan dunia pada umumnya. Perlu digarisbawahi di sini bahwa ukuran usia dalam dunia hiburan dapat dianalogikan seperti usia anjing, di mana 1 tahun usia anjing itu kurang lebih setara dengan 7 tahun umur manusia. Artinya, bisa bertahan selama 1 tahun saja di industri hiburan, sudah cukup hebat. Apalagi yang berhasil bertahan selama 50 tahun seperti Stevie Wonder! Jika kita bertanya secara random kepada siapa saja mengenai Stevie Wonder, di daerah perkotaan khususnya, besar kemungkinan orang tersebut akan mengenalnya. I just called to say I love you, As, Knock me off my feet, Overjoyed, Lately, Isn’t she lovely, Pastime Paradise (yang bagian chorus-nya dipakaii oleh Coolio untuk lagunya yang berjudul Gangsta’s Paradise), dan Signed sealed delivered, I am Yours!,  adalah beberapa dari masih banyak lagi  karya-karya Stevie yang tak lekang oleh waktu. Ya, Stevie Wonder memang seorang legenda bernyawa alias living legend!  Continue reading

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Tips Menulis dari Para Sastrawan Dunia

Menulis memang merupakan salah satu ragam seni. Di dalamnya tidak banyak teori yang bersifat rigid dan deterministik seperti rumus matematika. Menulis itu seni, jadi di dalamnya banyak tips, bukan teori. Sketsa di samping adalah salah satu kumpulan tips-tips dan aturan untuk menulis yang pernah diutarakan begitu banyak penulis terkemuka di dunia. Bagi yang sering merasa kesulitan dan frustrasi ketika melihat lembaran kertas kosong yang harus kita isi dengan kata-kata indah dan menginspirasi pembaca, semoga kompilasi tips yang penuh akan kebijaksanaan sastrawan dan pujangga dari masa kini maupun yang sudah lampau ini dapat sedikit membantu.

Oya, sepuluh aturan di samping diberikan oleh novelis Amerika, Elmore Leonard yang terkenal atas karyanya yang bergenre Pulp Fiction dan Western. Cerpen beliau banyak yang diadaptasikan menjadi acara TV seperti Justified yang ditayangkan di FX, atau film seperti 3:10 to Yuma.

Henry Miller

  1. Kerjakan dan selesaikan satu karya hingga tuntas.
  2. Jangan memulai buku baru dan jangan tambahkan bahan lagi untuk dimasukkan ke dalam Black Spring.
  3. Jangan gugup. Ketika tengah mengerjakan sesuatu kerjalah dengan tenang, ceria dan asal-asalan.
  4. Kerjalah sesuai jadwal dan bukan sesuai mood, berhentilah bekerja pada waktu yang telah ditentukan.
  5. Jika tidak bisa berkarya, anda bisa bekerja.
  6. Tambahkan semen sedikit demi sedikit tiap harinya ketimbang menambahkan pupuk baru.
  7. Jangan lupakan jati diri sebagai manusia social! Bertemulah dengan orang-orang, pergilah ke berbagai tempat, minumlah kalau anda ingin.
  8. Jangan berubah menjadi pekerja rodi! Kerjalah dengan hati yang senang.
  9. Lupakan jadwal saat anda memerlukannya tapi ikuti kembali jadwalnya di keesokan hari. Concentrate. Narrow down. Exclude.
  10. Lupakan tulisan yang ingin anda tulis, fokuslah pada tulisan yang sedang anda tulis sekarang.
  11. Selalu prioritaskan menulis. Melukis, musik, teman-teman, film, dan lain halnya dapat dikesampingkan. Continue reading
Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Tips Menulis dari Para Sastrawan Internasional

Sketsa di samping adalah salah satu kumpulan tips-tips dan aturan untuk menulis yang pernah diutarakan begitu banyak penulis terkemuka di dunia. Bagi yang suka merasa kesulitan dan frustrasi ketika melihat lembaran kertas kosong saat harus kita isi dengan kata-kata indah yang menginspirasikan pembacanya, semoga kompilasi tips yang penuh akan kebijaksanaan sastrawan dan pujangga dari masa ini maupun yang sudah lampau ini dapat sedikit membantu.

Sepuluh aturan diatas diberikan oleh novelis Amerika, Elmore Leonard yang terkenal atas karyanya yang bergenre Pulp Fiction dan Western. Cerpen beliau banyak yang diadaptasikan menjadi acara TV seperti Justified yang ditayangkan di FX, atau film seperti 3:10 to Yuma.

Henry Miller

  1. Kerjakan dan selesaikan satu karya hingga tuntas.
  2. Jangan memulai buku baru dan jangan tambahkan bahan lagi untuk dimasukkan ke dalam Black Spring.
  3. Jangan gugup. Ketika tengah mengerjakan sesuatu kerjalah dengan tenang, ceria dan asal-asalan.
  4. Kerjalah sesuai jadwal dan bukan sesuai mood, berhentilah bekerja pada waktu yang telah ditentukan.
  5. Jika tidak bisa berkarya, anda bisa bekerja.
  6. Tambahkan semen sedikit demi sedikit tiap harinya ketimbang menambahkan pupuk baru.
  7. Jangan lupakan jati diri sebagai manusia social! Bertemulah dengan orang-orang, pergilah ke berbagai tempat, minumlah kalau anda ingin.
  8. Jangan berubah menjadi pekerja rodi! Kerjalah dengan hati yang senang.
  9. Lupakan jadwal saat anda memerlukannya tapi ikuti kembali jadwalnya di keesokan hari. Concentrate. Narrow down. Exclude.
  10. Lupakan tulisan yang ingin anda tulis, fokuslah pada tulisan yang sedang anda tulis sekarang.
  11. Selalu prioritaskan menulis. Melukis, musik, teman-teman, film, dan lain halnya dapat dikesampingkan.

Dari buku Thomas H. Moore “Henry Miller on Writing

Henry Miller adalah penulis rangkap pelukis asal Amerika. Beliau dianggap pelopor dalam penulisan literatur abad ke-20 karena menulis novel yang juga bukan novel karena sifatnya yang begitu realistis dalam menggambarkan kehidupan sehari-hari namun di saat yang bersamaan juga terasa sangat sureal. Karyanya yang terkenal antara lain Tropic of Cancer, Tropic of Capricorn, dan Black Spring.

 

George Orwell

  1. Jangan gunakan metafora, perumpamaan, atau majas lainnya yang sering anda temukan dalam tulisan-tulisan yang pernah anda baca.
  2. Jangan gunakan kata yang panjang jika dapat digantikan dengan kata yang lebih pendek.
  3. Jika anda dapat menghapus sebuah kata dari tulisan anda, lakukanlah.
  4. Jangan gunakan bentuk kalimat pasif jika dapat digantikan dengan bentuk aktifnya.
  5. Jangan gunakan frase asing, istilah ilmiah, atau jargon jika ada kata dalam bahasa sehari-hari yang artinya sama.
  6. Langgar aturan-aturan ini sebelum anda dapat mengatakan sesuatu yang sama sekali biadab.

Dari bukunya “Why I Write

George Orwell adalah novelis asal Inggris. Karyanya yang penuh kritik sosial membuat beliau salah satu figur yang dapat menceritakan dengan begitu akuratnya rincian budaya Inggris pada abad ke-20. Sesuai dengan pembangkangannya akan pemerintah totaliter absolut serta dukungannya akan sosialisme demokratis, karyanya yang paling terkenal Nineteen Eighty-Four serta Animal Farm menjadikan beliau bapak literatur distopia. Bahkan istilah Orwellian yang diambil dari namanya kini digunakan untuk menggambarkan kondisi atau ide yang sifatnya totaliter atau otoriter dan dianggap merusak kesejahteraan masyarakat yang bebas.

Margaret Atwood

  1. Bawalah pensil agar dapat menulis ketika anda naik pesawat. Pulpen bisa bocor, tapi jika pensilnya patah anda tidak akan bisa meruncingkannya karena pisau tidak diperbolehkan dalam pesawat. Maka dari itu bawalah dua buah pensil.
  2. Jika kedua pensilnya patah, anda dapat merautnya secara kasar dengan kikir kuku yang terbuat dari besi atau kaca.
  3. Bawalah sesuatu yang dapat anda corat-coret. Kertas adalah pilihan yang baik. Jika anda terpaksa, gunakanlah lembar kayu atau tangan anda sendiri.
  4. Selalu amankan teks yang baru anda tulis dengan usb jika anda bekerja dengan komputer.
  5. Lakukanlah gerak badan, rasa sakit itu dapat memecahkan konsentrasi.
  6. Pertahankan perhatian sang pembaca (hal ini akan lebih mudah dilakukan jika anda dapat melakukan hal yang sama terhadap perhatian anda sendiri). Masalahnya adalah anda tidak tahu siapa pembacanya, jadi ini bagaikan melempar ikan masuk tong di dalam kegelapan. Yang menarik bagi si A akan membuat si B bosan.
  7. Anda akan membutuhkan thesaurus, panduan tatabahasa dasar, dan kesadaran akan kenyataan. Yang terakhir artinya: there’s no free lunch. Menulis adalah suatu pekerjaan, namun menulis juga sepertu perjudian. Anda tidak akan mendapatkan jaminan pension. Orang lain dapat sedikit membantu anda tapi sebagian besarnya anda bekerja sendiri. Tidak ada yang memaksa anda untuk menulis: anda yang memilih kegiatan ini jadi berhentilah merengek.
  8. Anda tidak akan dapat membaca tulisan sendiri dengan antisipasi murni yang diperoleh ketika kita membaca halaman pertama dari sebuah buku baru karena anda sendiri yang menulisnya. Anda sudah melihat balik panggung, bagaimana kelinci-kelincinya telah diselundupkan kedalam topi sang pesulap. Oleh karena itu, mintalah teman ada satu atau dua orang untuk membaca tulisan anda sebelum diajukan ke pihak penerbitan. Teman ini tidak boleh seseorang yang menjalin hubungan romantic dengan anda kecuali memang ingin putus.
  9. Jangan berdiam di hutan. Jika anda bingung mengenai jalan cerita atau pikiran anda macet, telusuri kembali langkah anda hingga titik kesalahan lalu ambilah arah yang berlawanan dan/atau ubahlah karakternya. Ubah tensenya. Ubahlah awal ceritanya.
  10. Berdoa dapat berguna, atau bacalah hal lain, atau lakukan visualisasi terus-terusan akan bentuk tuntas tulisan anda yang telah diterbitkan dengan indahnya.

Pertama kali muncul dalam artikel The Guardian,“Ten Rules for Writing Fiction” bersama panduan dan tips-tips dari penulis lainnya termasuk Neil Gaiman.

Margaret Atwood adalah penulis asal Kanada yang telah menulis novel-novel yang mencakup tema dari romance, sci-fi hingga dystopian fiction. Karyanya yang paling dikenal antara lain The Handmaid’s Tale, The Blind Assassin, dan Cat’s Eye. Meskipun lebih dikenal sebagai seorang novelis, beliau adalah pujangga ulung yang hingga kini telah menerbitkan 15 buku puisi.

Neil Gaiman

  1. Menulislah.
  2. Tulis satu kata demi satu. Temukanlah kata yang tepat dan tulislah.
  3. Selesaikan tulisan yang tengah anda kerjakan. Apapun itu yang harus anda selesaikan, selesaikanlah!
  4. Sisihkanlah kerjaan anda untuk sementara. Baca lagi seolah anda belum pernah membacanya sebelumnya. Tunjukan tulisan tersebut ke teman anda yang pendapatnya anda hargai dan kira-kira akan menyukai jenis tulisan tersebut.
  5. Ingat! Ketika seseorang mengatakan bahwa ada sesuatu dalam tulisan anda yang salah atau terasa tidak tepat, mereka hampir selalu benar. Ketika seseorang mengatakan dengan rincinya apa yang salah dan bagaimana anda dapat membetulkannya, mereka hampir selalu salah.
  6. Perbaiki kesalahan anda. Ingatlah bahwa capat atau lambat, sebelum tulisan anda sempurna, anda akan harus merelakannya dan mulailah tulisan yang lain. Kesempurnaan itu seperti mengejar cakrawala. Terus berjalanlah.
  7. Laugh at your own jokes.
  8. Aturan paling penting dari menulis adalah, jika anda melakukannya dengan keyakinan serta kepercayaan yang cukup, anda dapat melakukan apapun yang anda ingingkan. (Ini mungkin aturan yang dapat berlaku pula untuk kehidupan secara umum. Tapi aturan tersebut sudah pasti berlaku dalam menulis) Jadi tulislah cerita anda sebagaimana mestinya ditulis. Tulislah dengan tulus dan ceritakan dengan sebaik mungkin dapat anda lakukan. Sepertinya tidak ada aturan-aturan lain, setidaknya tidak ada yang begitu berarti.

Sosok penyelamat bagi dunia perkomikan Amerika pada tahun 80an, yang mengalami penurunan minat pembacanya, muncul dalam bentuk penulis Inggris, Neil Gaiman. Beliau menyajikan jalan cerita yang lebih dewasa dan kompleks kepada pembacanya, hal ini begitu berbeda dengan jalan cerita yang biasa ditemukan dalam komik pada zaman itu. Gaiman yang kemudian bergabung dengan konglomerat komik DC Comics menulis reboot The Sandman dengan menambahkan begitu banyak lapisan pada tingkat kompleksitas cerita yang kemudian membantu menentukan nuansa anak perusahaan DC Comics, Vertigo. Selain menulis untuk komik dan novel grafis, beliau juga menulis novel seperti Stardust dan Coraline yang telah diadaptasikan ke layar lebar.

Untuk bagian selanjutnya tidak saya terjemahkan. Tadinya saya mencoba menerjemahkan tapi beberapa aturannya ditulis dengan kadar sarkasme yang begitu tinggi hingga maknanya –dan humornya akan pudar jika dicemari dengan kemampuan linguistik saya yang begitu terbatas.

William Safire

  1. Bunyi-bunyi kalimat pasif sebaiknya jangan digunakan
  2. Jangan sampaikan sebuah statement atau argumen dalam bentuk kalimat negatif
  3. Kata kerja yang digunakan harus sejalan dengan subjek yang dibahas
  4. Baca ulang tulisan secara teliti untuk memeriksa padanan kata yang telah disusun (proofreading)
  5. Jika membaca dan membaca ulang (rereading)  atau menyunting tulisan Anda, bisa jadi Anda akan menemukan banyak pengulangan.  
  6. Seorang penulis seharusnya tidak menggeser sudut pandangnya  
  7. Jangan awali sebuah kalimat dengan kata sambung; ingat pula untuk tidak mengakhiri kalimat dengan sebuah kata depan (preposition) ! (contoh: dengan demikian, sedangkan, dll; dalam konteks bahasa inggris: about, except, according to, etc)
  8. Jangan terlalu banyak menggunakan tanda seru!!
  9. Gunakan kata ganti sedekat mungkin dengan bagian kalimat sebelumnya (yang akan digantikan), khususnya pada kalimat panjang yang mengandung lebih dari 10 kata
  10. 11.  Writing carefully, dangling participles must be avoided.
  11. 12.  If any word is improper at the end of a sentence, a linking verb is.
  12. 13.  Take the bull by the hand and avoid mixing metaphors.
  13. 14.  Avoid trendy locutions that sound flaky.
  14. 15.  Everyone should be careful to use a singular pronoun with singular nouns in their writing.
  15. 16.  Always pick on the correct idiom.
  16. 17.  The adverb always follows the verb.
  17. 18.  Last but not least, avoid cliches like the plague; seek viable alternatives.

William Safire adalah penulis kolom yang berlimpahkan satir dan wordplay, “On Language” dalam majalah The New Yorker. Beliau juga telah menulis beberapa novel yang bernuansa politik selain menuliskan pidato Presiden AS Richard Nixon, “In Event of Moon Disaster” yang tidak jadi disampaikan.

Sumber: http://www.openculture.com/2012/01/writing_rules.html

Categories: Dibalik Karya Seni | Tags: , , | Leave a comment

Jonas Bendiksen: Menggarap Seni sebagai wujud Kritik Sosial lewat “The Place We Live”

Foto kiri dari google, foto kanan dari koleksi pribadi. Sekedar ingin menunjukkan penyajian pamerannya yang memposisikan audiens seakan di dalam ruangan

Terkadang kita bisa dikelilingi oleh suatu hal, atau bahkan sudah biasa melewati, melihat, atau mengetahui hal-hal tersebut secara langsung dalam sehari-hari kita, tetapi tetap saja kita tidak menyadari makna dari hal-hal tersebut. Terkadang untuk sadar akan suatu makna dibalik hal-hal yang tampak dipermukaan, kita harus benar-benar disuapi akan kenyataan yang pahit. Tapi masalahnya adalah, apakah kita siap menerima kenyataan? Saya tidak tahu apa yang Anda alami, tetapi makna dari sesuatu yang saat ini baru saya sadari adalah mungkin sebenarnya merupakan sesuatu yang sudah saya ketahui sejak dulu. Mungkin saya sudah pernah menatap mata itu, tatapan-tatapan mata yang muncul ketika menjalani kenyataan hidup setiap harinya. Hanya saja mungkin, saya sebenarnya belum siap untuk mendalami makna dibalik tatapan-tatapan itu, atau, tidak ingin repot mencaritahunya karena takut akan mendapatkan jawaban yang tidak ingin saya ketahui karena tidak menyenangkan. Mata manusia adalah organ tubuh yang luar biasa karena mata dapat dikelola untuk hanya melihat hal-hal yang ingin kita lihat. Seeing is believing, but do we dare to believe what we see? Continue reading

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Blog at WordPress.com.