Category: Dibalik Karya Seni

Analisis Lagu “Meraih Bintang”: Lirik adalah Kekuatan Doa

Depok, 1 September 2018 – Tak terasa Asian Games 2018 sebentar lagi tiba di penghujung perhelatan, dimana besok akan menjadi hari penutupannya. Dibuka dengan suatu pertunjukan pembukaan yang SPEKTAKULER, DAHSYAT, TAK TERLUPAKAN, MEMBANGGAKAN, entah kata apa lagi yang bisa saya gunakan, Indonesia berhasil mencuri perhatian dunia dan semacam menetapkan posisi yang jelas “Selamat datang di Indonesia – sebuah bangsa yang besar, kaya keragaman yang tertenun indah dalam Bhineka Tunggal Ika – dengan bangga dan gembira menyambut tamu-tamu terhormat dari seluruh penjuru Asia”.

Untuk Asian Games ke-18 tahun ini, Indonesia memasang target 16 emas dan masuk 10 besar. Target ini dipandang cukup ambisius oleh beberapa pihak mengingat rekam jejak kita yang memang cukup “cupu” pada 20 tahun terakhir, dimana kita konsisten di peringkat belasan agak-agak ujung. Merangkum dari wikipedia, berikut rekam jejak peringkat prestasi Indonesia:

 

 

Continue reading “Analisis Lagu “Meraih Bintang”: Lirik adalah Kekuatan Doa”

Advertisements

Finding Resonance in Art’s Hollowness

It’s funny how memory works and how it recollects random observations we make of a given moment. Sometimes the things we remember aren’t really historic or so emotionally groundbreaking, sometimes they’re actually quite trivial details of a particular moment. I remember from years ago I was sitting in class, I don’t remember how many years ago or what class it was. The lights were turned off because we were shown a powerpoint presentation, I don’t remember by whom or of what the presentation was given. The popular kids were seated in the back of the class like usual, leaning back and balancing on the two hind legs of their chairs, occupied with their own version of playground gossip just as I was with my circle of friends a few rows in front of them. I remember silence overtaking the room as one particular slide showed up on the projector screen. It was a photograph of a child sitting on dry grounds, ribs protruding out of the skins of her torso. In the background, slightly off focus, was a vulture. That was the day I first saw the iconic Pulitzer winning photo shot by Kevin Carter of the vulture and the starving child. I don’t remember what I said after seeing that picture but I remembered feeling like I needed to get out of the room and run as far away from there as possible.

the vulture and the starving child

The only other thing I remembered from the presentation was that we were asked by the presenter on what we thought of the photograph. They asked us, “What do you think of this picture? Do you think it was the right thing to do to have taken that photo instead of actually helping the child? What would you have done in that situation?” The question really disconcerted me, I’m sure it did most if not all of my peers as well. We could not have been twelve at most. At the time I thought, “Well obviously something’s wrong with the guy if he insisted on clicking away at his camera as he watched the life extinguish out of a helpless child right before him!” which in retrospect seems kind of judgmental and off-putting of me to say. Then we were told that the photographer had died, committing suicide caused by the insufferable guilt as a direct result of the image that haunted him for the remainder of his life. Or so it was implied.

It was a memorable moment in my life because we were suddenly confronted by this very real and very complex question of prioritisation and purpose. Continue reading “Finding Resonance in Art’s Hollowness”

Eksperimen Joshua Bell, Apakah kita sudah cukup menghargai keindahan?

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS. Sumber: www.peaceformeandtheworld.ning.com
Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS.
Sumber: http://www.peaceformeandtheworld.ning.com

Di Stasiun Metro, Washington DC, pada suatu pagi yang dingin di bulan Januari tahun 2007, seorang lelaki dengan sebuah biola memainkan enam buah partitur klasik selama kurang lebih 45 menit. Selama itu, sekitar 1097 orang lalu lalang melewatinya, sebagian besar dari mereka akan berangkat bekerja, yang sebagian besar dari mereka bekerja untuk pemerintah, seperti analis kebijakan, project manager, petugas anggaran, fasilitator, dan mungkin konsultan.

Setelah sekitar empat menit, seorang lelaki paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi yang sedang bermain musik. Ia memperlambat langkahnya dan berhenti selama beberapa detik, kemudian ia kembali terburu-buru mengejar jadwalnya.

Sekitar empat menit kemudian, pemain biola tersebut menerima dollar pertamanya. Seorang wanita memasukkan uang ke dalam topi sang pemain biola, tanpa berhenti, sambil langsung berlalu begitu saja.

Pada menit keenam, seorang laki-laki muda bersandar ke dinding untuk mendengarkan permainan biola itu, kemudian memandang jam dindingnya dan kembali berjalan.

Pada menit kesepuluh, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berhenti, namun ibunya segera membawanya pergi. Anak itu berhenti dan kembali memandang pemain biola, akan tetapi sang ibu mendorong anak tersebut dengan kuat dan anak itupun akhirnya pergi, sambil terus melihat ke belakang sepanjang perjalanan. Aksi serupa kembali terulang pada beberapa anak yang lain, namun setiap orangtua- tanpa terkecuali- memaksa anak mereka untuk segera pergi.

Pada menit keempat puluh: musisi tersebut memainkan biolanya terus menerus. Hanya ada enam orang yang berhenti dan mendengarkannya sesaat. Sekitar dua puluh orang memberi uang sambil berlalu begitu saja. Musisi tersebut akhirnya berhasil mengumpulkan 32 dollar.

Setelah satu jam: musisi itu selesai memainkan biolanya dan terdiam sesaat. Tak seorang pun melihat ke arahnya dan memberikan tepuk tangan. Tak ada yang mengapresiasinya sama sekali.

Tidak ada yang mengetahui bahwa pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, salah satu musisi terbaik di dunia. Ia baru saja memainkan salah satu bagian musik yang paling rumit yang pernah ditulis di dunia, dengan biola seharga 3,5 juta dollar. Dua hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston berhasil terjual habis dimana setiap penontonnya membayar rata-rata 100 dolar untuk duduk dan mendengarkan  Ia memainkan musik yang sama.

Ini adalah kisah nyata. Joshua Bell yang memainkan incognito di stasiun Metro D.C merupakan eksperimen sosial tentang persepsi yang dilakukan oleh Washington Post untuk mengetahui selera dan prioritas masyarakat.

Eksperimen ini memunculkan beberapa pertanyaan:

Dengan nuansa kondisi dan waktu yang kurang nyaman, apakah keindahan tetap dapat menembus hati manusia?

Dialihbahasakan dari bagian artikel ini.

Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin

"Black Untitled, 1948" (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.
“Black Untitled, 1948” (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.
"No 5/No 22" (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.
“No 5/No 22” (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.
"Number 1" (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.
“Number 1” (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

Gerakan seni modern Amerika selama tahun 1950-60an sangatlah unik. Sepertinya tidak ada gerakan lain yang dapat begitu mengundang perselisihan intelektual dibanding ekspresionisme abstrak. Bahkan dalam kongres Amerika pun perdebatan mengenai pendanaan karya seni seolah tidak pernah berhenti. Seorang anggota kongres zaman itu pun pernah berkata, “Saya hanya warga Amerika bodoh yang membayar pajak untuk sampah seperti ini.” Meski demikian kaum bohemia dan para intelektual muda liberal yang memegang peran begitu penting dalam lingkaran seni di zaman tersebut sangat mendukung gerakan ini. Bahkan sekarang hampir terdapat sebuah konsensus bahwa cipratan cat warna-warni Jackson Pollock, yang sering diejek seolah dibuat oleh seorang bocah berumur 5 tahun, adalah mahakarya seni yang penuh makna.

Bagaimana sebuah gerakan yang memicu sedemikian banyak pendapat yang saling bertentangan ini dapat terus berkembang, bahkan mendominasi dunia seni dunia selama berlangsungnya era perang dingin, dan kemudian diagungkan pada masa kini? Terdapat banyak spekulasi sekitar peran CIA sebagai patron untuk seniman era tersebut seperti Pollock, de Kooning, dan Rothko, bagaikan Paus bagi gerakan seni renaisans Italia, dan spekulasi tersebut tidak pernah dibantah maupun dikonfirmasi hingga pertengahan tahun 1990an ketika kejadian saat perang dingin sudah mulai mendingin (pun intended? Maybe). Pada tahun 1995, sebuah artikel dalam koran The Independent memastikan spekulasi tersebut sebagai kenyataan. Yah, memang sudah lama waktu berlalu setelah berita ini pertama kali muncul tetapi bagi saya ini adalah informasi yang lumayan mencengangkan ketika pertama kali membacanya dalam sebuah situs yang sering membahas propaganda dalam karya seni, khususnya dalam era peperangan. Kemudian saya berpikir apakah mungkin hingga kini pun, para seniman kontemporer dengan statemen politik kentalnya masing-masing hanyalah bagian dari skema rumit yang elegan dalam upaya mengarahkan jalur perubahan kebudayaan manusia  ke arah tertentu? Sepertinya hampir sudah pasti begitu, tapi cukup sudah sesi konspirasinya! Dibawah ini adalah terjemahan artikel Open Culture mengenai kisah dibalik gerakan ekspresionisme abstrak Amerika dan peran CIA.

How the CIA Secretly Funded Abstract Expressionism During the Cold War

Mengenai kemungkinan akan karya seni yang proletar, kritikus sastra Inggris William Empson pernah menyatakan, “alasan dibalik dapatnya masyarakat Inggris menikmati film propaganda Rusia adalah karena propaganda yang terkandung begitu irrelevan untuk dianggap menjengkelkan.” Mungkin karena inilah para seniman Amerika dan kaum bohemia dapat begitu tertarik dengan ikonografi dari politik rezim-rezim terpencil, baik dari segi fantasi maupun ironi. Yang dianggap realisme sosialis yang menjemukan bagi satu pihak adalah sebuah eksotika yang radikal bagi pihak lain.

Namun apakah ekspor budaya Amerika memiliki efek yang sama? Kita hanya perlu menengok kesuksesan branding terdangkal AS untuk menjawab, “Ya.” Tetapi tiada seorangpun yang akan menggolongkan lukisan-lukisan abstrak ekspresionis dengan hal-hal seperti fast-food dan Disney. Walaupun demikian, karya-karya seniman seperti Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Willem de Kooning termasuk bagian dari program rahasia CIA selama puncaknya perang dingin yang bertujuan mempromosikan ideologi Amerika diluar negeri.

Para seniman yang terlibat sama sekali tidak mengetahui bahwa karya mereka digunakan sebagai propaganda. Dalam operasi yang disebut agen CIA sebagai “Long Leash,” mereka mengikuti beberapa pameran yang secara tersembunyi diselenggarakan oleh CIA, contohnya pameran keliling “The New American Painting” yang ditunjukkan dalam kota-kota besar Eropa selama 1958-59 dan menyertakan karya modern primitive seperti Dwarf (1947) milik seniman surealis, William Baziotes. Continue reading “Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin”

Michelangelo, Sang Pujangga

Michelangelo Buonarroti
Michelangelo Buonarroti

Pelajaran pertama yang kebanyakan orang peroleh mengenai kesenian zaman Renaisans Italia diajarkan ketika berusia 7 atau 8 tahun. Waktu itu para pelajar diajarkan 4 nama tokoh penting dalam perkembangan kesenian dan kesusastraan renaisans yang bahkan tidak berasal dari sekolah atau buku pintar yang sering dicekokan oleh orang tua yang ambisius. Tidak, nama-nama tersebut dapat dipelajari dari kartun Kura-kura Ninja. Empat tokoh penting yang berkontribusi banyak kepada ilmu pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan lingkungannya, serta bagaimana ia dapat mengekspresikan pengetahuan tersebut dalam seni adalah Leonardo, Donatello, Michelangelo dan Raphael.

Dalam kesempatan ini mari kita pelajari dengan lebih seksama sang kura-kura ninja dengan ikat kepala warna kuning, Michelangelo. Michelangelo Buonarroti adalah seniman asal Tuscanny, Italia yang paling dikenal karena patung mahakaryanya “David” serta lukisan-lukisan fresco (atau lukisan di langit-langit dan dinding) yang menghiasi Gereja Sistine di Vatikan. Nama beliau tentu sudah tidak asing lagi di telinga kebanyakan orang, setidaknya bagi yang belum pernah mendengar namanya (atau selama ini memang beranggapan bahwa Michelangelo hanyalah nama siluman kura-kura belaka) pasti tahu atau pernah melihat karya-karyanya.

This slideshow requires JavaScript.

Continue reading “Michelangelo, Sang Pujangga”

Dissecting Dali

Dali

Dalam masyarakat yang dicekoki begitu banyak iklan dan informasi baru, bagaimanakah cara sebuah creative entity dapat menarik perhatian pejalan kaki pada umumnya? Tentu saja dengan menyeret tiga pelukis ikonik dalam sejarah seni modern, menggeletakan mereka diatas meja bedah, dan membelah dada mereka sehingga ‘organ tubuh’nya terlihat!

dissect

Sebuah kampus seni di São Paulo, Brazil menggunakan gambar Salvador Dali, Pablo Picasso, dan Vincent van Gogh yang dibedah layaknya seekor tikus dalam pelajaran anatomi  di kelas biologi. Hanya saja organ tubuh mereka dilukis dalam gaya lukis mereka masing-masing. Jantung Dali yang membara dilukis dalam gaya surealis dengan warna cerah dan detil rumit yang dapat kita temukan dalam lukisan-lukisannya. Garis tegas dan berani yang membentuk hati Picasso begitu kaya akan emosi yang menghiasi karyanya. Lambung dan usus besar van Gogh dari kejauhan terlihat seperti bagian dari lukisan Starry Night namun dari dekat sebenarnya tampak agak grotesque.

Iklan tersebut seolah mengajak siapapun yang melihat untuk ikut ‘membedah’ seperti apa batin dari ketiga jenius tersebut dan mencari tahu apa yang membedakan mereka dari seniman serta individu lainnya. Walaupun memang jawaban aslinya tidak mungkin seeksplisit dalam iklan tersebut, what a deliciously tongue-in-cheek way to prove a point!

Menyatukan Dunia Melalui Musik

Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and life to everything” -Plato

Lupakan bahasa Inggris, bahasa matematis atau gerakan tubuh, Playing For Change telah membuktikan bahwa sesungguhnya bahasa universal yang dapat dimengerti setiap jiwa di dunia ini adalah bahasa musik.

Playing For Change adalah gerakan yang bertujuan untuk menginspirasi dan menghubungkan orang-orang, serta menciptakan kedamaian di bumi melalui media musik. Gerakan ini dimulai ketika kru Playing For Change mendengar musisi jalanan (for lack of a better term for “street performers”) bernama Roger Ridley menyanyikan lagu Stand By Me di Santa Monica, Kalifornia pada tahun 2005 dan sejak itu mereka telah mengelilingi dunia untuk merekam ratusan musisi jalanan membawa berbagai macam lagu yang mempromosikan perdamaian, kasih sayang dan keterikatan antar manusia seperti One Love karya Bob Marley, A Change Is Gonna Come karya Sam Cooke, dan pastinya Imagine karya John Lennon. Bahkan telah merekam film dokumenter berjudul Playing For Change: Peace Through Music.

“Tidak satupun dari musisi ini pernah bertemu secara langsung, musiklah yang telah menyatukan mereka, serta keyakinan bahwa kita dapat berkontribusi lebih banyak kepada dunia jika melakukannya bersama-sama dibanding secara terpisah.” Kata Mark Johnson, pelopor gerakan tersebut.

Situs resminya dapat dilihat disini, sedangkan channel youtube disini.