Tahukah Kamu?

Apakah Berjilbab dapat menjadi Indikator kedalaman Iman?

Didapat dari path temen. Jadi ini adalah sebuah "re-path" melalui media blog :)

Didapat dari path temen. Jadi ini adalah sebuah “re-path” melalui media blog 🙂

Quote dari Mufti Menk ini cukup menarik, karena memang beberapa orang – tidak tahu mana yang lebih banyak – suka merasa lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang lain, jika dirinya sudah berjilbab. Atau merasa anaknya, atau istrinya, akan lebih dekat dan disayangi oleh Tuhan, jika dia berjilbab, dibandingkan dengan yang tidak berjilbab. Seakan-akan, jilbab adalah indikator terpenting. Seakan-akan jilbab adalah indikator kedalaman iman seseorang. Padahal isi lubuk hati seseorang siapa yang tahu? Semoga kita bisa semakin fokus dengan mendekatkan diri kita sendiri kepada Tuhan, tanpa perlu kita membanding-bandingkan kedekatan kita dengan orang lain. Karena mungkin, ketika kita sudah mulai merasa “lebih bersih” atau “lebih dekat” kepada-Nya, dibandingkan dengan si A, si B, atau si C, mungkin tanpa kita rasakan, bibit kesombongan sudah merasuki jiwa kita. Mari kita mulai berhenti menghakimi orang lain, walaupun hanya berada di tataran pikiran saja. Seperti yang dikatakan Pak Mufti, “Ia mungkin memiliki 1 kekurangan yang terlihat, sementara Anda memiliki 50 kekurangan yang tersembunyi”.

Oh ya, Mufti Menk adalah seorang cendikia muslim yang lahir di Zimbabwe yang mendapatkan sarjana di bidang Syariah dari Universitas Madinah. Beliau sudah menjadi seorang Hafiz alias penghapal Al-Quran di usia yang sangat muda. Kalau ingin tahu lebih lanjut soal Mufti Menk, silakan ke website ini.

Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Balada Mengurus SIM sesuai Prosedur

Depok, 11/03/2014 – Tadi saya naik ojek mau ke kantor Polresta Depok untuk urus SIM A. SIM saya sudah lama mati, lama-lama merasa buruk sendiri juga kalau menyetir tanpa SIM. Memang Pak Polisi belum ada yang menangkap atau merazia, tapi saya merasa buruk dan sudah melanggar hukum saja. Oh ya, tukang ojek saya tadi anak remaja yang dengan gaya cengengesan menasehati saya: “kalo cuma ke kantor Samsat ngapain pake helm mbak”. Lalu saya jawab: “pakai dong, kan aturannya demikian, kita patuhi saja. Masyarakat kita ini susah diatur, kalau ga bisa disiplin ya wajar ga bisa maju-maju. Lagian saya bukan mau ke Samsat, tapi ke Polresta.” Dia diam saja. Lalu di tengah perjalanan, seperti biasa tukang ojek suka nyelap-nyelip, kaki saya menabrak tubuh angkot karena tukang ojek nyelip dari kiri (untuk mendahului) dengan jarak yang terlalu dekat. Saya lalu refleks memukul bahu kanannya sambil menggerutu: “aduh sakit tahu! Ugal-ugalan sih”. 

Dia sepertinya tadi bilang maaf sambil malu-malu dan melanjutkan perjalanan. Sesampai di depan Polresta, dia lansung nembak ongkosnya Rp 30,000. Saya kaget, “Ga 20 ribu? Naik taksi aja ga nyampe 30,000 argonya kalau dari komplek saya tadi”. Lalu dia mengaku tidak punya kembalian, dan saya putuskan untuk ambil semua uang yang ia tunjukkan berjumlah 24,000. Tidak begitu ikhlas, tapi saya terima. Anak itu mungkin masih perlu banyak belajar. 

Sesampai di kantor Polres saya langsung ke ruang ujian teori, karena hari ini sesungguhnya ujian ulang saya, sempat ga lulus waktu tes pertama dihari yang sama ketika pendaftaran awal 2 minggu lalu. Saya bayar 25,000 untuk urus surat keterangan sehat (yang sebenarnya bisa diurus sendiri diluar kantor polisi), lalu Rp 120,000 untuk formulir (untuk SIM A baru, bukan perpanjangan), dan Rp 30,000 untuk asuransi. Total saya keluar uang Rp 175,000. Kata orang-orang, kalau lewat calo bisa sekitar Rp 500,000. Anyway, waktu ujian tadi, ada sekitar 7 orang dalam ruangan dan semua tidak lulus kecuali saya dan 1 orang lagi yang urus SIM C. Ada 1 orang yang tidak lulus lalu minta tolong Pak Polisi untuk ujian ulang hari ini juga karena suaminya harus kembali ke Papua. Pak Polisi takut dan meminta si ibu menunggu di luar agar nanti ditemui langsung oleh atasannya saja. Saya tidak tahu ceritanya setelah itu. Continue reading

Categories: Dunia Kita | 1 Comment

Pengumuman dari Bapak Supir Taksi: “To all passengers, please talk in English, I want to improve my English”

Salah satu nasihat kehidupan yang sering saya terima adalah “dimana ada kemauan ada jalan”, atau nasihat versi globalnya, “where there is a will, there is a way”. Contoh nyata dari pelaksanaan nasihat itu adalah kisah Pak Tarnedi ini, seorang supir taksi yang memiliki cita-cita sederhana ingin lebih bisa berbahasa Inggris, agar tidak kalah dengan bangsa lain dan agar dapat menjadi lebih pintar. Jalan yang Ia tempuh unuk mencapai cita-citanya pun tergolong kreatif, karena tidak memakan biaya sepeser pun alias gratis. Bagaimana memang caranya? Ia minta saja penumpangnya untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Ia mulai dengan memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris-nya yang walau terbata-bata, namun menarik, karena beliau memperkenalkan diri sambil bernyanyi: “My name is Tarmedi, I live in Bekasi, my occupation taxi driver, I want to be smarter… I have 2 sons....”.

Saya terinspirasi membaca kisah ini, semoga teman-teman pembaca juga 🙂 berikut liputan utuh tentang Pak Tarnedi yang diambil dari http://www.merdeka.com. (DM)

Continue reading

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Mengenal Tahapan Perkembangan Moral Manusia

Selamat sore! 🙂

Di tengah deras hujan yang melankolis ini saya jadi ingin menulis singkat sambil berbagi sebuah tulisan yang saya pikir bagus. Kenapa? Karena ada unsur teori psikologi sekaligus potret kehidupan nyatanya. Tema tulisan yang akan saya bagi ini adalah tentang moral manusia. Sejenak saya teringat, dulu kalau belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sewaktu SD dan SMP, lalu belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), rasanya bosaaaaan sekali. Saya adalah bagian dari siswa yang tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Namun setelah saya semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa pendidikan moral itu sangatlah penting. Dalam suatu forum diskusi yang membahas soal krisis keuangan global 2008, kesimpulan para pemapar pada sesi tersebut adalah bahwa akar masalah dari proses pengelolaan perekonomian dunia kita adalah masalah moral. Mengapa? Karena perekonomian sudah bukan lagi soal need, tapi juga greed. Masih maraknya kemiskinan, di mana sekitar setengah penduduk dunia saat ini masih hidup di bawah $ 2.5/hari/orang – yang jika disetarakan dengan tingkat harga nasional kita, angka tersebut kurang lebih setara dengan Rp 18,000/hari/orang – juga terjadi karena masalah moral akut bernama korupsi. Saya lantas berandai-andai, jika saja pendidikan moral tidak seperti yang saya alami dulu, yang lebih berat pada hapalan dan teori, dan bukan pada pembahasan kasus, praktik, dan contoh perilaku yang ditunjukkan guru dan penduduk senior dalam kehidupan sehari-hari seperti metode pembelajaran di Jepang, akankah moral kita akan lebih baik? Akankah negeri kita saat ini akan lebih sejahtera?

Hal inilah yang membuat tulisan ini menarik, karena membahas soal teori moral. Intinya, moral dapat dibentuk. Dimulai dengan hal terkecil berupa doa kita. Kok bisa dari doa? Gimana ceritanya? Silakan baca saya artikel selengkapnya di bawah ini, yang ditulis oleh Profesor Sarlito, Guru Besar Fakultas Psikologi UI. Saya hanya menambahkan beberapa foto dari internet agar lebih menarik. Adapun saya membagi artikel ini bukan untuk mengajak kita semua setuju dengan pesan beliau, namun lebih untuk mengajak kita semua untuk lebih bersedia memperkaya diri kita dengan wawasan, yang diharapkan kemudian dapat berdampak pula pada rasa kepedulian kita. Demikian, selamat membaca, ya! 🙂

MORAL MANUSIA INDONESIA
Penulis: SARLITO WIRAWAN SARWONO, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

bayi inosenTiada bayi yang lahir sudah bermoral. Karena itu wajar kalau anak sampai umur tiga atau empat tahun berbuat sukasuka dia sendiri. Ia bisa bermain sama teman-teman seusianya sambil berlari-larian dan menjeritjerit tanpa peduli ada mbahnya yang sakit, atau tetangga yang kebisingan.

Baru sesudah orang tuanya marah, dia berhenti. Jadi dia berbuat baik (tidak mengganggu orang) karena takut dimarahi mamanya, takut kena hukuman. Atau bisa juga karena mamanya mengiming-imingi permen atau mainan. Jadi anak menurut karena mencari hadiah. Psikolog Lawrence Kohlberg (1927-1967) menyebut perilaku anak yang seperti itu sebagai tahap paling awal dari perkembangan moral, yang dinamakannya tahap “taat karena ganjaran (reward) atau hukuman (punishment).

Continue reading

Categories: Dunia Kita | Tags: , , , | Leave a comment

Potret Kemiskinan itu Sangat Nyata, dimana Kepedulian Kita?

Dari wadah social media, seorang teman membagi cerita pendek ke dalam gambar ini. Gambar ini mengingatkan saya terhadap alam perasaan waktu saya baru kembali ke Indonesia, setelah 2 tahun belajar di salah satu negara terkaya dunia, Norwegia. Saat itu adalah 30 Agustus 2010, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sesampai di rumah, sambil ngobrol dengan keluarga, kami menonton TV, dan saat itu ada berita soal seorang dermawan yang membagi-bagikan uang 20,000 rupiah di kampung miskin (saya lupa persisnya di mana). Gambar di TV itu sontak membuat saya menangis. Air mata tak diniatkan mengucur ke pipi saya, karena betapa masyarakat rela “antri” sebegitu bejubelnya, bahkan sampai dorong-dorongan demi mendapatkan 20,000 itu. Saya heran dengan alam perasaan saya waktu itu, namun reaksi tubuh (mata) saya dengan jelas mengabarkan bahwa hati saya sangat sedih melihatnya. Gambar yang mengandung cerita pendek ini, mengingatkan saya pada hari itu. Pantas kah kejadian seperti ini kita biarkan berulang? Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, dimanakah rasa kepedulian kita? (DM)

Categories: Tahukah Kamu? | 1 Comment

Tips Melawan Rasa Kantuk ketika Menyetir Jarak Jauh

Selain orang yang menyeberang sembarangan, motor berkendara dengan arah berlawanan arah, angkot yang parkir ditempat yang nyaman (murni untuk dirinya sendiri), salah satu yang sangat umum juga kita lihat di jalanan adalah truk-truk besar pengangkut berbagai jenis barang. Nah, supir truk ini cukup banyak yang harus berkendara lintas propinsi yang berjalak jauh sehingga tidak jarang dari mereka harus terus menyetir walau sudah larut malam atau bahkan, dini hari.

Berkaitan dengan itu, tentu para supir kerap harus melawan rasa kantuk. Tahukah kamu apa tips yang beredar di komunitas supir truk lintas propinsi untuk melawan rasa kantuk? Ini dia tips yang didapat oleh salamduajari dari sumber terpercaya yang tidak berkenan namanya disebut:

1. “Buka celana dalem”, ujar narasumber

2. “Basahin celana dalemnya”, tambahnya

3. “Pake lagi deh celana dalemnya”, jawabnya dengan sumringah

Kami cukup tertegun dan terkejut ketika mendengar tips itu. Tapi karena itu fakta dan masuk akal juga, jadinya kami laporkan deh. Semoga dapat menambah wawasan kamu juga yaa.. 🙂

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Tags: , | Leave a comment

Finding Resonance in Art’s Hollowness

It’s funny how memory works and how it recollects random observations we make of a given moment. Sometimes the things we remember aren’t really historic or so emotionally groundbreaking, sometimes they’re actually quite trivial details of a particular moment. I remember from years ago I was sitting in class, I don’t remember how many years ago or what class it was. The lights were turned off because we were shown a powerpoint presentation, I don’t remember by whom or of what the presentation was given. The popular kids were seated in the back of the class like usual, leaning back and balancing on the two hind legs of their chairs, occupied with their own version of playground gossip just as I was with my circle of friends a few rows in front of them. I remember silence overtaking the room as one particular slide showed up on the projector screen. It was a photograph of a child sitting on dry grounds, ribs protruding out of the skins of her torso. In the background, slightly off focus, was a vulture. That was the day I first saw the iconic Pulitzer winning photo shot by Kevin Carter of the vulture and the starving child. I don’t remember what I said after seeing that picture but I remembered feeling like I needed to get out of the room and run as far away from there as possible.

the vulture and the starving child

The only other thing I remembered from the presentation was that we were asked by the presenter on what we thought of the photograph. They asked us, “What do you think of this picture? Do you think it was the right thing to do to have taken that photo instead of actually helping the child? What would you have done in that situation?” The question really disconcerted me, I’m sure it did most if not all of my peers as well. We could not have been twelve at most. At the time I thought, “Well obviously something’s wrong with the guy if he insisted on clicking away at his camera as he watched the life extinguish out of a helpless child right before him!” which in retrospect seems kind of judgmental and off-putting of me to say. Then we were told that the photographer had died, committing suicide caused by the insufferable guilt as a direct result of the image that haunted him for the remainder of his life. Or so it was implied.

It was a memorable moment in my life because we were suddenly confronted by this very real and very complex question of prioritisation and purpose. Continue reading

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Budaya Memuliakan Tamu, Kearifan Lokal?

Pontianak, 7 September 2013 – Sebagai seorang pemelajar yang ingin mengurai masalah akses keuangan untuk masyarakat pra-sejahtera, saya sering berdialog dengan berbagai kalangan yang memang, kurang disukai oleh lembaga keuangan formal, khususnya bank. Mereka-mereka adalah kalangan petani, pelaku usaha ultra mikro (pendapatan kotor atau omset usahanya kurang dari Rp 250,000/hari), nelayan, sampai pemulung. Sejauh ini, dari berbagai perjalanan saya dari sabang sampai merauke, ada satu kesamaan yang saya temukan pada budaya masyarakat kita, yaitu budaya memuliakan tamu.

Waktu saya ke Serdang Bedagai di Sumatera Utara, oleh pelaku usaha mikro penghasil opak singkong membungkusi saya berenteng-renteng buah rambutan. Jika saya tidak menolak dengan tegas, sekitar 6-10 buah durian juga ingin beliau berikan sebagai buah tangan. Waktu saya ke Kabupaten Pati di Jawa Tengah, saya dimasakkan bamdeng gpreng dan pepes jeroan bandeng untuk makan siang. Tidak kalah, waktu ke Salatiga, saya dimasakkan tahu goreng sambal kecap dan sayur ceriwis. Begitu pula yang terjadi di wilayah timur Indonesia. Di Kabupaten Timur tengah Selatan (NTT) saya dikalungi tenunan khas mereka, dan waktu ke Papua saya di-oleh-olehi kopi. Indah memang budaya ini. Indah karena menurut saya, porsinya masih “pas”. Ketika porsinya berlebihan… hmmm.

Adapun contoh alkisah yang berlebihan adalah seperti ini:

  1. Di NTT, adalah budaya untuk menjamu tamu, apalagi sanak saudara yang datang dari kampung lain dan sampai menginap di rumah. Kasus yang pernah saya dengar sendiri dari masyarakat adalah di mana si tuan rumah bisa sampai rela menyembelih hewan ternak mereka untuk menjamu tamu. Wajar jika hewan ternak yang dimiliki banyak, namun jika yang dimiliki terbatas dan dulunya dibeli dengan dana pinjaman? Aksi itu selain membuat tuan rumah kehabisan sumber mata pencaharian, juga membuat proses pengembalian pinjaman mereka juga menjadi macet.
  2. Di Papua, budaya cinta kasih sering mengalahkan disiplin berusaha. Orang sulit menolak jika ada anggota keluarga yang meminta bantuan berupa sembako, rokok, atau barang dagangan lainnya. Akhirnya, modal tidak berputar sempurna, karena barang yang sudah dibeli, tidak dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi, melainkan menjadi pemberian atau penjualan dengan hutang “lunak” untuk sanak saudara. Ada pengakuan menarik yang pernah saya dengar dari pelaku usaha mikro yang mengakui kegagalan usaha warung sembakonya dulu. Beliau berkata, “kalau nagasaki dan hiroshima hancur karena bom, maka warung saya hancur karena bon!” Continue reading
Categories: Kearifan Lokal | Tags: | Leave a comment

Out of the Blue: Bagaimana Google berharap dapat berbagi koneksi internet dengan balon

Ketika pertama kali terbentuk di tahun 80an, internet memiliki fungsi yang sangat berbeda dari yang kita ketahui saat ini. Di pertengahan tahun 90an ketika penggunaan internet mulai booming di kalangan publik, semuanya sangat tergila-gila dengan e-mail, chatting dan surfing the web dengan sambungan lemot—waktu itu saya masih terlalu kecil untuk bisa merasakan sendiri sih, tapi saya pernah nonton film You’ve Got Mail which is basically the same thing, right? 20 tahun kemudian internet telah berubah menjadi suatu hal yang baru sama sekali. Kita diperkenalkan pada istilah-istilah baru seperti ‘google’, ‘blog’ dan ‘tweet’, dan juga pada situs jejaring sosial yang tampaknya berhasil memperbudak kehidupan sehari-hari kebanyakan dari kita (RT ini kalau setuju!). Internet telah merombak pengertian dari kata ‘jarak’ dimana kini segalanya tersedia di ujung jari kita namun tetap saja terasa amat jauh. But that’s a story for another day.

Siapa yang dapat menduga 30 tahun yang lalu bahwa suatu teknologi yang dirancang untuk kegunaan militer kini telah menjadi integral dalam kehidupan kita sehari-hari? Setidaknya bagi mereka yang memiliki akses internet. Banyak orang menganggap hanya karena kakek dan nenek dan saudara jauh kita semua terhubung di dunia maya bahwa kakek dan nenek dan saudara jauh setiap orang juga menikmati hal yang sama. Kenyataannya hanya 1 dari 3 orang di muka bumi ini memiliki akses internet, di Indonesia sendiri hanya 22% penduduk kita merupakan pengguna internet. Karena dunia masa kini menuntut semua orang semakin terhubung, internet proficiency menjadi suatu hal yang begitu diperlukan selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu memastikan bahwa lebih banyak orang dapat menyambung ke internet untuk melihat foto-foto kucing dan hal penting lainnya telah menjadi suatu prioritas. Google, para pelopor teknologi informasi, telah memikirkan sebuah solusi bernama Project Loon yang bertujuan menyediakan akses internet yang cepat dan murah untuk sisa 2 dari 3 orang tadi. Bagaimana mereka berupaya menyebarkan aksesibilitas bagi daerah-daerah terpencil di muka bumi? Jawaban mereka? Dengan meniup balon.

Berikut adalah terjemahan postingan blog official Google mengenai Project Loon pada 14 Juni oleh Mike Cassidy, pemimpin Project Loon:

Introducing Project Loon: Balloon-powered Internet access

Internet adalah salah satu teknologi yang paling mengubah hidup kita sejauh ini. Tetapi bagi 2 dari 3 orang di dunia, sambungan internet yang cepat dan murah tidak tersedia bagi mereka. Dan masalah ini belum juga terpecahkan.

Beberapa hambatan dari konektivitas internet yang terkait masalah geografis—daerah hutan, kepulauan, pegunungan. Beberapa hambatan lainnya terkait biaya yang muncul. Contohnya saat ini dalam kebanyakan negara di bumi bagian selatan, biaya sambungan internet dapat melebihi tingkat pendapatan sebulan.

Memecahkan perihal diatas bukan sekedar masalah waktu tetapi juga memaksa kita memandang masalah aksesibilitas dari sudut pandang lainnya. Dengan demikian kami mempersembahkan moonshot terbaru dari Google[x]: Akses internet tenaga balon.

Continue reading

Categories: Kreasi dan Inovasi | Leave a comment

Eksperimen Joshua Bell, Apakah kita sudah cukup menghargai keindahan?

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS. Sumber: www.peaceformeandtheworld.ning.com

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS.
Sumber: http://www.peaceformeandtheworld.ning.com

Di Stasiun Metro, Washington DC, pada suatu pagi yang dingin di bulan Januari tahun 2007, seorang lelaki dengan sebuah biola memainkan enam buah partitur klasik selama kurang lebih 45 menit. Selama itu, sekitar 1097 orang lalu lalang melewatinya, sebagian besar dari mereka akan berangkat bekerja, yang sebagian besar dari mereka bekerja untuk pemerintah, seperti analis kebijakan, project manager, petugas anggaran, fasilitator, dan mungkin konsultan.

Setelah sekitar empat menit, seorang lelaki paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi yang sedang bermain musik. Ia memperlambat langkahnya dan berhenti selama beberapa detik, kemudian ia kembali terburu-buru mengejar jadwalnya.

Sekitar empat menit kemudian, pemain biola tersebut menerima dollar pertamanya. Seorang wanita memasukkan uang ke dalam topi sang pemain biola, tanpa berhenti, sambil langsung berlalu begitu saja.

Pada menit keenam, seorang laki-laki muda bersandar ke dinding untuk mendengarkan permainan biola itu, kemudian memandang jam dindingnya dan kembali berjalan.

Pada menit kesepuluh, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berhenti, namun ibunya segera membawanya pergi. Anak itu berhenti dan kembali memandang pemain biola, akan tetapi sang ibu mendorong anak tersebut dengan kuat dan anak itupun akhirnya pergi, sambil terus melihat ke belakang sepanjang perjalanan. Aksi serupa kembali terulang pada beberapa anak yang lain, namun setiap orangtua- tanpa terkecuali- memaksa anak mereka untuk segera pergi.

Pada menit keempat puluh: musisi tersebut memainkan biolanya terus menerus. Hanya ada enam orang yang berhenti dan mendengarkannya sesaat. Sekitar dua puluh orang memberi uang sambil berlalu begitu saja. Musisi tersebut akhirnya berhasil mengumpulkan 32 dollar.

Setelah satu jam: musisi itu selesai memainkan biolanya dan terdiam sesaat. Tak seorang pun melihat ke arahnya dan memberikan tepuk tangan. Tak ada yang mengapresiasinya sama sekali.

Tidak ada yang mengetahui bahwa pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, salah satu musisi terbaik di dunia. Ia baru saja memainkan salah satu bagian musik yang paling rumit yang pernah ditulis di dunia, dengan biola seharga 3,5 juta dollar. Dua hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston berhasil terjual habis dimana setiap penontonnya membayar rata-rata 100 dolar untuk duduk dan mendengarkan  Ia memainkan musik yang sama.

Ini adalah kisah nyata. Joshua Bell yang memainkan incognito di stasiun Metro D.C merupakan eksperimen sosial tentang persepsi yang dilakukan oleh Washington Post untuk mengetahui selera dan prioritas masyarakat.

Eksperimen ini memunculkan beberapa pertanyaan:

Dengan nuansa kondisi dan waktu yang kurang nyaman, apakah keindahan tetap dapat menembus hati manusia?

Dialihbahasakan dari bagian artikel ini.

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Blog at WordPress.com.