Category: Tahukah Kamu?

Analisis Lagu “Meraih Bintang”: Lirik adalah Kekuatan Doa

Depok, 1 September 2018 – Tak terasa Asian Games 2018 sebentar lagi tiba di penghujung perhelatan, dimana besok akan menjadi hari penutupannya. Dibuka dengan suatu pertunjukan pembukaan yang SPEKTAKULER, DAHSYAT, TAK TERLUPAKAN, MEMBANGGAKAN, entah kata apa lagi yang bisa saya gunakan, Indonesia berhasil mencuri perhatian dunia dan semacam menetapkan posisi yang jelas “Selamat datang di Indonesia – sebuah bangsa yang besar, kaya keragaman yang tertenun indah dalam Bhineka Tunggal Ika – dengan bangga dan gembira menyambut tamu-tamu terhormat dari seluruh penjuru Asia”.

Untuk Asian Games ke-18 tahun ini, Indonesia memasang target 16 emas dan masuk 10 besar. Target ini dipandang cukup ambisius oleh beberapa pihak mengingat rekam jejak kita yang memang cukup “cupu” pada 20 tahun terakhir, dimana kita konsisten di peringkat belasan agak-agak ujung. Merangkum dari wikipedia, berikut rekam jejak peringkat prestasi Indonesia:

 

 

Continue reading “Analisis Lagu “Meraih Bintang”: Lirik adalah Kekuatan Doa”

Advertisements

Apakah Berjilbab dapat menjadi Indikator kedalaman Iman?

Didapat dari path temen. Jadi ini adalah sebuah "re-path" melalui media blog :)
Didapat dari path temen. Jadi ini adalah sebuah “re-path” melalui media blog 🙂

Quote dari Mufti Menk ini cukup menarik, karena memang beberapa orang – tidak tahu mana yang lebih banyak – suka merasa lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang lain, jika dirinya sudah berjilbab. Atau merasa anaknya, atau istrinya, akan lebih dekat dan disayangi oleh Tuhan, jika dia berjilbab, dibandingkan dengan yang tidak berjilbab. Seakan-akan, jilbab adalah indikator terpenting. Seakan-akan jilbab adalah indikator kedalaman iman seseorang. Padahal isi lubuk hati seseorang siapa yang tahu? Semoga kita bisa semakin fokus dengan mendekatkan diri kita sendiri kepada Tuhan, tanpa perlu kita membanding-bandingkan kedekatan kita dengan orang lain. Karena mungkin, ketika kita sudah mulai merasa “lebih bersih” atau “lebih dekat” kepada-Nya, dibandingkan dengan si A, si B, atau si C, mungkin tanpa kita rasakan, bibit kesombongan sudah merasuki jiwa kita. Mari kita mulai berhenti menghakimi orang lain, walaupun hanya berada di tataran pikiran saja. Seperti yang dikatakan Pak Mufti, “Ia mungkin memiliki 1 kekurangan yang terlihat, sementara Anda memiliki 50 kekurangan yang tersembunyi”.

Oh ya, Mufti Menk adalah seorang cendikia muslim yang lahir di Zimbabwe yang mendapatkan sarjana di bidang Syariah dari Universitas Madinah. Beliau sudah menjadi seorang Hafiz alias penghapal Al-Quran di usia yang sangat muda. Kalau ingin tahu lebih lanjut soal Mufti Menk, silakan ke website ini.

Balada Mengurus SIM sesuai Prosedur

Depok, 11/03/2014 – Tadi saya naik ojek mau ke kantor Polresta Depok untuk urus SIM A. SIM saya sudah lama mati, lama-lama merasa buruk sendiri juga kalau menyetir tanpa SIM. Memang Pak Polisi belum ada yang menangkap atau merazia, tapi saya merasa buruk dan sudah melanggar hukum saja. Oh ya, tukang ojek saya tadi anak remaja yang dengan gaya cengengesan menasehati saya: “kalo cuma ke kantor Samsat ngapain pake helm mbak”. Lalu saya jawab: “pakai dong, kan aturannya demikian, kita patuhi saja. Masyarakat kita ini susah diatur, kalau ga bisa disiplin ya wajar ga bisa maju-maju. Lagian saya bukan mau ke Samsat, tapi ke Polresta.” Dia diam saja. Lalu di tengah perjalanan, seperti biasa tukang ojek suka nyelap-nyelip, kaki saya menabrak tubuh angkot karena tukang ojek nyelip dari kiri (untuk mendahului) dengan jarak yang terlalu dekat. Saya lalu refleks memukul bahu kanannya sambil menggerutu: “aduh sakit tahu! Ugal-ugalan sih”. 

Dia sepertinya tadi bilang maaf sambil malu-malu dan melanjutkan perjalanan. Sesampai di depan Polresta, dia lansung nembak ongkosnya Rp 30,000. Saya kaget, “Ga 20 ribu? Naik taksi aja ga nyampe 30,000 argonya kalau dari komplek saya tadi”. Lalu dia mengaku tidak punya kembalian, dan saya putuskan untuk ambil semua uang yang ia tunjukkan berjumlah 24,000. Tidak begitu ikhlas, tapi saya terima. Anak itu mungkin masih perlu banyak belajar. 

Sesampai di kantor Polres saya langsung ke ruang ujian teori, karena hari ini sesungguhnya ujian ulang saya, sempat ga lulus waktu tes pertama dihari yang sama ketika pendaftaran awal 2 minggu lalu. Saya bayar 25,000 untuk urus surat keterangan sehat (yang sebenarnya bisa diurus sendiri diluar kantor polisi), lalu Rp 120,000 untuk formulir (untuk SIM A baru, bukan perpanjangan), dan Rp 30,000 untuk asuransi. Total saya keluar uang Rp 175,000. Kata orang-orang, kalau lewat calo bisa sekitar Rp 500,000. Anyway, waktu ujian tadi, ada sekitar 7 orang dalam ruangan dan semua tidak lulus kecuali saya dan 1 orang lagi yang urus SIM C. Ada 1 orang yang tidak lulus lalu minta tolong Pak Polisi untuk ujian ulang hari ini juga karena suaminya harus kembali ke Papua. Pak Polisi takut dan meminta si ibu menunggu di luar agar nanti ditemui langsung oleh atasannya saja. Saya tidak tahu ceritanya setelah itu. Continue reading “Balada Mengurus SIM sesuai Prosedur”

Pengumuman dari Bapak Supir Taksi: “To all passengers, please talk in English, I want to improve my English”

Salah satu nasihat kehidupan yang sering saya terima adalah “dimana ada kemauan ada jalan”, atau nasihat versi globalnya, “where there is a will, there is a way”. Contoh nyata dari pelaksanaan nasihat itu adalah kisah Pak Tarnedi ini, seorang supir taksi yang memiliki cita-cita sederhana ingin lebih bisa berbahasa Inggris, agar tidak kalah dengan bangsa lain dan agar dapat menjadi lebih pintar. Jalan yang Ia tempuh unuk mencapai cita-citanya pun tergolong kreatif, karena tidak memakan biaya sepeser pun alias gratis. Bagaimana memang caranya? Ia minta saja penumpangnya untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Ia mulai dengan memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris-nya yang walau terbata-bata, namun menarik, karena beliau memperkenalkan diri sambil bernyanyi: “My name is Tarmedi, I live in Bekasi, my occupation taxi driver, I want to be smarter… I have 2 sons....”.

Saya terinspirasi membaca kisah ini, semoga teman-teman pembaca juga 🙂 berikut liputan utuh tentang Pak Tarnedi yang diambil dari http://www.merdeka.com. (DM)

Continue reading “Pengumuman dari Bapak Supir Taksi: “To all passengers, please talk in English, I want to improve my English””

Mengenal Tahapan Perkembangan Moral Manusia

Selamat sore! 🙂

Di tengah deras hujan yang melankolis ini saya jadi ingin menulis singkat sambil berbagi sebuah tulisan yang saya pikir bagus. Kenapa? Karena ada unsur teori psikologi sekaligus potret kehidupan nyatanya. Tema tulisan yang akan saya bagi ini adalah tentang moral manusia. Sejenak saya teringat, dulu kalau belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sewaktu SD dan SMP, lalu belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), rasanya bosaaaaan sekali. Saya adalah bagian dari siswa yang tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Namun setelah saya semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa pendidikan moral itu sangatlah penting. Dalam suatu forum diskusi yang membahas soal krisis keuangan global 2008, kesimpulan para pemapar pada sesi tersebut adalah bahwa akar masalah dari proses pengelolaan perekonomian dunia kita adalah masalah moral. Mengapa? Karena perekonomian sudah bukan lagi soal need, tapi juga greed. Masih maraknya kemiskinan, di mana sekitar setengah penduduk dunia saat ini masih hidup di bawah $ 2.5/hari/orang – yang jika disetarakan dengan tingkat harga nasional kita, angka tersebut kurang lebih setara dengan Rp 18,000/hari/orang – juga terjadi karena masalah moral akut bernama korupsi. Saya lantas berandai-andai, jika saja pendidikan moral tidak seperti yang saya alami dulu, yang lebih berat pada hapalan dan teori, dan bukan pada pembahasan kasus, praktik, dan contoh perilaku yang ditunjukkan guru dan penduduk senior dalam kehidupan sehari-hari seperti metode pembelajaran di Jepang, akankah moral kita akan lebih baik? Akankah negeri kita saat ini akan lebih sejahtera?

Hal inilah yang membuat tulisan ini menarik, karena membahas soal teori moral. Intinya, moral dapat dibentuk. Dimulai dengan hal terkecil berupa doa kita. Kok bisa dari doa? Gimana ceritanya? Silakan baca saya artikel selengkapnya di bawah ini, yang ditulis oleh Profesor Sarlito, Guru Besar Fakultas Psikologi UI. Saya hanya menambahkan beberapa foto dari internet agar lebih menarik. Adapun saya membagi artikel ini bukan untuk mengajak kita semua setuju dengan pesan beliau, namun lebih untuk mengajak kita semua untuk lebih bersedia memperkaya diri kita dengan wawasan, yang diharapkan kemudian dapat berdampak pula pada rasa kepedulian kita. Demikian, selamat membaca, ya! 🙂

MORAL MANUSIA INDONESIA
Penulis: SARLITO WIRAWAN SARWONO, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

bayi inosenTiada bayi yang lahir sudah bermoral. Karena itu wajar kalau anak sampai umur tiga atau empat tahun berbuat sukasuka dia sendiri. Ia bisa bermain sama teman-teman seusianya sambil berlari-larian dan menjeritjerit tanpa peduli ada mbahnya yang sakit, atau tetangga yang kebisingan.

Baru sesudah orang tuanya marah, dia berhenti. Jadi dia berbuat baik (tidak mengganggu orang) karena takut dimarahi mamanya, takut kena hukuman. Atau bisa juga karena mamanya mengiming-imingi permen atau mainan. Jadi anak menurut karena mencari hadiah. Psikolog Lawrence Kohlberg (1927-1967) menyebut perilaku anak yang seperti itu sebagai tahap paling awal dari perkembangan moral, yang dinamakannya tahap “taat karena ganjaran (reward) atau hukuman (punishment).

Continue reading “Mengenal Tahapan Perkembangan Moral Manusia”

Potret Kemiskinan itu Sangat Nyata, dimana Kepedulian Kita?

Dari wadah social media, seorang teman membagi cerita pendek ke dalam gambar ini. Gambar ini mengingatkan saya terhadap alam perasaan waktu saya baru kembali ke Indonesia, setelah 2 tahun belajar di salah satu negara terkaya dunia, Norwegia. Saat itu adalah 30 Agustus 2010, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sesampai di rumah, sambil ngobrol dengan keluarga, kami menonton TV, dan saat itu ada berita soal seorang dermawan yang membagi-bagikan uang 20,000 rupiah di kampung miskin (saya lupa persisnya di mana). Gambar di TV itu sontak membuat saya menangis. Air mata tak diniatkan mengucur ke pipi saya, karena betapa masyarakat rela “antri” sebegitu bejubelnya, bahkan sampai dorong-dorongan demi mendapatkan 20,000 itu. Saya heran dengan alam perasaan saya waktu itu, namun reaksi tubuh (mata) saya dengan jelas mengabarkan bahwa hati saya sangat sedih melihatnya. Gambar yang mengandung cerita pendek ini, mengingatkan saya pada hari itu. Pantas kah kejadian seperti ini kita biarkan berulang? Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, dimanakah rasa kepedulian kita? (DM)

Tips Melawan Rasa Kantuk ketika Menyetir Jarak Jauh

Selain orang yang menyeberang sembarangan, motor berkendara dengan arah berlawanan arah, angkot yang parkir ditempat yang nyaman (murni untuk dirinya sendiri), salah satu yang sangat umum juga kita lihat di jalanan adalah truk-truk besar pengangkut berbagai jenis barang. Nah, supir truk ini cukup banyak yang harus berkendara lintas propinsi yang berjalak jauh sehingga tidak jarang dari mereka harus terus menyetir walau sudah larut malam atau bahkan, dini hari.

Berkaitan dengan itu, tentu para supir kerap harus melawan rasa kantuk. Tahukah kamu apa tips yang beredar di komunitas supir truk lintas propinsi untuk melawan rasa kantuk? Ini dia tips yang didapat oleh salamduajari dari sumber terpercaya yang tidak berkenan namanya disebut:

1. “Buka celana dalem”, ujar narasumber

2. “Basahin celana dalemnya”, tambahnya

3. “Pake lagi deh celana dalemnya”, jawabnya dengan sumringah

Kami cukup tertegun dan terkejut ketika mendengar tips itu. Tapi karena itu fakta dan masuk akal juga, jadinya kami laporkan deh. Semoga dapat menambah wawasan kamu juga yaa.. 🙂