Dari Ruang Kelas

Indonesia = Miskin dan Bahagia. Bagaimana Komentar Mahasiswa?

Salah satu isu yang banyak ekonom dewasa ini diskusikan adalah yang berkaitan dengan kebahagiaan. Apakah kesejahteraan ekonomi berhubungan lurus dengan kebahagiaan? Pada sesi pertama kuliah di Kelas Ekonomi Kemiskinan semester ini, selain membahas silabus kami juga berdiskusi soal kisah-kisah kehidupan orang miskin di Indonesia. Salah satu hal yang menarik adalah soal fakta di mana tidak sedikit dari orang miskin Indonesia merasa bahagia. Hal ini sejalan dengan beberapa hasil survey yang menunjukkan Indonesia, sebagai negara berkembang yang sekitar setengah penduduknya masih hidup di bawah USD 2/kapita/hari (purchasing power parity), menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Salah satunya adalah seperti yang digambarkan pada gambar di bawah ini, dan juga yang dipaparkan pada artikel salamduajari sebelumnya.

sumber: Dornbusch et al, Macroeconomics 10th Edition, Chapter 4

sumber: Dornbusch et al, Macroeconomics 10th Edition, Chapter 4

Continue reading

Categories: Dari Ruang Kelas, Snapshot | Tags: | 1 Comment

Cara berpikir atau cara pandangnya yang salah?

oh, really?

oh, really?

Dalam suatu mata kuliah pembangunan karakter terdapat beberapa  sesi yang  membahas tentang silogisme , yaitu metode penalaran deduktif yang menurunkan suatu kesimpulan khusus dari dua premis atau proposisi yang bersifat lebih umum. Saya ingin bercerita tentang salah satu sesi tentang silogisme tersebut. Saya lupa tepatnya kapan sesi itu terjadi (yang pasti pada semester ke-2 tahun 2012), yang pasti sebelumnya  mahasiswa telah diminta menonton sebuah film  dan menemukan kesalahan penalaran pada beberapa tokoh yang ada pada film tersebut. Dalam kelompok  mereka berdiskusi dan kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Sejujurnya saya sudah agak lupa dengan silogisme-silogisme yang kami bahas hari itu,  saya bahkan lupa film-nya apa, tapi ada 1 yang masih melekat karena membuat saya ingin menulis artikel ini, yaitu  yang berkaitan dengan silogisme  si Ayah yang mengkhawatirkan masa depan anak putrinya (let say namanya Danita)  jika menikah dengan pria yang hanya merupakan lulusan perguruan tinggi di dalam negeri. Adapun putrinya sendiri baru saja pulang dari luar negeri. Sekali lagi mohon tempatkan fokus Anda pada pesan yang tersirat dari tulisan ini, karena saya sudah lupa dengan persis ceritanya, jadi mungkin tulisan ini berkategori inspired by true story, bukan based on true story. Anyway, kira-kira  salah satu silogisme  yang dipresentasikan oleh beberapa kelompok hari itu adalah seperti ini:

Premis mayor: Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang  menjanjikan

Premis minor: Ajie (tokoh utama pria, nama buatan karena lupa nama aslinya siapa) bukan lulusan luar negeri

Kesimpulan: Aji memiliki masa depan yang tidak menjanjikan.

Intinya adalah, mahasiswa menilai ada yang salah pada cara berpikir atau proses penalaran pada Ayah Danita. Lalu saya bertanya lagi kepada mahasiswa untuk menanggapi silogisme orang tua Danita yang telah dipaparkan.  Jika memang premis mayor dan minornya seperti di atas, di mana letak tidak logisnya orang tua Danita? Karena bagi saya, kesimpulan yang diturunkan sudah konsisten dan sejalan dengan induknya (premis-premisnya). Saya lalu beri contoh silogisme yang kurang tepat atau mengandung sesat pikir:

Premis mayor: Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang  menjanjikan

Premis minor: Ajie bukan lulusan luar negeri

Kesimpulan:  Ajie tidak becus —> disini terdapat lompatan pemikiran disini, sehingga tidak ada kaitan langsung antara kesimpulan induk (premis) dan kesimpulan turunannya.

Continue reading

Categories: Dari Ruang Kelas | Leave a comment

Bahkan si Miskin pun Dapat Beristri Tiga

Senang! Kembali terdapat tulisan menarik karya mahasiswa. Adapun tulisan ini bercerita mengenai fenomena yang ditemui mahasiswa ketika melaksanakan tugas mata kuliah Economics of Poverty, yaitu tugas mewawancarai anggota masyarakat yang dipersepsikan miskin. Poin menarik dari tulisan ini adalah bahwa penulis menekankan perhatiannya lebih kepada generasi muda miskin, yaitu anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan di keluarga miskin, yang otomatis  dikelilingi oleh lingkungan intervensi yang tidak hanya miskin secara ekonomi, namun juga besar kemungkinan, miskin dalam hal pola pikir. Mengapa pola pikir?

Masyarakat miskin pada umumnya:

  • tidak memberi nilai yang besar (tidak memandang penting) keperluan masa depan, mereka cenderung fokus untuk bertahan hidup hari ini, bukan untuk mengisi kehidupan, atau, focus to survive life instead of to live life;
  • masyarakat miskin juga umumnya tidak memberi nilai yang tinggi bagi pendidikan dan gizi anak, yang kemudian berujung pada terbatasnya kemampuan anak tersebut untuk meraih dan menikmati taraf kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya.

Adapun sistem nilai yang berlaku umum pada masyarakat miskin tersebut, lebih disebabkan pada ketidaktahuan mereka atas adanya cara untuk memperbaiki keadaan, jika bukan untuk keadaan mereka sendiri setidaknya untuk keadaan anak-anak mereka. Cara paling sederhana adalah, dengan membatasi jumlah anak yang dimiliki. Pendeknya, bukan hanya masyarakat miskin secara umum saja yang perlu dipikirkan cara penanganannya, namun secara khusus, penanganan untuk generasi muda miskin juga perlu dipikirkan agar kualitas hidupnya dapat lebih baik daripada orang tuanya. Fenomena inilah yang diangkat oleh mahasiswa melalui tulisan berikut. Semoga dapat menjadi bahan renungan kita bersama dalam mencari jalan untuk memuseumkan kemiskinan, khususnya kemiskinan absolut karena kemiskinan relatif tidak akan pernah ada habisnya. Akan selalu ada langit di atas langit, betul?

Even the so called poor man could have three wifes

Written by: Laras Sekarani

On one hot sunny day in Jakarta, I went to a traditional market near my house. As soon as I get there, I started to look around to find my target. Actually, I interviewed more than one people for this assignment, there are becak rider, bakso seller, a nice lady who sells gudeg and a few more. But I choose this one story to write because I think this is the most interesting interview that I got so far. I met him at a coffee shop, not a fancy one, in this situation it means warung kopi in Indonesian language. I sat there and ordered a coffee and that man sat next to me.

He is a taxi driver, but not a well-known brand of taxi. He has his own house, it is inherited from his mother. He earns about Rp.20.000 to Rp.30.000 per day. I think this amount is not enough but I see there are many other people live with less amount of money. For some people that I interviewed, this amount is enough to live a very simple life but for him this income is not enough because he has three wives and five children. I was very shocked. Continue reading

Categories: Dari Ruang Kelas | Leave a comment

Karya Mahasiswa: “On Poverty”

Pada semester ini kelas Ekonomi Kemiskinan turut dibuka dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Hal ini terkait kurikulum yang mewajibkan mahasiswa setidaknya mengambil 18 SKS mata kuliah yang diantar dengan Bahasa Inggris. Kelas Ekonomi Kemiskinan dalam konteks ini pun menjadi Economics of Poverty. Terkait dengan rangkaian kegiatan perkuliahan, kami melakukan kunjungan lapangan ke Koperasi Kasih Indonesia – koperasi simpan pinjam bagi masyarakat miskin di daerah Cilincing Jakarta Utara – yang digagas oleh Leonardo Kamilius, alumni FEUI angkatan 2004. Setelah kunjungan tersebut, mahasiswa diminta membuat essay mengenai “What is Poverty?” dan “How do you see it?”. Berikut adalah essay terbaik yang ditulis oleh Aria Gita Indira dengan judul “On Poverty”.

Adapun untuk cerita lengkap mengenai kunjungantersebut dapat  dibaca pada link berikut: https://salamduajari.com/2012/03/23/perjalanan-memahami-fenomena-kemiskinan/.

Continue reading

Categories: Dari Ruang Kelas | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.