Dari Mana Saja

Berdoa dan Usaha

Salamduajari, Depok – Berdoa dan usaha, atu ora et labora sudah menjadi mantera kehidupan saya sejak lama. Tak sah memang rasanya jika proses usaha untuk meraih cita-cita tidak disertai doa. Apalagi sebaliknya.

Hari ini ke kantor MNC Tower untuk talkshow di MNC Business, membicarakan soal dampak kenaikan listrik nanti bagi UKM dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Lalu di dalam lobi kantornya saya melihat pemandangan ini. “Ya, ini hari Jumat”, dalam hati. Jadi merasa diingatkan lagi: ora et labora. Semoga cita-cita kawan-kawan salamduajari tercapai! Amiiin. Oh ya, happy weekend!

image

Advertisements
Categories: Dari Mana Saja | Tags: , | Leave a comment

Sudut Pandang: what we think, what we become

 

apapun bisa dicelaHari ini seseorang, yang merupakan sosok guru dan sahabat bagi saya, mengirimkan gambar ini. Bagi saya menarik sekali. Kalau dicari, kesalahan pasti akan ada saja. Tergantung mau pakai sudut pandang yang mana. Saya jadi mikir, sepertinya saya termasuk orang yang meyakini bahwa bukan “sesuatu (peristiwa, kondisi, status, atau situasi)” yang menentukan nasib kita, melainkan cara kita “memandang dan menangani sesuatu” lah yang menentukan.

Jadi, karena kita dapat memilih dan menentukan sudut pandang apa yang akan digunakan dalam memandang sesuatu, maka saya percaya bahwa konsep nasib itu lebih bersifat self-determined (utamanya ditentukan oleh diri kita sendiri). Dengan demikian, nasib jelas berbeda dengan konsep takdir, yang lebih bersifat externally-determined atau given (utamanya ditentukan oleh hal-hal diluar kuasa atau rencana kita sendiri, atau sudah dari sananya).

Dari contoh gambar di atas, dapat diinterpretasikan: mungkin sudah takdir saya untuk melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang naik keledai dan berlalu di hadapan saya. Tapi adalah nasib saya untuk merasa terganggu oleh perasaan kasihan terhadap keledai. Karena sesungguhnya saya bisa saja tidak merasa terganggu, jika saya memilih untuk tidak memberi penilaian apapun (cuek), karena saya tidak mengerti apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan oleh laki-laki, perempuan, atau kedelai tersebut. So why be bothered?

Continue reading

Categories: Dari Mana Saja | Tags: , , | Leave a comment

Untuk Proses BAB Kita yang Lebih Baik

image

Semoga bermanfaat ya.  Happy weekend!

Categories: Dari Mana Saja | Tags: , | Leave a comment

Capres Alternatif: Jalan Tengah untuk Dua Kubu Capres 2014

Memang betul kita butuh pilih Presiden yang tepat untuk Indonesia saat ini. Memang betul kita butuh menyeimbangkan pertimbangan emosional dengan pertimbangan rasional kita. Memang betul kita hanya punya dua kubu capres pada 2014 ini. Namun, tidak betul kalau pilihan kita hanya terbatas pada dua kubu tersebut. Dengan mendorong kreatifitas, kita bisa hadirkan alternatif baru, sehingga pilihan kita tidak hanya terbatas pada dua saja. Hal inilah yang sudah dibuktikan oleh Calon Presiden alternatif baru, yang menawarkan jalan tengah diantara dua kubu Capres yang tersedia saat ini. Kreatifitas Cak Lontong dan Komeng memang ga ada matinya. Di tengah dinamika tinggi yang dihadapi bangsa saat ini, mereka masih sempat berpikir dan menawarkan solusi untuk negeri.

 

Sumber: dari Facebook group Dosen Indonesia

Sumber: dari Facebook group Dosen Indonesia

Capres & cawapres alternatif RI,:

Nasehat dari cak lontong…

● Berhentilah menuntut ilmu, karena ilmu tidak bersalah.
● Jangan membalas budi karena belum tentu budi yang melakukannya.
● Jangan mengarungi lautan, karena karung lebih cocok untuk beras.
● Berhenti juga menimba ilmu, karena ilmu tidak ada di dalam sumur
● Yang paling penting, jangan lupa daratan, karena kalau lupa daratan akan tinggal dimana…???
● Jangan ngurusin orang karena belum tentu orang itu pengen kurus.
● Dan janganlah bangga menjadi atasan. Karena di Pasar Baru atasan 10rb dapat 3 

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Dari Indonesia menuju Nusantara

Pak Arkand di Kick Andi

Pak Arkand di Kick Andi

Kali ini ada wacana menarik namun cukup nakal dari salah satu narasumber Kick Andy, yaitu Pak Arkand Bodhana Zeshaprajna alias Emmanuel Alexander yang katanya adalah pakar nama dan waktu. Beliau meletakkan gelar Dr alias Doktor didepan namanya, yang beliau dapat dari University of Methapysics di Amerika Serikat. Jujur waktu saya berkunjung ke websitenya, agak serem sih haha. Anyway, kampusnya ternyata menyediakan paket distant learning seperti Universitas Terbuka di Indonesia. Lantas, apa wacana yang dilempar pak Arkand? Ini dia kira-kira. Diambil dari status facebook saya pada 4 April. Soal percaya ga percaya, suka ga suka, terserah diri kita masing-masing ya. Kalau saya jujur senang untuk iseng saja 🙂

“Pendapat pak arkand – seorang konsultan nama dan waktu- di Kick Andy merekomendasikan agar Indonesia berganti nama menjadi Nusantara, karena struktur nama Indonesia tidak baik dan menurut hitungan beliau, tahun 2020 adalah momentum terjadinya pecah belah di bumi Indonesia. Struktur nama Nusantara, menurut beliau lebih baik. Ntah kenapa saya suka dengan nama NUSANTARA. Negara Kesatuan Republik Nusantara, bisa disingkat jadi Negara KeReN.


Nanti mungkin kampus tempat saya berkarya akan berubah menjadi Universitas Nusantara, 

lagu kebangsaan pun akan berubah menjadi “Nusantara Raya, merdeka merdeka”.

Indonesian Idol akan menjadi Nusantara Idol. 

Bank Rakyat Indonesia jadi Bank Rakyat Nusantara (disingkat BRN). 

Bank Negara Indonesia jadi Bank Negara Nusantara (disingkat BNN, nah ini akan sengketa dengan Badan Narkotika Nasional, jadi mungkin harus diganti namanya jadi Badan Anti-Narkotika Nusantara, disingkat jadi BANN). 

Tenaga Kerja Indonesia akan jadi Tenaga Kerja Nusantara. Cuma kan TKI kita di Malaysia kan sering disebut “orang endon”, nah nanti kalo jadi Nusantara, mereka sebut TKN apa ya? “Orang nusan” atau “orang neson”? Mudah-mudahan bisa disebut orang nusantara aja.” (DM)

 

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Kunci Kebahagiaan: make the best of everything

Holaaaa.. hari ini saya kembali mencoba merutinkan pola posting dua kali seminggu, yaitu hari Senin dan Kamis (seperti jadual puasa sunah Senin dan Kamis). Saya tidak tahu apakah akan berhasil, tapi paling tidak akan saya coba.

Hari ini saya ingin berbagi soal kunci kebahagiaan. Pada posting salamduajari sebelumnya yang berjudul “miskin dan bahagia”, dan yang berjudul  “Indonesia, India, dan Mexico: Rumah dari orang-orang Sangat Bahagia”, kita sama-sama melihat suatu data bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat pendapatan cukup rendah, namun tingkat kebahagiaannya tergolong tinggi. Lalu hari ini saya menemukan suatu kutipan menarik tentang kebahagiaan. Ini dia kutipannya:

Sumber: 9gag.com

Sumber: 9gag.com

Pesan dari kutipan di atas, kurang lebih sejalan dengan nasihat orang tua, senior atau kakak-kakak saya. “Dewi, kunci bahagia itu sesungguhnya sederhana, yaitu sukur dan sabar”. “Dewi, supaya ga terlalu stress, cobalah belajar untuk menerima keadaan, cobalah berdamai dengan diri sendiri; mungkin memang lebih baik target-target kamu itu tidak dicapai sekarang, tapi nanti. Sesuatu kan ada waktunya sendiri-sendiri. Sekarang nikmati saja apa-apa yang sudah berhasil dimiliki, sudah dicapai. Intinya, berdamailah sama diri kamu sendiri”. Atau mungkin nasihat dari teman seumuran, yang bilang, “Wi, masih untung loe udah …..; belum lagi loe kan sekarang juga udah jadi …..; masih untung …. dan masih untung …..”. Intinya, masih untung sudah ini dan sudah punya itu. Waktu saya dulu kecelakaan dan mengalami patah tulang bahu depan dan 6 jahitan di kepala juga, keluarga dan kerabat saya juga masih pada bilang, “Alhamdulillaah, masih untung patah tulangnya cuma di bahu depan sehingga tidak terlalu perlu operasi”, “woalaaah, masih untung si Dewi tidak mengalami lupa ingatan yaaa”. Haha, intinya hampir semuanya ada “masih untung”-nya.

In short, saya jadi semakin mengerti mengapa hasil survey yang menunjukkan fenomena bahwa walaupun Indonesia merupakan negara dengan tingkat pendapatan yang masih tergolong cukup rendah (negara berkembang), Indonesia merupakan negara di mana masyarakatnya tergolong bahagia. Jawabannya adalah karena secara umum orang Indonesia tergolong orang-orang yang mudah bersyukur. Dengan budaya “masih untung”-nya, orang Indonesia terlatih untuk berdamai dengan keadaan, sepahit apapun itu; karena dari setiap kondisi, pasti ada sisi hikmahnya. Kisah-kisah inspiratif seperti kisah Dewantara Soepardi atau Angkie Yudistia, hanya sedikit dari banyaknya kisah-kisah inspiratif di mana kebahagiaan itu sangat mungkin dicapai ditengah banyaknya keterbatasan. Mungkin karena itu lah kita, secara umum, tergolong bahagia; karena toh, kunci kebahagiaan itu bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada pemaknaan kita atas apa-apa yang telah dimiliki. So, i have to agree that “the happiest people don’t have the best of everything, they just make the best of everything”. Happy Monday!  (DM)

 

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Save MASTER

Tulisan berikut diambil dari profil Kita Bisa Save MASTER Indonesia dimana proyek tersebut menggalang dana bersifat crowdfunding untuk membangun ulang sekolah gratis Master Depok yang rencananya akan digusur.


Sekolah MASTER (Masjid Terminal) sudah bertahun-tahun membina anak jalanan menjadi siswa berprestasi bahkan beberapa mendapat beasiswa PTN. Kini MASTER akan direlokasi karena pembangunan terminal terpadu. Bantu anak2 mendapatkan tempat belajar baru.
Setelah mencuatnya isu penggusuran Sekolah Master akhir-akhir ini dimedia sosial, akhirnya Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail angkat bicara. Pernyataan beliau disampaikan saat Walikota melakukan kunjungan ke Sekolah Master dalam rangka mengisi acara “Ruang Kita” yang disiarkan TvOne di Sekolah Master hari Kamis, 18 Juli 2013. Beliau menjamin bahwa sekolah Master tidak akan digusur. Beliau juga menegaskan bahwa Sekolah Master akan tetap berdiri dan dipertahankan.

Ya, besar harapan kita pernyataan Walikota Depok benar-benar dipertanggungjawabkan. Hari Senin, tanggal 22 Juli kami dari tim #SaveMaster melakukan audiensi langsung dengan Walikota Depok untuk mengeluarkan pernyataan resmi tertulis tentang jaminan tersebut. Pembangunan masjid dan asrama putra yang saat ini dilakukan di Sekolah Master tetap berlangsung. Oleh karena itu Master masih menerima donasi untuk mendukung serta membantu pembangunan fasilitas ini.

“Dengan adanya Sekolah Master, tidak ada lagi yang namanya anak-anak putus sekolah. Terima Kasih Master telah membantu saya sampai ke jenjang yg setinggi ini. Semoga ke depannya semakin banyak mencetak lulusan-lulusan yg sukses.” (Mohamad Irvanior, Sejarah Universitas Diponegoro 2012) Continue reading

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Laki-laki dan Perempuan itu… #1

Man and Woman (Edvard Munch) - diambil dari www.wikipaintings.org

Man and Woman (Edvard Munch) – diambil dari http://www.wikipaintings.org

Kutipan ini saya dapat dari seorang kolega, seorang pegawai negeri berdedikasi,  yang saya hormati. Bagi saya apa yang beliau ucapkan kepada saya pada pagi itu cukup menarik (bukan berarti saya setuju, ya), jadi ingin saya bagi. Ceritanya pada pagi itu saya tampil lebih rapi dari biasanya karena akan presentasi di depan Bapak Direktur di suatu kementerian. Menurut beliau, kecenderungan laki-laki dan perempuan adalah seperti berikut ini.

Wah, dandan dia hari ini. Gapapa, memang begitu adanya. Kalau laki-laki itu kan indra utamanya penglihatan, makanya perempuan itu senang berdandan untuk nyenengin laki-laki. Nah, kalau perempuan pendengaran, makanya laki-laki itu senang memuji untuk nyenengin perempuan. Cocok tho…”

Bagaimana pendapat anda? 🙂

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Cinta itu…

Cinta itu, ini.. :) Setujuh!

Cinta itu, ini.. 🙂 Setujuh!

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Kreatifitas Rakyat Endonesa!

Sebelumnya salamduajari pernah menulis tentang peribahasa, namun pada tulisan tersebut yang dibagi adalah beberapa peribahasa dari Jerman, Italia, dan Jawa. Nah, bagaimana dengan peribahasa Indonesia? Beberapa yang umum kita dengarkan adalah “tiada rotan, akar pun jadi”; atau kalau yang serupa tapi tak sama, ada pepatah melayu yang berbunyi “Apa yang kurang pada belida, sisik ada tulang pun ada”. Konon bagaimana bunyi peribahasa dapat menggambarkan karakteristik masyarakatnya. Berhubung kedua pepatah tersebut berasal dari Indonesia, maka  melalui bunyi-bunyi peribahasanya, mungkin orang Indonesia adalah orang-orang yang secara umum mudah bersyukur, atau bukan orang yang sulit untuk dibuat merasa cukup, atau cukup kreatif dalam memanfaatkan apa yang ada seoptimal mungkin? Well, kadang kayanya dicukup-cukupin, juga sih. Eh, apa itu  perasaan gw aja, ya? Jangan-jangan mereka memang benar-benar merasa cukup, karena memang menganut kata pepatah itu, “tiada rotan, akar pun jadi”. Ya, jangan-jangan mereka memang merasa cukup, walau pun harus melakukan ini:

IMG-20130115-potret rakyat

potret kreatifitas orang Endonesa! 🙂

Jujur, saya jadi bingung mesti seneng apa sedih ngeliat gambar ini.. anyway.. semoga mereka bahagia, dan semoga kamu-kamu juga. HAVE A NICE WEEKEND! (DM)

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Blog at WordPress.com.