Category: Salamduajari itu..

Usaha Kecil yang Berperan Besar

Shakespeare pernah berkata, “Apalah arti sebuah nama, karena jika pun kita menyebut bunga mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap sama.” Jika diletakkan dalam konteks perekonomian, mungkin dapat dianalogikan seperti ini, “Apalah arti sebuah label usaha mikro, kecil, menengah, atau besar, karena pada akhirnya, yang lebih penting adalah bagaimana perannya bagi perekonomian.”

Menjadi suatu bagian dari perekonomian yang pertumbuhannya belum begitu berhasil menciptakan lapangan kerja, serta aktivitasnya masih didominasi oleh sektor informal, rasanya sulit untuk tidak bertanya: bagaimana kisah di balik tingkat pengangguran yang hanya sekitar 6.8% (BPS, 2011)? Tingkat tersebut memang bukan “hanya” jika dibandingkan dengan Malaysia, yang pendapatan per kapitanya sekitar 3 kali pendapatan per kapita Indonesia, dan hanya menyisakan sekitar 3.3% penganggur dari total angkatan kerjanya. Namun jika dibandingkan dengan Arab Saudi yang pendapatan per kapitanya sekitar 5 kali dari Indonesia dan masih menyisakan sekitar 10.9% penganggur; atau dengan Brazil yang pendapatan per kapitanya sekitar 2.5 kali dari Indonesia dan juga masih menyisakan sekitar 6% penganggur, membuat tidak salah rasanya jika angka tingkat pengangguran Indonesia yang sebesar 6.8% tersebut dibubuhi dengan kata “hanya”.[1] Pertanyaannya: bagaimana bisa? Potret berikut menawarkan jawabannya. Continue reading “Usaha Kecil yang Berperan Besar”

Tukang Cukur Hutan

Tulisan ini diambil dari buku Suara Hati Dewa, yang ditulis oleh Dewandara Soepardi, bocah istimewa kelahiran tahun 2003. Ternyata, Dewa juga peduli lingkungan, jadi Dewa juga generasi hijau 🙂

 

Tukang Cukur Hutan

Hutan Gundul di Aceh (sumber: http://www.acehtraffic.com/)

Cakar gagak di batang pohon itu, tuliskan cerita tentang kehidupan di hutan. Atas nama dunia, burung pun bercerita, andai manusia mengerti hutan itu juga punya nyawa. Pasti mereka juga tidak tega, hancurkan hutan untuk beli harta. Tebang pohon jual kayunya. Ejek-ejekkan antara orangutan dengan orang kota.

Jejak roda truk bicara, aka nada hutan yang gundul. Dicukur pakai kampak dan gergaji mesin. Apa manusia itu profesinya tukang cukur hutan? Masa ada gunting hutan sih? Beli di mana, Pak? Harganya berapa? Apa lebih mahal dari pemanasan global? Atau… apa lebih mahal dari dehidrasi bumi?

Wah sepertinya bapak kaya ya… dan sepertinya aku akan binasa.

Bagaimana ini bisa didiamkan, kalau satu orang kaya dan ribuan manusia binasa. Aduh … bagaimana ini nanti, bila kita tak punya hutan lagi. Apa kita dibakar matahari … atau kita direndam banjir.

Aku mau ajak teman-teman hijaukan bumi. Suarakan pada dunia, bahu-membahu bibitkan pohon di tanah kita. Kalau nanti kita berhasil, pasti hutan tersenyum lagi. Tuhan … bantulah kami manusia yang hampir binasa oleh ulah tukang cukur hutan.

Hidupkan indahnya hutan dengan burung-burung di dahan, orangutan yang bergelantungan serta semua teman di jiwa hutan. Aku tidak jadi binasa, tapi aku akan hirup segarnya dunia.

Note    : Cerita ini dibuat Dewa sambil melihat tayangan televisi tentang hutan yang gundul.

Inefektifitas Upah Minimum Regional: Sebuah Potret Geliat Sektor Informal di Perekonomian Indonesia

sumber foto dari: http://www.sumbercara.co.cc/

Sebagai perekonomian yang tengah dilanda fenomena jobless growth, Indonesia dapat dikatakan tengah menghadapi dilema, yaitu dilema antara memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan pekerja untuk mendapatkan upah yang sesuai. Hal mana yang sebenarnya lebih harus diprioritaskan?

Upah Minimum Regional (UMR) tahun 2012 untuk DKI Jakarta, misalnya, adalah sekitar Rp 1,53 juta/bulan; sementara UMR Kota Depok adalah sekitar Rp 1,43 juta/bulan. Tapi jika secara acak kita bertanya pada pramusaji di beberapa rumah makan, atau mungkin office boy atau cleaning service di perkantoran Jakarta maupun Depok, mengenai besaran gaji mereka, besar kemungkinan kita akan mendapatkan nominal yang lebih rendah dari angka UMR tersebut. Seorang karyawan percobaan di sebuah tempat fotokopi di Depok, misalnya, menurut pengakuannya kepada penulis, diupah sebesar Rp 500 ribu/bulan. Padahal, Undang-Undang No. 13 tentang Ketenagakerjaan pasal 60 dengan jelas menyatakan bahwa: dalam masa percobaan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pengusaha dilarang membayar upah di bawah upah minimum yang berlaku.

Continue reading “Inefektifitas Upah Minimum Regional: Sebuah Potret Geliat Sektor Informal di Perekonomian Indonesia”

Pertumbuhan Ekonomi Belum Ciptakan Tenaga Kerja

Di tengah kelamnya kondisi perekonomian global lima tahun terakhir, Indonesia justru merupakan salah satu negara yang perekonomiannya kokoh menurut penilaian dunia internasional. Bagaimana tidak, ketika Amerika Serikat membukukan resesi berupa pertumbuhan ekonomi -2.4% pada 2009, Uni Eropa (27 negara) sekitar -4.5%, dan Singapura -1%, Indonesia masih mampu membukukan pertumbuhan ekonomi positif sekitar 4.6%. Peningkatan rating obligasi jangka panjang Indonesia menjadi Investment Grade pun dikantongi Indonesia pada 2011 mengikuti sentimen positif dunia atas kondisi perekonomian Indonesia tersebut. Suatu peristiwa yang patut disyukuri memang, tetapi apakah sudah layak dibanggakan?

Manakala fokus perhatian diletakkan pada pendapatan nasional, tentu pencapaian tersebut pantas dibanggakan. Tidak mudah mencapai pertumbuhan ekonomi positif di tengah perekonomian global yang tengah krisis. Namun, jika fokus perhatian diletakkan pada dampak peningkatan pendapatan pada penciptaan lapangan kerja, kesimpulannya akan berbeda karena pada lima tahun terakhir ini, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap penciptaan lapangan kerja justru menunjukkan tren penurunan.

Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi dan Penduduk Bekerja Indonesia (2007-2011)

Sumber: BPS, diolah penulis (2012)

Continue reading “Pertumbuhan Ekonomi Belum Ciptakan Tenaga Kerja”

Eksotika Bunaken

Seperti yang pernah saya utarakan sebelumnya, rasanya yang namanya pembentukan diri sebagai bagian dari generasi hijau belum lengkap jikalau belum mendaki gunung dan menyelam,  yaitu dalam rangka mengeksplor keindahan alam, dan merasakan nikmatnya sensasi dari menyatu dengan alam. To feel the spiritual moment! Sebagai orang yang menyarankan untuk menyelam tapi belum pernah menyelam alias diving, peristiwa semalam benar-benar sebuah kejutan yang indah, karena saya bisa bertemu dengan si Abang Untung Sihombing! (makasih sahabatku Ayu Gunantari!). Bener-bener deh, semalam itu, untung ada si Untung! Continue reading “Eksotika Bunaken”

Kuliah…

ImageBersyukur sekali rasanya saya bisa menjadi orang Indonesia yang berkesempatan untuk kuliah.. Mengapa bersyukur? Well,  karena untuk kasus Indonesia saya masih menjadi bagian dari hanya sekitar 18% orang Indonesia yang dapat mengenyam pendidikan tinggi.  Jadi, di Indonesia kuliah itu, bukan barang normal, tapi barang mewah. Kalau menurut hukum ekonomi barang mewah pasti harganya mahal, barang mahal pasti karena dia langka, seperti jam tangan A Lange & Sohne edisi Tourbograph “Pour le Merite” yang hanya diproduksi 50 unit di dunia dan berbanderol US$ 508,900 atau sekitar Rp 4,500,000,000. Di Indonesia, daya tampung perguruan tinggi negeri di Indonesia adalah sekitar 118.200 kursi yang tersebar di 61 Perguruan Tinggi Negeri (2011), padahal lulusan SMU adalah sekitar 1.5 juta orang. Ditambah lagi, rata-rata lama sekolah orang Indonesia masih sekitar 8 tahun. Jadi, lulus SMU aja nggak.

 

Kembali lagi ke kasus bangku kuliah, memang ia tidak selangka jam tangan A Lange & Sohne, namun ketersediaan kursi di Perguruan Tinggi Negeri terhitung cukup langka bagi masyarakat Indonesia. Sebegitu langkanya sehingga bagi kalangan tertentu, bisa kuliah mungkin mengandung kebanggaan yang selevel dengan kebanggaan memakai jam tangan A Lange & Sohne, atau bahkan, lebih dari itu. Continue reading “Kuliah…”

Severn Suzuki, Si Bocah yang Nyanyikan Suara Alam

Tidak sah rasanya untuk menyadarkan diri untuk bergabung menjadi  generasi hijau, tanpa mengenal sosok yang satu ini. Dia adalah Severn Suzuki, seorang aktivis lingkungan yang sudah aktif menyanyikan suara alam sejak berusia sekitar 12 tahun! Bersama rekan-rekannya Ia berhasil mengumpulkan dana dan mengusahakan agar dirinya mendapat kesempatan berbicara (pidato) pada Earth Summit yang pertama di Rio de Janeiro – Brazil,  Juni 1992, ketika usinya belum genap 13 tahun.  Kebesaran tekat, keberanian, dan kecerdasannya dalam meramu kata-kata menjadi suatu pidato yang menggerakkan hati membuat dirinya dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan Global 500 Roll of Honour dari PBB pada 1993.

Sesuatu yang biasa, jika dilakukan oleh seorang bocah, seringnya akan terlihat luar biasa. Bagaimana dengan pidato Suzuki waktu itu? Sebagai pidato  luar biasa yang dilakukan oleh seorang bocah, maka pidato tersebut tidak sekedar luar biasa, tapi mungkin lebih tepatnya, mencengangkan! Bagaimana tidak, Suzuki pada saat itu berhasil membuat para orang dewasa terbaik dunia – kegiatan Earth Summit yang merupakan ajang bertukar pikiran tingkat dunia tentunya hanya dihadiri oleh perwakilan terbaik dari setiap negara – terdiam, termangu, bahkan ada yang tidak mampu menahan diri dari menitikkan air mata. Nasihat yang datang dari seorang bocah memang seringnya bersifat naif, namun, sulit untuk memungkiri kebenaran maknanya. Pidato Suzuki waktu itu mungkin membuat banyak orang dewasa yang mendengarkan waktu itu berada dalam posisi konflik diri. Continue reading “Severn Suzuki, Si Bocah yang Nyanyikan Suara Alam”

Kenaikan Harga BBM, Hal Tepat di Waktu yang Salah?

Sebagai pemerhati perekonomian rasanya sulit untuk tidak menelisik isu kenaikan harga BBM yang tengah ramai saat ini. Lusa,  akan menjadi hari bersejarah mengingat ketok palu disetujui atau tidak kenaikan BBM akan ditentukan besok melalui forum rapat paripurna DPR. Belum jelas apakah akan ada 1 atau 2 opsi yang akan di bawa ke paripurna besok, yang pasti, 1 poin yang akan masuk adalah opsi untuk menyepakati subsidi BBM sebesar Rp 137 tilyun dan subsidi listrik Rp 65 trilyun yang menuntut konsekuensi berupa pencabutan pasal 7 ayat 6 pada UU APBN 2012 yang melarang kenaikan harga BBM bersubsidi.

Continue reading “Kenaikan Harga BBM, Hal Tepat di Waktu yang Salah?”

Apa itu Generasi Hijau?

Tebing Preikestolen, di Stavanger, Norwegia

Terinspirasi oleh Pak Rhenald Kasali yang senang menantang mahasiswanya untuk memiliki passport dan pergi ke luar negeri, saya senang menantang mahasiswa untuk berpetualang dan mencoba menyatu dengan alam. Mahasiswa pun bertanya, “bagaimana, bu, caranya?” Caranya adalah dengan melakukan wisata petualangan, khususnya mendaki gunung atau menyelam (diving). Apa perlunya? Kurang lebih sama dengan apa yang dimaksud dengan Pak Rhenald, experiential learning itu sulit sekali disubstitusi. Maksud Pak Rhenald, kalau mereka melihat sendiri betapa bangsa lain dapat tertib dalam menyeberang, dapat disiplin dan tidak membuang sampah sembarangan, dan betapa bangsa lain memberi kehormatan yang tinggi untuk para pejalan kaki, perasaan malu sendiri akan muncul dengan sendirinya, perasaan iri akan turut muncul, dan sukur-sukur kalau pulang ke tanah air, ingin melakukan sesuatu yang tidak kalah baiknya dengan yang telah dilakukan oleh bangsa-bangsa lain tersebut. Saya termasuk yang mengalami perasaan tersebut ketika bersekolah di luar negeri. Syukurnya, saya termasuk yang pulang dengan semangat bahwa Indonesia harusnya juga bisa. Tapi tetap, ada kata, harusnya. Continue reading “Apa itu Generasi Hijau?”