Category: Salamduajari itu..

Pendidikan Dasar di Jepang: Penanaman Moral

Om swastiastu šŸ™‚ Semoga kita semua dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widi. Halo pembaca šŸ™‚ Pertama-tama saya kembali minta maaf, karena kembali belum berhasil untuk berbagi rutin di hari senin dan kamis :/ Sebenarnya pada kesempatan ini saya ingin berbagi soal kunjungan saya ke suatu kelompok kerajinan di Desa Warnasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana Bali; namun kok agaknya masih agak kecapean untuk menulis.

Untungnya di milis kantor, ada kolega yang berbagi artikel yang sangat menarik, yaitu soal pendidikan dasar di Jepang. Artikel ini sangat bermanfaat bagi saya, khususnya karena saya termasuk orang yang percaya bahwa pendidikan moral atau karakter, adalah lewat praktik dan tauladan, bukan hanya lewat pembahasan materi dari buku (seperti metode pendidikan moral di Indonesia). Saya jadi ingat perkataan Mba Tika Bisono, “karakter itu sulit dilatihkan, sulit diajarkan, tapi bisa ditularkan”. Jadi pada kesempatan ini saya ingin berbagi soal artikel yang sudah menambah wawasan saya ini, yaitu artikel yang menggambarkan metode pendidikan dasar di Jepang. Tidak ada bangsa yang bisa besar karena kebetulan, semua terjadi karena hasil kerja keras. Kalau menurut Mas Bidrians Abidin (penulis artikel di bawah ini), kebesaran Jepang bukan terjadi by default, melainkan by design. Status beragama sudah jelas tidak berhubungan dengan tingkat korupsi, Indonesia contohnya.Tapi pendidikan moral dan karakter yang efektif, seperti yang dilakukan di Jepang, Norwegia, dan negara-negara besar lainnya, agaknya lebih berpengaruh dalam menekan tingkat korupsi di negaranya.

Jadi, ingin tahu seperti apa metode pendidikan dasar di Jepang? Berikut artikelnya, selamat membaca šŸ™‚

Sekolah di Jepang VS Sekolah di Indonesia
Oleh: Bidrians Abidin

Anak-anak SD di Jepang. Sumber foto: halaman facebook Bidrians Abidin
Anak-anak SD di Jepang. Sumber foto: halaman facebook Bidrians Abidin

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara ā€œopen schoolā€ di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan. Continue reading “Pendidikan Dasar di Jepang: Penanaman Moral”

Konglomerasi Sosial? Mengapa Tidak?

Senang sekali bisa punya kolega sehebat Mas Ruwi dan Mas Onte ini. Saya ga mau panjang lebar disini, bagi yang ingin jadi wirausaha yang ramah lingkungan dan mensejahterakan masyarakat luas, belajarlah dari pengalaman dua orang “gila” beserta tim-nya ini! šŸ˜€ selamat membaca! Ā  (Sumber tulisan asli disini)

Konglomerasi Sosial a la Perkumpulan Telapak

Sore itu sekitar pukul 16.00, Kota Hujan mengeluarkan hawa mendung. Awan pekat menjalari perjalanan kami menuju Perkumpulan Telapak, yang berlokasi di Perumahan Taman Yasmin Sektor V, Jl. Palem Putri III, No. 1, Bogor. Tiba di lokasi, kami disambut sebuah bangunan mungil, dengan logo kecil di dindingnya berupa ā€œselembar daun hijauā€. Di bawahnya ada 2 telapak kaki tersembunyi. Jejak-jejak kaki juga tercetak jelas di lantai semen yang sudah mengering. Hal ini meyakinkan kami bahwa benar bangunan yang ada di depan adalah tempat yang kami cari. Masuk ke dalam bangunan itu, pemandangan khas organisasi muncul di depan mata. Orang-orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tepat di depan pintu, ada meja dengan sekat tembus pandang, di mana seorang pria tengah berkonsentrasi dengan ketikannya. Di ruangan yang lain ada sekumpulan orang yang tengahmengadakanĀ meetingĀ kecil.

Telapak, Khusnul Zaini, Silverius Oscar Unggul, Onte

Khusnul Zaini dan Silverius Oscar Unggul (Onte)

Salah seorang dari mereka yang tengah rapat itu tiba-tiba mengetahui keberadaan kami. Pria paruh baya berperawakan kurus, dengan rambut gondrong sebahu itu pun datang menyambut. Pribadinya terkesan sederhana namun santun. Senyum ramah terus menghiasi wajahnya yangĀ friendly.Ā Tak disangka, dialah Khusnul Zaini, Presiden Telapak periode tahun ini. Jabatan ini adalah jabatan tertinggi di Badan Perkumpulan Telapak (BPT). Adapun wakilnya ada 2 orang yaitu Muchlis Ladiku Usman (Pendoks) dan Muhammad Djufryhard. Sementara itu, Silverius Oscar Unggul adalah mantan Wakil Badan Pengurus Perkumpulan Telapak periode sebelumnya.

Fokus Telapak yang pertama sebenarnya adalah mengkampanyekan antiĀ illegal logingĀ hutan-hutan Indonesia. Fokus utamanya ada di Papua dan Kalimantan. Tapi kemudian investigasi dilakukan secara merata, karena anggota Telapak tersebar dimana-mana. Ada yang di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua, dll.

Seiring berjalannya waktu, kalangan anggota berpikir untuk menjadikan Telapak sebagai bentuk konglomerasi sosial, yakni yang semula hanya fokus di kampanye antiĀ illegal loging, kini merambah di beberapa unit bisnis, misalnya, Kotahujan.com, Gekko Studio, T-port, Koperasi Telapak, Poros Nusantara, serta Poros Nusantara Media. Koperasi Telapak banyak tersebar di seluruh nusantara dengan fokus yang berbeda-beda. Misalnya Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) di Kulon Progo. KWML ini fokus di tanaman obat-obatan/jamu-jamuan. Ada lagi Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJLI) di Kendari yang fokus di kayu jati, dll. Total anggota sekarang sudah 174 di 27 propinsi, dengan 19 badan teritori.

Tiba-tiba muncullah di antara kami seorang lelaki berpostur tinggi besar dengan guratan wajah khas Indonesia timur. Dia kemudian menyambangi kami, dan memperkenalkan diri sebagai Silverius Oscar Unggul, atau kerap disapa Onte. Onte adalah satu contoh dari tokoh sosial enterpreneur yang sukses membaktikan diri untuk kejayaan alam. Nama Onte ini berasal dari singkatan ā€œorang Enteteā€ (Nusa Tenggata Timur, tempat ia dibesarkan). Sejak kecil ia sudah dekat dengan alam. Hobinya naik turun gunung, keluar masuk hutan. Hal ini dilakukannya sampai selesai belajar di Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo, Kendari. Berangkat dari hobinya ini, Onte menemukan fakta bahwa penggundulan hutan semakin merajalela. Dengan pemikirannya yang idealis kala itu, ia pun memiliki gagasan untuk memerangiĀ illegal logging.Ā Melalui LSM Yascita, binaannya pada tahun 1998, serta keterlibatannya sebagai Vice Presiden Telapak masa itu, iapun mengembangkanĀ community legal logging.Ā kampanye pun dilakukan melalui berbagai media, baik radio (Radio Swara Alam), Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia (KHJLI), sampai membangun Televisi Lokal sendiri di Kendari. Terbukti televisi lokalnya kini menjadi salah satu unit bisnis yang membanggakan di bawah binaan Telapak. Pria yang memiliki tato di lengan ini, kini banyak diganjar berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri tentang kiprahnya dalam memberantasĀ illegal logging.

Berikut wawancara lengkap Gustyanita Pratiwi dan Darandono dari SWA dengan Khusnul Zaini dan Silverius Oscar Unggul dari Telapak:

Bagaimana awalnya misi Telapak ini? Apa latar belakang Bapak melakukan kegiatan yang memiliki misi sosial ini?

Khusnul Zaini :Ā Organisasi ini memang awalnya adalah yayasan (1995). Setelah lama berselang, terjadi perdebatan di antara anggota yayasan sendiri. Kalau namanya anggota yayasan kan terbatas hanya beberapa orang. Dalam undang-undang yayasan, jelas yang menentukan A,B,C-nya adalah Dewan Anggota. Perdebatan di internal ini intinya kami mau bagaimana? Apakah hanya sebatas ini saja (eksklusif), atau organisasi kami menjadi terbuka. SampaiĀ voting,Ā diputuskan untuk terbuka, meskipun kemudian ada beberapa anggota yayasan yang sebagai pendiri kemudian keluar. Oke, kalau keputusannya menjadi perkumpulan, dia tidak setuju, dia keluar. Setelah itu, prosesnya adalah melalui rekruitmen. Rekruitmen ini dilakukan sejak tahun 2002 (ketika sudah menjadi perkumpulan). Waktu itu memang masih transisi dari yayasan menjadi perkumpulan. Kami belum men-declareĀ sebagai organisasi gerakan. Antara 2002-2006 itu memang menjadi masa-masa transisi. Kalau kami bisamendeclareĀ sebagai organisasi gerakan, artinya konsekuensinya menjadi sangat besar. Kami harus berani melawan arusmainstreamĀ yang umum. Tahun 2006, setelah kami mubes di Bali, kami men-declareĀ sebagai organisasi gerakan dengan arahan Gerpak (Gerakan Telapak). Sama juga seperti Orde Baru dulu. Zamannya Soeharto dulu kan ada Repelita. Kami juga ada seperti itu. Setiap mubes maka diputuskan, ada kegiatan yang terkait bidang politik, ekonomi, budaya, maupun keorganisasian.

Continue reading “Konglomerasi Sosial? Mengapa Tidak?”

Memakai GAP: Kebanggaan Bagimu, Kehancuran Bagi Citarum

This slideshow requires JavaScript.

Sebuah pepatah lawas Inggris mengajarkan kita untuk tidak menilai segala sesuatu hanya dari bungkusnya saja. “Don’t judge book by its cover,” begitu bunyinya. Sebagai salah seorang yang pernah pembeli produk pakaian merk GAP, saya risau setelah membaca artikel yang kemarin dikirim oleh seorang sahabat yang kebetulan seorang ekologis asal Perancis. “I just read this :(” tulisnya sembari memberi link tulisan tentang pabrik tekstil merk GAP dan beberapa merk terkenal lainnya yang sukses membuat Sungai Citarum menjadi semacam sungai “sop kimia” yang kaya warna, ada ungunya, ada birunya. Sungai citarum menjadi menarik dilihat (bungkusnya), tetapi bahaya untuk digunakan (isinya). GAP memang tergolong merk yang terkenal (bungkusnya), sehingga tidak sedikit orang yang rasa percaya dirinya meningkat ketika mengenakan GAP, sebagian mungkin ada yang sampai merasa bangga karena memakai merk terkenal. Tapi di Indonesia, proses produksi merk terkenal itu (isinya) membuat sungai Citarum kita rusak dan akhirnya merugikan masyarakat sekitar yang tidak lagi dapat menikmati manfaat dari Sungai Citarum.

“Don’t judge book by its cover,” begitu bunyi pepatah bijaknya. Haruskah kita berbangga mengenakan suatu merk terkenal, walau proses produksinya mengakibatkan kerugian bagi banyak jiwa dan juga mengganggu keseimbangan lingkungan hidup? Jika kita merenungkan pertanyaan itu dengan mengamalkan pepatah bijak Inggris itu, harusnya hati nurani dan akal sehat kita akan bermuara pada satu jawaban yang sama. Jawaban itu sangat jelas, sebegitu jelasnya tertulis di alam pikir dan bersuara di hati kita, sehingga menuliskan jawaban itu di tulisan ini tidak akan terlalu banyak memberikan nilai tambah bagi kita. Namun saya yakin membaca artikel utuh yang dikirim oleh sahabat saya itu dapat memberi lebih banyak nilai tambah bagi kita, berikut adalah artikelnya, ditranslasi dari sumber ini. (DM)

 

GAP jadikan Ā Sungai Citarum Indonesia seperti Sup Ragam Warga

Ketika GAP menciptakan slogannya yang berbunyi ā€œbe true to your hue,ā€ sepertinya kemungkinan mereka membicarakan perairan Indonesia sangat kecil. Tetapi menurut laporan Greenpeace, konglomerat retail yang anak perusahaannya termasuk Banana Republic, Old Navy, Piperline, dan Athleta, termasuk sekelompok merk yang telah menjadikan sungai Citarum di Jawa Barat sebagai cocktail limbah kimia dengan warna kemerahan yang tidak lazim. Artikel Toxic Threads: Polluting Paradise yang dipublikasikan Rabu kemarin merinci bagaimana hubungan bisnis GAP dengan PT. Gistex, yang mengoperasikan pabrik penghasil polusi tersebut, telah mengubah daerah aliran sungai yang dahulu jernih menjadi got yang berisikan zat-zat beracun yang mengganggu hormon dan sifatnya sangat persisten.

ā€œPromosi iklan GAP yang terbaru menyatakan bahwa kita semua harus ‘Be Bright,ā€™ namun dengan berkolaborasi dengan supplier yang buruk, garmen GAP mengubah Citarum menjadi sebuah sup ragam warnaā€ kata Ashov Birry, seorang aktivis perairan bebas racun untuk Greenpeace Asia Tenggara. ā€œGAP dan merk-merk besar lainnya harus bekerja sama dengan supplier mereka di Indonesia dan tempat lain untuk menghilangkan penggunaan zat kimia yang membahayakan dalam supply chain dan produk mereka sebelum terlambat.ā€

Greenpeace yang mengambil sampel dari tiga muara sungai tempat keluaran limbah pabrik PT. Gistex menemukan serangkaian zat-zat kimia yang berbahaya, termasuk nonylphenol, tributyl phosphate, serta kadar larutan antimony yang tinggi (sebuah metalloid beracun yang digunakan untuk membuat bahan polyester. Air limbah dari dua muara sungai kecil yang berselang juga memiliki properti alkaline, hal ini menandakan bahwa limbah tersebut tidak menjalani pengolahan paling dasar sekalipun. Laporan yang menunjukkan air limbah dengan tingkat pH 14 dapat membakar kulit ketika bersentuhan langsung dengan air, dan dapat menghasilkan dampak yang sangat parah, bahkan berkemungkinan besar fatal, pada kehidupan mahluk dalam air dia kawasan pembuangan limbah.

ā€œMasyarakat yang hidup di sepanjang sungai ini dan bergantung pada airnya berhak tahu kandungan apa saja yang mengalir dalamnya, dan konsumen merk seperti GAP berhak tahu zat-zat kimia apa saja yang digunakan dalam produksi garmen mereka,ā€ lanjut Birry.

Penyelidikan mengungkapkan perusahaan-perusahaan lain yang berhubungan dengan PT. Gistex termasuk Adidas, Brook Brothers dan H&M.

Menurut Greenpeace kini industri tekstil adalah salah satu kontributor pencemaran air beracun terbesar di Jawa Barat, dimana 68 persen pabrik di daerah Citarum atas merupakan pabrik tekstil.

Diterjemahkan dari tulisan Jasmin Malik Chua berjudul Gap Turns Indonesian River Into an Unnaturally Multicolored Chemical SoupĀ (diakses pada 22 April 2013).

Bagaimana agar negara kaya membayar biaya perubahan iklim

Tidak dibahasnya masalah perubahan iklim dalam debat presidensial antara Barack Obama dan Mitt Romney adalah pertanda jatuhnya topik tersebut sebagai salah satu prioritas kebijakan AS sejak terjadinya krisis finansial. Ini merupakan celah menyedihkan yang harus diperhatikan oleh presiden AS selanjutnya.

Meskipun ternyata dari segi global masih ada harapan. Minggu lalu dewan Green Climate Fund, sebuah lembaga internasional penting namun tidak begitu tenar, telah menetapkan pendanaan di Korea Selatan. Ini adalah langkah yang baik berhubung Korea Selatan telah menjadi sosok pemimpin dalam mempromosikan gerakan ā€œgreen growthā€, yaitu pertumbuhan ekonomi yang digabung dengan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Green Climate Fund yang disetujui oleh ke-191 negara yang menandatangani UNFCC adalah aparat utama dalam memberdayakan negara-negara berkembang untuk menanamkan investasi dalam sumber energy terbaharukan, serta penyesuaian perubahan iklim (membuat perekonomian lebih tahan akan perubahan iklim yang telah atau sedang terjadi). Green Climate Fund telah diberikan tugas yang berat: agar mengumpulkan dana sebesar $100 milyar per tahun untuk negara berpendapatan rendah sebelum tahun 2020.

Negara kaya harus membiayai negara miskin untuk tiga alasan. Continue reading “Bagaimana agar negara kaya membayar biaya perubahan iklim”

Perekonomian Indonesia Tumbuh Gemilang Tapi Timpang*

sumber foto: detik.com (Deretan tower apartemen mewah yang kontras dengan rumah gubuk yang berhimpit di tepi Danau Sunter, Jakarta Utara, seperti yang terlihat pada Senin, 21 maret 2011)

Sebagai orang Indonesia yang dalam kesehariannya cukup umum melihat tumpukan pedagang kaki lima di sekitar bangunan pencakar langit nan mewah, atau melihat perumahan super eksklusif di dekat perumahan kumuh, rasanya sulit untuk tidak bertanya-tanya mengenai ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Dunia mengakui kegemilangan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Rating obligasi negara kita naik peringkat ke levelĀ investment grade. World Investment Prospect Survey 2008-2012Ā pun menilai Indonesia termasuk ke dalam daftar negara top 10 yang dipandang paling menarik sebagai destinasi investasi asing (foreign direct investment).Akan tetapi, mengapa potret kemiskinan masih terlihat begitu nyata? Apakah proses pembangunan ekonomi kita saat ini sudah sesuai dengan jalurnya?

Bicara soal jalur pembangunan ekonomi, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono sesungguhnya secara visioner telah jelas mengumumkan beberapa pilar strategi pembangunan sosial ekonomi sebagai arah pembangunan nasional. Pada 2005, pilar-pilar tersebut adalahĀ pro-job, pro-poor,Ā danĀ pro-growth;Ā sejak 2007, presiden menambahkan satu pilar lagi, yaituĀ pro-environment.Ā Lebih dari 5 tahun telah berlalu sejak pencanangan pilar-pilar arah pembangunan, sudahkah pembangunan sosial ekonomi kita menunjukkan keberpihakan pada masyarakat miskin (pro-poor)? Continue reading “Perekonomian Indonesia Tumbuh Gemilang Tapi Timpang*”

Indonesia Dikunjungi 7.6 Juta Pengunjung Asing

Diperkirakan bahwa Indonesia akan dikunjungi lebih dari 8 juta pengunjung asing pada tahun 2012. Dengan ini telah ditargetkan 9 juta pengunjung asing untuk tahun berikutnya.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwanda memberi tahu Bisnis.com bahwa pemerintah mengantisipasi jumlah kedatangan 8 juta pengunjung asing selama tahun 2012. Yakin akan tercapainya target 8 juta pengunjung pada 2012, dengan angka kunjungan pada titik pertengahan tahun yang sudah sejumlah 7.6 juta, Nirwana menyatakan bahwa target jumlah pengunjung asing untuk tahun 2013 ditetapkan pada 9 juta pengunjung.

Bandingkan dengan Malaysia, yang dinamai negara paling dikunjungi ke-9 sedunia oleh United Nations World Tourism Organisation, yang dikunjungi sejumlah 9,438,592 pengunjung asing selama periode Januari-Mei 2012. 73.4% dari jumlah pengunjung tersebut berasal dari negara-negara ASEAN. Thailand, yang pendapatan nasionalnya begitu disokong oleh kegiatan pariwisata, mencapai angka pengunjung asing sejumlah 8,871,930 pengunjung dan telah ditargetkan angka pengunjung sepanjang tahun sejumlah 20.5 juta pengunjung.

Tulisan diatas diterjemahkan dari Good News from Indonesia.

Data pariwisata Malaysia dan Thailand diambil dari sini, dan sini.

Uganda Dapat Mengutip Ajaran Indonesia

Foto oleh Smiley N. Pool, Houston Chronicle

Di awal tahun 2012, United Nations Population Fund mengumumkan bahwa angka kematian ibu di Uganda telah turun dari 435 angkat kematian dari setiap 100,000 kelahiran menjadi 310 dari tiap 100,000 kelahiran. Hal ini menunjukkan kemajuan yang telah dicapai Uganda dalam meminimalisir kematian yang terjadi saat wanita mengandung atau melahirkan.

Secara sekilas angka tersebut melegakan namun analisa yang lebih mendalam menunjukkan bahwa Uganda masih begitu jauh dari pemenuhan poin 5 dari Millenium Development Goal (MDG) yang mendorong negara-negara untuk mengurangi angka kematian ibu menjadi hingga setidaknya 151 kematian dari tiap 100,000 kelahiran. Bahkan menurut hasil dari Uganda Demographic Health Survey yang diadakan pada tahun 2011 angka kematian ibu naik menjadi 438 kematian dari setiap 100,000 kelahiran dari 435 kematian pada tahun 2006. Continue reading “Uganda Dapat Mengutip Ajaran Indonesia”

Kualitas Modal Manusia Indonesia: Pencari, bukan Pencipta Lapangan Kerja


Indonesia kini tengah dibayang-bayangi oleh fenomenaĀ jobless growth.Ā Setidaknya potret perekonomian Indonesia pada 5 tahun terakhir ini menunjukkan hal tersebut. Pada 2007, perekonomian Indonesia tumbuh sekitar 6,35%, sementara jumlah penduduk usia lebih dari 15 tahun yang bekerja tumbuh sekitar 4,7%. Pada 2011 ekonomi tumbuh sekitar 6,5%, namun jumlah penduduk yang bekerja hanya tumbuh sekitar 1,35%. Setelah menelisik lebih dalam mengenai fenomena tersebut, kini kita tahu bahwa sektor-sektor yang merupakan mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia bukanlah mesin penciptaan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh sektor Usaha Menengah Besar yang umumnya merupakan usaha formal, sementara lapangan kerja diciptakan oleh Usaha Mikro Kecil (UMK) yang, sayangnya, mayoritas masih merupakan usaha informal dan berorientasiĀ self-employed,Ā bukanĀ generating employment.Ā Artinya, status UMK sebagai mesin pencipta lapangan kerja lebih dikarenakan oleh faktor ā€œpengaliā€ atau jumlah unitnya yang luar biasa besar, sementara potensi penyerapan tenaga kerjanya sendiri sesungguhnya belum optimal.[1]

Kondisi di atas tentunya mengusik rasa ingin tahu mengenai kualitas sumber daya manusia kita, atau dalam bahasa ilmu ekonomi disebut ā€œmodal manusiaā€ (human capital).Ā Sebelum membahas lebih dalam mengenai potret kualitas modal manusia Indonesia, ada baiknya kita mengenal kerangka teoretis dari modal manusia dalam pembangunan ekonomi. Adapun dalam literatur ilmu ekonomi, konsep modal manusia merupakan pengembangan dalam konsep fungsi produksi yang pada awalnya hanya dijelaskan oleh dua faktor utama, yaitu Modal (Capital) dan Tenaga KerjaĀ (Labor).Ā Namun, sejalan dengan perkembangan pemikiran ekonomi terkait cakupan barang dan jasa, maka konsepĀ capitalĀ pun turut mengalami perkembangan. Jones (1996) memaparkan bahwa suatu perekonomian menghasilkan 3 jenis barang dan jasa, yaitu barang konsumsi (consumption goodĀ atau ā€œoutputā€)[2];Ā pengalaman dan keterampilan, yang dipandang sebagai bagian dari barang modal, yaitu varian barang modal manusia; dan ide, yang dipandang sebagai varian baru dalam rumpun barang modal, yaitu barang modal setengah jadi (intermediate capital goods). Continue reading “Kualitas Modal Manusia Indonesia: Pencari, bukan Pencipta Lapangan Kerja”

Ambrosius Ruwindrijarto: Aktivis Lingkungan Penerima Ramon Magsaysay Award 2012

sumber foto: http://www.kotahujan.com

Lagi, putra bangsa Indonesia meraih penghargaan di tingkat internasional. Kali ini Ruwi, atau yang bernama lengkap Ambrosius Ruwindrijarto, seorang aktivis lingkungan hidup menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award 2012. Bersama LSM Telapak, ia dan rekan-rekannya berjuang tanpa pamrih memberdayakan masyarakat setempat untuk gerakan pelestarian lingkungan hidup. Nama Ruwi memang belum terlalu sering terdengar di tanah air, mungkin, mungkin ya, ini adalah salah satu kisah Ā (dari banyaknya kisah) tentang budaya apresiasi di tanah air. Nanti kalau sudah diberi penghargaan dari dunia internasional, baru dehĀ Indonesia sendiri ikut-ikutan beri penghargaan. Salamduajari salut dengan perjuangan Mas Ruwi.. lanjutkan ya mas! Semoga semakin banyak yang tergerak untuk ambil bagian ke dalam barisan generasi hijau Indonesia.

Anyway,Ā berikut liputan lengkapnya yang dilansir dari kotahujan.com:

Keteguhan berkarya dan tekun berjuang meraih apa yang dicita-citakan, sejatinya menjadi kunci pencapaian hidup. Bekerja dengan tulus, sepenuh hati untuk berkarya sebaik-baiknya. Itulah yang mengilhami seorang Ambrosius Ruwindrijarto. Sejak 1996 bersama rekan-rekannya di Telapak, LSM Lingkungan yang berpusat di Bogor, memilih berjuang untuk kelestarian lingkungan bersama petani, nelayan dan masyarakat adat. Pencapaian ini pada akhirnya membawa Ruwi sebagai penerima Ramon Magsaysay Award 2012.Ā  Continue reading “Ambrosius Ruwindrijarto: Aktivis Lingkungan Penerima Ramon Magsaysay Award 2012”