Category: Salamduajari itu..

Surat Pamit Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan

Farewell Pak Anies.. I share the same hope as you.. Terima kasih ya Pak!

———-

Kepada Yth. Ibu/Bapak Guru. Kepala Sekolah. dan Tenaga Kependidikan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selama 20 bulan ini saya mendapatkan kehormatan menjalankan sebuah amanah konstitusi dan amanah dari Allah SWT untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa lewat jalur pemerintahan. 

Hari ini saya mengakhiri masa tugas di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tugas ini telah dicukupkan. Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi pada Presiden Jokowi yang telah memberikan kehormatan ini.
Tugas besar ini mendasar karena pendidikan dan kebudayaan menyangkut masa depan kita. masa depan bangsa tercinta.
Sejak bertugas di Kemendikbud. Saya meneruskan kebiasaan berkeliling ke penjuru Indonesia ke sudut-sudut Nusantara berbincang langsung dengan ribuan guru dan tenaga kependidikan. 

Saya menemukan mutiara-mutiara berkilauan di sudut-sudut tersulit Republik ini. Dinding kelas bisa reyot dan rapuh, tapi semangat guru, siswa dan orangtua tegak kokoh. Dalam berbagai kesederhanaan fasilitas sebuah PR besar Pemerintah. Saya melihat gelora keceriaan belajar yang luar biasa.
Ibu dan Bapak yang amat saya hormati. kami sebangsa menitipkan persiapan masa depan Republik ini di sekolah tampak hadir bukan saja wajah anak-anak tapi juga wajah masa depan Indonesia. Teruslah songsong anak-anak itu dengan hati dan sepenuh hati. 
Ijinkan mereka menyambut dengan hati pula. Jadikan pagi belajar pagi yang cerah. Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah. tapi mata-hati tiap anak tiap guru yang menjadikannya cerah.
Di hari terakhir saya bertugas di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ijinkan saya menyampaikan harapan kepada Ibu dan Bapak semua harapan agar perubahan dalam pendidikan terus menuju ke arah yang lebih baik.
Mari kita teguhkan komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai taman yang penuh tantangan dan menyenangkan bagi semua warga sekolah. 
Mari kita pastikan bahwa sekolah menjadi tempat di mana anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya. 

Memenuhi potensi unik dirinya dan kita jadikan sekolah sebagai sumur amal yang darinya akan mengalir pahala tanpa henti bagi lbu dan Bapak semua. 
Ibu dan Bapak teruslah bergandengan erat dengan orangtua. bersama-sama menuntun anak-anak meraih masa depannya menjawab tantangan jamannya. melamani cita-citanya.
Saya titipkan kepada Ibu dan Bapak Guru berbagai perubahan yang telah kita mulai bersama. baik dalam bentuk peraturan-peraturan baru yang mendorong ekosistem sekolah menyenangkan dan bebas dari kekerasan maupun melalui pembiasaan dan praktik baik di sekolah.

Ibu dan Bapak yang saya banggakan. 
Menteri boleh berganti. tapi ikhtiar kita semua dalam mendidik anak-anak bangsa tak boleh terhenti masih banyak pekerjaan rumah Pemerintah yang harus ditunaikan bagi guru dan tenaga pendidikan. saya percaya itu semua akan dituntaskan.

Mari kita lanjutkan perjuangan dan dukungan pada komitmen pemerintah dalam membangun sekolah menyenangkan serta jaga stamina raga, rasa dari cipta Ibu dan Bapak semua.
Ijinkan saya pamit sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. teriring rasa terima kasih juga permohonan maaf tak hingga atas segala khilaf yang ada. 

Salam hormat saya untuk Ibu dan Bapak semua dan kita teruskan ikhitiar mencerdaskan kehidupan bangsa ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (27 Juli 2016)

Advertisements

Pilpres sebentar lagi, kita pilih siapa? (Sebuah renungan)

Sumber gambar: http://hiburan.kompasiana.com/humor/2014/04/07/inilah-kartun-perdana-saya-jokowi-versus-prabowo-647252.html
Sumber gambar:
http://hiburan.kompasiana.com/humor/2014/04/07/inilah-kartun-perdana-saya-jokowi-versus-prabowo-647252.html

Kemarin seharian istirahat dari berita politik, badan agak demam juga. Baru hari ini baca lagi ternyata Partai Demokrat sudah resmi mendukung Prabowo-Hatta. Pak SBY – tetap konsisten dengan perilakunya yang sangat safety player dan tricky – akhirnya harus menjilat ludahnya sendiri karena batal ambil posisi netral. Entah kenapa, fakta ini memberikan saya kekuatan untuk menulis, dan kejelasan. Setelah galau cukup lama, kini mantap sudah pilihan.

Saya sesungguhnya menyukai sosok Bapak Prabowo, dan bisa merasakan adanya ketulusan dan patriotisme beliau untuk membangun negeri. Namun sayang sekali, saya dibuat takut oleh konstelasi koalisinya, yang bagi saya lebih seperti koalisi hawa nafsu para elit yang ingin mempertahankan status quo untuk melindungi kepentingannya masing-masing. Koalisi Prabowo-Hatta tempat berkumpulnya orang-orang kaya duit namun miskin rekam jejak dan prestasi dalam mensejahterakan rakyat kecil.

Continue reading “Pilpres sebentar lagi, kita pilih siapa? (Sebuah renungan)”

Pilpres 2014: Jokowi-JK vs Prabowo Hatta, kita pilih siapa?

Sumber gambar: http://hiburan.kompasiana.com/humor/2014/04/07/inilah-kartun-perdana-saya-jokowi-versus-prabowo-647252.html
Sumber gambar:
http://hiburan.kompasiana.com/humor/2014/04/07/inilah-kartun-perdana-saya-jokowi-versus-prabowo-647252.html

Sebagai salah satu pengamat yang mencatat beberapa rapor merah pemerintahan yang sekarang – di antaranya gagalnya pencapaian target swadaya beras, gula, garam, dan kedelai; target tingkat kemiskinan 10% di 2014 juga besar kemungkinan tidak tercapai; tingkat ketimpangan yang meningkat menjadi 0.41 (koefisien gini), dan agenda pembangunan infrastruktur juga cukup banyak yang terlambat – saya menjadi peduli dengan pemilu presiden tahun ini. Jangan sampai rapor merah ini dilanjutkan di pemerintahan ke depan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menentukan pilihan secara cermat.

Oleh karena itu, mari kita membaca visi misi calon presiden RI yang sudah diunggah di website KPU. Untuk visi misi Jokowi-JK, silakan masuk ke link ini; sementara untuk Prabowo-Hatta silakan masuk ke link ini.

Diri kita pasti memiliki kecondongan masing-masing, karena persona masing-masing calon dapat memberikan kesan yang berbeda bagi orang yang berbeda. Namun, kesan itu kan umumnya bersifat emosional, kimia (chemistry), cocok ga cocok. Oleh karena itu mari kita imbangi kadar unsur emosional tersebut dengan unsur rasional berupa menyempatkan sekitar 5  jam dari hidup kita di tahun ini untuk membaca visi misi Calon Presiden. Sehingga kita tidak hanya memilih dengan perasaan, tapi juga dengan akal pikiran. Emorational. Asik ga tuh? hahaha.. ceile (#gapenting).

Saya sendiri baru baca cepat, jadi belum terlalu mengilhami secara dalam. Jadi pada kesempatan ini saya ingin sedikit berbagi dari hasil review awal saya per 26 Mei 2014.

 

Barusan saya baca cepat visi misi Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, download dari website KPU. Keduanya visi-misinya “bunyi”; dalam artian memberikan indikator-indikator yang jelas. Tapi secara umum visi Misi pak Jokowi-JK lebih lengkap dari punya pak Prabowo-Hatta. Visi Pak Jokowi-JK sudah sampai menyebutkan daftar UU yang ingin dievaluasi, sudah juga menyinggung soal target pewujudan National Single Identity Number (sebagai rakyat, saya sangat mengidamkan ini, karena pusing punya nomor KTP, no NPWP, no SIM, no Passport, yang dalam pendataannya tidak saling mengait satu sama lain). Di dokumen visi-misi Pak Prabowo-Hatta, tidak ada disinggung soal National Single Identity Number ini. Lalu,  kebijakan politik luar negerinya juga lebih lengkap, visi-misi Jokowi-JK sudah menjabarkan asosiasi-asosiasi yang ingin diikuti nanti, dan ada juga rencana untuk lebih aktif dalam usaha mereformasi lembaga internasional seperti World Bank dan IMF (wow haha xD). Bagi saya, paling menarik dari visi misi Pak Jokowi adalah soal rencana pembangunan infrastruktur untuk mendukung konsep negara maritim, pembangunan monoril+underground train dari pusat kota ke bandara dan pelabuhan, serta National Single Identity Number. Namun visi-misi pak Prabowo-Hatta juga ada yang menarik, yaitu target pertumbuhan ekonomi agresif 7-10% per tahun, target menjadikan hutang luar negeri menjadi NOL pada 2019, rencana pemindahan ibu kota, dan revolusi putih yang ingin memasok susu untuk anak-anak miskin. Continue reading “Pilpres 2014: Jokowi-JK vs Prabowo Hatta, kita pilih siapa?”

Pendidikan Dasar di Jepang: Penanaman Moral

Om swastiastu 🙂 Semoga kita semua dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widi. Halo pembaca 🙂 Pertama-tama saya kembali minta maaf, karena kembali belum berhasil untuk berbagi rutin di hari senin dan kamis :/ Sebenarnya pada kesempatan ini saya ingin berbagi soal kunjungan saya ke suatu kelompok kerajinan di Desa Warnasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana Bali; namun kok agaknya masih agak kecapean untuk menulis.

Untungnya di milis kantor, ada kolega yang berbagi artikel yang sangat menarik, yaitu soal pendidikan dasar di Jepang. Artikel ini sangat bermanfaat bagi saya, khususnya karena saya termasuk orang yang percaya bahwa pendidikan moral atau karakter, adalah lewat praktik dan tauladan, bukan hanya lewat pembahasan materi dari buku (seperti metode pendidikan moral di Indonesia). Saya jadi ingat perkataan Mba Tika Bisono, “karakter itu sulit dilatihkan, sulit diajarkan, tapi bisa ditularkan”. Jadi pada kesempatan ini saya ingin berbagi soal artikel yang sudah menambah wawasan saya ini, yaitu artikel yang menggambarkan metode pendidikan dasar di Jepang. Tidak ada bangsa yang bisa besar karena kebetulan, semua terjadi karena hasil kerja keras. Kalau menurut Mas Bidrians Abidin (penulis artikel di bawah ini), kebesaran Jepang bukan terjadi by default, melainkan by design. Status beragama sudah jelas tidak berhubungan dengan tingkat korupsi, Indonesia contohnya.Tapi pendidikan moral dan karakter yang efektif, seperti yang dilakukan di Jepang, Norwegia, dan negara-negara besar lainnya, agaknya lebih berpengaruh dalam menekan tingkat korupsi di negaranya.

Jadi, ingin tahu seperti apa metode pendidikan dasar di Jepang? Berikut artikelnya, selamat membaca 🙂

Sekolah di Jepang VS Sekolah di Indonesia
Oleh: Bidrians Abidin

Anak-anak SD di Jepang. Sumber foto: halaman facebook Bidrians Abidin
Anak-anak SD di Jepang. Sumber foto: halaman facebook Bidrians Abidin

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan. Continue reading “Pendidikan Dasar di Jepang: Penanaman Moral”

Konglomerasi Sosial? Mengapa Tidak?

Senang sekali bisa punya kolega sehebat Mas Ruwi dan Mas Onte ini. Saya ga mau panjang lebar disini, bagi yang ingin jadi wirausaha yang ramah lingkungan dan mensejahterakan masyarakat luas, belajarlah dari pengalaman dua orang “gila” beserta tim-nya ini! 😀 selamat membaca!   (Sumber tulisan asli disini)

Konglomerasi Sosial a la Perkumpulan Telapak

Sore itu sekitar pukul 16.00, Kota Hujan mengeluarkan hawa mendung. Awan pekat menjalari perjalanan kami menuju Perkumpulan Telapak, yang berlokasi di Perumahan Taman Yasmin Sektor V, Jl. Palem Putri III, No. 1, Bogor. Tiba di lokasi, kami disambut sebuah bangunan mungil, dengan logo kecil di dindingnya berupa “selembar daun hijau”. Di bawahnya ada 2 telapak kaki tersembunyi. Jejak-jejak kaki juga tercetak jelas di lantai semen yang sudah mengering. Hal ini meyakinkan kami bahwa benar bangunan yang ada di depan adalah tempat yang kami cari. Masuk ke dalam bangunan itu, pemandangan khas organisasi muncul di depan mata. Orang-orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tepat di depan pintu, ada meja dengan sekat tembus pandang, di mana seorang pria tengah berkonsentrasi dengan ketikannya. Di ruangan yang lain ada sekumpulan orang yang tengahmengadakan meeting kecil.

Telapak, Khusnul Zaini, Silverius Oscar Unggul, Onte

Khusnul Zaini dan Silverius Oscar Unggul (Onte)

Salah seorang dari mereka yang tengah rapat itu tiba-tiba mengetahui keberadaan kami. Pria paruh baya berperawakan kurus, dengan rambut gondrong sebahu itu pun datang menyambut. Pribadinya terkesan sederhana namun santun. Senyum ramah terus menghiasi wajahnya yang friendly. Tak disangka, dialah Khusnul Zaini, Presiden Telapak periode tahun ini. Jabatan ini adalah jabatan tertinggi di Badan Perkumpulan Telapak (BPT). Adapun wakilnya ada 2 orang yaitu Muchlis Ladiku Usman (Pendoks) dan Muhammad Djufryhard. Sementara itu, Silverius Oscar Unggul adalah mantan Wakil Badan Pengurus Perkumpulan Telapak periode sebelumnya.

Fokus Telapak yang pertama sebenarnya adalah mengkampanyekan anti illegal loging hutan-hutan Indonesia. Fokus utamanya ada di Papua dan Kalimantan. Tapi kemudian investigasi dilakukan secara merata, karena anggota Telapak tersebar dimana-mana. Ada yang di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua, dll.

Seiring berjalannya waktu, kalangan anggota berpikir untuk menjadikan Telapak sebagai bentuk konglomerasi sosial, yakni yang semula hanya fokus di kampanye anti illegal loging, kini merambah di beberapa unit bisnis, misalnya, Kotahujan.com, Gekko Studio, T-port, Koperasi Telapak, Poros Nusantara, serta Poros Nusantara Media. Koperasi Telapak banyak tersebar di seluruh nusantara dengan fokus yang berbeda-beda. Misalnya Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) di Kulon Progo. KWML ini fokus di tanaman obat-obatan/jamu-jamuan. Ada lagi Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJLI) di Kendari yang fokus di kayu jati, dll. Total anggota sekarang sudah 174 di 27 propinsi, dengan 19 badan teritori.

Tiba-tiba muncullah di antara kami seorang lelaki berpostur tinggi besar dengan guratan wajah khas Indonesia timur. Dia kemudian menyambangi kami, dan memperkenalkan diri sebagai Silverius Oscar Unggul, atau kerap disapa Onte. Onte adalah satu contoh dari tokoh sosial enterpreneur yang sukses membaktikan diri untuk kejayaan alam. Nama Onte ini berasal dari singkatan “orang Entete” (Nusa Tenggata Timur, tempat ia dibesarkan). Sejak kecil ia sudah dekat dengan alam. Hobinya naik turun gunung, keluar masuk hutan. Hal ini dilakukannya sampai selesai belajar di Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo, Kendari. Berangkat dari hobinya ini, Onte menemukan fakta bahwa penggundulan hutan semakin merajalela. Dengan pemikirannya yang idealis kala itu, ia pun memiliki gagasan untuk memerangi illegal logging. Melalui LSM Yascita, binaannya pada tahun 1998, serta keterlibatannya sebagai Vice Presiden Telapak masa itu, iapun mengembangkan community legal logging. kampanye pun dilakukan melalui berbagai media, baik radio (Radio Swara Alam), Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia (KHJLI), sampai membangun Televisi Lokal sendiri di Kendari. Terbukti televisi lokalnya kini menjadi salah satu unit bisnis yang membanggakan di bawah binaan Telapak. Pria yang memiliki tato di lengan ini, kini banyak diganjar berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri tentang kiprahnya dalam memberantas illegal logging.

Berikut wawancara lengkap Gustyanita Pratiwi dan Darandono dari SWA dengan Khusnul Zaini dan Silverius Oscar Unggul dari Telapak:

Bagaimana awalnya misi Telapak ini? Apa latar belakang Bapak melakukan kegiatan yang memiliki misi sosial ini?

Khusnul Zaini : Organisasi ini memang awalnya adalah yayasan (1995). Setelah lama berselang, terjadi perdebatan di antara anggota yayasan sendiri. Kalau namanya anggota yayasan kan terbatas hanya beberapa orang. Dalam undang-undang yayasan, jelas yang menentukan A,B,C-nya adalah Dewan Anggota. Perdebatan di internal ini intinya kami mau bagaimana? Apakah hanya sebatas ini saja (eksklusif), atau organisasi kami menjadi terbuka. Sampai voting, diputuskan untuk terbuka, meskipun kemudian ada beberapa anggota yayasan yang sebagai pendiri kemudian keluar. Oke, kalau keputusannya menjadi perkumpulan, dia tidak setuju, dia keluar. Setelah itu, prosesnya adalah melalui rekruitmen. Rekruitmen ini dilakukan sejak tahun 2002 (ketika sudah menjadi perkumpulan). Waktu itu memang masih transisi dari yayasan menjadi perkumpulan. Kami belum men-declare sebagai organisasi gerakan. Antara 2002-2006 itu memang menjadi masa-masa transisi. Kalau kami bisamendeclare sebagai organisasi gerakan, artinya konsekuensinya menjadi sangat besar. Kami harus berani melawan arusmainstream yang umum. Tahun 2006, setelah kami mubes di Bali, kami men-declare sebagai organisasi gerakan dengan arahan Gerpak (Gerakan Telapak). Sama juga seperti Orde Baru dulu. Zamannya Soeharto dulu kan ada Repelita. Kami juga ada seperti itu. Setiap mubes maka diputuskan, ada kegiatan yang terkait bidang politik, ekonomi, budaya, maupun keorganisasian.

Continue reading “Konglomerasi Sosial? Mengapa Tidak?”

Memakai GAP: Kebanggaan Bagimu, Kehancuran Bagi Citarum

This slideshow requires JavaScript.

Sebuah pepatah lawas Inggris mengajarkan kita untuk tidak menilai segala sesuatu hanya dari bungkusnya saja. “Don’t judge book by its cover,” begitu bunyinya. Sebagai salah seorang yang pernah pembeli produk pakaian merk GAP, saya risau setelah membaca artikel yang kemarin dikirim oleh seorang sahabat yang kebetulan seorang ekologis asal Perancis. “I just read this :(” tulisnya sembari memberi link tulisan tentang pabrik tekstil merk GAP dan beberapa merk terkenal lainnya yang sukses membuat Sungai Citarum menjadi semacam sungai “sop kimia” yang kaya warna, ada ungunya, ada birunya. Sungai citarum menjadi menarik dilihat (bungkusnya), tetapi bahaya untuk digunakan (isinya). GAP memang tergolong merk yang terkenal (bungkusnya), sehingga tidak sedikit orang yang rasa percaya dirinya meningkat ketika mengenakan GAP, sebagian mungkin ada yang sampai merasa bangga karena memakai merk terkenal. Tapi di Indonesia, proses produksi merk terkenal itu (isinya) membuat sungai Citarum kita rusak dan akhirnya merugikan masyarakat sekitar yang tidak lagi dapat menikmati manfaat dari Sungai Citarum.

“Don’t judge book by its cover,” begitu bunyi pepatah bijaknya. Haruskah kita berbangga mengenakan suatu merk terkenal, walau proses produksinya mengakibatkan kerugian bagi banyak jiwa dan juga mengganggu keseimbangan lingkungan hidup? Jika kita merenungkan pertanyaan itu dengan mengamalkan pepatah bijak Inggris itu, harusnya hati nurani dan akal sehat kita akan bermuara pada satu jawaban yang sama. Jawaban itu sangat jelas, sebegitu jelasnya tertulis di alam pikir dan bersuara di hati kita, sehingga menuliskan jawaban itu di tulisan ini tidak akan terlalu banyak memberikan nilai tambah bagi kita. Namun saya yakin membaca artikel utuh yang dikirim oleh sahabat saya itu dapat memberi lebih banyak nilai tambah bagi kita, berikut adalah artikelnya, ditranslasi dari sumber ini. (DM)

 

GAP jadikan  Sungai Citarum Indonesia seperti Sup Ragam Warga

Ketika GAP menciptakan slogannya yang berbunyi “be true to your hue,” sepertinya kemungkinan mereka membicarakan perairan Indonesia sangat kecil. Tetapi menurut laporan Greenpeace, konglomerat retail yang anak perusahaannya termasuk Banana Republic, Old Navy, Piperline, dan Athleta, termasuk sekelompok merk yang telah menjadikan sungai Citarum di Jawa Barat sebagai cocktail limbah kimia dengan warna kemerahan yang tidak lazim. Artikel Toxic Threads: Polluting Paradise yang dipublikasikan Rabu kemarin merinci bagaimana hubungan bisnis GAP dengan PT. Gistex, yang mengoperasikan pabrik penghasil polusi tersebut, telah mengubah daerah aliran sungai yang dahulu jernih menjadi got yang berisikan zat-zat beracun yang mengganggu hormon dan sifatnya sangat persisten.

“Promosi iklan GAP yang terbaru menyatakan bahwa kita semua harus ‘Be Bright,’ namun dengan berkolaborasi dengan supplier yang buruk, garmen GAP mengubah Citarum menjadi sebuah sup ragam warna” kata Ashov Birry, seorang aktivis perairan bebas racun untuk Greenpeace Asia Tenggara. “GAP dan merk-merk besar lainnya harus bekerja sama dengan supplier mereka di Indonesia dan tempat lain untuk menghilangkan penggunaan zat kimia yang membahayakan dalam supply chain dan produk mereka sebelum terlambat.”

Greenpeace yang mengambil sampel dari tiga muara sungai tempat keluaran limbah pabrik PT. Gistex menemukan serangkaian zat-zat kimia yang berbahaya, termasuk nonylphenol, tributyl phosphate, serta kadar larutan antimony yang tinggi (sebuah metalloid beracun yang digunakan untuk membuat bahan polyester. Air limbah dari dua muara sungai kecil yang berselang juga memiliki properti alkaline, hal ini menandakan bahwa limbah tersebut tidak menjalani pengolahan paling dasar sekalipun. Laporan yang menunjukkan air limbah dengan tingkat pH 14 dapat membakar kulit ketika bersentuhan langsung dengan air, dan dapat menghasilkan dampak yang sangat parah, bahkan berkemungkinan besar fatal, pada kehidupan mahluk dalam air dia kawasan pembuangan limbah.

“Masyarakat yang hidup di sepanjang sungai ini dan bergantung pada airnya berhak tahu kandungan apa saja yang mengalir dalamnya, dan konsumen merk seperti GAP berhak tahu zat-zat kimia apa saja yang digunakan dalam produksi garmen mereka,” lanjut Birry.

Penyelidikan mengungkapkan perusahaan-perusahaan lain yang berhubungan dengan PT. Gistex termasuk Adidas, Brook Brothers dan H&M.

Menurut Greenpeace kini industri tekstil adalah salah satu kontributor pencemaran air beracun terbesar di Jawa Barat, dimana 68 persen pabrik di daerah Citarum atas merupakan pabrik tekstil.

Diterjemahkan dari tulisan Jasmin Malik Chua berjudul Gap Turns Indonesian River Into an Unnaturally Multicolored Chemical Soup (diakses pada 22 April 2013).