Category: Menteri Keuangan Rumah Tangga

Memenuhi Panggilan Anies Baswedan untuk Program Kelas Inspirasi

kelas inspirasi
sumber foto: http://www.kelasinpirasi.org
PS: dari foto ini terlihat bahwa salam dua jari masih kalah ngetop dibandingkan salam metal haha xD

Salamduajari senang sekali bisa turut berpartisipasi dalam memenuhi panggilan Anies Baswedan untuk Program Kelas Inspirasi. Memangnya apa sih Program Kelas Inspirasi itu? Ya, Program Kelas Inspirasi adalah program panggilan kepada kaum profesional untuk secara serentak mengambil cuti 1 hari pada 20 Februari 2013, yaitu hari ini, di Jakarta, Bandung, Jogjakarya, Pekanbaru, Solo, dan Surabaya. Di hari itu, para profesional akan memberikan inspirasi kepada anak-anak SD di kota-kota tersebut seputar profesi mereka dan mengapa mereka memilih profesi itu, dalam rangka menumbuhkan mimpi dan menanamkan semangat kejujuran, kerja keras, dan kemandirian pada anak-anak Indonesia, para calon pemimpin bangsa.

Adapun program ini dikemas 100% bersifat sukarela di mana profesional yang turut berpartisipasi tidak dibayar sama sekali, malah mengeluarkan biaya. Seperti saya paling tidak keluar biaya untuk transportasi ke Jakarta – Bandung – Jakarta, dan tentunya biaya penginapan juga. Tapi entah mengapa, kok gapapa ya? Kok malah seneng ya bisa ikut berpartisipasi ke dalam program ini? Melalui program ini memang Pak Anies  “memanggil” rasa cinta terhadap tanah air kepada generasi pembaharu bangsa. Ada 7 sikap yang harus dimiliki oleh para relawan program ini, yaitu: sukarela, bebas kepentingan, tanpa biaya, siap belajar, turun tangan langsung, siap silaturahmi, dan terakhir, tulus. Kata terakhir ini yang paling mengena di saya. Setelah berinteraksi dengan teman-teman relawan lain yang hebat-hebat dan berasal dari berbagai profesi, dari akademisi sampai pencipta lagu, didapati bahwa kami semua hadir disini karena satu alasan yang sama: cinta tanah air. Kami semua peduli dengan arah nasib bangsa, kami semua rela meluangkan waktu, uang, tenaga, dan pikiran untuk menumbuhkan cita-cita dan menanamkan semangat untuk para calon pemimpin bangsa di masa depan. Semua serius memikirkan struktur dan metode pengajarannya, walau semua sadar betul mereka tidak akan dibayar sepeser pun. Saya bahagia sekali, karena dari pengalaman ini saya disadarkan kembali, bahwa cinta itu bukan suatu konsep yang naif, cinta itu nyata, cinta itu sumber dari segala sumber kekuatan dalam menghasilkan suatu karya nyata.

Ibu Nining Soesilo pernah menyampaikan suatu kisah nasihat kepada saya. Kira-kira seperti ini: “gunung-gunung tinggi dapat diratakan oleh traktor-traktor besar yang terbuat dari besi dan baja; besi dan baja itu bisa dimuaikan oleh api; api itu bisa dipadamkan oleh air; dan air itu dapat diporakporandakan oleh angin. Sesuatu yang wujudnya tak terlihat itu, justru adalah zat yang paling kuat. Itulah metafora sederhana untuk menggambarkan Tuhan. Ia tak dapat terlihat tapi keberadaannya sungguh sangat terasa.” Saya pikir, begitu pula dengan inspirasi, di mana inspirasi berada? Seperti apa rupanya? Tak ada yang tahu. Yang kita tahu, ketika inspirasi datang, proses berkarya kita menjadi lebih lancar. Tuhan memang bekerja dengan cara yang misterius. Cara Beliau memberikan petunjuk pun dengan cara yang seringkali tak berwujud nyata, namun saya yakin, salah satu cara Beliau adalah melalui inspirasi itu. Tak terlihat, namun terasa sekali keberadaan dan manfaatnya. Sama seperti Dirinya, ya? Tak terlihat, namun sangat terasa jelas keberadaannya. Continue reading “Memenuhi Panggilan Anies Baswedan untuk Program Kelas Inspirasi”

Jakarta’s True Colors: My City, My Agony

Ini adalah sebuah tulisan lama yang drafting-nya sudah dimulai sejak Agustus 2008. Saya ga ngerti mengapa tulisan ini ga selesai-selesai. Ini awal tahun yang baru, mungkin ada baiknya memulai dengan menyelesaikan hal-hal yang belum terselesaikan. So, this is it.. the finally finished unfinished piece.

This slideshow requires JavaScript.

“Indonesia’s sprawling capital Jakarta is an urban planner’s nightmare. In just three generations its population has exploded from two to thirteen million people. At first glance, Jakarta’s wide boulevards, slick malls, and glass-sheated skyscrapers suggest order and prosperity. A few hours spent exploring the city, however, quickly undermines this impression. Traffic crawls. Exhaust fumes cover buildings with a layer of grime. The city’s sanitation system are inadequate. Its waterways are clogged with garbage and sewage.

There is no single, prominent slum area in Jakarta. Instead, the urban poor are scattered, living in hundreds of pockets of poverty throughout the city. One-quarter of Jakarta’s population live in kampungs, poorer neighborhoods that are often remnants of villages absorbed by the swelling metropolis. Another 5 percent are the slum dwellers found in ubiquitous illegal settlements that have formed under highway overpasses, near railway tracks, and along the edges of riverbanks and drainage canals. The Indonesian language has no precise word for these communities, whose inhabitants scratch out raw dwellings in the cracks of Jakarta’s public spaces.

Aside from routine evictions, fires, and cramped living quarters, slum dwellers must also contend with the threat of severe flooding, as two-fifth of Jakarta sits below sea level. Many of the poorest neighborhoods are located near the city’s trash-filled storm drains, and have little protection from the annual monsoons that send torrents of water into the city from the surrounding deforested hills. Two weeks after my stay in early 2007, all but one of the five homes pictured in this chapter were destroyed in one of Jakarta’s worst ever floods, displacing all the families in them. The one remaining home was demolished during an eviction six month later.”

Having read that article, the beat of my excited heart suddenly stopped. I was very excited to have the opportunity to study in Norway. I was also very excited to have a free chance to visit the Nobel Peace Center in Oslo, such a cozy place to learn. It is such a comprehensive, interactive, and absolutely representative place to perpetuate the history of the Nobel Prize and the story of all its laureates.  There was also an awesome photography exhibition with an advanced multimedia installation, screening a slideshow of pictures and the audio testimony of the people portrayed. It was an intriguing exhibition that induced me to come over and have a look. Unfortunately, this cool exhibition turned out to be the reason that ended all my excitement.

The article was taken from “The Place We Live”, by Jonas Bendiksen, a photography exhibition capturing slum life in four big cities of the world. Together with Caracas (Venezuela), Mumbai (India), and Nairobi (Kenya), Jakarta’s slums were represented in his photographs. The lady in the Nobel Peace Center said that his mission was to give some kind of a wake-up call for people in the developed world that in the same planet we live, there are still some areas with conditions far, far worse than in their countries. I think he did a very good job. I believe many people were inspired or awaken by his exhibition but to me it was far more than a wake-up call. It was like a slap in the face, no, worse, it was like a spit on the face as it slammed my dignity, especially among other international students from about 43 countries.

There was a moment that I felt angry, “why should they expose this ugly side as if there is no beautiful side of Indonesia??”, “why should this be the first impression my potential new friends will have of my country?? “. But then I told myself that I shouldn’t feel angry because everything in the slideshow revealed the true colors of Jakarta. So yes, I shouldn’t have felt angry, I should have probably just felt… sad? I actually didn’t know how I felt, it was like a mixture of many feelings, but I know for sure that I should be more aware that there are many of our brothers and sisters who live in the hard-paper house under the highways; some of them live very close to the railway, and some others live by the dirty river and use its water to wash, shower, and cook. How contrasted it was with what I saw in Norway, where the water quality was so good that the same water used for cooking and drinking was used to shower, and wash as well. This Norwegian photographer, Bendiksen, lived in the slums for about two weeks in each country, not only to take the pictures of them, but also to live the inhabitant’s life, the life in the slums. Have any of us done remotely the same thing to at least grasp the concept of real empathy?

Maybe some of us had done something, but probably couldn’t do anything more other than helping them to at least have a good meal for one day. Maybe there were some of us who could do more, but it still would not have been enough to solve the root of this big problem since there are only few people who care that much. Or maybe, we have too many “mind your own business” kinds of people. Maybe?

We almost always have incidences where concerts of international artists are sold-out in spite of how expensive they are. Many Jakarta citizens spend the average monthly labor wage over the course of one night. Some of them even have more than 10 cars in their garage, or probably have a mobile phone which costs almost as much as a brand new middle-class family car. Do they ever at least think about the human beings that live under the highway? Maybe yes. But maybe they end up with conclusions like, “that’s the result of your own laziness,” and that’s why they don’t do anything. And unfortunately, maybe the middle class put the blame on the rich as they believe that the rich are the ones who are really obliged to help the poor. Thus, as the final result, nobody is actually doing a significant thing to help the poor in a holistic way; that is by empowering them and enabling them to help themselves. All of us, together, never do anything significant to solve the problem. Instead we all contribute to the sin of making Jakarta as part of the top 4 city with the ‘grandest’ slums in the world. We, Indonesians, especially Jakarta citizens: the government, businessman, academics, students, and all other members of society, are contributing in the destruction of Indonesia’s image. In a place where many countries have names of their people written on the Nobel Laureates wall, we on the other hand have the portrait of our poor brothers and sisters living in the slum quarters to show to the world.

Sad? Angry? Disappointed? Ashamed? I felt all of that. What are the many fancy malls and classy skyscrapers for if we still have to see a large lot of slums stretching behind them? What kind of city view do we, the people of Jakarta, actually want or would love to see? Mr Governor, I would love to see a view of Jakarta that shows the warm face of togetherness. Do you think it is attainable or quite simply too naive? Hhmm… probably too naive. Okay then, I will just try to get used to Jakarta’s current bitchy face of to-get-theirs-ness. If a wise man said, “where there is a will, there is a way”, in this case it is probably more accurate to say, if you can’t get a villa on a hill, you can always live under the highway. Doesn’t that sound more realistic, Mr Governor?

(DM)

Kereta Khusus Perempuan yang “Lebay”

Kereta-Khusus-Wanita-

Saya bukan pemakai rutin kereta commuter line, tapi termasuk yang cukup sering menggunakan moda transportasi tersebut, khususnya ketika jalur jalan raya Depok-Jakarta-Depok sedang dalam jam-jam macet. Walaupun ramai, kereta commuter tetap efektif dalam menghemat waktu perjalanan (namun tetap perlu digaris bawahi soal masalah ketidaktepatan jadual yang masih cukup sering terjadi sehingga waktu perjalanan memang lebih hemat, tapi waktu menunggu keretanya? Belum tentu lebih hemat).

Pada sabtu kemarin (15/12) saya memilih untuk menggunakan moda kereta commuter Tn. Abang, untuk menuju stasiun Karet (karena tujuan akhir saya adalah daerah Permata Hijau). Siang itu memang terjadi masalah, jadual sedang tidak dapat dideteksi. Jadi daripada tidak jelas saya menunggu sampai kapan, saya putuskan naik kereta apa saja yang penting menyelamatkan saya dari kemacetan di Lenteng Agung. Yang mengejutkan adalah, kereta Commuter yang akhirnya muncul adalah yang ke Kota dan merupakan Kereta Khusus Wanita. Saya baru tahu ternyata ada Kereta Khusus Wanita, jadi bukan hanya gerbong khusus saja, tapi seluruh keretanya khusus wanita!

Saya sendiri adalah seorang wanita tapi mengapa saya merasa terganggu dengan kebijakan penyediaan kereta khusus wanita tersebut. Mengapa?
1. Masyarakat menggunakan kereta dengan berbagai tujuan, ada yang memang ada keperluan pribadi sehingga berangkat solo seperti saya, ada juga yang bepergian untuk keperluan keluarga sehingga berangkat bersama-sama dengan suami, anak, atau anggota keluarga lainnya yang berjenis kelamin pria. Mengapa kalangan ini, yang mungkin tiba lebih dulu di stasiun kereta, jadi harus menunggu lebih lama dibanding kalangan yang mungkin baru datang tapi memang merupakan sekelompok wanita?

2. Pada hari itu jadual kereta sedang tidak jelas, jadi saya merasa ada ketidakadilan yang terjadi pada mereka-mereka yang menunggu bersama teman atau keluarga pria. Mereka harus menunggu kereta berikutnya yang tidak jelas kapan datangnya hanya karena mereka bersama laki-laki. Bukankah ini menjadi bentuk lain diskriminasi? Pada siang itu ada sepasang suami istri, dan 2 keluarga yang saya lihat sendiri dilarang masuk karena membawa anak laki-laki yang berusia lebih dari 5 tahun. “Tapi ini kan anak, mba”, rayu calon penumpang pada satpam wanita yang bertugas waktu itu. “Ga bisa bu, kecuali untuk anak-anak berusia 5 tahun ke bawah”. Walau setelah peristiwa itu saya dengar pengumuman di kereta bahwa yang diperbolehkan masuk adalah anak laki-laki berusia 3 tahun ke bawah. Entah yang mana yang benar.

3. Sebagai pendukung kampanye persamaan gender, saya merasa ada yang kebablasan dan salah arah disini. Yang diharapkan adalah persamaan hak atau ketersediaan akses bagi perempuan, bukan pengistimewaan bagi perempuan dengan pemberian hak atau akses berlebihan yang ujung-ujungnya melahirkan bentuk diskriminasi atau pembatasan hak bagi kaum laki-laki. Hal ini menjadi semacam usaha mewujudkan keadilan dengan menciptakan ketidakadilan baru. Hal inii kemudian juga berarti tujuan mewujudkan keadilan yang dicita-citakan menjadi tergagalkan dengan sendirinya. Saya sangat penasaran dengan latar belakang penerapan Kereta Khusus Wanita ini, karena berdasarkan logika sederhana, keputusan tersebut benar-benar tidak masuk akal.

Pendek kata, saya wanita, saya pendukung kampanye persamaan hak atau akses untuk wanita (gender equality), dan saya berpandangan bahwa penyediaan fasilitas Kereta Khusus Wanita tidak sejalan dengan visi persamaan gender tersebut, atau dengan bahasa kekinian adalah: “lebay”. Mengapa bukan gerbong khusus wanitanya saja yang ditambah? Dengan demikian, bukankah kalangan yang berangkat dengan kerabat atau keluarga tidak lagi harus menunggu lebih lama hanya karena mereka bersama laki-laki?

Ayolah, seorang wanita ga akan pernah bisa jadi seorang ibu tanpa laki-laki, dan laki-laki ga akan pernah bisa jadi bapak tanpa wanita. Wanita dan laki-laki adalah partner setara yang saling melengkapi. Jika perempuan harus terlalu diistimewakan dengan menghilangkan sebagian hak laki-laki, tentu ada yang salah sedang terjadi disini. (DM)

10 Questions for the Dalai Lama: Wawancara Majalah Time

Time Magazine interviewed His Holiness in New York City in May of 2010 for its “10 Questions to His Holiness the Dalai Lama”.

Question: Do you ever feel angry or outraged? —Kantesh Guttal, PUNE, INDIA

His Holiness: Oh, yes, of course. I’m a human being. Generally speaking, if a human being never shows anger, then I think something’s wrong. He’s not right in the brain. [Laughs.]

Question: How do you stay so optimistic and faithful when there is so much hate in the world? —Joana Cotar, FRANKFURT

His Holiness: I always look at any event from a wider angle. There’s always some problem, some killing, some murder or terrorist act or scandal everywhere, every day. But if you think the whole world is like that, you’re wrong. Out of 6 billion humans, the troublemakers are just a handful.

Question: How has the role set out for you changed since you first came to be the Dalai Lama? —Andy Thomas, CARMARTHEN, WALES

His Holiness: I became the Dalai Lama not on a volunteer basis. Whether I was willing or not, I [had to study] Buddhist philosophy like an ordinary monk student in these big monastic institutions. Eventually I realized I have a responsibility. Sometimes it is difficult, but where there is some challenge, that is also truly an opportunity to serve more.

Question: Do you see any possibility of reconciliation with the Chinese government in your lifetime? —Joseph K.H. Cheng, MELBOURNE

His Holiness: Yes, there is a possibility. But I think past experience shows it is not easy. Many of these hard-liners, their outlook is very narrow and shortsighted. They are not looking at it in a holistic way. However, within the People’s Republic of China, there is wider contact with the outside world. There are more and more voices of discontentment among the people, particularly among the intellectuals. Things will change — that’s bound to happen.

Question: How can we teach our children not to be angry? —Robyn Rice, GRAND JUNCTION, COLO.

His Holiness: Children always look to their parents. Parents should be more calm. You can teach children that you face a lot of problems but you must react to those problems with a calm mind and reason. I have always had this view about the modern education system: we pay attention to brain development, but the development of warmheartedness we take for granted.

Question: Have you ever thought about being a normal person instead of being the Dalai Lama? —Grego Franco, MANILA

His Holiness: Yes, at a young age. Sometimes I felt, “Oh, this is a burden. I wish I was an unknown Tibetan. Then I’d have more freedom.” But then later I realized that my position was something useful to others. Nowadays I feel happy that I’m Dalai Lama. At the same time, I never feel that I’m some special person. Same — we are all the same.

Question: Do you miss Tibet? —Pamela Delgado Córdoba, AGUASCALIENTES, MEXICO

His Holiness: Yes. Tibetan culture is not only ancient but relevant to today’s world. After seeing the problems of violence, we realize that Tibetan culture is one of compassion and nonviolence. There is also the climate. In India during monsoon season, it is too wet. Then, I very much miss [ Tibet].

Question: What do you say to people who use religion as a pretext to violence or killing? —Arnie Domingo,QUEZON CITY, PHILIPPINES

His Holiness: There are innocent, faithful people that are manipulated by some other people whose interest is different. Their interest is not religion but power or sometimes money. They manipulate religious faith. In such cases, we must make a distinction: these [bad things] are not caused by religion.

Question: Have you ever tried on a pair of trousers? —Ju Huang, STAMFORD, CONN.

His Holiness: When it’s very, very cold. And particularly in 1959, when I escaped, I wore trousers, like laypeople dressed. So I have experience.

Question: Do you believe your time here on earth has been a success? —Les Lucas, KELOWNA, B.C.

His Holiness: Hmmm. That’s relative. It’s so difficult to say. All human life is some part failure and some part achievement.

 

Sumber:

http://www.dalailama.com/messages/transcripts/10-questions-time-magazine

Selamat Beristirahat Russell Means, Tokoh Pejuang Suku Asli Amerika

Foto diambil oleh Robert L. Jones ©2000
Jones mewawancarai Russell Means untuk websitenya.

Menurut laporan salah seorang perwakilan dari Oglala Lakota Sioux, Russell Means, aktivis suku asli Amerika, meninggal pada hari Senin akibat kanker tenggorokan.

Means telah memimpin pemberontakan yang berlangsung selama 71 hari di tanah suci Wounded Knee, South Dakota pada tahun 1973.

“Means telah mengabdikan hidupnya untuk memberantas rasisme, sebagai hasilnya beliau telah meninggalkan warisan sebagai ketua suku Indian yang paling revolusioner selama akhir abad ke-20,” tertulis demikian dalam situsnya. “Russell Means, seorang visioner yang patut dikagumi, hingga kini masih dianggap sebagai salah satu suara paling menggugah diseluruh AS. Baik ketika beliau memimpin sebuah demo, memperjuangkan hak-hak konstitusional, membintangi film, atau ketika tengah menyelenggarakan music rap-ajo, pesan yang dikirim selalu konsisten dengan pandangan hidup beliau.”

Website Russell Means dapat dikunjungi disini.

Mungkin bersedih itu perlu: Selamat Jalan Ogie

Beberapa hari lalu seorang mahasiswa memberi tahu saya soal kisah seorang mahasiswa UI jurusan arsitektur angkatan 2011 dalam melawan kankernya, yang bernama panggilan Ogie. “Ibu tolong bantu sebarkan info ini ya, Bu”, imbuhnya melalu twitter sembari juga ia menyertakan link ke sebuah blog yang secara lengkap menjelaskan kisah perjuangan Ogie. Saya kenal cukup dekat dengan mahasiswa itu, sehingga saya sempatkan membaca link yang ia kirimkan. Disitulah awal cerita saya mengetahui sosok bernama Ogie, yang sejak SMU harus berjuang melawan kanker tulang ganas. Satu serangan selesai, muncul serangan baru. Seperti tiada hentinya. Saya saja yang hanya membaca kisahnya melalui blog itu merasa lelah. Ya Tuhan, mengapa tak kunjung Kau ringankan beban untuknya, bisik saya di dalam hati.

Tapi syukurnya, walau merasa sedikit sesak, saya berhasil menyelesaikan kisah perjuangan Ogie pada link blog tersebut. Ada dua hal yang membuat saya salut dari kisah perjuangan Ogie:
1. Semangat hidup dan sikap positif Ogie dalam menghadapi penyakit ganasnya, sungguh luar biasa
2. Rasa kesetiakawanan sahabatnya yang begitu indah. Sampai-sampai mereka melakukan aksi untuk mengumpulkan dana untuk pengobatan Ogie dengan menuliskan runutan kisah perjuangannya dengan cukup komprehensif.

Kisah perjuangan Ogie dan sahabatnya membuat saya teringat kembali dengan kisah dalam lagu Blackbird (karangan Paul McCartney) yang menginspirasi saya, yaitu kisah tentang burung-burung hitam bersayap patah yang tiada henti rindukan terbang. Orang-orang yang konon katanya rasional atau berpikiran waras kemungkinan besar melihat harapan itu tidak masuk akal. “Sudah tahu kondisi sayap patah, masih saja berangan-angan untuk bisa terbang?? Mimpi kali yeeee?”, mungkin itu kebanyakan respon yang akan didapat. Begitu pula dengan kisah Ogie, kemungkinan besar orang-orang “logis” tidak akan berpikir untuk ikut ujian masuk UI ditengah kondisi kesehatan yang masih rentan; atau mungkin sudah akan patah harapan sejak dokter di Cina menyebutkan potensi keberhasilan teknik pengobatan yang ia tawarkan untuk Ogie hanya 50:50, sehingga berpikir bahwa hal yang paling logis untuk dilakukan adalah menyiapkan mental untuk menghadapi kematian saja.

Namun tidak demikian ceritanya pada Ogie. Seperti blackbird yang selalu belajar terbang, ditengah ketidaktahuannya tentang apakah suatu saat dia akan benar-benar bisa terbang, Ogie bersama keluarga dan sahabatnya terus berjuang ditengah ketidaktahuan mereka akan peluang didapatkannya kesembuhan. Seperti blackbird yang harus mengakhiri masa hidupnya dalam kondisi masih belajar dan memperjuangkan dirinya untuk bisa terbang, Ogie juga harus pergi dalam kondisi masih berjuang melawan kanker yang ganas. Seperti blackbird pula, Ogie berjuang sampai nafas terakhir bukan untuk mendapatkan kesembuhan, melainkan semata-mata karena Ia ingin berjuang. Kalau pun harus kalah, tentu ia akan kalah dengan puas. Ya, puas, karena ia tahu ia telah kerahkan segalanya, karena ia tahu bahwa perasaan menang tidak perlu selalu berasal dari kemenangan, tapi dapat juga berasal dari keberanian untuk terus berjuang sekuat tenaga walau tahu akan berhadapan dengan kekalahan.

Blackbird singing in the dead of night, take this broken wings and learn to fly.. All your life. You were only waiting for this moment to arise. Blackbird fly, blackbird fly, into the light of a dark black night. Sulitnya mendapatkan kesembuhan mungkin sesulit menemukan secercah cahaya ditengah gelap malam yang hitam. Namun Ogie tetap saja berjuang. Seperti blackbird, kisah Ogie adalah adalah kisah setulus-tulusnya perjuangan, yaitu suatu proses perjuangan yang fokus untuk melakukan yang terbaik, bukan untuk mendapatkan yang terbaik. Sungguh langka, sungguh hebat. Blackbird fly, blackbird fly, into the light of a dark black night.

Continue reading “Mungkin bersedih itu perlu: Selamat Jalan Ogie”

Liberal Arts untuk Kualitas Demokrasi Indonesia

The School of Athens karya Raphael (1510–1511) yang menggambarkan sekolah dimana para filsuf yunani zaman dulu berkumpul dan berfilsafat

 

Iklim pendidikan di Indonesia adalah salah satu hal yang suka membuat risih sebelum tidur (not really). Dimana masih ada beberapa daerah di Indonesia yang memperbolehkan seorang guru memberi hukuman fisik jika salah satu siswanya menjawab pertanyaan dengan salah, dan dimana mempertanyakan sesuatu di kelas yang bertentangan dengan pengetahuan konvensional akan berujung pada pengucilan. Terkadang saya bertanya-tanya apakah pendidikan kita ini bertujuan untuk menghasilkan pemikir kritis dan kreatif, atau sekedar manusia patuh. Berpikir kritis berarti kita harus mengerti apa itu yang kita kritik: If we cannot control the criticism, control the information on which to base the criticism.

Dibawah ini adalah kolom opini mengenai hubungan liberal arts (rumpun ilmu yang menekankan analisis atas suatu fenomena dengan berbagai sudut pandang dan alur logika) dengan demokrasi: bahwa penyebab kebanyakan masalah di masyarakat bukanlah westernisasi atau globalisasi atau berbagai macam faktor lainnya yang bersifat eksternal, melainkan ketidaktahuan masyarakat akan peran masing-masing dan ketidakmampuan mereka dalam “menyaring” informasi. Pengetahuan dan kemampuan tersebut dipandang dapat diperoleh dari pendidikan liberal arts. Jika masyarakat Indonesia sudah mendapatkan ilmu ini, sudah terbiasa menyaring informasi, memperdebatkan suatu masalah sebelum menyetujui, tentunya dengan memasukkan segala pertimbangan termasuk nilai-nilai lokal yang diyakini, tentunya demokrasi di Indonesia akan lebih efektif dalam menghasilkan pemimpin terbaik untuk bangsa.

 

Seringkali dikatakan bahwa degradasi moral yang terlihat di masyarakat serta kekerasan yang terjadi di banyak SMA baru-baru ini merupakan hasil dari westernisasi dan sekulerisme. Namun bagi beberapa orang masalahnya bukanlah sekedar bentroknya nilai-nilai barat dan timur tetapi yang berakar pada perubahan dalam sistem pendidikan modern yang mempengaruhi seluruh dunia.

Dalam bukunya yang polemik Not For Profit: Why Democracy needs the Humanities, Martha C. Nussbaum menyatakan bahwa demokrasi dimana-mana sedang dilanda bahaya karena masyarakat semakin lama semakin dirampas akan pendidikan bersifat liberal arts yang sangat dibutuhkan agar demokrasi tersebut dapat berkembang. Continue reading “Liberal Arts untuk Kualitas Demokrasi Indonesia”

Niluh Djelantik: Cita-cita, Cinta, dan Sepatu

Bersantai di rumah pada malam sabtu memang nikmat, khususnya karena ada salah satu acara  TV favorit yang sering memberi saya informasi dan inspirasi baru. Untuk malam ini, sosok inspiratif yang diperkenalkan adalah Niluh Djelantik, seorang wanita wirausaha yang dari aura wajahnya, terasa sekali bahwa beliau ini merupakan pribadi yang bekerja dengan cinta. Tak heran produk yang dihasilkan pun (baca: sepatu wanita), dicintai.
Sebagai seorang anak yang hampir selalu dibelikan sepatu baru dengan dua ukuran lebih besar, cita-cita Niluh kecil adalah sangat sederhana. “bu, suatu saat nanti aku ingin membeli sepatu baru dengan ukuran yang pas”, ucapnya kepada ibunya. Hal itu pun tercapai ketika ia sudah mulai bekerja. Sepatu pertama yang berukuran pas dan dibeli sendiri pada tahun 1995 itu berbanderol harga Rp 15,000. Pas ukurannya, tapi masih  kurang nyaman dipakai katanya. Sejalan dengan peningkatan karirnya sebagai pemasar profesional dan sering safari ke luar negeri untuk menjalankan tugas, Niluh menjadi semakin mampu memanjakan kakinya, agar tampil penuh gaya dan tetap, nyaman. Sepatu pun, menjadi salah satu bagian utama dalam hidupnya. Continue reading “Niluh Djelantik: Cita-cita, Cinta, dan Sepatu”

Lebaran Haji, Pak Menteri, dan Doktrinasi

Tulisan ini sebenarnya sudah lama, tepatnya dari 27 November 2009,  tapi saya upload lagi karena sebentar lagi Hari Raya Kurban.

Tidak ada yang istimewa dengan hari ini. Rutinitas berjalan seperti biasa. Bangun pagi, sarapan pisang, bersih-bersih, jalan kaki ke kampus, lalu duduk di ruang belajar untuk membaca dan meringkas bersiap untuk menghadapi ujian. Hari ini sungguh normal, walau hati kecil sangat menyadari betapa istimewanya hari ini jika diri berada di tanah air. Gema takbir akan menguasai langit semalam, langkah-langkah kaki menuju masjid akan menjadi pemandangan pagi ini, dan kemesraan bersama keluarga dan tetangga akan menjadi nuansa indah hari ini. Hari ini adalah 10 Dzulhijjah 1430H, selamat Hari Raya Idul Adha untuk sahabat dan saudaraku semua 🙂

Di tengah kenormalan kegiatan dan keistimewaan makna hari, terdapat rasa ingin tahu yang lebih tinggi dari biasanya. Bagaimana aktivitas orang-orang di tanah air hari ini? Pejabat-pejabat dan artis-artis hari ini solat di mana? Siapa tau ada foto sapi-sapi kurban sumbangan pejabat atau selebriti? Biasalah, gelitik rasa ingin tahu rakyat biasa. Akhir cerita, gatal jemari pun berujung pada beberapa situs media ternama tanah air. Lantas diri ini pun mengetahui, oh, ternyata Pak SBY menyumbang sapi seberat 1.35 ton, oh ternyata salah satu sapi dari pejabat tinggi Polri berpenyakit, tak kalah, organisasi artis Parfi pun menyiapkan 4 sapi dan 8 kambing untuk dikurbankan hari ini. Semua berita tersebut menarik bibir dan meniupkan rasa senang di hati. Sampai terbaca satu berita tentang isi ceramah seorang menteri di Lapangan Kantor Gubernur Sumbar (judul artikel: Menkominfo: Bencana Berhubungan dengan Kerusakan Moral). Nah, artikel yang satu ini, mengganggu hati.

Inti dari ceramah Pak Menteri adalah bahwa banyaknya bencana di Indonesia berhubungan dengan degradasi moral yang merupakan bukti bahwa manusia sudah ingkar akan perintah Allah SWT. Selain itu, manusia sekarang hanya takut kepada manusia lainnya, ketimbang kepada Sang Pencipta. Pak menteri lantas mengungkap fakta soal kemaksiatan yang kian menjadi-jadi di Indonesia, seperti status Indonesia sebagai negara terkorup rangking satu se-Asia, dan peringkat tiga se-dunia, lalu fakta bahwa warga negara Indonesia sendiri sudah memproduksi sebanyak 500 jenis VCD porno. Pak Menteri juga menyinggung soal mafia peradilan. Lalu Pak Menteri menutup ceramahnya dengan doa yang indah, yaitu memohon agar negeri kita dijauhkan dari bencana dan dijadikan negeri yang damai dan tenteram (amiiiiiiin). Continue reading “Lebaran Haji, Pak Menteri, dan Doktrinasi”

Transkrip Kuliah Umum “perpisahan” dari Ibu Sri Mulyani

Selasa, 18 Mei 2010.

Ini adalah transkrip kuliah umum “perpisahan” dari Ibu Sri Mulyani, beliau berbicara tentang Etika dalam Kebijakan Publik. Saya dapat dari milis economics FEUI, oleh Ari Perdana. pengen berbagi saja, karena Ibu Sri Mulyani merupakan salah satu tokoh inspiratif buat saya, dan saya rasa, buat bangsa ini?

Continue reading “Transkrip Kuliah Umum “perpisahan” dari Ibu Sri Mulyani”