Category: Menteri Keuangan Rumah Tangga

Aku dan Dilanku 1990

Akhirnya wiken  lalu bisa nonton Dilanku 1990. Solo, mumpung mantan pacar mau temenin anak-anak dirumah.
Kalau makanan kuanggap apa ya film Dilanku? Bubur? Nasi padang, Tiramisu? Hari ini ku anggap dia Tiramisu, karena dia nikmat dimakan sebagai hidangan dessert setelah appetizer dan main course yang super enak!! Bagaimana tidak, jika hidangan sebelumnya sudah super enak, bagaimana aku harus menetapkan ekspektasiku untuk dessert? Kan deg-degan makannya. Bagaimana kalau film Dilanku tidak bagus?? Aku kan sudah baca novelnya?? Bagaimana kalau komentar orang-orang yang sudah nonton overrated??

Dilan sungguh personal bagiku. Aku dulu tak langsung menerima usulan mantan pacar atas nama Dilan untuk anak pertama kami. Tak sengaja saat aku ingin membeli pulpen baru di toko buku, ramai sekali novel Dilanku terjaja. Aku langsung beli dan membacanya. Lucu!! Indah!! Unik!! Terlebih karena motornya Dilan sama seperti motor mantan pacar. Akupun menjadi yakin untuk menerima usulan itu, dan bermufakat bersama untuk menamakan putra pertama kami Dilan Wirasatya Wibowo. Dilan, dalam bahasa inggris klasik Welsh juga berarti anak ombak, son of the wave. Aku suka sekali dengan maknanya, membuatku membayangkan Dilan sebagai orang yang mampu berselancar bersama ombak (kehidupan). Continue reading “Aku dan Dilanku 1990”

Advertisements

Puisi untuk Nenek

Dalam Doaku

(Oleh Dewi Meisari, terinspirasi oleh Puisi Sapardi Joko Damono)

 

Dalam doaku subuh ini

Kuangankan sendu matamu menjadi damai

Kubayangkan kaku bibirmu menjadi luwes tersenyum

Ketika matahari menyapa

Dalam doaku

Tak henti-henti kubisikkan angin agar menyejukkan jiwamu

Tak henti-henti kurayu awan agar teduhkan hatimu

Dalam doaku sore ini

Ku jelmakan gagak itu menjadi kenari

Ku jelmakan kicau seram itu menjadi alunan nada merdu, untukmu

Ketika matahari tenggelam

Kubayangkan lilin-lilin kecil hiasi malammu

Tenangkan pikiranmu lewat romansa sinar sayunya

Dalam doaku malam ini

Ku mogakan agar hanya mimpi indah yang temani tidurmu

Ku mogakan agar harmoni suara-suara alam hiasi masa menunggumu

 

Aku mencintaimu

Karenanya,

Takkan pernah selesai aku

Mendoakan kedamaian dan kebahagiaanmu

Dear Pak Prabowo, Would you be our Hero?

image

Akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikan aspirasi politik saya untuk kedua kalinya. Kali ini berupa surat terbuka untuk Pak Prabowo. Curahan hati ini terpicu oleh wawancara Pak Prabowo di BBC News Impact 11 Juli 2014 (silakan saja nonton videonya di youtube). Mungkin karena itulah otak saya berpikir dalam bahasa inggris waktu itu. Jadi deh surat terbukanya dalam bahasa Inggris. Ini murni aspirasi pribadi. Saya tidak mengajak orang lain untuk berpandangan sama. Tapi saya juga akan menghargai jika pandangan saya ini dibiarkan, dan tidak perlu dicaci maki. Lakum dii nukum waliyadiin. Biarkan aku dengan keyakinanku, kamu dengan keyakinanku. Akan selalu ada jalan damai untuk mufakat: karena kita selalu bisa bersepakat untuk tidak bersepakat. Agree to disagree ūüôā

Sekian prolognya, berikut curahan hati saya untuk Pak Prabowo.

Dear Pak Prabowo,

I was enchanted by your charisma, also by your high spirit and patriotic vision to work for a more prosperous Indonesia. I gave my vote for your party several times, but why do you now seem to be blinded by your ambition to be our president?  What in the world happened to you? Your coallition scares me. Your own quick counts bother me. Your inconsistent attitude on election result, disappoints me. You have massive wealth. You are actually the wealthiest presidential candidate. Why does it seem that to you there is only one way to bring indonesia to be more prosperous? Do you have to be our president first before you can make us prosperer and re-become the Macan Asia?

Well, do you know Bill Gates, Pak? He is not a president of any countries but his work and wealth have helped and stimulated a lot positive changes in the world. I hope you know him. I also hope that instead of aspiring to become our “Bung Karno”, you can eventually realize that it will be much more useful if you would become our “Bill Gates”.


Continue reading “Dear Pak Prabowo, Would you be our Hero?”

Kunci sukses

Dari cukup banyaknya pengalaman hidup yang saya lewati, ada beberapa pertanyaan yang secara stabil menjadi trending topic dari dulu sampe sekarang. Salah satunya adalah, apa sih kunci sukses itu?

Saya berani bilang pertanyaan ini cukup retoris. Mengapa? Karena jawabannya dari dulu sampai sekarang sama aja. Ga jauh-jauh dari: tekad, disiplin, rajin belajar, pantang menyerah, dan doa. Kalau diperas lagi, semua kata-kata kunci sukses itu bisa menjadi dua kata saja, berdoa dan berusaha. Ya, seperti peribahasa Yunani dulu, ora et labora.

Tapi mengapa ya seakan-akan kita selalu butuh diyakinkan? Termasuk saya, pada saat berkesempatan diskusi dengan pelaku UKM yang omzetnya sudah menembus Rp 10 milyar/tahun, saya minta beliau untuk berbagi kunci kepada rekan-rekan pelaku usaha lain yang belum sesukses beliau. “Apa sih, Pak kunci suksesnya?”, tanya saya.

Lalu beliau menjawab singkat, dan jawabannya sama sekali tidak mengejutkan. Menurut beliau, kunci sukses adalah: nekad, tekad, pantang menyerah, dan doa. Posisi doa diletakkan paling akhir karena doa diposisikan sebagai “bumbu pelengkap”, agar apa yang diusahakan dapat berjalan dengan lancar.

Dalam hati saya tersenyum simpul, “bener juga bapak ini nyebut doa terakhir, biar gimana pun yang ga doa tapi usaha giat lebih banyak yang berhasil (sepertinya), daripada yang rajin berdoa tapi ga giat usaha”.

Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang

Salamduajari.com, Depok (14/02) – Saya bahagia hari ini melihat statistik website blog ini, ternyata rata-rata kunjungan pada 3 bulan terakhir sudah berada di kisaran 50 – 80 orang per hari. Saya jadi semakin semangat untuk membagi berbagai tulisan yang menginspirasi, menambah pengetahuan, dan semoga (yang paling penting), terus membangkitkan semangat kita untuk berkarya lebih dan lebih lagi untuk diri kita sendiri, keluarga, masyarakat sekitar lingkungan hidup kita, sampai bangsa dan negara.
Hari ini saya mendapat hasil wawancara menarik, yang dibagi oleh kolega saya melalui milis dosen Ilmu Ekonomi di FEUI. Wawancara ini mengisahkan soal cara pemerintah dan kampus di Jepang memperlakukan tenaga pendidik alias dosennya. Selaku tenaga pendidik di Indonesia, saya tentu termasuk orang yang juga mengidamkan hal tersebut dapat terjadi di Indonesia. Mungkin tidak perlu semewah yang di Jepang ini. Kalau aspirasi saya pribadi adalah beban administrasi yang banyak untuk dosen, khususnya dalam mengakses berbagai dana hibah, baik untuk dana pengabdian masyarakat (community engagement), maupun penelitian. Kita tidak tahu seberapa nyaman atau tidak nyaman kondisi kita saat ini jika tidak ada pembanding, bukan?
Berikut adalah cerita pembanding dari Jepang, yang dilansir dari sini, mengenai bapak¬†Dr.Andi Bangkit Setiawan. Ia¬†mendapatkan gelar Doktor di usia 29 tahun dan sekarang menjadi¬†¬†Designated Associate Professor di¬†Graduate School of Education and Human Development¬†Nagoya University,¬†Jepang. Cerita ini mengilhami saya, semoga Anda juga ūüôā¬†
Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang
 

 Bisa diceritakan sedikit tentang perjalanan akademik Mas Andy?

Saya dulu kuliah S1 di Program Studi Sastra Jepang Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) UI, masuk tahun 1999 melalui jalur PPKB (PMDK). Tahun 2002 saya alhamdulillah dapat beasiswa dari Toyota Foundation untuk belajar satu tahun di Nanzan University Nagoya Jepang hingga pertengahan 2003. Saat itulah saya kemudian belajar bidang yang saya tekuni saat ini yaitu Intellectual History terutama untuk Asia. Pada waktu akan pulang dari Nanzan University tahun 2003 itulah kemudian saya mencoba mencari jalan untuk bisa kuliah lagi di Jepang untuk memperdalam bidang tersebut, hingga akhirnya salah satu teman profesor saya ketika di Nanzan yang mengajar di Hiroshima University mengizinkan saya untuk belajar di tempatnya. Akhirnya saya pulang tahun 2003 itu dengan ‚Äúsaling janji‚ÄĚ antara saya dengan seorang profesor di Hiroshima University (nama beliau Prof. Nakamura Shunsaku) itu untuk saling tukar kabar dan beliau akan mengirimi saya formulir untuk kuliah lagi di sana nanti kalau sudah lulus.

Berbekal janji itu, saya segera selesaikan skripsi yang sebenarnya sudah saya pesiapkan selama ada di Nanzan Univ. Alhamdulillah, tahun 2004 bulan januari saya bisa lulus dan segera memberi kabar ke Prof Nakamura bahwa saya sudah lulus. Bulan Februari di tahun 2004 itulah datang formulir2 yang harus sy isi dan ternyata di dalamnya ada pula formulir untuk pengajuan beasiswa Monbusho melalui jalur U to U. Akhirnya, semuanya lancar, alhamdulillah, dan bulan oktober 2004 saya berangkat lagi ke Jepang untuk ikut ujian masuk program master di Hiroshima University. Kebetulan lab Prof Nakamura (yang meski beliau bidangnya Intellectual History) berada di Graduate School of Education di klaster kajian budaya, sehingga untuk ujian masuk saya harus belajar pula 3 bidang ilmu yang akan diujian baik tertulis maupun wawancara yaitu: Ilmu Pendidikan, Ilmu Budaya dan Susastra serta Ilmu Linguistik. Alhamdulillah, bisa lolos dengan nilai yang cukup memuaskan dan saya mulai masuk program master di situ tahun 2005 bulan April.

Pada akhir tahun 2006, di mana program master saya hampir selesai dan tesis saya pun sudah final, Prof Nakamura kemudian menawarkan untuk melanjutkan studi saja menuju jenjang Doktoral. Saya sempat ragu karena saya sendiri belum punya posisi di Indonesia (meskipun ada beberapa pihak kampus dulu di UI yang men‚ÄĚjanji‚ÄĚkan akan merekrut saya bila sudah pulang nanti) tetapi karena besarnya keinginan saya untuk tetap belajar dulu sampai selesai akhirnya saya terima tawaran tersebut dan lanjut masuk program doktor mulai 2007 dan selesai tahun 2010. Continue reading “Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang”

Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Sumber foto: www.merdeka.com
Sumber foto: http://www.merdeka.com

Halo pembaca salamduajari ūüôā ¬†pertama-tama mohon maaf karena saya belum bisa mendisiplinkan diri dalam mengunggah tulisan. Niat hati pengen rutin tiap senin dan jumat tapi kok belum jalan-jalan ya haha xD Mudah-mudahan kedepan bisa lebih disiplin. Adapun untuk kali ini, saya menemukan tulisan menarik dari Koran Tempo. Mengingat kemarin kita mengenang hari Sumpah ¬†Pemuda, rasanya menyenangkan juga sesekali diakrabkan lagi dengan sejarah Bangsa. Nah, tulisan ini adalah karangan opini yang mengandung sejarah. Soal niat saya untuk mengunjungi Singapura setelah membaca artikel ini, jujur biasa saja, karena dari dulu tidak pernah gandrung ke sana. Saya juga belum pernah ke Singapura untuk tujuan murni jalan-jalan, baru pernah untuk urusan kunjungan kerja. ¬†

Adapun niat berbagi artikel ini tidak lain tidak bukan adalah untuk berbagi wawasan. Wawasan saya bertambah setelah membaca artikel ini, semoga Anda juga. Demikian, salam cakrawala!

 

Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Ditulis oleh: Asvi Warman Adam,
Sejarawan LIPI

Singapura menjadi tempat pertemuan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dengan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Tubagus Chaeri Wardana, adik kandung Atut, untuk membicarakan soal pemilihan kepala daerah. Demikian disampaikan Pia Akbar Nasution, pengacara Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, kepada media pada 16 Oktober 2013. “Pertemuannya enggak lama kok, cuma 15 menit,” kata Pia. Pertemuan itu berlangsung di Hotel JW Marriot, yang berjarak hanya 500 meter dari RS Mount Elizabeth, tempat Ratu Atut menjalani cek kesehatan. Namun hal ini dibantah pengacara Akil ataupun juru bicara keluarga Atut.

Sebuah media nasional berhasil mencatat bahwa Akil dan Atut berangkat dengan pesawat yang sama, Singapore Airlines SQ 953, pada Sabtu, 21 September 2013. Akil lebih dulu melintas dalam pemeriksaan imigrasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta daripada Atut. Akil melintas pada pukul 05.08 WIB, sementara Atut pukul 06.50 WIB. Pesawat SQ 953 jenis Boeing 777-200 itu berangkat pukul 07.55 WIB. Tapi keduanya pulang pada hari yang berbeda. Akil pulang ke Indonesia pada Senin, 23 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 825. Sedangkan Atut baru pulang ke Indonesia pada Rabu, 25 September 2013, menggunakan pesawat SQ 966.

Dalam data yang sama pada saat Akil dan Atut pergi ke Singapura, Wawan juga berada di sana. Wawan berangkat lebih dulu dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 836, pada Jumat, 20 September 2013, pukul 19.00 WIB dan baru kembali ke Indonesia pada Selasa, 24 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 825.
Continue reading “Singapura, Akil, dan Bung Hatta”

Esensi Hari Raya Kurban: Ikhlas

Besok adalah Hari Raya Idul Adha, atau yang sering juga yang kita sebut dengan Hari Raya Kurban. Dalam hidup saya, besok akan menjadi hari raya kurban saya yang ke-30. Banyak juga ya? Layaknya kondisi iman atau keyakinan yang turun naik sehingga perlu disegarkan saban hari dengan Sholat, saban tahun esensi hari raya kurban juga perlu disegarkan. Kalau tidak, hari raya ini hanya akan menjadi ritual badaniah yang saban tahun kita lakukan hanya dan hanya karena sudah menjadi tradisi. Saya tidak ingin itu terjadi setidaknya pada diri saya sendiri.

goatAdapun tulisan ini saya tulis dalam kondisi jiwa yang tidak tenang. Mengapa? Saya sedang bingung dengan diri saya sendiri, yaitu bingung karena saya sama sekali tidak lagi bisa merasakan indahnya syahdu takbir. Jujur, saya malah merasa kesal karena saya harus mendengarkan suara takbir anak-anak yang sumbang, namun dikumandangkan dengan¬† lantang melalui pengeras suara dari mesjid dekat tempat tinggal saya. Mungkin karena saya adalah tipe orang yang bisa menikmati indahnya zikir dalam keheningan. Keheningan membuat saya merasakan hubungan yang sangat intim dengan Tuhan, karena yang mengetahui dan merasakan, hanya saya dan Tuhan. Tidak perlu orang satu kampung tahu bahwa saya sedang berzikir. Pendeknya, saya tidak tenang karena semalaman saya harus mendengarkan takbir sumbang ini. Apakah artinya saya menjauh dari Tuhan? Masa’ saya tidak senang ketika mendengarkan namaNya dikumandangkan?

Pikiran pun berkecamuk. “Wi, dulu Nabi Ibrahim diuji keihlasannya dengan perintah untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail (walau kemudian dengan kuasaNya berubah menjadi domba yang sehat), masa lo dengerin takbir sumbang aja ga bisa ikhlas? Lagian kan esensi Idul Adha adalah napak tilas keikhlasan Nabi Ibrahim yang pada saat itu rela menyembelih anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Tuhan. Ikhlas wi, ikhlas! Santai dong jeng”, kira-kira seperti itulah ceramah dari, oleh, dan untuk saya sendiri di kepala. Continue reading “Esensi Hari Raya Kurban: Ikhlas”