Kacamata Ekonomi

Ulasan 12th WIEF – Desentralisasi Pertumbuhan dan Keadilan Ekonomi

Acara pertemuan besar 12th World Islamic Economic Forum 2016 di Jakarta baru saja berlalu. Teman seperjuangan yang namanya serupa tapi tak sama dengan saya ini sempat menuliskan review di hari kedua WIEF, yang menurut saya cukup elaboratif dan memberi insights yang menarik. Tulisan ini sudah dimuat di harian Republika pada kemarin, 5 Agustus 2016; sudah nongol di status Facebook penulis juga pada hari ini. 

Bagi kawan-kawan yang merindukan pembangunan dengan pemerataan, should read this.. This is a good food for our thought. Selamat membaca dan semoga manfaat. Amin

==== 

Desentralisasi Pertumbuhan dan Keadilan Ekonomi

Oleh: Dewi Hutabarat

Hari ini di Jakarta dibuka oleh Presiden Jokowi konferensi internasional 12th World Islamic Economic Forum 2016, dengan tema yang diangkat “Decentralizing Growth, Empowering Future Business”. Dari high level panel yang berjajar bersama Jokowi, terdapat total 14 negara termasuk Indonesia yang hadir. Namun saya kira pesertanya datang dari lebih banyak negara.

Masing-masing perwakilan negara memberi pidato yang isinya secara garis besar adalah pertama gambaran kondisi negara dalam rangka “promosi”, kedua seruan untuk bersama menanggulangi terorisme yang mengklaim sebagai “Islam” dan ketiga menyampaikan pemikiran, catatan, terhadap kondisi ekonomi global dan bagaimana masing-masing negara menyikapinya. Untuk yang terakhir ini, dalam berbagai versi dan titik tolak perspektif, hampir semua perwakilan negara menyerukan perlunya desain ulang sistem ekonomi, atau cara kita “berkegiatan ekonomi” yang mampu mengatasi persoalan kesenjangan (inequality) yang melebar dengan parah dimana-mana, yang mampu menyediakan lapangan pekerjaan terutama untuk generasi muda, dan merupakan sistem ekonomi yang lebih memastikan keadilan, inklusif, dan tidak merusak lingkungan.

Yang menarik adalah, “sistem ekonomi” yang dirindukan ini, dihubungkan dengan penekanan untuk meletakkan usaha mikro, kecil dan menengah (atau dalam bahasa trendynya, SMEs) sebagai pihak yang (semestinya) berperan besar. Kemudian penekanan juga diarahkan pada keterlibatan generasi muda, ekonomi kreatif, dan teknologi yang terus berubah dengan cepat dan makin mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia dan komunitas.

Selain itu, yang juga menarik adalah “Islamic Economy” yang pada umumnya diasosiakan pada praktik “halal” diposisikan secara lebih universal sebagai praktik etis dalam ekonomi seperti menjaga kualitas, memastikan kandungan produk aman, dan seterusnya. Selebihnya, di hari pertama 12th WIEF ini sesi-sesi memang lebih didominasi dengan pembahasan yang bersifat universal. Dengan kata lain, “Islamic Economy” tidak lalu menjadi sebuah terminologi yang bermakna “memisahkan” seolah hanya terkait orang Islam atau negara Islam. Sebaliknya, forum WIEF 2016 ini menantang diri sendiri untuk mampu menghasilkan simpul-simpul penting jawaban bagi berbagai persoalan dunia, yang dapat menjadi referensi bagi komunitas kecil hingga global, lintas negara, lintas budaya, dan dengan penghormatan tinggi pada keragaman.

Teknologi untuk Kesejahteraan

Presiden Jokowi dalam pidatonya menggarisbawahi hal-hal penting. Pertama, saat ini dunia mengalami perlemahan ekonomi, yang terlemah sejak Perang Dunia kedua. Lalu bahwa masyarakat Islam di seluruh dunia seharusnya berperan penting untuk menjawab berbagai masalah sosial. Presiden menyayangkan masyarakat Islam pada umumnya kurang berperan dalam inovasi teknologi sehingga semakin kurang mampu mempengaruhi perubahan dunia. Masyarakat muslim juga kurang dalam hal penguasaan media sehingga tidak mampu menjaga persepsi publik terhadap Islam.

Presiden menyayangkan masyarakat Islam pada umumnya kurang berperan dalam inovasi teknologi sehingga semakin kurang mampu mempengaruhi perubahan dunia. Masyarakat muslim juga kurang dalam hal penguasaan media sehingga tidak mampu menjaga persepsi publik terhadap Islam.

Dalam konteks teknologi, Presiden Jokowi memberi pernyataan yang patut diberi stabilo: bahwa teknologi harus diakui menciptakan pemenang dan pecundang, dan bahwa inovasi yang dikembangkan hanya demi kepentingan inovasi itu sendiri, apalagi demi keserakahan, inilah yang akan semakin memperburuk kesenjangan, kemiskinan dan berbagai masalah sosial. Maka teknologi selayaknya dikembangkan untuk kepentingan memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Untuk itu pemerintahlah yang berperan utama untuk mendorong agar dikembangkan teknologi yang dapat memastikan kepentingan masyarakat terakomodasi.

Sayangnya, elaborasi Presiden pada strategi ekonomi yang lebih menjamin keadilan dan mampu mengatasi berbagai persoalan utama masyarakat terasa sangat kurang. Untuk masalah “job creation” misalnya, Presiden hanya menyebutkan “harus membangun Industri untuk membuka lapangan pekerjaan” (dengan slide menunjukkan foto pabrik besar) seolah mengatakan bahwa strategi pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja bertumpu pada upaya mendorong tumbuhnya lebih banyak pabrik. Artinya, lebih banyak investor besar yang berinvestasi mendirikan pabrik besar. Artinya juga, peran usaha mikro, kecil dan menengah (termasuk koperasi dan usaha komunitas) sebagai tulang punggung ekonomi belum sungguh-sungguh digali menjadi strategi negara.

Teka Teki yang Tersisa

Dari bermacam pembahasan di panel-panel yang berbeda selama hari pertama WIEF Jakarta ini, sering mengemuka adanya kesadaran bahwa praktik-praktik ekonomi yang berlangsung di dunia saat ini pada umumnya “terbukti” menghasilkan kesenjangan dan ketidakadilan yang makin melebar. Timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah praktik ekonomi yang bersifat global, kapitalistik, liberal, masih relevan untuk dipertahankan bahkan dipelihara dan dikembangkan? Apakah bukannya kita perlu membangun pola-pola praktik ekonomi yang menekankan pada etika, membangun (dan dibangun oleh) kolaborasi dan solidaritas, dan untuk itu usaha berskala SMEs mustinya harus “playing a bigger role”?

Di sisi lain, dalam panel-panel juga diungkapkan fenomena bagaimana teknologi yang berkembang kini semakin meningkatkan kemampuan komunitas masyarakat untuk memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri. Misalnya, teknologi keuangan yang memungkinkan orang dapat bertransaksi dimanapun, dan tidak perlu keluar dari komunitasnya. Atau teknologi 3D Printer yang memungkinkan komunitas dapat membuat sendiri berbagai barang kebutuhannya.

Berbagai lompatan perkembangan teknologi ini, bukankah sedang mengubah masyarakat menjadi semakin mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan semakin mengurangi ketergantungan pada produsen berskala besar? Bukankah berarti teknologi juga sedang mengubah cara orang berkegiatan ekonomi, dan itu bisa berarti “pabrik besar” akan semakin tidak relevan di masa depan?

Berbagai teknologi yang dikembangkan untuk memudahkan masyarakat akan terus berproses melahirkan banyak kejutan bentuk-bentuk “future businesses”. Bagaimana agar bentuk-bentuk usaha masa depan ini, dapat didukung dari sekarang dan sengaja didorong agar semakin memudahkan komunitas membangun kedaulatan pertumbuhan ekonominya sendiri?

Bisakah, atau mestikah kita, dengan SENGAJA mendesain strategi dan melaksanakan pengembangan teknologi dan cara berkegiatan ekonomi yang mampu membuat komunitas mandiri dalam mendorong pertumbuhan ekonominya sendiri, dan kemudian mengembangkan kolaborasi dengan berbagai komunitas lainnya, saling bertukar manfaat dan dengan menjunjung etika untuk tidak saling mematikan bisnis-bisnis lain. Kolaborasi menjadi kata kunci yang dipakai. Kompetisi menjadi semakin tidak relevan dan ditinggalkan.

Apakah seperti ini yang dimaksud sebagai bentuk “desentralisasi pertumbuhan” dengan dukungan teknologi yang dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat seperti yang dikatakan Jokowi?

Lebih jauh lagi, desentralisasi pertumbuhan di tingkat komunitas, dan di skala usaha mikro kecil menengah, juga “memikul” niatan dan harapan dari panel tingkat tinggi WIEF 2016 yang meletakkan keragaman agama dan budaya, serta upaya penciptaan perdamaian dan solidaritas, sebagai bagian tak terpisahkan dari bangunan sistem ekonomi dan dari setiap kegiatan ekonomi. Ditambah lagi, kesadaran terhadap generasi muda yang makin kreatif, makin mudah mengakses informasi, memaksa untuk mengoreksi pengadaan lapangan kerja yang melulu mekanistis seperti yang terjadi pada buruh-buruh pabrik. Belum lagi soal keadilan dan banyaknya persoalan HAM dalam masalah perburuhan. Kini semakin tajam pertanyaan yang tertinggal: dengan pola strategi ekonomi seperti apa yang mampu memenuhi harapan-harapan indah tadi?

Hari kesatu WIEF 2016 masih menyisakan tanya besar ini. Mari berharap dalam 2 hari selanjutnya akan kita temukan potongan-potongan utama dari puzzle sistem ekonomi baru yang diidamkan banyak pihak di masa dimana warga dunia terbagi dalam “the 99% vs 1%”.

Dewi Hutabarat

Pengurus KADIN

Wakil Ketua Komisi Tetap

Ekonomi Kerakyatan dan Koperasi, dibawah Wakil Ketua Bidang UMKM Koperasi dan Ekonomi Kreatif

Categories: Dalam Pembangunan | Tags: , , , | Leave a comment

Surat Pamit Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan

Farewell Pak Anies.. I share the same hope as you.. Terima kasih ya Pak!

———-

Kepada Yth. Ibu/Bapak Guru. Kepala Sekolah. dan Tenaga Kependidikan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selama 20 bulan ini saya mendapatkan kehormatan menjalankan sebuah amanah konstitusi dan amanah dari Allah SWT untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa lewat jalur pemerintahan. 

Hari ini saya mengakhiri masa tugas di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tugas ini telah dicukupkan. Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi pada Presiden Jokowi yang telah memberikan kehormatan ini.
Tugas besar ini mendasar karena pendidikan dan kebudayaan menyangkut masa depan kita. masa depan bangsa tercinta.
Sejak bertugas di Kemendikbud. Saya meneruskan kebiasaan berkeliling ke penjuru Indonesia ke sudut-sudut Nusantara berbincang langsung dengan ribuan guru dan tenaga kependidikan. 

Saya menemukan mutiara-mutiara berkilauan di sudut-sudut tersulit Republik ini. Dinding kelas bisa reyot dan rapuh, tapi semangat guru, siswa dan orangtua tegak kokoh. Dalam berbagai kesederhanaan fasilitas sebuah PR besar Pemerintah. Saya melihat gelora keceriaan belajar yang luar biasa.
Ibu dan Bapak yang amat saya hormati. kami sebangsa menitipkan persiapan masa depan Republik ini di sekolah tampak hadir bukan saja wajah anak-anak tapi juga wajah masa depan Indonesia. Teruslah songsong anak-anak itu dengan hati dan sepenuh hati. 
Ijinkan mereka menyambut dengan hati pula. Jadikan pagi belajar pagi yang cerah. Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah. tapi mata-hati tiap anak tiap guru yang menjadikannya cerah.
Di hari terakhir saya bertugas di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ijinkan saya menyampaikan harapan kepada Ibu dan Bapak semua harapan agar perubahan dalam pendidikan terus menuju ke arah yang lebih baik.
Mari kita teguhkan komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai taman yang penuh tantangan dan menyenangkan bagi semua warga sekolah. 
Mari kita pastikan bahwa sekolah menjadi tempat di mana anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya. 

Memenuhi potensi unik dirinya dan kita jadikan sekolah sebagai sumur amal yang darinya akan mengalir pahala tanpa henti bagi lbu dan Bapak semua. 
Ibu dan Bapak teruslah bergandengan erat dengan orangtua. bersama-sama menuntun anak-anak meraih masa depannya menjawab tantangan jamannya. melamani cita-citanya.
Saya titipkan kepada Ibu dan Bapak Guru berbagai perubahan yang telah kita mulai bersama. baik dalam bentuk peraturan-peraturan baru yang mendorong ekosistem sekolah menyenangkan dan bebas dari kekerasan maupun melalui pembiasaan dan praktik baik di sekolah.

Ibu dan Bapak yang saya banggakan. 
Menteri boleh berganti. tapi ikhtiar kita semua dalam mendidik anak-anak bangsa tak boleh terhenti masih banyak pekerjaan rumah Pemerintah yang harus ditunaikan bagi guru dan tenaga pendidikan. saya percaya itu semua akan dituntaskan.

Mari kita lanjutkan perjuangan dan dukungan pada komitmen pemerintah dalam membangun sekolah menyenangkan serta jaga stamina raga, rasa dari cipta Ibu dan Bapak semua.
Ijinkan saya pamit sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. teriring rasa terima kasih juga permohonan maaf tak hingga atas segala khilaf yang ada. 

Salam hormat saya untuk Ibu dan Bapak semua dan kita teruskan ikhitiar mencerdaskan kehidupan bangsa ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (27 Juli 2016)

Categories: Dalam Pembangunan | Tags: , , | Leave a comment

Pilpres sebentar lagi, kita pilih siapa? (Sebuah renungan)

Kemarin seharian istirahat dari berita politik, badan agak demam juga. Baru hari ini baca lagi ternyata Partai Demokrat sudah resmi mendukung Prabowo-Hatta. Pak SBY – tetap konsisten dengan perilakunya yang sangat safety player dan tricky – akhirnya harus menjilat ludahnya sendiri karena batal ambil posisi netral. Entah kenapa, fakta ini memberikan saya kekuatan untuk menulis, dan kejelasan. Setelah galau cukup lama, kini mantap sudah pilihan.

Saya sesungguhnya menyukai sosok Bapak Prabowo, dan bisa merasakan adanya ketulusan dan patriotisme beliau untuk membangun negeri. Namun sayang sekali, saya dibuat takut oleh konstelasi koalisinya, yang bagi saya lebih seperti koalisi hawa nafsu para elit yang ingin mempertahankan status quo untuk melindungi kepentingannya masing-masing. Koalisi Prabowo-Hatta tempat berkumpulnya orang-orang kaya duit namun miskin rekam jejak dan prestasi dalam mensejahterakan rakyat kecil.

Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Tags: , , , , | Leave a comment

Pilpres 2014: Jokowi-JK vs Prabowo Hatta, kita pilih siapa?

Sebagai salah satu pengamat yang mencatat beberapa rapor merah pemerintahan yang sekarang – di antaranya gagalnya pencapaian target swadaya beras, gula, garam, dan kedelai; target tingkat kemiskinan 10% di 2014 juga besar kemungkinan tidak tercapai; tingkat ketimpangan yang meningkat menjadi 0.41 (koefisien gini), dan agenda pembangunan infrastruktur juga cukup banyak yang terlambat – saya menjadi peduli dengan pemilu presiden tahun ini. Jangan sampai rapor merah ini dilanjutkan di pemerintahan ke depan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menentukan pilihan secara cermat.

Oleh karena itu, mari kita membaca visi misi calon presiden RI yang sudah diunggah di website KPU. Untuk visi misi Jokowi-JK, silakan masuk ke link ini; sementara untuk Prabowo-Hatta silakan masuk ke link ini.

Diri kita pasti memiliki kecondongan masing-masing, karena persona masing-masing calon dapat memberikan kesan yang berbeda bagi orang yang berbeda. Namun, kesan itu kan umumnya bersifat emosional, kimia (chemistry), cocok ga cocok. Oleh karena itu mari kita imbangi kadar unsur emosional tersebut dengan unsur rasional berupa menyempatkan sekitar 5  jam dari hidup kita di tahun ini untuk membaca visi misi Calon Presiden. Sehingga kita tidak hanya memilih dengan perasaan, tapi juga dengan akal pikiran. Emorational. Asik ga tuh? hahaha.. ceile (#gapenting).

Saya sendiri baru baca cepat, jadi belum terlalu mengilhami secara dalam. Jadi pada kesempatan ini saya ingin sedikit berbagi dari hasil review awal saya per 26 Mei 2014.

 

Barusan saya baca cepat visi misi Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, download dari website KPU. Keduanya visi-misinya “bunyi”; dalam artian memberikan indikator-indikator yang jelas. Tapi secara umum visi Misi pak Jokowi-JK lebih lengkap dari punya pak Prabowo-Hatta. Visi Pak Jokowi-JK sudah sampai menyebutkan daftar UU yang ingin dievaluasi, sudah juga menyinggung soal target pewujudan National Single Identity Number (sebagai rakyat, saya sangat mengidamkan ini, karena pusing punya nomor KTP, no NPWP, no SIM, no Passport, yang dalam pendataannya tidak saling mengait satu sama lain). Di dokumen visi-misi Pak Prabowo-Hatta, tidak ada disinggung soal National Single Identity Number ini. Lalu,  kebijakan politik luar negerinya juga lebih lengkap, visi-misi Jokowi-JK sudah menjabarkan asosiasi-asosiasi yang ingin diikuti nanti, dan ada juga rencana untuk lebih aktif dalam usaha mereformasi lembaga internasional seperti World Bank dan IMF (wow haha xD). Bagi saya, paling menarik dari visi misi Pak Jokowi adalah soal rencana pembangunan infrastruktur untuk mendukung konsep negara maritim, pembangunan monoril+underground train dari pusat kota ke bandara dan pelabuhan, serta National Single Identity Number. Namun visi-misi pak Prabowo-Hatta juga ada yang menarik, yaitu target pertumbuhan ekonomi agresif 7-10% per tahun, target menjadikan hutang luar negeri menjadi NOL pada 2019, rencana pemindahan ibu kota, dan revolusi putih yang ingin memasok susu untuk anak-anak miskin. Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Perekonomian Indonesia Tumbuh Gemilang Tapi Timpang*

sumber foto: detik.com (Deretan tower apartemen mewah yang kontras dengan rumah gubuk yang berhimpit di tepi Danau Sunter, Jakarta Utara, seperti yang terlihat pada Senin, 21 maret 2011)

Sebagai orang Indonesia yang dalam kesehariannya cukup umum melihat tumpukan pedagang kaki lima di sekitar bangunan pencakar langit nan mewah, atau melihat perumahan super eksklusif di dekat perumahan kumuh, rasanya sulit untuk tidak bertanya-tanya mengenai ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Dunia mengakui kegemilangan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Rating obligasi negara kita naik peringkat ke level investment grade. World Investment Prospect Survey 2008-2012 pun menilai Indonesia termasuk ke dalam daftar negara top 10 yang dipandang paling menarik sebagai destinasi investasi asing (foreign direct investment).Akan tetapi, mengapa potret kemiskinan masih terlihat begitu nyata? Apakah proses pembangunan ekonomi kita saat ini sudah sesuai dengan jalurnya?

Bicara soal jalur pembangunan ekonomi, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono sesungguhnya secara visioner telah jelas mengumumkan beberapa pilar strategi pembangunan sosial ekonomi sebagai arah pembangunan nasional. Pada 2005, pilar-pilar tersebut adalah pro-job, pro-poor, dan pro-growth; sejak 2007, presiden menambahkan satu pilar lagi, yaitu pro-environment. Lebih dari 5 tahun telah berlalu sejak pencanangan pilar-pilar arah pembangunan, sudahkah pembangunan sosial ekonomi kita menunjukkan keberpihakan pada masyarakat miskin (pro-poor)? Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Uganda Dapat Mengutip Ajaran Indonesia

Foto oleh Smiley N. Pool, Houston Chronicle

Di awal tahun 2012, United Nations Population Fund mengumumkan bahwa angka kematian ibu di Uganda telah turun dari 435 angkat kematian dari setiap 100,000 kelahiran menjadi 310 dari tiap 100,000 kelahiran. Hal ini menunjukkan kemajuan yang telah dicapai Uganda dalam meminimalisir kematian yang terjadi saat wanita mengandung atau melahirkan.

Secara sekilas angka tersebut melegakan namun analisa yang lebih mendalam menunjukkan bahwa Uganda masih begitu jauh dari pemenuhan poin 5 dari Millenium Development Goal (MDG) yang mendorong negara-negara untuk mengurangi angka kematian ibu menjadi hingga setidaknya 151 kematian dari tiap 100,000 kelahiran. Bahkan menurut hasil dari Uganda Demographic Health Survey yang diadakan pada tahun 2011 angka kematian ibu naik menjadi 438 kematian dari setiap 100,000 kelahiran dari 435 kematian pada tahun 2006. Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Kualitas Modal Manusia Indonesia: Pencari, bukan Pencipta Lapangan Kerja


Indonesia kini tengah dibayang-bayangi oleh fenomena jobless growth. Setidaknya potret perekonomian Indonesia pada 5 tahun terakhir ini menunjukkan hal tersebut. Pada 2007, perekonomian Indonesia tumbuh sekitar 6,35%, sementara jumlah penduduk usia lebih dari 15 tahun yang bekerja tumbuh sekitar 4,7%. Pada 2011 ekonomi tumbuh sekitar 6,5%, namun jumlah penduduk yang bekerja hanya tumbuh sekitar 1,35%. Setelah menelisik lebih dalam mengenai fenomena tersebut, kini kita tahu bahwa sektor-sektor yang merupakan mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia bukanlah mesin penciptaan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh sektor Usaha Menengah Besar yang umumnya merupakan usaha formal, sementara lapangan kerja diciptakan oleh Usaha Mikro Kecil (UMK) yang, sayangnya, mayoritas masih merupakan usaha informal dan berorientasi self-employed, bukan generating employment. Artinya, status UMK sebagai mesin pencipta lapangan kerja lebih dikarenakan oleh faktor “pengali” atau jumlah unitnya yang luar biasa besar, sementara potensi penyerapan tenaga kerjanya sendiri sesungguhnya belum optimal.[1]

Kondisi di atas tentunya mengusik rasa ingin tahu mengenai kualitas sumber daya manusia kita, atau dalam bahasa ilmu ekonomi disebut “modal manusia” (human capital). Sebelum membahas lebih dalam mengenai potret kualitas modal manusia Indonesia, ada baiknya kita mengenal kerangka teoretis dari modal manusia dalam pembangunan ekonomi. Adapun dalam literatur ilmu ekonomi, konsep modal manusia merupakan pengembangan dalam konsep fungsi produksi yang pada awalnya hanya dijelaskan oleh dua faktor utama, yaitu Modal (Capital) dan Tenaga Kerja (Labor). Namun, sejalan dengan perkembangan pemikiran ekonomi terkait cakupan barang dan jasa, maka konsep capital pun turut mengalami perkembangan. Jones (1996) memaparkan bahwa suatu perekonomian menghasilkan 3 jenis barang dan jasa, yaitu barang konsumsi (consumption good atau “output”)[2]pengalaman dan keterampilan, yang dipandang sebagai bagian dari barang modal, yaitu varian barang modal manusia; dan ide, yang dipandang sebagai varian baru dalam rumpun barang modal, yaitu barang modal setengah jadi (intermediate capital goods). Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Usaha Kecil yang Berperan Besar

Shakespeare pernah berkata, “Apalah arti sebuah nama, karena jika pun kita menyebut bunga mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap sama.” Jika diletakkan dalam konteks perekonomian, mungkin dapat dianalogikan seperti ini, “Apalah arti sebuah label usaha mikro, kecil, menengah, atau besar, karena pada akhirnya, yang lebih penting adalah bagaimana perannya bagi perekonomian.”

Menjadi suatu bagian dari perekonomian yang pertumbuhannya belum begitu berhasil menciptakan lapangan kerja, serta aktivitasnya masih didominasi oleh sektor informal, rasanya sulit untuk tidak bertanya: bagaimana kisah di balik tingkat pengangguran yang hanya sekitar 6.8% (BPS, 2011)? Tingkat tersebut memang bukan “hanya” jika dibandingkan dengan Malaysia, yang pendapatan per kapitanya sekitar 3 kali pendapatan per kapita Indonesia, dan hanya menyisakan sekitar 3.3% penganggur dari total angkatan kerjanya. Namun jika dibandingkan dengan Arab Saudi yang pendapatan per kapitanya sekitar 5 kali dari Indonesia dan masih menyisakan sekitar 10.9% penganggur; atau dengan Brazil yang pendapatan per kapitanya sekitar 2.5 kali dari Indonesia dan juga masih menyisakan sekitar 6% penganggur, membuat tidak salah rasanya jika angka tingkat pengangguran Indonesia yang sebesar 6.8% tersebut dibubuhi dengan kata “hanya”.[1] Pertanyaannya: bagaimana bisa? Potret berikut menawarkan jawabannya. Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Inefektifitas Upah Minimum Regional: Sebuah Potret Geliat Sektor Informal di Perekonomian Indonesia

Sebagai perekonomian yang tengah dilanda fenomena jobless growth, Indonesia dapat dikatakan tengah menghadapi dilema, yaitu dilema antara memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan pekerja untuk mendapatkan upah yang sesuai. Hal mana yang sebenarnya lebih harus diprioritaskan?

Upah Minimum Regional (UMR) tahun 2012 untuk DKI Jakarta, misalnya, adalah sekitar Rp 1,53 juta/bulan; sementara UMR Kota Depok adalah sekitar Rp 1,43 juta/bulan. Tapi jika secara acak kita bertanya pada pramusaji di beberapa rumah makan, atau mungkin office boy atau cleaning service di perkantoran Jakarta maupun Depok, mengenai besaran gaji mereka, besar kemungkinan kita akan mendapatkan nominal yang lebih rendah dari angka UMR tersebut. Seorang karyawan percobaan di sebuah tempat fotokopi di Depok, misalnya, menurut pengakuannya kepada penulis, diupah sebesar Rp 500 ribu/bulan. Padahal, Undang-Undang No. 13 tentang Ketenagakerjaan pasal 60 dengan jelas menyatakan bahwa: dalam masa percobaan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pengusaha dilarang membayar upah di bawah upah minimum yang berlaku.

Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Pertumbuhan Ekonomi Belum Ciptakan Tenaga Kerja

Di tengah kelamnya kondisi perekonomian global lima tahun terakhir, Indonesia justru merupakan salah satu negara yang perekonomiannya kokoh menurut penilaian dunia internasional. Bagaimana tidak, ketika Amerika Serikat membukukan resesi berupa pertumbuhan ekonomi -2.4% pada 2009, Uni Eropa (27 negara) sekitar -4.5%, dan Singapura -1%, Indonesia masih mampu membukukan pertumbuhan ekonomi positif sekitar 4.6%. Peningkatan rating obligasi jangka panjang Indonesia menjadi Investment Grade pun dikantongi Indonesia pada 2011 mengikuti sentimen positif dunia atas kondisi perekonomian Indonesia tersebut. Suatu peristiwa yang patut disyukuri memang, tetapi apakah sudah layak dibanggakan?

Manakala fokus perhatian diletakkan pada pendapatan nasional, tentu pencapaian tersebut pantas dibanggakan. Tidak mudah mencapai pertumbuhan ekonomi positif di tengah perekonomian global yang tengah krisis. Namun, jika fokus perhatian diletakkan pada dampak peningkatan pendapatan pada penciptaan lapangan kerja, kesimpulannya akan berbeda karena pada lima tahun terakhir ini, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap penciptaan lapangan kerja justru menunjukkan tren penurunan.

Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi dan Penduduk Bekerja Indonesia (2007-2011)

Sumber: BPS, diolah penulis (2012)

Continue reading

Categories: Dalam Pembangunan | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.