Mengapa Dunia Begitu Meresahkan?

Di tengah era krisis ekonomi dunia saat ini (khususnya Amerika Serikat dan Eropa), dunia terasa meresahkan. Beberapa kali saya bertanya kepada kolega dan teman, kebanyakan mengamini bahwa kondisi dunia saat ini meresahkan. Termasuk ayah saya, beliau  juga menjawab bahwa kondisi dunia saat ini meresahkan. Menurut ayah, dunia meresahkan karena kerakusan manusia; bukan hanya kondisi manusianya, kondisi alam pun meresahkan, karena bencana alam semakin sering dan penyakit-penyakit baru juga bermunculan. Beliau lalu menambahkan (okeh, papa sepertinya ga bisa menahan diri untuk terus berpidato), bahwa kondisi alam yang semakin mengkhawatirkan pada dasarnya  juga disebabkan oleh kerakusan manusia. Manusia sudah keluar dari khitahnya, yaitu sebagai makhluk berakal paling sempurna yang pada hakikatnya merupakan perpanjangan tangan Tuhan dalam menjaga bumi dan manusia. Oke pap, cukup, cukup.  Continue reading “Mengapa Dunia Begitu Meresahkan?”

Kantor Kementerian di Brazil

Kantor Kementerian di Brazil, berada di suatu komplek yang masih sepi, tersusun rapi dengan gaya arsitektur bangunan yang sama. Enak banget pasti proses koordinasi-nya, karena untuk bertemu dan rapat tidak perlu kena macet, dengan sepeda pun semuanya bisa saling mengunjungi.. kalau begini koordinasi dan sinergi antara kementeriannya mestinya lebih bagus yah.. this is just simply cool! Jadi kepikiran, mengapa Indonesia begitu takut memindahkan ibukota.. asal perencanaan dan implementasi baik, harusnya bisa.. Jakarta is overload.. don’t u think?

Earth without Art is…?

Simply agree 100% and love the quote!

Tiba-tiba merasa bersyukur di dunia ini ada yang namanya “seni”. Berikut lirik lagu “seni”  karya Guruh Soekarno Putra. Terima kasih para seniman, kehadiranmu telah memperindah hidupku, duniaku! 🙂

SENI

Oleh: Guruh Soekarno Putra 

Dipopulerkan Oleh: Chrisye

Mengapa kau meremehkan kesenian

dan kau menganggap para seniman itu pemimpi

Sebelum kau menyadarinya

Hentikan dulu lagu ini, dan pergilah

Hiburlah dirimu bersama kehampaan

Ingin kukatakan tentang makna seni

Namun kemunafikan tidak mungkin memahami

Hanyalah dengan kejujuran

Serta keluhuran pekerti, kau dapati

Insan berteduh di naungan seni

Reff.

(Kesenian) kekuatan maha sakti

(Kesenian) Ciptaan Yang Mahasuci

(Kesenian) Bersemayam di peraduan naluri

Oh…  Warnai wajah budaya

Melalui cipta sang pujangga aa…

Dunia hampa tanpa seni dan seniman

Menonton Sirkus Mini ala Indonesia: Topeng Monyet

Pertunjukkan topeng monyet tercatat mulai umum di tengah masyarakat Indonesia sejak akhir abad-19 (sekitar tahun 1890). Satu abad telah berlalu, namun topeng monyet masih dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia hingga kini. Bahkan di tengah kota megapolitan Jakarta. Memang terdapat selentingan, khususnya dari kalangan pencinta binatang, bahwa tradisi topeng monyet adalah tidak baik karena menyiksa para monyet dengan memaksa mereka latihan, kesan tersebut diperkuat dengan dirantainya monyet tersebut. Continue reading “Menonton Sirkus Mini ala Indonesia: Topeng Monyet”

Karya Mahasiswa: “On Poverty”

Pada semester ini kelas Ekonomi Kemiskinan turut dibuka dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Hal ini terkait kurikulum yang mewajibkan mahasiswa setidaknya mengambil 18 SKS mata kuliah yang diantar dengan Bahasa Inggris. Kelas Ekonomi Kemiskinan dalam konteks ini pun menjadi Economics of Poverty. Terkait dengan rangkaian kegiatan perkuliahan, kami melakukan kunjungan lapangan ke Koperasi Kasih Indonesia – koperasi simpan pinjam bagi masyarakat miskin di daerah Cilincing Jakarta Utara – yang digagas oleh Leonardo Kamilius, alumni FEUI angkatan 2004. Setelah kunjungan tersebut, mahasiswa diminta membuat essay mengenai “What is Poverty?” dan “How do you see it?”. Berikut adalah essay terbaik yang ditulis oleh Aria Gita Indira dengan judul “On Poverty”.

Adapun untuk cerita lengkap mengenai kunjungantersebut dapat  dibaca pada link berikut: https://salamduajari.com/2012/03/23/perjalanan-memahami-fenomena-kemiskinan/.

Continue reading “Karya Mahasiswa: “On Poverty””

Mengapa kita begitu cuek? – bagian 1

Foto ini diambil tepatnya pada 8 Maret 2012, di lingkungan kampus FEUI, Depok. Apa yang menarik dari foto ini?

Sebagai pihak yang sangat merasa “terganggu” dan menilai  cara pandang “buang sampah sembarangan itu tidak apa-apa karena nanti diambil oleh petugas kebersihan atau pemulung” yang masih membudaya di Indonesia tersebut sebagai budaya yang udik, tentu salamduajari merasa sangat kecewa melihat hal ini. Mengapa?

  1. Di lingkungan FEUI sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia saja masih terdapat warga yang bermental udik, lantas apa yang bisa diharapkan pada masyarakat Indonesia secara luas yang kebanyakan bertingkat pendidikan rendah?
  2. Kalau ternyata si pelaku tindakan udik tersebut bukanlah warga FEUI, misalnya tamu atau masyarakat sekitar yang memasuki kampus, tetap saja hal ini mengecewakan. Mengapa? Maka berarti warga FEUI sendiri masih memiliki sifat cuek terhadap lingkungannya, “yang buang bukan saya, mengapa harus saya yang memungutnya?”. Sampah tersebut hanyalah berupa gelas plastik, tak dibutuhkan kerja bakti untuk mengangkutnya, cukup dengan sedikit membungkuk lalu gunakan salah satu tangan untuk mengambilnya. Mudah sekali. Namun tampaknya hal tersebut  masih terasa sulit bagi kita.

Mengapa, ya, kita begitu cuek? Untuk perbandingan, berikut foto-foto yang diambil dari statiun kereta layang (skytrain) di Bangkok. Salam damai selalu.

Dapatkah kita melihat ketersediaan banyak tong sampah pada kedua gambar ini? Dapat pulakah kita melihat sampah yang terserak? Sekedar kudapan untuk renungan kita (just food for thoughts)

peresmian putus hubungan dengan kartu kredit

Jika kehadiran suatu produk dalam kehidupan mulai mengesalkan daripada memudahkan, menambah beban pikiran dari pada meringankan, itu artinya tandanya diperlukan pemutusan hubungan dengan produk tersebut. Hal itu baru saja saya lakukan. Resmi sudah putus hubungan dengan kartu kredit. Untuk saat ini sepertinya cukup satu saja. Kalau orang-orang yang kartu kreditnya bisa 5-10 biji tuh buat apa, ya, kira-kira?