Save MASTER

Tulisan berikut diambil dari profil Kita Bisa Save MASTER Indonesia dimana proyek tersebut menggalang dana bersifat crowdfunding untuk membangun ulang sekolah gratis Master Depok yang rencananya akan digusur.


Sekolah MASTER (Masjid Terminal) sudah bertahun-tahun membina anak jalanan menjadi siswa berprestasi bahkan beberapa mendapat beasiswa PTN. Kini MASTER akan direlokasi karena pembangunan terminal terpadu. Bantu anak2 mendapatkan tempat belajar baru.
Setelah mencuatnya isu penggusuran Sekolah Master akhir-akhir ini dimedia sosial, akhirnya Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail angkat bicara. Pernyataan beliau disampaikan saat Walikota melakukan kunjungan ke Sekolah Master dalam rangka mengisi acara “Ruang Kita” yang disiarkan TvOne di Sekolah Master hari Kamis, 18 Juli 2013. Beliau menjamin bahwa sekolah Master tidak akan digusur. Beliau juga menegaskan bahwa Sekolah Master akan tetap berdiri dan dipertahankan.

Ya, besar harapan kita pernyataan Walikota Depok benar-benar dipertanggungjawabkan. Hari Senin, tanggal 22 Juli kami dari tim #SaveMaster melakukan audiensi langsung dengan Walikota Depok untuk mengeluarkan pernyataan resmi tertulis tentang jaminan tersebut. Pembangunan masjid dan asrama putra yang saat ini dilakukan di Sekolah Master tetap berlangsung. Oleh karena itu Master masih menerima donasi untuk mendukung serta membantu pembangunan fasilitas ini.

“Dengan adanya Sekolah Master, tidak ada lagi yang namanya anak-anak putus sekolah. Terima Kasih Master telah membantu saya sampai ke jenjang yg setinggi ini. Semoga ke depannya semakin banyak mencetak lulusan-lulusan yg sukses.” (Mohamad Irvanior, Sejarah Universitas Diponegoro 2012) Continue reading “Save MASTER”

Laki-laki dan Perempuan itu… #1

Man and Woman (Edvard Munch) - diambil dari www.wikipaintings.org
Man and Woman (Edvard Munch) – diambil dari http://www.wikipaintings.org

Kutipan ini saya dapat dari seorang kolega, seorang pegawai negeri berdedikasi,  yang saya hormati. Bagi saya apa yang beliau ucapkan kepada saya pada pagi itu cukup menarik (bukan berarti saya setuju, ya), jadi ingin saya bagi. Ceritanya pada pagi itu saya tampil lebih rapi dari biasanya karena akan presentasi di depan Bapak Direktur di suatu kementerian. Menurut beliau, kecenderungan laki-laki dan perempuan adalah seperti berikut ini.

Wah, dandan dia hari ini. Gapapa, memang begitu adanya. Kalau laki-laki itu kan indra utamanya penglihatan, makanya perempuan itu senang berdandan untuk nyenengin laki-laki. Nah, kalau perempuan pendengaran, makanya laki-laki itu senang memuji untuk nyenengin perempuan. Cocok tho…”

Bagaimana pendapat anda? 🙂

Mengapa Tuhan membiarkan kita bersedih

"Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan" (Al-Quran, An-Nashr, ayat 6)
“Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan” (Al-Quran, An-Nashr, ayat 6)

Ada siang ada malam, ada gelap ada terang, ada sedih ada senang. Sepertinya semua sudah di konsep berpasang-pasangan. Namun ketika kita tengah kecewa dengan suatu keadaan, seakan-akan rasanya suliiiiiit sekali melihat sisi terang. Dunia seakan-akan dipenuhi oleh kegelapan dan hanya kegelapan. Kalau pun ada terang, seakan terang itu hanya membuat silau sehingga sama saja, kita tak mampu melihat dengan jernih.

Salamduajari minta maaf karena sudah cukup lama tidak menulis lagi. Akhirnya hari ini bisa isi tulisan lagi, karena memang hari ini terjadidiskusi yang cukup penting antara dua insan pemimpi, dan salamduajari diperkenankan untuk publish dialog yang terjadi, selama tokoh yang berdialog disamarkan identitasnya. Intinya, dialog ini terjadi antara dua insan pemimpi, karena mereka bercita-cita agar bumi dapat menjadi rumah yang lebih adil bagi seluruh warganya, dari tumbuhan, binatang, sampai manusia. Yang satu jauh lebih junior dari yang satunya lagi, dan si junior ini tengah lelah dengan tidak mudahnya jalan yang tengah dihadapi, dan mulai jengah dan bertanya-tanya sendiri “ada apa dengan negeri ini, mengapa mau berbuat baik saja sangat sulit?”. Kegundahan ini yang kemudian memancing diskusi antara si junior dan senior. Berikut potongan diskusinya, mudah-mudahan ada ilham yang dapat dipetik 🙂

Junior:
Saya heran mengapa begitu banyak orang tidak mengungkapkan ketidaksetujuannya kepada atasan, padahal mereka tahu betul bahwa apa yang direncanakan atasannya itu tidak tepat, karena ada jalan yang lebih baik.
Aku cape dikasi support moral diluar forum, tapi begitu di forum resmi pada diem semua, cari aman. Kapan kita bergerak maju klo gini terus Kak?

Senior:
Mungkin mereka bingung soal bagaimana berhadapan dengan konsekuensinya. Kalo gw dukung, lo malah jd lebih maju dari gw? Mungkin pertanyaan2 itu menghantui mereka. Kalo mereka resmi dukung kita, kita melesat, mereka disitu-situ aja, ga ada untungnya buat mereka.

Junior:
Life oh life ya kak..

Senior:
Ya itulah, perjuangan dibuat Tuhan tak pernah selesai karena merupakan bahan evaluasi ikhtiar kita. Banyak orang berbuat bukan untuk kontribusi yg bisa diberikan melalui perbuatan itu sendiri, melainkan lebih ke untuk CV mereka saja, supaya bisia jual diri ke level yg lebih tinggi. Yang memilukan, orang yang melakukan itu tidak merasa salah. Perilaku seperti itu sudah seperti lumrah saja.

Junior:
Kita ga boleh patah semangat ya Kak?
Though sometimes I wonder on where He actually is..
Sometimes I feel He left us alone
Mungkin aku lagi lelah sama these unnecessary and annoying facts on how human behave in general kak

Senior:
He is not seen but you can feel it, like the wind you can not see but you can feel it. God is far if you think he is in a distant, be actually God is exist in every cell of your body.
You can feel it if you try hard. If you are tired, take a rest and try again
Continue reading “Mengapa Tuhan membiarkan kita bersedih”

Kreatifitas Rakyat Endonesa!

Sebelumnya salamduajari pernah menulis tentang peribahasa, namun pada tulisan tersebut yang dibagi adalah beberapa peribahasa dari Jerman, Italia, dan Jawa. Nah, bagaimana dengan peribahasa Indonesia? Beberapa yang umum kita dengarkan adalah “tiada rotan, akar pun jadi”; atau kalau yang serupa tapi tak sama, ada pepatah melayu yang berbunyi “Apa yang kurang pada belida, sisik ada tulang pun ada”. Konon bagaimana bunyi peribahasa dapat menggambarkan karakteristik masyarakatnya. Berhubung kedua pepatah tersebut berasal dari Indonesia, maka  melalui bunyi-bunyi peribahasanya, mungkin orang Indonesia adalah orang-orang yang secara umum mudah bersyukur, atau bukan orang yang sulit untuk dibuat merasa cukup, atau cukup kreatif dalam memanfaatkan apa yang ada seoptimal mungkin? Well, kadang kayanya dicukup-cukupin, juga sih. Eh, apa itu  perasaan gw aja, ya? Jangan-jangan mereka memang benar-benar merasa cukup, karena memang menganut kata pepatah itu, “tiada rotan, akar pun jadi”. Ya, jangan-jangan mereka memang merasa cukup, walau pun harus melakukan ini:

IMG-20130115-potret rakyat
potret kreatifitas orang Endonesa! 🙂

Jujur, saya jadi bingung mesti seneng apa sedih ngeliat gambar ini.. anyway.. semoga mereka bahagia, dan semoga kamu-kamu juga. HAVE A NICE WEEKEND! (DM)

Cara berpikir atau cara pandangnya yang salah?

oh, really?
oh, really?

Dalam suatu mata kuliah pembangunan karakter terdapat beberapa  sesi yang  membahas tentang silogisme , yaitu metode penalaran deduktif yang menurunkan suatu kesimpulan khusus dari dua premis atau proposisi yang bersifat lebih umum. Saya ingin bercerita tentang salah satu sesi tentang silogisme tersebut. Saya lupa tepatnya kapan sesi itu terjadi (yang pasti pada semester ke-2 tahun 2012), yang pasti sebelumnya  mahasiswa telah diminta menonton sebuah film  dan menemukan kesalahan penalaran pada beberapa tokoh yang ada pada film tersebut. Dalam kelompok  mereka berdiskusi dan kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Sejujurnya saya sudah agak lupa dengan silogisme-silogisme yang kami bahas hari itu,  saya bahkan lupa film-nya apa, tapi ada 1 yang masih melekat karena membuat saya ingin menulis artikel ini, yaitu  yang berkaitan dengan silogisme  si Ayah yang mengkhawatirkan masa depan anak putrinya (let say namanya Danita)  jika menikah dengan pria yang hanya merupakan lulusan perguruan tinggi di dalam negeri. Adapun putrinya sendiri baru saja pulang dari luar negeri. Sekali lagi mohon tempatkan fokus Anda pada pesan yang tersirat dari tulisan ini, karena saya sudah lupa dengan persis ceritanya, jadi mungkin tulisan ini berkategori inspired by true story, bukan based on true story. Anyway, kira-kira  salah satu silogisme  yang dipresentasikan oleh beberapa kelompok hari itu adalah seperti ini:

Premis mayor: Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang  menjanjikan

Premis minor: Ajie (tokoh utama pria, nama buatan karena lupa nama aslinya siapa) bukan lulusan luar negeri

Kesimpulan: Aji memiliki masa depan yang tidak menjanjikan.

Intinya adalah, mahasiswa menilai ada yang salah pada cara berpikir atau proses penalaran pada Ayah Danita. Lalu saya bertanya lagi kepada mahasiswa untuk menanggapi silogisme orang tua Danita yang telah dipaparkan.  Jika memang premis mayor dan minornya seperti di atas, di mana letak tidak logisnya orang tua Danita? Karena bagi saya, kesimpulan yang diturunkan sudah konsisten dan sejalan dengan induknya (premis-premisnya). Saya lalu beri contoh silogisme yang kurang tepat atau mengandung sesat pikir:

Premis mayor: Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang  menjanjikan

Premis minor: Ajie bukan lulusan luar negeri

Kesimpulan:  Ajie tidak becus —> disini terdapat lompatan pemikiran disini, sehingga tidak ada kaitan langsung antara kesimpulan induk (premis) dan kesimpulan turunannya.

Continue reading “Cara berpikir atau cara pandangnya yang salah?”

Sebenarnya apakah tujuan hidup kita?

dalai lama
Setelah kami ulik-ulik lagi di internet, ternyata kutipan di potongan komik ini merupakan hoax (informasi tidak valid yang banyak beredar di internet) dan sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh sang Dalai Lama sendiri, tapi karena pesannya bagus, kami tetap post komik ini.

Di perjalanan kehidupan kita sering terbawa arus sehingga lupa dengan tujuan awal. Sebenarnya kita bekerja untuk uang atau untuk mendukung kehidupan? Uang itu tujuan atau sekedar alat untuk mencapai tujuan kehidupan? Sebenarnya kita belajar untuk mengumpulkan nilai tinggi atau menuntut ilmu? Selamat menikmati komik ini, salam damai selalu, salam dua jari!

Komik diatas diambil dari zenpencils.