Category: Inspirasi

Seminar Koperasi untuk Pembangunan Berkelanjutan di FEB UI

senang melihat meningkatnya perhatian FEB UI terhadap perkoperasian di Indonesia.
Hari ini RPM FEB UI menyelenggarakan seminar dalam rangka peringatan Hari Koperasi Internasional (21 Juli) dan Hari Koperasi Nasional (12 Juli), dengan tema “Cooperatives for Suistanable Future”

Rabu, 27 Juli 2016, pkl 09.00-13.00, bertempat di Aula MMUI Jakarta

Acara ini dibuka oleh Bapak Dekan FEB UI, Prof. Ari Kuncoro, dengan pembicara Ibu Dewi Meisari (Dosen Koperasi FEB UI), Bp. Munaldus Nerang (Ketua Induk Koperasi Usaha Rakyat), dan Ibu Anjani Amitya Kirana (Tenaga Profesioal BNP2TKI), dg moderator Bp. Abdillah Ahsan (Dosen Koperasi FEB UI, penggagas dan koordinator acara hari ini).

Sebagai bentuk inisiasi dari Tim Dosen Koperasi FEB UI, acara hari ini alhamdulillaah berjalan lancar. Peserta yang hadir di atas prediksi dan berasal dari berbagai layar belakang, baik akademisi, praktisi, maupun media. Hanya perwakilan dari pengambil kebijakan – khususnya Kementerian Koperasi dan UKM – yang tidak hadir. Tapi seluruh peserta tampak antusias dan berharap agar FEB UI dapat terus menyelenggarakan acara seperti hari ini, tidak hanya untuk menambah wawasan tp juga untuk membangun Kerekatan hubungan (social capital) antara praktisi dan penggiat koperasi, sehingga bisa berkolaborasi untuk melakukan hal yang lebih besar di kemudian hari.


Dari pertemuan hari ini ada beberapa kesimpulan utama:

1. Koperasi berpotensi untuk menjadi solusi dalam pembangunan berkualitas yang disertai pemerataan. Terdapat pola bahwa di negara2 yg koperasinya maju, tingkat ketimpangan (koefisien gini) rendah. Kasus menonjol adalah Perancis yang koefisien gini-nya sekitar 0.3 (rendah), dan gabungan omset dari 48 koperasi terbesar disana saja sudah setara dengan sekitar 17% PDB Perancis.

2. Praktisi koperasi perlu sesekali keluar dari rutinitas mengurus kegiatan dan kepentingan anggotanya saja, yaitu dengan terus mengikuti perkembangan dunia bisnis, sehingga bisa mengelola koperasinya dengan helikopter view juga.

3. Mengelola kebutuhan TKI secara end-to-end sangat diperlukan dan koperasi adalah bentuk kelembagaan yang tepat untuk itu, agar calon TKI tidak perlu lagi berhutang ke rentenir untuk bisa berangkat ke negara tujuan, dan agar dana remitansinya yang per akhir 2015 ini sekitar USD 9.5 milyar atau Rp 120 triliun juga bisa lebih dimanfaatkan untuk kegiatan produktif di daerah asalnya masing-masing. Sehingga TKI tidak hanya bisa menjadi pahlawan devisa, tapi juga bisa menjadi pahlawan Desa

4. Konglomerasi sosial dapat dikembangkan melalui koperasi dengan mengembangkan koperasi sebagai semacam holding yang memiliki berbagai unit usaha yang kegiatan bisnisnya bergerak di bidang-bidang yang dibutuhkan anggota. Contohnya adalah Koperasi Kredit (CU) Keling Kumang di Kalimantan Barat yang memiliki SMK untuk tempat sekolah anak-anak anggota, unit usaha bidang pengelolaan pemakaman, toserba modern, dan unit usaha pembiayaan sepeda motor.

5. Pesan dekan, ke depan semoga pengajaran koperasi tidak mentok dikelola dengan metode ceramah, presentasi kelompok, dan kunjungan lapangan saja; tapi juga ada FGD, studi kasus, dan role play.

Hari ini adalah suatu langkah nyata kecil dari kami. Insya Allah acara seperti ini bisa diselenggarakan lebih sering di kampus, sehingga bisa memberi dampak yang lebih nyata bagi perkembangan koperasi di Indonesia. Kalau mengutip kata Mas Abdillah, semoga kita tidak hanya menjadi “ustadz” (yang urusannya selesai hanya sampai menyampaikan apa yang baik), tapi juga menjadi “advocate” (yang urusannya tidak selesai pada menyampaikan saja, tapi juga memantau dan mendampingi sampai perubahan positif yang diharapkan terjadi).

Advertisements

Berdoa dan Usaha

Salamduajari, Depok – Berdoa dan usaha, atu ora et labora sudah menjadi mantera kehidupan saya sejak lama. Tak sah memang rasanya jika proses usaha untuk meraih cita-cita tidak disertai doa. Apalagi sebaliknya.

Hari ini ke kantor MNC Tower untuk talkshow di MNC Business, membicarakan soal dampak kenaikan listrik nanti bagi UKM dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Lalu di dalam lobi kantornya saya melihat pemandangan ini. “Ya, ini hari Jumat”, dalam hati. Jadi merasa diingatkan lagi: ora et labora. Semoga cita-cita kawan-kawan salamduajari tercapai! Amiiin. Oh ya, happy weekend!

image

Sudut Pandang: what we think, what we become

 

apapun bisa dicelaHari ini seseorang, yang merupakan sosok guru dan sahabat bagi saya, mengirimkan gambar ini. Bagi saya menarik sekali. Kalau dicari, kesalahan pasti akan ada saja. Tergantung mau pakai sudut pandang yang mana. Saya jadi mikir, sepertinya saya termasuk orang yang meyakini bahwa bukan “sesuatu (peristiwa, kondisi, status, atau situasi)” yang menentukan nasib kita, melainkan cara kita “memandang dan menangani sesuatu” lah yang menentukan.

Jadi, karena kita dapat memilih dan menentukan sudut pandang apa yang akan digunakan dalam memandang sesuatu, maka saya percaya bahwa konsep nasib itu lebih bersifat self-determined (utamanya ditentukan oleh diri kita sendiri). Dengan demikian, nasib jelas berbeda dengan konsep takdir, yang lebih bersifat externally-determined atau given (utamanya ditentukan oleh hal-hal diluar kuasa atau rencana kita sendiri, atau sudah dari sananya).

Dari contoh gambar di atas, dapat diinterpretasikan: mungkin sudah takdir saya untuk melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang naik keledai dan berlalu di hadapan saya. Tapi adalah nasib saya untuk merasa terganggu oleh perasaan kasihan terhadap keledai. Karena sesungguhnya saya bisa saja tidak merasa terganggu, jika saya memilih untuk tidak memberi penilaian apapun (cuek), karena saya tidak mengerti apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan oleh laki-laki, perempuan, atau kedelai tersebut. So why be bothered?

Continue reading “Sudut Pandang: what we think, what we become”

Inspirasi Perempuan Hari Ini, untuk Masa Depan Bangsa

RA KartiniDepok, 21 April 2014 – Pada hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk berbagi di suatu forum yang hebat. Hebat karena forumnya diadakan di suatu restoran sederhana di bilangan Condet, Jakarta Timur. Selain itu, forum itu hebat karena dihadiri oleh cukup banyak wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi. Belum selesai. Forum itu juga hebat karena dihadiri oleh adik-adik mahasiswa, generasi penerus bangsa. Adapun yang paling membuat forum itu hebat adalah tema yang diusungnya, yaitu “Inspirasi Perempuan Hari ini, untuk Masa Depan Bangsa”. Siang itu, saya merasa bahagia karena di suatu tempat yang sederhana, terdapat nuansa kepedulian yang besar pada masa depan bangsa. Bersama mba Maretta – co founder Lazuli Sarae, perintis aplikasi batik kontemporer di bahan denim – dan dipandu oleh mba Aulia Gurdi yang mengaku sebagai emak-emak blogger, kami berbincang santai dan akrab soal perkembangan emansipasi perempuan dan peran aktif kaum perempuan dalam dunia usaha. Dari diskusi sekitar 2 jam itu tentu banyak sekali yang dibahas namun saya coba rangkum beberapa hal lewat tulisan ini ya..

Perbedaan Laki-laki dan Perempuan dalam Berbisnis

Dulu, Ibu Nining Soesilo selaku pendiri dan mantan kepala UKM Center FEUI pernah bercerita kepada saya sepulang beliau dari suatu konferensi kewirausahaan di Inggris. Beliau bilang ada salah satu narasumber (maaf saya lupa namanya) yang mengatakan bahwa bedanya laki-laki dan perempuan dalam berbisnis dapat dipadatkan menjadi 2 huruf saja, yaitu P dan L. Hanya saja, bedanya P&L untuk laki-laki adalah Profit and Loss, sementara untuk perempuan adalah Peace and Love 🙂

Continue reading “Inspirasi Perempuan Hari Ini, untuk Masa Depan Bangsa”

Capres Alternatif: Jalan Tengah untuk Dua Kubu Capres 2014

Memang betul kita butuh pilih Presiden yang tepat untuk Indonesia saat ini. Memang betul kita butuh menyeimbangkan pertimbangan emosional dengan pertimbangan rasional kita. Memang betul kita hanya punya dua kubu capres pada 2014 ini. Namun, tidak betul kalau pilihan kita hanya terbatas pada dua kubu tersebut. Dengan mendorong kreatifitas, kita bisa hadirkan alternatif baru, sehingga pilihan kita tidak hanya terbatas pada dua saja. Hal inilah yang sudah dibuktikan oleh Calon Presiden alternatif baru, yang menawarkan jalan tengah diantara dua kubu Capres yang tersedia saat ini. Kreatifitas Cak Lontong dan Komeng memang ga ada matinya. Di tengah dinamika tinggi yang dihadapi bangsa saat ini, mereka masih sempat berpikir dan menawarkan solusi untuk negeri.

 

Sumber: dari Facebook group Dosen Indonesia
Sumber: dari Facebook group Dosen Indonesia

Capres & cawapres alternatif RI,:

Nasehat dari cak lontong…

● Berhentilah menuntut ilmu, karena ilmu tidak bersalah.
● Jangan membalas budi karena belum tentu budi yang melakukannya.
● Jangan mengarungi lautan, karena karung lebih cocok untuk beras.
● Berhenti juga menimba ilmu, karena ilmu tidak ada di dalam sumur
● Yang paling penting, jangan lupa daratan, karena kalau lupa daratan akan tinggal dimana…???
● Jangan ngurusin orang karena belum tentu orang itu pengen kurus.
● Dan janganlah bangga menjadi atasan. Karena di Pasar Baru atasan 10rb dapat 3 

Dari Indonesia menuju Nusantara

Pak Arkand di Kick Andi
Pak Arkand di Kick Andi

Kali ini ada wacana menarik namun cukup nakal dari salah satu narasumber Kick Andy, yaitu Pak Arkand Bodhana Zeshaprajna alias Emmanuel Alexander yang katanya adalah pakar nama dan waktu. Beliau meletakkan gelar Dr alias Doktor didepan namanya, yang beliau dapat dari University of Methapysics di Amerika Serikat. Jujur waktu saya berkunjung ke websitenya, agak serem sih haha. Anyway, kampusnya ternyata menyediakan paket distant learning seperti Universitas Terbuka di Indonesia. Lantas, apa wacana yang dilempar pak Arkand? Ini dia kira-kira. Diambil dari status facebook saya pada 4 April. Soal percaya ga percaya, suka ga suka, terserah diri kita masing-masing ya. Kalau saya jujur senang untuk iseng saja 🙂

“Pendapat pak arkand – seorang konsultan nama dan waktu- di Kick Andy merekomendasikan agar Indonesia berganti nama menjadi Nusantara, karena struktur nama Indonesia tidak baik dan menurut hitungan beliau, tahun 2020 adalah momentum terjadinya pecah belah di bumi Indonesia. Struktur nama Nusantara, menurut beliau lebih baik. Ntah kenapa saya suka dengan nama NUSANTARA. Negara Kesatuan Republik Nusantara, bisa disingkat jadi Negara KeReN.


Nanti mungkin kampus tempat saya berkarya akan berubah menjadi Universitas Nusantara, 

lagu kebangsaan pun akan berubah menjadi “Nusantara Raya, merdeka merdeka”.

Indonesian Idol akan menjadi Nusantara Idol. 

Bank Rakyat Indonesia jadi Bank Rakyat Nusantara (disingkat BRN). 

Bank Negara Indonesia jadi Bank Negara Nusantara (disingkat BNN, nah ini akan sengketa dengan Badan Narkotika Nasional, jadi mungkin harus diganti namanya jadi Badan Anti-Narkotika Nusantara, disingkat jadi BANN). 

Tenaga Kerja Indonesia akan jadi Tenaga Kerja Nusantara. Cuma kan TKI kita di Malaysia kan sering disebut “orang endon”, nah nanti kalo jadi Nusantara, mereka sebut TKN apa ya? “Orang nusan” atau “orang neson”? Mudah-mudahan bisa disebut orang nusantara aja.” (DM)