Author: salamduajari

Analisis Lagu “Meraih Bintang”: Lirik adalah Kekuatan Doa

Depok, 1 September 2018 – Tak terasa Asian Games 2018 sebentar lagi tiba di penghujung perhelatan, dimana besok akan menjadi hari penutupannya. Dibuka dengan suatu pertunjukan pembukaan yang SPEKTAKULER, DAHSYAT, TAK TERLUPAKAN, MEMBANGGAKAN, entah kata apa lagi yang bisa saya gunakan, Indonesia berhasil mencuri perhatian dunia dan semacam menetapkan posisi yang jelas “Selamat datang di Indonesia – sebuah bangsa yang besar, kaya keragaman yang tertenun indah dalam Bhineka Tunggal Ika – dengan bangga dan gembira menyambut tamu-tamu terhormat dari seluruh penjuru Asia”.

Untuk Asian Games ke-18 tahun ini, Indonesia memasang target 16 emas dan masuk 10 besar. Target ini dipandang cukup ambisius oleh beberapa pihak mengingat rekam jejak kita yang memang cukup “cupu” pada 20 tahun terakhir, dimana kita konsisten di peringkat belasan agak-agak ujung. Merangkum dari wikipedia, berikut rekam jejak peringkat prestasi Indonesia:

 

 

Continue reading “Analisis Lagu “Meraih Bintang”: Lirik adalah Kekuatan Doa”

Advertisements

Aku dan Dilanku 1990

Akhirnya wikenĀ  lalu bisa nonton Dilanku 1990. Solo, mumpung mantan pacar mau temenin anak-anak dirumah.
Kalau makanan kuanggap apa ya film Dilanku? Bubur? Nasi padang, Tiramisu? Hari ini ku anggap dia Tiramisu, karena dia nikmat dimakan sebagai hidangan dessert setelah appetizer dan main course yang super enak!! Bagaimana tidak, jika hidangan sebelumnya sudah super enak, bagaimana aku harus menetapkan ekspektasiku untuk dessert? Kan deg-degan makannya. Bagaimana kalau film Dilanku tidak bagus?? Aku kan sudah baca novelnya?? Bagaimana kalau komentar orang-orang yang sudah nonton overrated??

Dilan sungguh personal bagiku. Aku dulu tak langsung menerima usulan mantan pacar atas nama Dilan untuk anak pertama kami. Tak sengaja saat aku ingin membeli pulpen baru di toko buku, ramai sekali novel Dilanku terjaja. Aku langsung beli dan membacanya. Lucu!! Indah!! Unik!! Terlebih karena motornya Dilan sama seperti motor mantan pacar. Akupun menjadi yakin untuk menerima usulan itu, dan bermufakat bersama untuk menamakan putra pertama kami Dilan Wirasatya Wibowo. Dilan, dalam bahasa inggris klasik Welsh juga berarti anak ombak, son of the wave. Aku suka sekali dengan maknanya, membuatku membayangkan Dilan sebagai orang yang mampu berselancar bersama ombak (kehidupan). Continue reading “Aku dan Dilanku 1990”

Berpikir dengan Nurani untuk Rakyat KetjilĀ 

Depok, 3 Oktober 2017 – Masih teringat jelas ketika saya mendengar seorang Ibu dari rumah tangga miskin mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan program Beras Miskin (Raskin). “Kami bersyukur banget ada Raskin, kapan lagi bisa beli beras Rp3000/kg, lumayan dapat jatah 10 kg per bulan”, demikian kira-kira ungkapnya riang. Mungkin seharusnya saya ikut senang, tapi yang ada saya justru miris. Mengapa? Karena saya tahu bahwa hak ibu itu harusnya 14kg/bulan dan harganya Rp1600/kg. Ini adalah modus korupsi paling elegan karena subjek yang dikorupsi haknya malah bisa dibuat merasa bersyukur dan berterima kasih.

 

Tahun ini Indonesia sudah 72 tahun merdeka, sejawat seumuran dengan Korea Selatan tapi nasib jauh berbeda. Dari segi Pendapatan Domestik Bruto memang tak terlalu jauh beda. Korea Selatan di sekitar $1,4 trilyun, sementara Indonesia di sektiar $932 milyar. Hanya karena penduduk Korea cuma sekitar 50 juta jiwa sementara kita 250 juta, tingkat pendapatan per kapita penduduknya menjadi jauh sekali berbeda. Di Korea Selatan tingkat pendapatan per penduduk sudah ada di kisaran $27.500 (sekitar Rp 360 juta/orang/tahun) dan kita masih metek di sekitar $3500 (sekitar Rp49juta/orang/tahun). Tingkat kepemilikan lahan petani disana sekitar 0,5 Ha per rumah tangga petani pada 1960an dan kini meningkat menjadi sekitar 1,5Ha. Sementara kita di Indonesia kebalikannya, dulu katanya sekitar 2Ha per rumah tangga, sekarang malah jadi kurang dari 0,5Ha. Jadi jelas ya, petani di Indonesia kondisinya jauh lebih terjepit dan marginal dibanding di Korea Selatan sana. Soal kemiskinan secara umum ga usah dibahas kali ya.. yang pasti stok orang miskin kita jauh lebih banyak.

Continue reading “Berpikir dengan Nurani untuk Rakyat KetjilĀ “

Teknik membaca cepat dan efektif

Rabu, 8 FEB 2017 – Setelah libur sebulan akhirnya masa perkuliahan dimulai lagi. Hari ini saya mengisi kelas Komunikasi Bisnis dan Teknik Penulisan Akademik. Tujuan sesi pertama ini memperkenalkan mahasiswa mengenai tujuan pembelajaran secara umum, ruang lingkup komunikasi, dan tujuan pembelajaran khusus untuk hari ini.

Secara umum kelas ini bertujuan agar mahasiswa dapat secara efektif melakukan komunikasi pasif – yang mencakup kegiatan membaca, mendengar, dan membaca gestur tubuh; mengolah dan menganalisis hasil komunikasi pasif dengan cara berpikir kritis yang melibatkan empati; dan kemudian menyampaikan hasil analisisnya tersebut melalui komunikasi aktif – yang mencakup kegiatan menulis, berbicara atau presentasi, dan peragaan gestur atau gerak tubuh (termasuk ekspresi wajah). Adapun untuk tujuan pembelajaran perdana hari ini, selain memberikan pengantar (penyampaian silabus dan materi pengantar komunikasi), mahasiswa juga diajak untuk berlatih membaca cepat namun tetap efektif.

Nah, kali ini saya mau berbagi soal hasil latihan membaca cepat yang terjadi di kelas tadi. Secara singkat bisa dirangkum ke dalam beberapa poin berikut:

1) Materi bacaan yang dilatihkan semuanya berbahasa Inggris, set B adalah potongan dari karya ilmiah, dan set A adalah potongan dari berita. Mahasiswa di bagi ke dalam 4 kelompok terdiri dari 5 orang. Pada putaran pertama latihan, 2 kelompok  harus membaca set A, dan 2 kelompok lainnya harus membaca set B. Semua bacaan hanya 1 halaman A4. Setelah membaca, mahasiswa diminta menuliskan intisari bacaan di belakang halaman dari kertas bacaan tadi. Mahasiswa diberi waktu 1 menit untuk menuliskan Intisari atau tema umum tersebut. Latihan kemudian dilanjutkan tanpa membahas tema dari masing-masing set bacaan.

2. Pada putaran kedua, kelompok mahasiswa yang tadinya membaca set A diminta membaca set B, dan sebaliknya. Namun sebelum mulai membaca, saya memberi tahu terlebih dulu soal teknik membaca cepat seperti apa. Setelah jelas baru mereka mulai membaca. Seperti pada putaran pertama, setiap mahasiswa diminta memasang stop-watch melalui handphone mereka masing-masing.

Bagaimanakah hasilnya?

1. Pada putaran pertama, ternyata semua mahasiswa membaca dari paragraf ke paragraf. Artinya, sebelum mereka yakin telah berhasil memahami maksud dari suatu paragraf, mereka akan berkutat di paragraf yang sama dan mengulang proses membaca mereka. Setelah saya tanya, rata-rata mereka mengulang membaca paragraf yang sama sebanyak 3-4 kali. Wajar mungkin ya? Karena naskah bacaan memang berbahasa Inggris. Dengan cara membaca seperti ini, secara gabungan mahasiswa membutuhkan waktu selama 6-10 menit untuk menyelesaikan 1 artikel (baik set 1 maupun 2).

2. Pada putaran kedua, sebelum membaca saya memberitahu semua mahasiswa untuk melakukan skimming atau baca cepat dari awal hingga akhir bacaan. Paham ga paham, mereka wajib melanjutkan proses membacanya dari paragraf ke paragraf, sampai artikel selesai. Setelah itu barulah mahasiswa bisa  melakukan  scanning secara natural. Proses apa itu? Setelah membaca cepat keseluruhan artikel, mahasiswa akan dapat merasakan bagian mana yang dia rasakan belum paham; bisa pula di benaknya sudah terekam kata-kata atau diksi yang Ia belum mengerti benar sehingga ingin membaca bagian spesifik itu lagi, supaya bisa lebih memahami artikel. Nah, proses itulah yang namanya proses scanning natural. Kenapa natural? Karena tidak ada rencana khusus, melainkan lebih seperti going with the flow aja.  Scanning yang tidak natural atau scanning terencana juga sangat bisa dan umum dilakukan, yaitu ketika kita sudah tahu ingin membaca suatu buku atau artikel karena ingin mengulik isu-isu tertentu. Maka pada saat membaca buku tersebut kita akan fokus memutar-murah mata kita untuk menemukan kata, paragraf, sub-judul, atau text-box yang mengandung isu yang sedang kita cari. Melihat daftar isi adalah cara yang umum dilakukan sebagai awal dari proses scanning terencana ini. Dalam mencari kutipan di badan-badan paragraf, biasanya teknik scanning dengan memfokuskan pandangan mata ke tengah halaman saya lalu sortir ke bawah (tanpa perlu membaca kalimat ya, karena scanning is different with skimming!)

Kembali ke bahasan kita ya. Nah, setelah membaca dengan cara skimming dan scanning natural, secara gabungan rentang waktu yang dibutuhkan untuk membaca hanya 2-6 menit saja lho! Namun kita mungkin bertanya, apakah dengan cara baca cepat mahasiswa tetap bisa menarik Intisari bacaan secara tepat? Untuk itu di putaran 2 ini mahasiswa kembali diminta menuliskan Intisari bacaan di balik kertas mereka masing-masing. Waktunya juga 1 menit.

3. Untuk mengevaluasi ketepatan penarikan Intisari atau tema bacaan, saya kemudian melakukan pembahasan di kelas dengan membandingkan intisari bacaan yang telah ditulis oleh mahasiswa di balik kertas tadi. Saat ini saya memiliki 4 kelompok sampel, yaitu: (1) Intisari set A yang dibaca pada putaran pertama, (2) Intisari set B yang dibaca pada putaran pertama, (3) Intisari set A yang dibaca pada putaran kedua, dan (4) Intisari set B yang dibaca pada putaran kedua. Saya pun kemudian melakukan perbandingan Intisari untuk masing-masing set bacaan.

  1. Hasilnya menunjukkan bahwa untuk set B (potongan karya ilmiah), semua kelompok kurang berhasil menangkap Intisari tulisan secara benar. Jadi baik kelompok yang membaca set B sebelum maupun setelah menggunakan cara baca cepat sama-sama gagal paham! Hehe. Wajar kali ya, karena bahasa atau istilah-istilah ilmiah memang sering kali tidak mudah dipahami. 
  2. Namun untuk set A, semua kelompok sama-sama berhasil menarik Intisari dengan benar! 
  3. Nah, keseluruhan hasil ini menunjukkan bahwa teknik baca cepat benar-benar bisa efektif dalam mengurangi waktu baca kita secara cukup signifikan (sekitar 50% lebih hemat waktunya), tanpa ada trade-off atau konsekuensi terhadap menurunnya kualitas pemahaman kita atas suatu materi bacaan. Kalau memang bahan bacaannya udah dari sononya susah, ya mau diapain juga ya.. itulah lika-liku cobaan kehidupan yang harus dilalui hehe. 

Demikian sharing saya kali ini. Mudah-Mudah2an bisa bermanfaat buat banyak orang, ga cuma mahasiswa FEUI aja. Saya aja dulu waktu S1 ga dapet pelajaran soal ini, taunya dari ngulik sendiri metode belajar atau baca yang paling sesuai buat saya. Jatohnya jadi lama proses “belajarnya” sampai akhirnya ketemu pola baca yang paling efisien. Kalau saya tahu teknik ini 6 bulan lebih cepat saja, kan artinya saya bisa punya setidaknya 180 jam extra untuk ngerjain hal lain!? Paling ga, saya mestinya bisa baca lebih banyak novel kan?  Hehe. Anyway, semoga yang sudah terlanjur terjadi sama saya ga perlu terjadi sama kamu-kamu semua. Selamat belajar, selamat membaca! 

PS: 

Berikut catatan waktu baca per artikel. Sama seperti set B, bacaan set D juga potongan artikel ilmiah.