Monthly Archives: July 2016

https://hbr.org/2016/07/can-capitalism-be-redeemed?utm_campaign=harvardbiz&utm_source=twitter&utm_medium=social

Categories: Tentang Salamduajari | Leave a comment

Surat Pamit Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan

Farewell Pak Anies.. I share the same hope as you.. Terima kasih ya Pak!

———-

Kepada Yth. Ibu/Bapak Guru. Kepala Sekolah. dan Tenaga Kependidikan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selama 20 bulan ini saya mendapatkan kehormatan menjalankan sebuah amanah konstitusi dan amanah dari Allah SWT untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa lewat jalur pemerintahan. 

Hari ini saya mengakhiri masa tugas di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tugas ini telah dicukupkan. Saya ucapkan terima kasih dan apresiasi pada Presiden Jokowi yang telah memberikan kehormatan ini.
Tugas besar ini mendasar karena pendidikan dan kebudayaan menyangkut masa depan kita. masa depan bangsa tercinta.
Sejak bertugas di Kemendikbud. Saya meneruskan kebiasaan berkeliling ke penjuru Indonesia ke sudut-sudut Nusantara berbincang langsung dengan ribuan guru dan tenaga kependidikan. 

Saya menemukan mutiara-mutiara berkilauan di sudut-sudut tersulit Republik ini. Dinding kelas bisa reyot dan rapuh, tapi semangat guru, siswa dan orangtua tegak kokoh. Dalam berbagai kesederhanaan fasilitas sebuah PR besar Pemerintah. Saya melihat gelora keceriaan belajar yang luar biasa.
Ibu dan Bapak yang amat saya hormati. kami sebangsa menitipkan persiapan masa depan Republik ini di sekolah tampak hadir bukan saja wajah anak-anak tapi juga wajah masa depan Indonesia. Teruslah songsong anak-anak itu dengan hati dan sepenuh hati. 
Ijinkan mereka menyambut dengan hati pula. Jadikan pagi belajar pagi yang cerah. Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah. tapi mata-hati tiap anak tiap guru yang menjadikannya cerah.
Di hari terakhir saya bertugas di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ijinkan saya menyampaikan harapan kepada Ibu dan Bapak semua harapan agar perubahan dalam pendidikan terus menuju ke arah yang lebih baik.
Mari kita teguhkan komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai taman yang penuh tantangan dan menyenangkan bagi semua warga sekolah. 
Mari kita pastikan bahwa sekolah menjadi tempat di mana anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya. 

Memenuhi potensi unik dirinya dan kita jadikan sekolah sebagai sumur amal yang darinya akan mengalir pahala tanpa henti bagi lbu dan Bapak semua. 
Ibu dan Bapak teruslah bergandengan erat dengan orangtua. bersama-sama menuntun anak-anak meraih masa depannya menjawab tantangan jamannya. melamani cita-citanya.
Saya titipkan kepada Ibu dan Bapak Guru berbagai perubahan yang telah kita mulai bersama. baik dalam bentuk peraturan-peraturan baru yang mendorong ekosistem sekolah menyenangkan dan bebas dari kekerasan maupun melalui pembiasaan dan praktik baik di sekolah.

Ibu dan Bapak yang saya banggakan. 
Menteri boleh berganti. tapi ikhtiar kita semua dalam mendidik anak-anak bangsa tak boleh terhenti masih banyak pekerjaan rumah Pemerintah yang harus ditunaikan bagi guru dan tenaga pendidikan. saya percaya itu semua akan dituntaskan.

Mari kita lanjutkan perjuangan dan dukungan pada komitmen pemerintah dalam membangun sekolah menyenangkan serta jaga stamina raga, rasa dari cipta Ibu dan Bapak semua.
Ijinkan saya pamit sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. teriring rasa terima kasih juga permohonan maaf tak hingga atas segala khilaf yang ada. 

Salam hormat saya untuk Ibu dan Bapak semua dan kita teruskan ikhitiar mencerdaskan kehidupan bangsa ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (27 Juli 2016)

Categories: Dalam Pembangunan | Tags: , , | Leave a comment

Seminar Koperasi untuk Pembangunan Berkelanjutan di FEB UI

senang melihat meningkatnya perhatian FEB UI terhadap perkoperasian di Indonesia.
Hari ini RPM FEB UI menyelenggarakan seminar dalam rangka peringatan Hari Koperasi Internasional (21 Juli) dan Hari Koperasi Nasional (12 Juli), dengan tema “Cooperatives for Suistanable Future”

Rabu, 27 Juli 2016, pkl 09.00-13.00, bertempat di Aula MMUI Jakarta

Acara ini dibuka oleh Bapak Dekan FEB UI, Prof. Ari Kuncoro, dengan pembicara Ibu Dewi Meisari (Dosen Koperasi FEB UI), Bp. Munaldus Nerang (Ketua Induk Koperasi Usaha Rakyat), dan Ibu Anjani Amitya Kirana (Tenaga Profesioal BNP2TKI), dg moderator Bp. Abdillah Ahsan (Dosen Koperasi FEB UI, penggagas dan koordinator acara hari ini).

Sebagai bentuk inisiasi dari Tim Dosen Koperasi FEB UI, acara hari ini alhamdulillaah berjalan lancar. Peserta yang hadir di atas prediksi dan berasal dari berbagai layar belakang, baik akademisi, praktisi, maupun media. Hanya perwakilan dari pengambil kebijakan – khususnya Kementerian Koperasi dan UKM – yang tidak hadir. Tapi seluruh peserta tampak antusias dan berharap agar FEB UI dapat terus menyelenggarakan acara seperti hari ini, tidak hanya untuk menambah wawasan tp juga untuk membangun Kerekatan hubungan (social capital) antara praktisi dan penggiat koperasi, sehingga bisa berkolaborasi untuk melakukan hal yang lebih besar di kemudian hari.


Dari pertemuan hari ini ada beberapa kesimpulan utama:

1. Koperasi berpotensi untuk menjadi solusi dalam pembangunan berkualitas yang disertai pemerataan. Terdapat pola bahwa di negara2 yg koperasinya maju, tingkat ketimpangan (koefisien gini) rendah. Kasus menonjol adalah Perancis yang koefisien gini-nya sekitar 0.3 (rendah), dan gabungan omset dari 48 koperasi terbesar disana saja sudah setara dengan sekitar 17% PDB Perancis.

2. Praktisi koperasi perlu sesekali keluar dari rutinitas mengurus kegiatan dan kepentingan anggotanya saja, yaitu dengan terus mengikuti perkembangan dunia bisnis, sehingga bisa mengelola koperasinya dengan helikopter view juga.

3. Mengelola kebutuhan TKI secara end-to-end sangat diperlukan dan koperasi adalah bentuk kelembagaan yang tepat untuk itu, agar calon TKI tidak perlu lagi berhutang ke rentenir untuk bisa berangkat ke negara tujuan, dan agar dana remitansinya yang per akhir 2015 ini sekitar USD 9.5 milyar atau Rp 120 triliun juga bisa lebih dimanfaatkan untuk kegiatan produktif di daerah asalnya masing-masing. Sehingga TKI tidak hanya bisa menjadi pahlawan devisa, tapi juga bisa menjadi pahlawan Desa

4. Konglomerasi sosial dapat dikembangkan melalui koperasi dengan mengembangkan koperasi sebagai semacam holding yang memiliki berbagai unit usaha yang kegiatan bisnisnya bergerak di bidang-bidang yang dibutuhkan anggota. Contohnya adalah Koperasi Kredit (CU) Keling Kumang di Kalimantan Barat yang memiliki SMK untuk tempat sekolah anak-anak anggota, unit usaha bidang pengelolaan pemakaman, toserba modern, dan unit usaha pembiayaan sepeda motor.

5. Pesan dekan, ke depan semoga pengajaran koperasi tidak mentok dikelola dengan metode ceramah, presentasi kelompok, dan kunjungan lapangan saja; tapi juga ada FGD, studi kasus, dan role play.

Hari ini adalah suatu langkah nyata kecil dari kami. Insya Allah acara seperti ini bisa diselenggarakan lebih sering di kampus, sehingga bisa memberi dampak yang lebih nyata bagi perkembangan koperasi di Indonesia. Kalau mengutip kata Mas Abdillah, semoga kita tidak hanya menjadi “ustadz” (yang urusannya selesai hanya sampai menyampaikan apa yang baik), tapi juga menjadi “advocate” (yang urusannya tidak selesai pada menyampaikan saja, tapi juga memantau dan mendampingi sampai perubahan positif yang diharapkan terjadi).

Categories: Dari Forum Diskusi | Tags: , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.