Pilpres sebentar lagi, kita pilih siapa? (Sebuah renungan)

Kemarin seharian istirahat dari berita politik, badan agak demam juga. Baru hari ini baca lagi ternyata Partai Demokrat sudah resmi mendukung Prabowo-Hatta. Pak SBY – tetap konsisten dengan perilakunya yang sangat safety player dan tricky – akhirnya harus menjilat ludahnya sendiri karena batal ambil posisi netral. Entah kenapa, fakta ini memberikan saya kekuatan untuk menulis, dan kejelasan. Setelah galau cukup lama, kini mantap sudah pilihan.

Saya sesungguhnya menyukai sosok Bapak Prabowo, dan bisa merasakan adanya ketulusan dan patriotisme beliau untuk membangun negeri. Namun sayang sekali, saya dibuat takut oleh konstelasi koalisinya, yang bagi saya lebih seperti koalisi hawa nafsu para elit yang ingin mempertahankan status quo untuk melindungi kepentingannya masing-masing. Koalisi Prabowo-Hatta tempat berkumpulnya orang-orang kaya duit namun miskin rekam jejak dan prestasi dalam mensejahterakan rakyat kecil.

Inti dari analisis saya ini adalah sikap Pak SBY dan Partai Demokratnya yang sudah 10 tahun berkuasa dan memang berhasil menumbuhkan ekonomi kita secara stabil. Namun demikian:
1) ketimpangan meningkat,
2) penurunan kemiskinan super lambat (dibawah target),
3) 7 dari 10 inflasi lebih tinggi dari target
4) Target swasembada gula, kedelai, beras, daging, dan garam, tidak ada yang tercapai di 2014 ini.
5)  sistem database nasional tidak dibangun (hampir) sama sekali, dari database pelaku UMKM yang selalu dijual sebagai tulang punggung perekonomian, sampai data kependudukan berupa Single Identification Number (SIN). E-KTP adalah embrio-nya tapi tidak jalan baik.

Tanpa SIN yang menyatukan nomor pasport, SIM, NPWP, dan KTP, korupsi, cuci uang, ngemplang pajak, lebih mudah. Tanpa SIN, penyaluran dana program pemerintah yang ratusan trilyun itu juga sering tidak tepat sasaran karena basis data yang buruk.  Rakyat yang miskin beneran tidak dapat, yang tidak miskin malah dapat. Pemborosan uang rakyat yang luar biasa. SBY 10 tahun berkuasa, mewujudkan SIN saja tidak bisa. Mengapa? Saya tidak tahu. Ada yang bilang karena beliau penakut, tidak tegas. Ada yang bilang karena kabinet beliau highly transactional jadi sulit juga mengambil keputusan tegas seenak sendiri; karena memang, jika SIN diwujudkan, banyak elit-elit “gendut” yang sekarang di posisi nyaman, akan terancam.

Hanya Jokowi-JK yang menyajikan komitmen untuk mewujudkan SIN dalam dokumen visi-misinya. Menurut saya, itu menunjukkan pemahaman yang baik dalam usaha memberantas korupsi. Obat utama korupsi adalah transparansi. SIN adalah wujud transparansi. Jadi bohong jika seseorang mengatakan dirinya akan berkomitmen atau paham soal cara memberantas korupsi tanpa berani berkomitmen tertulis untuk mewujudkan SIN. Mahzab dan konsep pembangunan ekonomi keduanya hampir sama, kecuali dalam hal hutang luar negeri yang oleh Prabowo-Hatta ingin di Nol kan dalam 5 tahun. Visi yang sangat tidak realistis tapi mungkin Pak Prabowo punya jurus yg belum diketahui oleh para ekonom. Optimisnya, kalau beliau bisa wujudkan itu, kemungkinan besar beliau akan dapat Nobel dan akan buat bangga Indonesia, karena sepanjang yang saya tahu, belum ada orang Indonesia yang mendapatkan Nobel.

Anyway, saya sadar Koalisi Merah Putih “Elit Gendut” itu akan menjadi pesaing yang sengit bagi koalisi rakyat. Namun melalui tulisan pendek ini, saya ingin menyampaikan harapan saya untuk bisa menyaksikan bahwa Rakyat bisa menang melawan elit. Mungkin saya naif. Mungkin saya tidak well-informed. Well, hari ini gini emang ada yang well-informed? Penat dengan limpahan berita yang tidak seimbang membuat tidak sedikit dari kita mulai jengah mengikuti berita. Akhirnya pilihan ditentukan oleh perasaan cocok ga cocok, sreg ga sreg. Akhirnya, pilihan ditentukan dari bisikan hati nurani kita, dan hati nurani saya berkata: “Dewi, kamu itu cuma tidak ingin kisah kelam punya pemerintahan yang kabinetnya transaksional tingkat tinggi dan kurang kompetensi, terulang lagi. Dan kemungkinan hal mengerikan itu terulang lagi memang lebih besar jika Prabowo-Hatta yang menang. Gimana tidak? Wakilnya besan Pak SBY, dan sekarang Pak SBY resmi dukung kubu ini. Lantas perubahan besar apa yang kita bisa harapkan dari koalisi capres nomor 1 ini?”.

Pendeknya, hati nurani saya ingin melihat Koalisi Rakyat bisa menang. Kecil kemungkinannya? Ya. Karena sejarah  memang membuktikan bahwa rakyat lebih sering kalah dalam perjuangannya melawan elit. Mustahil? Tidak juga. Buktinya Indonesia bisa merdeka lawan negara-negara yang jauh lebih maju dan berkuasa. Intinya, setidaknya melalui tulisan pendek ini saya sudah berbagi pikiran dan merasa bahwa setidaknya saya sudah turut menyumbangkan langkah kecil saya untuk mewujudkan kemenangan Koalisi Rakyat.

Pemilu Presiden sebentar lagi. Mari kita sambut dan ramaikan dengan kegembiraan, karena ini adalah pesta kita, pesta rakyat. Bismillaah, semoga yang terbaik untuk bangsa ini yang terpilih. Salam dua jari 🙂

Advertisements
Categories: Dalam Pembangunan | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: