Sudut Pandang: what we think, what we become

 

apapun bisa dicelaHari ini seseorang, yang merupakan sosok guru dan sahabat bagi saya, mengirimkan gambar ini. Bagi saya menarik sekali. Kalau dicari, kesalahan pasti akan ada saja. Tergantung mau pakai sudut pandang yang mana. Saya jadi mikir, sepertinya saya termasuk orang yang meyakini bahwa bukan “sesuatu (peristiwa, kondisi, status, atau situasi)” yang menentukan nasib kita, melainkan cara kita “memandang dan menangani sesuatu” lah yang menentukan.

Jadi, karena kita dapat memilih dan menentukan sudut pandang apa yang akan digunakan dalam memandang sesuatu, maka saya percaya bahwa konsep nasib itu lebih bersifat self-determined (utamanya ditentukan oleh diri kita sendiri). Dengan demikian, nasib jelas berbeda dengan konsep takdir, yang lebih bersifat externally-determined atau given (utamanya ditentukan oleh hal-hal diluar kuasa atau rencana kita sendiri, atau sudah dari sananya).

Dari contoh gambar di atas, dapat diinterpretasikan: mungkin sudah takdir saya untuk melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang naik keledai dan berlalu di hadapan saya. Tapi adalah nasib saya untuk merasa terganggu oleh perasaan kasihan terhadap keledai. Karena sesungguhnya saya bisa saja tidak merasa terganggu, jika saya memilih untuk tidak memberi penilaian apapun (cuek), karena saya tidak mengerti apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan oleh laki-laki, perempuan, atau kedelai tersebut. So why be bothered?

Woalah, jadi serius gini. Anyway, mari kita latih diri untuk tidak mudah menghakimi orang lain dari penglihatan sesaat semata. Mari latih diri untuk dapat memandang sesuatu dari sudut pandang yang lebih seimbang, karena cara kita memandang sesuatu, akan menentukan cara kita menghadapi sesuatu tersebut, yang pada akhirnya akan menentukan hasil yang kita alami atau rasakan.

Jadi inget ucapannya Margaret Tatcher, nih:
Watch your thoughts, for they become words. Watch your words, for they become actions. Watch your actions, for they become habits. Watch your habits, for they become your character. And watch your character, for it becomes your destiny. What we think, we become.”

Atau kata Buddha, “what we think, we become”

 

Well well, kenapa malam-malam jadi filosofis begini?!? Selamat istirahat kawan-kawan! Mari berpikir dan membayangkan yang indah-indah dulu, agar nyenyak tidur 🙂

Advertisements
Categories: Dari Mana Saja | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: