Inspirasi Perempuan Hari Ini, untuk Masa Depan Bangsa

RA KartiniDepok, 21 April 2014 – Pada hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk berbagi di suatu forum yang hebat. Hebat karena forumnya diadakan di suatu restoran sederhana di bilangan Condet, Jakarta Timur. Selain itu, forum itu hebat karena dihadiri oleh cukup banyak wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi. Belum selesai. Forum itu juga hebat karena dihadiri oleh adik-adik mahasiswa, generasi penerus bangsa. Adapun yang paling membuat forum itu hebat adalah tema yang diusungnya, yaitu “Inspirasi Perempuan Hari ini, untuk Masa Depan Bangsa”. Siang itu, saya merasa bahagia karena di suatu tempat yang sederhana, terdapat nuansa kepedulian yang besar pada masa depan bangsa. Bersama mba Maretta – co founder Lazuli Sarae, perintis aplikasi batik kontemporer di bahan denim – dan dipandu oleh mba Aulia Gurdi yang mengaku sebagai emak-emak blogger, kami berbincang santai dan akrab soal perkembangan emansipasi perempuan dan peran aktif kaum perempuan dalam dunia usaha. Dari diskusi sekitar 2 jam itu tentu banyak sekali yang dibahas namun saya coba rangkum beberapa hal lewat tulisan ini ya..

Perbedaan Laki-laki dan Perempuan dalam Berbisnis

Dulu, Ibu Nining Soesilo selaku pendiri dan mantan kepala UKM Center FEUI pernah bercerita kepada saya sepulang beliau dari suatu konferensi kewirausahaan di Inggris. Beliau bilang ada salah satu narasumber (maaf saya lupa namanya) yang mengatakan bahwa bedanya laki-laki dan perempuan dalam berbisnis dapat dipadatkan menjadi 2 huruf saja, yaitu P dan L. Hanya saja, bedanya P&L untuk laki-laki adalah Profit and Loss, sementara untuk perempuan adalah Peace and Love šŸ™‚

 

Hal ini digunakan untuk menggambarkan karakteristik womenpreneur yang pada umumnya mencurahkan cinta dan perasaannya dalam proses produksi dan melayani konsumen. Katanya terdapat fenomena bahwa probabilita perempuan untuk memiliki bisnis yang tumbuh besar memang lebih kecil daripada wirausaha laki-laki karena banyak womenpreneur yang sudah bahagia dengan skala usahanya yang small and beautiful, di mana dia bisa terjun langsung dalam proses produksi dan melayani konsumennya. Kasarnya, tidak punya profit maksimal tidak apa-apa yang penting saya dan konsumen happy. Sementara laki-laki cenderung memiliki target-target usaha yang lebih spesifik, khususnya yang berkaitan dengan tingkat keuntungan dan omset usaha. Hal ini, mungkin ya (menurut saya) berhuhungan juga dengan kondisi umum bahwa laki-laki adalah penghasil pendapatan utama rumah tangga, sementara perempuan penghasil pendapatan tambahan. Jadi wajar jika wirausaha laki-laki lebih ambisius dalam mengelola usahanya.

Menariknya di siang itu Mba Maretta membenarkan dan memberi contoh kecil mengenai perdebatan antara dia dan partner bisnisnya yang pria. Dulu ketika memiliki pinjaman di bank, mba Maretta cenderung ingin segera membayar cicilan pinjaman begitu keuangan usaha sudah mencukupi, sementara partnernya cenderung ingin menunda pembayaran sampai dekat-dekat jatuh tempo saja, siapa tahu uangnya masih bisa diputarkan dulu lagi katanya. Sementara mba maretta merisaukan nasib orang lain yang mungkin saja bisa lebih cepat mendapatkan manfaat dari dana bayaran cicilan mereka. “Untuk apa menunda-nunda pemenuhan hak pihak lain?”, debat Mba Maretta. Disitu terlihat, bahwa dalam berbisnis Mba Maretta masih memikirkan orang lain, sementara partnernya lebih fokus pada kondisi usahanya sendiri. So that is the P-L concept on entrepreneurship based on gender. It is of course cannot be true for all cases, but might be true for most cases.

Apa sih emansipasi perempuan itu?

Pertanyaan itu dilemparkan oleh seorang mahasiswi dari UIN Syarif Hidayatullah. Apakah melalui emansipasi perempuan tidak malah akan membuat kaum laki-laki menjadi lebih santai dan tidak kerja keras lagi karena istrinya sudah punya penghasilan yang tidak kalah baik, atau malah, lebih baik? Apa sih sebenarnya emansipasi wanita itu? Pertanyaan itu sangat menggelitik, khususnya karena saya termasuk perempuan yang juga terganggu jika melihat perempuan lain teriak-teriak soal emansipasi berupa tuntutan untuk mendapatkan hak yang sama, namun tidak mau merelakan privilege atau kemudahan yang selama ini dinikmati karena keperempuanannya. Saya juga risau melihat perempuan yang memandang rendah laki-laki yang penghasilannya lebih rendah daripada istrinya. Kita tidak tahu seberapa besar peran laki-laki itu bagi kebahagiaan rumah tangga. Jadi mohon jangan hakimi mereka hanya dari penghasilan, di dalam rumah tangga ada banyak urusan non-finansial yang bisa menyebabkan stress yang besar pula.

Di belakang orang yang hebat pasti ada orang-orang yang hebat pula. Orang-orang yang hebat itu tidak mesti (istri), melainkan bisa jadi ibu, suami, sahabat, guru, paman, bibi, kakek, nenek, atau mungkin, anak. Jadi pepatah yang mengatakan “dibalik pria yang hebat, ada perempuan yang hebat”, mungkin untuk saat ini terasa sudah terlalu sempit. Wajar saja memang. Pepatah itu tersebar sejak era emansipasi belum seperti sekarang, di mana yang berprestasi dan sukses adalah kalangan pria saja, karena kaum perempuan belum memiliki kesempatan bekerja, bahkan mungkin belum memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan hak suara. Di Swiss saja, perempuan baru punya hak suara di Pemilu pada skitar tahun 70an. Sementara sekarang, sudah mulai banyak perempuan yang berprestasi, dan tidak jarang menjadi kunci kesuksesan mereka adalah peran suami yang selalu mendukung dan turut berbangga dengan pencapaian istrinya. Tidak semua pria ingin berprestasi besar dan menjadi terkenal, ada juga yang lebih nyaman di belakang layar dan menikmati kebanggaan tersendiri ketika berhasil menemani dan mendukung proses pencapaian cita-cita sang istri.

Kembali dengan emansipasi, apa itu? Pada siang itu saya berbagi pandangan bahwa bagi saya, emansipasi itu murni bermakna penyediaan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mengekspresikan aspirasi dan mengaktualisasikan dirinya. Jangan lagi ada larangan bagi seseorang yang bercita-cita sekolah tinggi, hanya karena ia seorang perempuan. Jangan lagi ada larangan seseorang untuk mengungkapkan pendapatnya dalam suatu forum musyawarah keluarga, komunitas, organisasi, perusahaan, sampai negara, hanya karena ia perempuan. Jangan lagi ada pembunuhan semangat pada seseorang yang ingin menjadi pilot, insinyur sipil, sampai supir sekalipun, hanya karena ia perempuan; agama dan hukum pun tidak ada yang melarang. Tak perlu lagi ada pembatasan aktifitas perempuan hanya di seputar urusan rumah tangga saja. Jika pun ada perempuan menjadi ibu rumah tangga, biarkan itu terjadi karena pilihan sadar dan kerelaannya sendiri, bukan karena paksaan.

Intinya, emansipasi wanita adalah: Berikan perempuan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri, secara seutuhnya.

Peran RA Kartini

RA Kartini adalah tokoh emansipasi perempuan di Indonesia. Memangnya sebesar apa peran beliau? Berhubung tulisan ini sudah cukup panjang, saya akan langsung ke intinya di sini. Peran RA Kartini sangat besar karena di era itu, ketika perempuan tidak boleh sekolah, dipandang tidak sopan ketika berani berpendapat, tentu keberanian beliau untuk mengungkapkan aspirasi dan pemikirannya secara tertulis kepada teman-temannya di Eropa. Setelah beliau wafat, surat-surat RA Kartini dikumpulkan dan dibukukan oleh temannya JH Abendanon dengan judul door duisternis tot licht, atau “dari kegelapan menuju cahaya” (1911), yang kemudian diterjemahkan secara resmi menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Sesuai judulnya, buku tersebut membawa pencerahan, tidak hanya kepada perempuan tapi juga pada kaum laki-laki. Pencerahan mengubah cara pandang, cara pandang mengubah cara kita mengambil keputusan dan berperilaku, dan lantas perilaku atau aksi menentukan besar kecilnya hasil yang didapatkan.

Berawal dari Habis Gelap Terbitlah Terang, kita semua kini punya Ibu Megawati, Mira Lesmana, Tri Mumpuni, Sri Mulyani, Tri Rismaharini, Susi Susanti, Karen Agustiawan, Moeryati Soedibyo, Martha Tilaar, dan masih panjang lagi barisan nama-nama perempuan besar nusantara yang tidak bisa dituliskan satu per satu.

Jadi, seberapa besar peran Ibu Kartini dalam perjuangan emansipasi wanita? Sepertinya kita semua sudah tahu jawabannya. Terima kasih Ibu Kartini, terima kasih atas pencerahan yang telah engkau beri.

Peran Perempuan untuk Masa Depan Bangsa

Di akhir sesi diskusi, saya diminta berbagi soal bagaimana peran perempuan dalam pembangunan bangsa ke depan? Terkait dengan hal tersebut, saya berpandangan partisipasi perempuan di ranah kebijakan publik perlu ditingkatkan, baik di tataran legislatif maupun eksekutif dan yudikatif. Mengapa? Naluri yang berbeda antara laki-laki dan perempuan – seperti Peace&Love versus Profit&Lossdiharapkan dapat memperkaya sudut dan cara pandang dalam proses perdebatan kebijakan ke depan, yang logikanya, akan membuahkan hasil berupa kualitas keputusan yang lebih baik. Adapun mendorong peningkatan partisipasi wanita tidak lantas harus membuat kita membabi buta melupakan keutamaan kompetensi, demi meningkatkan partisipasi perempuan. Jika kompetensi di nomor duakan, dan status perempuan menjadi lebih penting daripada kompetensi itu sendiri, maka dampak partisipasi perempuan terhadap perbaikan kualitas keputusan belum dapat optimal.

Tantangannya adalah, untuk meningkatkan partisipasi perempuan tidak selalu mudah. Walaupun konstitusi dan aturan perundang-undangan sudah mendukung, secara umum kita masih dibatasi oleh nilai-nilai budaya kita sendiri. Contohnya saya, waktu saya bilang masih ingin kuliah S3, ibu saya menyampaikan keheranannya.”Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh perempuan ini”, nasihat ibu saya. Atau ketika saya bertanya kepada womenpreneur yang menurut saya memiliki kekuatan produk yang tinggi, sehingga saya heran mengapa usahanya tidak dikembangkan lebih jauh. “Saya senang dapat turut berkontribusi bagi ekonomi rumah tangga, tapi saya tetap ingin punya banyak waktu bagi suami dan anak-anak saya”, jawab beliau.

Setiap orang memiliki konsep kebahagiaan sendiri-sendiri. Tidak bisa dipaksakan. Belum banyak perempuan yang ingin berpartisipasi di tataran yang lebih besar seperti tataran kebijakan publik. Tapi banyak sekali perempuan Indonesia yang ingin menjadi Ibu. Jadi saya pikir mengoptimalkan peran perempuan sebagai ibu yang memiliki peran besar dalam proses pembentukan karakter anak-anak generasi penerus bangsa, adalah lebih strategis. Mungkin kini sudah saatnya pemerintah menyediakan pelatihan parenting dasar untuk seluruh Ibu di bumi Indonesia. Agar tidak banyak lagi ibu-ibu yang memarahi anaknya dengan kata-kata “dasar bodoh”, “dasar anak durhaka”, dan beberapa gelar lain yang dikutip dari penghuni kebun binatang. Agar lebih banyak ibu-ibu Indonesia yang mampu menghargai setiap kesuksesan kecil anaknya, “duh kamu kok pinter banget udah ga ngompol?”, “kok pinter sih hari ini makannya lahap”, “makasih ya anak baik udah ga berisik hari ini”. Sehingga anak-anak Indonesia ke depan adalah generasi yang percaya diri, berbudi pekerti, kritis, dan kreatif. Semoga.

Advertisements
Categories: Dari Forum Diskusi | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: