Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang

Salamduajari.com, Depok (14/02) – Saya bahagia hari ini melihat statistik website blog ini, ternyata rata-rata kunjungan pada 3 bulan terakhir sudah berada di kisaran 50 – 80 orang per hari. Saya jadi semakin semangat untuk membagi berbagai tulisan yang menginspirasi, menambah pengetahuan, dan semoga (yang paling penting), terus membangkitkan semangat kita untuk berkarya lebih dan lebih lagi untuk diri kita sendiri, keluarga, masyarakat sekitar lingkungan hidup kita, sampai bangsa dan negara.
Hari ini saya mendapat hasil wawancara menarik, yang dibagi oleh kolega saya melalui milis dosen Ilmu Ekonomi di FEUI. Wawancara ini mengisahkan soal cara pemerintah dan kampus di Jepang memperlakukan tenaga pendidik alias dosennya. Selaku tenaga pendidik di Indonesia, saya tentu termasuk orang yang juga mengidamkan hal tersebut dapat terjadi di Indonesia. Mungkin tidak perlu semewah yang di Jepang ini. Kalau aspirasi saya pribadi adalah beban administrasi yang banyak untuk dosen, khususnya dalam mengakses berbagai dana hibah, baik untuk dana pengabdian masyarakat (community engagement), maupun penelitian. Kita tidak tahu seberapa nyaman atau tidak nyaman kondisi kita saat ini jika tidak ada pembanding, bukan?
Berikut adalah cerita pembanding dari Jepang, yang dilansir dari sini, mengenai bapak Dr.Andi Bangkit Setiawan. Ia mendapatkan gelar Doktor di usia 29 tahun dan sekarang menjadi  Designated Associate Professor di Graduate School of Education and Human Development Nagoya University, Jepang. Cerita ini mengilhami saya, semoga Anda juga 🙂 
Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang
 

 Bisa diceritakan sedikit tentang perjalanan akademik Mas Andy?

Saya dulu kuliah S1 di Program Studi Sastra Jepang Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) UI, masuk tahun 1999 melalui jalur PPKB (PMDK). Tahun 2002 saya alhamdulillah dapat beasiswa dari Toyota Foundation untuk belajar satu tahun di Nanzan University Nagoya Jepang hingga pertengahan 2003. Saat itulah saya kemudian belajar bidang yang saya tekuni saat ini yaitu Intellectual History terutama untuk Asia. Pada waktu akan pulang dari Nanzan University tahun 2003 itulah kemudian saya mencoba mencari jalan untuk bisa kuliah lagi di Jepang untuk memperdalam bidang tersebut, hingga akhirnya salah satu teman profesor saya ketika di Nanzan yang mengajar di Hiroshima University mengizinkan saya untuk belajar di tempatnya. Akhirnya saya pulang tahun 2003 itu dengan “saling janji” antara saya dengan seorang profesor di Hiroshima University (nama beliau Prof. Nakamura Shunsaku) itu untuk saling tukar kabar dan beliau akan mengirimi saya formulir untuk kuliah lagi di sana nanti kalau sudah lulus.

Berbekal janji itu, saya segera selesaikan skripsi yang sebenarnya sudah saya pesiapkan selama ada di Nanzan Univ. Alhamdulillah, tahun 2004 bulan januari saya bisa lulus dan segera memberi kabar ke Prof Nakamura bahwa saya sudah lulus. Bulan Februari di tahun 2004 itulah datang formulir2 yang harus sy isi dan ternyata di dalamnya ada pula formulir untuk pengajuan beasiswa Monbusho melalui jalur U to U. Akhirnya, semuanya lancar, alhamdulillah, dan bulan oktober 2004 saya berangkat lagi ke Jepang untuk ikut ujian masuk program master di Hiroshima University. Kebetulan lab Prof Nakamura (yang meski beliau bidangnya Intellectual History) berada di Graduate School of Education di klaster kajian budaya, sehingga untuk ujian masuk saya harus belajar pula 3 bidang ilmu yang akan diujian baik tertulis maupun wawancara yaitu: Ilmu Pendidikan, Ilmu Budaya dan Susastra serta Ilmu Linguistik. Alhamdulillah, bisa lolos dengan nilai yang cukup memuaskan dan saya mulai masuk program master di situ tahun 2005 bulan April.

Pada akhir tahun 2006, di mana program master saya hampir selesai dan tesis saya pun sudah final, Prof Nakamura kemudian menawarkan untuk melanjutkan studi saja menuju jenjang Doktoral. Saya sempat ragu karena saya sendiri belum punya posisi di Indonesia (meskipun ada beberapa pihak kampus dulu di UI yang men”janji”kan akan merekrut saya bila sudah pulang nanti) tetapi karena besarnya keinginan saya untuk tetap belajar dulu sampai selesai akhirnya saya terima tawaran tersebut dan lanjut masuk program doktor mulai 2007 dan selesai tahun 2010.

Tesis master yang saya tulis dulu adalah diskursus politik dan gender yang dimunculkan oleh intelektual Jepang di awal abad 19 dan kaitannya dengan sistem pemikiran Konfusianisme yang marak di Jepang di abad sebelumnya. Di situ saya mengkaji bagaimana tema modern yaitu gender dipahami dan dinarasikan ulang oleh para intelektual Jepang dengan mengambil ideologi pokok pada Konfusianisme. Sedangkan untuk disertasi, saya mengkaji seorang tokoh Konfusianis intelektual Jepang yang menjadi guru dari Kaisar Meiji dalam menginterpretasikan teks-teks klasik Konfusianisme dengan membandingkan sistem interpretasi yang dilakukan oleh para intelektual Islam di abad 13 di Damaskus karena keduanya memiliki karakter masyarakat yang sama yaitu Reading Society.

Apa kuncinya bisa mendapatkan gelar Doktor di usia amat muda?
Alhamdulillah, saya kelahiran tahun 1981 sehingga kalau dihitung, saya meraih gelar doktor dalam umur 29 tahun. Sebenarnya tidak ada yang spesial yang saya lakukan untuk itu semua, hanya banyak-banyak berdoa tentunya. Satu yang saya rasakan ketika awal-awal masuk program master dulu adalah saya sempat tidak bisa mengikuti konten pembicaraan prof saya dalam menerangkan sesuatu. Bukan kendala bahasa, tetapi isinya saya tidak mengerti. Beliau akhirnya memberi saya saran untuk banyak baca buku lagi, dan benar…setelah sekian puluh (bahkan ratus mungkin) buku saya selesaikan bacaannya, saya bisa memahami konten pembicaraan beliau dan lompatan-lompatan pikiran serta arah pembicaraannya. Untuk diketahui saja, lab. Intellectual History di tempat kami dulu agak-agak ditakuti oleh orang Jepang sekalipun karena kita mengkaji mulai teks klasik hingga buku-buku modern yang sedikit rumit bagi sebagian orang Jepang. Belum lagi penguasaan tools misal bahasa Cina klasik, bahasa Jepang klasik untuk bisa riset di bidang itu.

Jepang terkenal dengan studi-studi yang karakternya induktif…risetnya dijejali dengan begitu banyak data instead of theory, karena bagi mereka data itu dapat mereka dapatkan dengan mudah. Nah penyesuaian terhadap karakter riset yang seperti ini yang kadang2 susah bagi kita orang Indonesia. Termasuk juga betahnya orang Jepang membaca buku pun termasuk dalam hal itu. Jadi sebagai peneliti kita dituntut untuk bisa fleksibel dan cepat menyesuaikan diri dengan kultur meneliti yang jamak dilakukan oleh orang-orang sekitar kita.

Bisa sedikit diceritakan soal karir di dunia pendidikan tinggi? Bagaimana ceritanya bisa pindah ke Nagoya University? Apa yang membuat pihak Nagoya University tertarik?

Seperti saya sebutkan tadi, sebenarnya beberapa pihak di UI menjanjikan saya untuk direkrut di UI, tetapi ternyata hal itu tinggallah janji. Saya pulang tahun 2010 dengan sedikit kecewa pada waktu itu. Tapi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung saja dan melihat apa yang bisa saya perbuat di sana. Hal ini tidak lain karena ketika kuliah S1 sampai S3 saya selalu dengan beasiswa sehingga saya anggap apa yang saya miliki sekarang (ilmu) adalah investasi masyarakat. Saya pulang ke Salatiga dan kebetulan sebuah universitas swasta di Semarang membuka lowongan. Saya akhirnya apply ke situ dan diterima. Selama bekerja di Semarang mulai 2010 hingga 2012 saya bisa memboyong 3 buah grant riset internasional.

Akhir Oktober 2013, saya diemail oleh salah satu profesor penguji saya ketika di Hiroshima University dulu yang mengatakan bahwa ada PTN di Jepang yang sedang melakukan proyek skala internasional jangka panjang membutuhkan doktor yang punya background riset budaya dan pemikiran, terutama budaya dan pemikiran yang terkait dengan pendidikan, punya network luas dengan berbagai pihak, dan punya trace akademik yang bagus. Nantinya akan ditempatkan sebagai Associate Professor khusus di sana. Dan beliau katakan: “Saya melihat dari mahasiswa sy yg pernah saya temui, hanya kamu yang cocok menempati posisi ini”. Akhirnya saya mengikuti saran beliau untuk apply dan mengikuti jalur seleksi yang diadakan oleh panitia. Butuh waktu kurang lebih 2 bulan sampai akhirnya datang email dari panitia yang memberitahukan bahwa aplikasi saya yang akhirnya lolos mutlak di pemungutan suara di depan senat profesor di sini.

Mengapa mereka tertarik kepada saya? Dari apa yang saya dengar mereka sangat mempertimbangkan linearitasan riset yang saya lakukan dalam bidang Intellectual History dan tema tersebut terkait dengan pendidikan. Saya dinilai sangat memahami bagaimana sistem pendidikan Jepang dalam tataran modern nation state dan bagaimana pendidikan Jepang sebelumnya dari sisi ideologi dan budaya sehingga ini bisa menjadi sudut pandang riset dan pengajaran yang sesuai dengan tujuan proyek. Proyek yang saya terlibat di dalamnya ini adalah proyek untuk melatih para doktor muda Jepang dan negara-negara Asia lainnya untuk bisa melihat masalah sosial dan mencari solusinya dengan pendekatan budaya dan antropologi. Nah, dari sudut kajian ideologi dan pemikiran yang saya lakukan itulah diharapkan ada masukan dan kompetensi yang lebih yang bisa dilekatkan ke para calon doktor muda itu nantinya.

Bagaimana status kerja di Nagoya Uni? Fasilitas apa yang didapatkan sebagai bagian dari benefit? ehemm. Bagaimana dengan gaji sebagai dosen? apakah memadai atau masih harus mencari tambahan?

Status saya di Nagoya University sebagai Designated Associate Professor (特任准教授). Ini karena saya hanya akan menempati posisi ini dengan batas waktu yang telah ditentukan sesuai dengan proyek yang sedang ditangani. Alhamdulillah untuk fasilitas yang saya dapatkan dari pihak Nagoya University atas penunjukkan ini sangat luar biasa. Mulai dari semua biaya perjalanan saya dan keluarga ke Nagoya, semua biaya pengiriman barang pindahan rumah, fasilitas perumahan dosen yang murah tapi berkelas, ruangan yang memadai dengan semua fasilitas studi dan budget pembelian buku yang sampai saya bingung bagaimana mau menghabiskannya hehehe.

Untuk gaji alhamdulillah saya mendapatkan gaji yang lebih bila dibanding dengan standar gaji Associate Professor yang baru diangkat. Dengan gaji pokok saja, jangankan biaya hidup dan perumahan, bahkan kalau saja anak saya ada yang kuliah di Jepang maka saya bisa bayarkan SPP anak saya selama 2 semester dengan hanya 1 bulan gaji. Kagum saya dengan penghargaan Jepang terhadap dosen. Mungkin kalau kita di Indonesia dengan gaji dosen, anak dosen bila mau kuliah maka perlu nabung sekian kali gaji dulu…tapi di sini tidak.

Tidak ada keperluan bagi saya untuk nyari obyekan atau tambahan gaji sehingga sehari-hari saya bisa konsentrasi untuk memikirkan bagaimana mendidik mahasiswa. Oh iya…pengangkatan saya di sini dimulai bulan februari, tetapi saya mulai mengajar nanti bulan oktober. Selama 6 bulan saya tetap digaji sesuai dengan perjanjian tetapi tugas saya hanya belajar untuk persiapan mengajar nanti oktober, enak bukan?

Dan dengan gaji sebesar itu, saya hanya diberi beban mengajar 2 SKS. Ya…2 SKS. Mata kuliah yang jadi tanggungjawab saya adalah Education and Culture in Asia.

Bagaimana dengan tuntutan kerja? Apa saja kewajiban sebagai dosen disana? Bagaimana jika dibandingkan dengan dosen di Indonesia?

Di sini dosen kerja dengan waktu kerja tertentu. Dlm aturan kepegawaian, ditulis kerja harus sekian jam dan BIASANYA dimulai jam sekian hingga jam sekian. Tetapi untuk dosen ada catatan khusus: PELAKSANAAN WAKTU KERJA INI TIDAK DITENTUKAN. artinya saya bisa menunaikan kewajiban jam kerja itu kapanpun dalam bentuk apapun. Misalnya saya harus menemani tamu kampus seharian (seperti bbrp hari yang lalu) maka itu sudah masuk hitungan jam kerja. Pengukuran ketercapaian beban kerja hanya pada pengajaran (evaluasi dr mahasiswa) dan riset (presentasi ilmiah, buku, jurnal, karya tulis lain dsbnya). Itu saja…untuk pengajaran, seorang dosen hanya mengajar antara 2-6 sks atau 1-3 mata kuliah setiap semesternya. Itu termasuk zemi (bimbingan skripsi/tesis/disertasi yang dilakukan dengan cara diskusi bersama di bawah bimbingan dosen).

Tidak ada sama sekali beban administrasi yang dilimpahkan ke dosen di sini. Semua klaster kajian selalu dilengkapi dengan 1 orang asisten administrasi (助手) yang kepanjangan tangan dari TU dan 1 orang asisten pengajaran (助教)yang biasanya mahasiswa doktor yang paling pandai.

Kalau dibandingkan dengan beban kerja dosen di Indonesia, maka jelas dosen kita terlalu besar beban kerjanya karena tugas riset, pengajaran, administrasi dan kemudian pengabdian masyarakat semuanya dilimpahkan ke dosen. Bayangkan betapa banyak waktu dosen kita akan tergerus hanya untuk urusan administrasi, lalu waktu yang dia gunakan untuk persiapan mengajar pun akan banyak berkurang, walhasil waktu riset pun seadanya.

Di sini, setiap dosen (Associate Prof dan Prof) sudah memiliki budget tetap riset dari pemerintah dan kampus sehingga tanpa perlu mengajukan berbelit-belit sudah pasti keluar dan tepat waktu. Ini yang jadi anggaran tetap risetnya. Kemudian dia bisa mencari dana tambahan dari luar melalui proposal-proposal ke lembaga2 riset yang dibuat oleh perusahaan atau yang lainnya. Seorang dosen yang proposalnya didanai oleh pihak eksternal ini dianggap sebagai dosen yg punya gagasan dan ide riset yang menjual…sehingga nilai pengakuannya tinggi. Kalau di Indonesia kita masih rebutan HiBer dsbnya DIKTI…nah itu kalau di Jepang dinamakan Kaken dan dosen di sini ndak perlu rebutan lagi semua pasti dapat. Yang diperebutkan adalah dana luar yang lebih bergengsi.

Apakah fasilitas kerja memadai? Bisa diceritakan?

Fasilitas kerja sangat memadai. Jangankan meja, bahkan ruangan komplit seisinya pun diberikan. Saya ambil contoh fasilitas yang saya dapatkan diawal pengangkatan adalah: satu unit MacBookPro Retina Display baru, Macintosh Desktop baru, telepon fax dengan nomor pribadi, printer scan mesin fotokopi, budget pembelian buku sebesar 300 ribu yen (30 juta) untuk satu semester, dan sebagainya dan sebagainya…kepanjangan kalau saya sebutkan semuanya. Tentu saja saya juga menerima tunjangan keluarga, tunjangan istri, asuransi kesehatan untuk keluarga, tunjangan perumahan (meski sudah ditempatkan di perumahan dosen yang wah sekalipun).

Menilik pengalaman anda, apa saja yang mesti diperbaiki dari sistem pendidikan tinggi di Indonesia?

Yang paling utama yang perlu diperbaiki dari SISTEM pendidikan tinggi kita adalah pengurangan beban kerja. Bila beban kerja (terutama pengurangan beban kerja yang terkait dengan administrasi) berkurang maka dosen bisa digenjot untuk bisa menghasilkan riset yang lebih lagi.

Kemudian sistem rekrutmen dosen yang jelas dan berbasis pada kemampuan. Selama ini kita merekrut dosen melalui sistem CPNS yang sebenarnya tidak mengukur kompetensi dosen sebagai seorang peneliti dan pengajar. Di Jepang, sistem perekrutan dosen diserahkan kepada klaster kajian, yang kemudian kandidat itu akan diusulkan pada senat guru besar untuk diadakan pemunguta suara. Kandidat akan melalui 2 sampai 3 tahapan screening yang semua menilai berbasis pada kompetensi si calon sebagai dosen, peneliti dan sebagainya.

Kemudian, sistem pengakuan karya dosen harus diperbaiki. Banyak teman-teman yang bertanya kepada saya kenapa saya melompati tahap Lecturer di Jepang? Ternyata ini karena tulisan-tulisan yang pernah saya tulis selama jadi mahasiswa master maupun doktor tetap diakui sebagai milik saya dan dihitung sebagai prestasi akademik.

Lalu penghargaan atas dosen yang telah diseleksi berdasar atas kemampuan akademis yang tinggi, kompetensi yang mumpuni dan sebagainya itu dalam bentuk gaji yang sesuai. Jangan sampai anak dari si dosen akan kebingungan ketika kuliah karena gaji bapaknya tidak cukup untuk membayar kuliah. Jangan sampai dosen harus ngobyek sana sini hanya untuk menutup kebutuhan keluarganya. Kalau dosen tidak diberi penghargaan yang sesuai, maka akan susah mencetak dosen yang berdedikasi tinggi dan berkemampuan kompetensi tinggi untuk mencetak generasi mendatang yang lebih baik. Ingat, mahasiswa yang kita didik sekarang kelak akan menjadi pengganti kita, dan bagaimana Indonesia nantinya akan sangat bergantung dari pengajaran yang kita tanamkan kepada mahasiswa sekarang.

Advertisements
Categories: Koridor Inspirasi | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Andy Bangkit Setiawan: Sastrawan Indonesia yang turut Mendidik di Jepang

  1. I am really impressed along with your writing abilities neatly as} with the format on your blog. Is that this a paid theme or did you modify it yourself? Anyway stay up the excellent high quality writing, it’s uncommon to see a nice blog like this one nowadays..

  2. Sungguh luar biasa pengalaman ini semoga menjadi inspirasi bagi pemangku kebijakan di tanah air, dan memotivasinya untuk berkarya nyata mengikuti pola yang sesuai dan benar demi kemajuan dan kewibawaan bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: