Mengenal Tahapan Perkembangan Moral Manusia

Selamat sore! ūüôā

Di tengah deras hujan yang melankolis ini saya jadi ingin menulis singkat sambil berbagi sebuah tulisan yang saya pikir bagus. Kenapa? Karena ada unsur teori psikologi sekaligus potret kehidupan nyatanya. Tema tulisan yang akan saya bagi ini adalah tentang moral manusia. Sejenak saya teringat, dulu kalau belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sewaktu SD dan SMP, lalu belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), rasanya bosaaaaan sekali. Saya adalah bagian dari siswa yang tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Namun setelah saya semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa pendidikan moral itu sangatlah penting. Dalam suatu forum diskusi yang membahas soal krisis keuangan global 2008, kesimpulan para pemapar pada sesi tersebut adalah bahwa akar masalah dari proses pengelolaan perekonomian dunia kita adalah masalah moral. Mengapa? Karena perekonomian sudah bukan lagi soal need, tapi juga greed. Masih maraknya kemiskinan, di mana sekitar setengah penduduk dunia saat ini masih hidup di bawah $ 2.5/hari/orang Рyang jika disetarakan dengan tingkat harga nasional kita, angka tersebut kurang lebih setara dengan Rp 18,000/hari/orang Рjuga terjadi karena masalah moral akut bernama korupsi. Saya lantas berandai-andai, jika saja pendidikan moral tidak seperti yang saya alami dulu, yang lebih berat pada hapalan dan teori, dan bukan pada pembahasan kasus, praktik, dan contoh perilaku yang ditunjukkan guru dan penduduk senior dalam kehidupan sehari-hari seperti metode pembelajaran di Jepang, akankah moral kita akan lebih baik? Akankah negeri kita saat ini akan lebih sejahtera?

Hal inilah yang membuat tulisan ini menarik, karena membahas soal teori moral. Intinya, moral dapat dibentuk. Dimulai dengan hal terkecil berupa doa kita. Kok bisa dari doa? Gimana ceritanya? Silakan baca saya artikel selengkapnya di bawah ini, yang ditulis oleh Profesor Sarlito, Guru Besar Fakultas Psikologi UI. Saya hanya menambahkan beberapa foto dari internet agar lebih menarik. Adapun saya membagi artikel ini bukan untuk mengajak kita semua setuju dengan pesan beliau, namun lebih untuk mengajak kita semua untuk lebih bersedia memperkaya diri kita dengan wawasan, yang diharapkan kemudian dapat berdampak pula pada rasa kepedulian kita. Demikian, selamat membaca, ya! ūüôā

MORAL MANUSIA INDONESIA
Penulis: SARLITO WIRAWAN SARWONO, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

bayi inosenTiada bayi yang lahir sudah bermoral. Karena itu wajar kalau anak sampai umur tiga atau empat tahun berbuat sukasuka dia sendiri. Ia bisa bermain sama teman-teman seusianya sambil berlari-larian dan menjeritjerit tanpa peduli ada mbahnya yang sakit, atau tetangga yang kebisingan.

Baru sesudah orang tuanya marah, dia berhenti. Jadi dia berbuat baik (tidak mengganggu orang) karena takut dimarahi mamanya, takut kena hukuman. Atau bisa juga karena mamanya mengiming-imingi permen atau mainan. Jadi anak menurut karena mencari hadiah. Psikolog Lawrence Kohlberg (1927-1967) menyebut perilaku anak yang seperti itu sebagai tahap paling awal dari perkembangan moral, yang dinamakannya tahap “taat karena ganjaran (reward) atau hukuman (punishment).


‚ÄĚ Ketika anak itu lebih besar, sekitar enam sampai sepuluh tahun, dia tidak menunggu dimarahi atau diiming-imingi hadiah, melainkan sudah menilai situasi yang menguntungkan atau merugikan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Misalnya, ia tidak mau mengambil kue pisang di meja, karena ia tahu pisang itu punya ayahnya, dan kalau ia nekat makan kue itu pasti dia kena marah mamanya.

Kedua, tahap perkembangan moral ini disebut oleh Kohlberg sebagai tahap perkembangan moral tingkat pertama (TPM 1) yang dinamakannya tahap prakonvensional, yang lazim ditemukan pada anak-anak. Ketika anak sudah beranjak remaja, maka dia masuk ke TPM 2, yaitu tahap konvensional, yang terbagi lagi menjadi dua subtahap perkembangan moral, yaitu subtahap konformitas dan subtahap tegakkan aturan.

Dalam subtahap konformitas anak berusaha menjadi anak yang baik, saleh, tidak menyusahkan orang tua, tidak meresahkan masyarakat, dll. Pada subtahap tegakkan aturan, dia berusaha untuk mengendalikan lingkungannya agar selalu tertib, aman dan terkendali. Ia mengingatkan teman-temannya yang berisik, dan memungut kulit pisang yang tercecer agar tidak menyebabkan orang lain jatuh.

Pada usia dewasa, sampailah orang itu pada TPM 3, yaitu TPM tertinggi yang dinamakan TPM pascakonvensional, yang juga terbagi dalam dua subtahap. Kedua subtahap terakhir itu adalah subtahap kontrak sosial, dan subtahap etika universal. Ciri dari TPM 3 adalah sangat memperhatikan kepentingan orang lain, dan mengalahkan kepentingan diri sendiri. Orang yang sudah mencapai subtahap kontrak sosial, misalnya, selalu menepati janjinya sendiri.

Untuk dia, janji adalah utang. Dia tidak mau orang lain menunggunya, lebih baik dia menunggu orang lain, maka dia selalu datang lebih awal di tempat perjanjian. Pada subtahapyangtertinggi, etika universal, bahkan ia sudah tidak lagi memandang manusia berdasarkan ras, jenis kelamin, golongan, politik, kelas sosial atau agama. Semua manusia sama saja di matanya, karena itu kebaikanharusdiberlakukannya pada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. ***

Tetapi teori Kohlberg itu didasarkannya pada penelitian di Barat sana, khususnya di¬†Amerika. Di Indonesia, teori itu terhambat oleh¬†doa¬†orang-orang tua sendiri sejak anak masih dalam kandungan sampai anak itu berulang tahun ketujuh belas yang bunyinya selalu seperti ini, ‚Äú…mudah-mudahan anak ini menjadi anak yang taat dan berbakti pada orang tua dan menjadi anak yang saleh/salehah.

Amin, amin, amin (tiga kali), ya rabbal alamin). Kalau mengacu ke teorinya Kohlberg, doa orang tua Indonesia hanya berhenti pada TPM 1 prakonvensional (anak nurut sama orang tua) dan TPM 2 konvensional, khususnya subtahap konformitas (orang baik-baik). Hampir tidak ada doa orang tua agar anaknya lebih mementingkan orang lain, ikhlas melakukan sesuatu demi keperluan orang banyak, tidak senang melihat orang susah, dan ikut gembira melihat orang senang. Itulah sifat-sifat khas TPM 3 pascakonvensional.

Potret gagalnya pendidikan moral kita; sudah tidak jelas mana yang salah, karena suatu pelanggaran dilakukan secara berjamaah

Potret gagalnya pendidikan moral kita; sudah tidak jelas mana yang salah, karena suatu pelanggaran dilakukan secara berjamaah

Maka bisa dimengerti mengapa orang Jakarta tetap saja menyerobot jalur busway, karena hal itu tidak menyebabkannya menjadi anak yang tidak taat pada orangtua(orangtuanya pun naik motor melawan arus) dan tidak menjadikannya anak yang tidak saleh atau salehah. Mereka baru taat kalau ada polisi. Sangat tipikal TPM 1.

Bisa dimengerti juga mengapa masjid-masjid selalu penuh setiap Jumat (menunjukkan mentalitas orang baik-baik), tetapi tawuran dan membajak bus kota tetap jalan. Para pemimpin pun TPM-nya tidak jauh-jauh dari TPM masyarakatbiasa. Korupsibuat pemimpin tidak melanggar doa orang tua, bahkan bisa menyejahterakan keluarga dan kerabat. Buat pemimpin yang rata-rata belum masuk ke TPM 3, walaupun sudah punya cucu, moralitas mendahulukan kepentingan orang lain, apalagi memandang sesama manusia sebagai sesama, tidak menjadi pedomannya.

Calon kepala daerah janji-janji waktu kampanye, tetapi dia lupa pada janjinya ketika sudah terpilih, ya tidak apa-apa. Kalau ada konflik antarkelompok, pemimpin tidak mencoba mengatasi konflik dengan memperhatikan kepentingan bersama (termasuk kelompok minoritas), melainkan membela salah satu kelompok agar dipandang sebagai pemimpin yang populis. Itu namanya mencari konformitas, bukan menegakkan moralitas.

Sidang DPR paripurna perdana pascareses, Senin, 18 November 2013, hanya dihadiri sekitar 60-an orang dari lebih dari 500-an anggota. Itu pun konformitas (semuanya juga begitu, kok), bukan moralitas (biar yang lain begitu, saya tetap begini). Jadi demi mendapat anggota DPR dan presiden yang punya moral tinggi untuk 20 tahun mendatang (sudah terlambat untuk 2014), sudah saatnya kita mengubah doa orang tua.

Tambahlah doa kita agar anak menjadi orang yang amanah, mendahulukan kepentingan orang lain, demi kebaikan bersama, kesejahteraan dan perdamaian umat sedunia. Amin (sekali saja cukup, karena Allah tidak tuli). ‚󏬆Minggu, 24 November 2013

—— sekian —–

Intermezzo sedikit ya, berhubung saya juga termasuk orang yang sangat benci dengan pengendara motor yang melawan arus. Saya ingin mengajak kawan-kawan pembaca bersikap konsisten, jika benci dengan orang berkendara lawan arus, maka kita jangan pernah mau lawan arus. Untuk kasus saya, biasanya godaan terbesar berasal dari tukang ojek yang menjadikan waktu tempuh dan tarif lebih murah jika lawan arus. Namun Alhamdulillaah saya masih bisa teguh pendirian tidak mau lawan arus. Malah menasehati tukang ojek agar tidak melawan arus karena sangat mengganggu pengendara lainnya di jalan raya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya ingin¬†share¬†juga foto ini. Iseng ketemu di internet yang bagi saya, turut menyuarakan keluhan batin saya ūüėÄ Salam damai bagi kita semua, ya.. dan bagi yang masih suka lawan arah, jangan marah kalau kami marah-marah ya..

LAWAN ARAH, HARAM JADDAH!!

LAWAN ARAH, HARAM JADDAH!!

Advertisements
Categories: Dunia Kita | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: