Monthly Archives: January 2014

Pengumuman dari Bapak Supir Taksi: “To all passengers, please talk in English, I want to improve my English”

Salah satu nasihat kehidupan yang sering saya terima adalah “dimana ada kemauan ada jalan”, atau nasihat versi globalnya, “where there is a will, there is a way”. Contoh nyata dari pelaksanaan nasihat itu adalah kisah Pak Tarnedi ini, seorang supir taksi yang memiliki cita-cita sederhana ingin lebih bisa berbahasa Inggris, agar tidak kalah dengan bangsa lain dan agar dapat menjadi lebih pintar. Jalan yang Ia tempuh unuk mencapai cita-citanya pun tergolong kreatif, karena tidak memakan biaya sepeser pun alias gratis. Bagaimana memang caranya? Ia minta saja penumpangnya untuk berbicara dengan bahasa Inggris. Ia mulai dengan memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris-nya yang walau terbata-bata, namun menarik, karena beliau memperkenalkan diri sambil bernyanyi: “My name is Tarmedi, I live in Bekasi, my occupation taxi driver, I want to be smarter… I have 2 sons....”.

Saya terinspirasi membaca kisah ini, semoga teman-teman pembaca juga 🙂 berikut liputan utuh tentang Pak Tarnedi yang diambil dari http://www.merdeka.com. (DM)

Continue reading

Advertisements
Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Mengenal Tahapan Perkembangan Moral Manusia

Selamat sore! 🙂

Di tengah deras hujan yang melankolis ini saya jadi ingin menulis singkat sambil berbagi sebuah tulisan yang saya pikir bagus. Kenapa? Karena ada unsur teori psikologi sekaligus potret kehidupan nyatanya. Tema tulisan yang akan saya bagi ini adalah tentang moral manusia. Sejenak saya teringat, dulu kalau belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sewaktu SD dan SMP, lalu belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), rasanya bosaaaaan sekali. Saya adalah bagian dari siswa yang tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Namun setelah saya semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa pendidikan moral itu sangatlah penting. Dalam suatu forum diskusi yang membahas soal krisis keuangan global 2008, kesimpulan para pemapar pada sesi tersebut adalah bahwa akar masalah dari proses pengelolaan perekonomian dunia kita adalah masalah moral. Mengapa? Karena perekonomian sudah bukan lagi soal need, tapi juga greed. Masih maraknya kemiskinan, di mana sekitar setengah penduduk dunia saat ini masih hidup di bawah $ 2.5/hari/orang – yang jika disetarakan dengan tingkat harga nasional kita, angka tersebut kurang lebih setara dengan Rp 18,000/hari/orang – juga terjadi karena masalah moral akut bernama korupsi. Saya lantas berandai-andai, jika saja pendidikan moral tidak seperti yang saya alami dulu, yang lebih berat pada hapalan dan teori, dan bukan pada pembahasan kasus, praktik, dan contoh perilaku yang ditunjukkan guru dan penduduk senior dalam kehidupan sehari-hari seperti metode pembelajaran di Jepang, akankah moral kita akan lebih baik? Akankah negeri kita saat ini akan lebih sejahtera?

Hal inilah yang membuat tulisan ini menarik, karena membahas soal teori moral. Intinya, moral dapat dibentuk. Dimulai dengan hal terkecil berupa doa kita. Kok bisa dari doa? Gimana ceritanya? Silakan baca saya artikel selengkapnya di bawah ini, yang ditulis oleh Profesor Sarlito, Guru Besar Fakultas Psikologi UI. Saya hanya menambahkan beberapa foto dari internet agar lebih menarik. Adapun saya membagi artikel ini bukan untuk mengajak kita semua setuju dengan pesan beliau, namun lebih untuk mengajak kita semua untuk lebih bersedia memperkaya diri kita dengan wawasan, yang diharapkan kemudian dapat berdampak pula pada rasa kepedulian kita. Demikian, selamat membaca, ya! 🙂

MORAL MANUSIA INDONESIA
Penulis: SARLITO WIRAWAN SARWONO, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

bayi inosenTiada bayi yang lahir sudah bermoral. Karena itu wajar kalau anak sampai umur tiga atau empat tahun berbuat sukasuka dia sendiri. Ia bisa bermain sama teman-teman seusianya sambil berlari-larian dan menjeritjerit tanpa peduli ada mbahnya yang sakit, atau tetangga yang kebisingan.

Baru sesudah orang tuanya marah, dia berhenti. Jadi dia berbuat baik (tidak mengganggu orang) karena takut dimarahi mamanya, takut kena hukuman. Atau bisa juga karena mamanya mengiming-imingi permen atau mainan. Jadi anak menurut karena mencari hadiah. Psikolog Lawrence Kohlberg (1927-1967) menyebut perilaku anak yang seperti itu sebagai tahap paling awal dari perkembangan moral, yang dinamakannya tahap “taat karena ganjaran (reward) atau hukuman (punishment).

Continue reading

Categories: Dunia Kita | Tags: , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.