Monthly Archives: November 2013

Pendidikan Dasar di Jepang: Penanaman Moral

Om swastiastu 🙂 Semoga kita semua dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widi. Halo pembaca 🙂 Pertama-tama saya kembali minta maaf, karena kembali belum berhasil untuk berbagi rutin di hari senin dan kamis :/ Sebenarnya pada kesempatan ini saya ingin berbagi soal kunjungan saya ke suatu kelompok kerajinan di Desa Warnasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana Bali; namun kok agaknya masih agak kecapean untuk menulis.

Untungnya di milis kantor, ada kolega yang berbagi artikel yang sangat menarik, yaitu soal pendidikan dasar di Jepang. Artikel ini sangat bermanfaat bagi saya, khususnya karena saya termasuk orang yang percaya bahwa pendidikan moral atau karakter, adalah lewat praktik dan tauladan, bukan hanya lewat pembahasan materi dari buku (seperti metode pendidikan moral di Indonesia). Saya jadi ingat perkataan Mba Tika Bisono, “karakter itu sulit dilatihkan, sulit diajarkan, tapi bisa ditularkan”. Jadi pada kesempatan ini saya ingin berbagi soal artikel yang sudah menambah wawasan saya ini, yaitu artikel yang menggambarkan metode pendidikan dasar di Jepang. Tidak ada bangsa yang bisa besar karena kebetulan, semua terjadi karena hasil kerja keras. Kalau menurut Mas Bidrians Abidin (penulis artikel di bawah ini), kebesaran Jepang bukan terjadi by default, melainkan by design. Status beragama sudah jelas tidak berhubungan dengan tingkat korupsi, Indonesia contohnya.Tapi pendidikan moral dan karakter yang efektif, seperti yang dilakukan di Jepang, Norwegia, dan negara-negara besar lainnya, agaknya lebih berpengaruh dalam menekan tingkat korupsi di negaranya.

Jadi, ingin tahu seperti apa metode pendidikan dasar di Jepang? Berikut artikelnya, selamat membaca 🙂

Sekolah di Jepang VS Sekolah di Indonesia
Oleh: Bidrians Abidin

Anak-anak SD di Jepang. Sumber foto: halaman facebook Bidrians Abidin

Anak-anak SD di Jepang. Sumber foto: halaman facebook Bidrians Abidin

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan. Continue reading

Categories: Tentang Salamduajari | Tags: , , | 2 Comments

Kunci Kebahagiaan: make the best of everything

Holaaaa.. hari ini saya kembali mencoba merutinkan pola posting dua kali seminggu, yaitu hari Senin dan Kamis (seperti jadual puasa sunah Senin dan Kamis). Saya tidak tahu apakah akan berhasil, tapi paling tidak akan saya coba.

Hari ini saya ingin berbagi soal kunci kebahagiaan. Pada posting salamduajari sebelumnya yang berjudul “miskin dan bahagia”, dan yang berjudul  “Indonesia, India, dan Mexico: Rumah dari orang-orang Sangat Bahagia”, kita sama-sama melihat suatu data bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat pendapatan cukup rendah, namun tingkat kebahagiaannya tergolong tinggi. Lalu hari ini saya menemukan suatu kutipan menarik tentang kebahagiaan. Ini dia kutipannya:

Sumber: 9gag.com

Sumber: 9gag.com

Pesan dari kutipan di atas, kurang lebih sejalan dengan nasihat orang tua, senior atau kakak-kakak saya. “Dewi, kunci bahagia itu sesungguhnya sederhana, yaitu sukur dan sabar”. “Dewi, supaya ga terlalu stress, cobalah belajar untuk menerima keadaan, cobalah berdamai dengan diri sendiri; mungkin memang lebih baik target-target kamu itu tidak dicapai sekarang, tapi nanti. Sesuatu kan ada waktunya sendiri-sendiri. Sekarang nikmati saja apa-apa yang sudah berhasil dimiliki, sudah dicapai. Intinya, berdamailah sama diri kamu sendiri”. Atau mungkin nasihat dari teman seumuran, yang bilang, “Wi, masih untung loe udah …..; belum lagi loe kan sekarang juga udah jadi …..; masih untung …. dan masih untung …..”. Intinya, masih untung sudah ini dan sudah punya itu. Waktu saya dulu kecelakaan dan mengalami patah tulang bahu depan dan 6 jahitan di kepala juga, keluarga dan kerabat saya juga masih pada bilang, “Alhamdulillaah, masih untung patah tulangnya cuma di bahu depan sehingga tidak terlalu perlu operasi”, “woalaaah, masih untung si Dewi tidak mengalami lupa ingatan yaaa”. Haha, intinya hampir semuanya ada “masih untung”-nya.

In short, saya jadi semakin mengerti mengapa hasil survey yang menunjukkan fenomena bahwa walaupun Indonesia merupakan negara dengan tingkat pendapatan yang masih tergolong cukup rendah (negara berkembang), Indonesia merupakan negara di mana masyarakatnya tergolong bahagia. Jawabannya adalah karena secara umum orang Indonesia tergolong orang-orang yang mudah bersyukur. Dengan budaya “masih untung”-nya, orang Indonesia terlatih untuk berdamai dengan keadaan, sepahit apapun itu; karena dari setiap kondisi, pasti ada sisi hikmahnya. Kisah-kisah inspiratif seperti kisah Dewantara Soepardi atau Angkie Yudistia, hanya sedikit dari banyaknya kisah-kisah inspiratif di mana kebahagiaan itu sangat mungkin dicapai ditengah banyaknya keterbatasan. Mungkin karena itu lah kita, secara umum, tergolong bahagia; karena toh, kunci kebahagiaan itu bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada pemaknaan kita atas apa-apa yang telah dimiliki. So, i have to agree that “the happiest people don’t have the best of everything, they just make the best of everything”. Happy Monday!  (DM)

 

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.