Esensi Hari Raya Kurban: Ikhlas

Besok adalah Hari Raya Idul Adha, atau yang sering juga yang kita sebut dengan Hari Raya Kurban. Dalam hidup saya, besok akan menjadi hari raya kurban saya yang ke-30. Banyak juga ya? Layaknya kondisi iman atau keyakinan yang turun naik sehingga perlu disegarkan saban hari dengan Sholat, saban tahun esensi hari raya kurban juga perlu disegarkan. Kalau tidak, hari raya ini hanya akan menjadi ritual badaniah yang saban tahun kita lakukan hanya dan hanya karena sudah menjadi tradisi. Saya tidak ingin itu terjadi setidaknya pada diri saya sendiri.

goatAdapun tulisan ini saya tulis dalam kondisi jiwa yang tidak tenang. Mengapa? Saya sedang bingung dengan diri saya sendiri, yaitu bingung karena saya sama sekali tidak lagi bisa merasakan indahnya syahdu takbir. Jujur, saya malah merasa kesal karena saya harus mendengarkan suara takbir anak-anak yang sumbang, namun dikumandangkan dengan  lantang melalui pengeras suara dari mesjid dekat tempat tinggal saya. Mungkin karena saya adalah tipe orang yang bisa menikmati indahnya zikir dalam keheningan. Keheningan membuat saya merasakan hubungan yang sangat intim dengan Tuhan, karena yang mengetahui dan merasakan, hanya saya dan Tuhan. Tidak perlu orang satu kampung tahu bahwa saya sedang berzikir. Pendeknya, saya tidak tenang karena semalaman saya harus mendengarkan takbir sumbang ini. Apakah artinya saya menjauh dari Tuhan? Masa’ saya tidak senang ketika mendengarkan namaNya dikumandangkan?

Pikiran pun berkecamuk. “Wi, dulu Nabi Ibrahim diuji keihlasannya dengan perintah untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail (walau kemudian dengan kuasaNya berubah menjadi domba yang sehat), masa lo dengerin takbir sumbang aja ga bisa ikhlas? Lagian kan esensi Idul Adha adalah napak tilas keikhlasan Nabi Ibrahim yang pada saat itu rela menyembelih anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Tuhan. Ikhlas wi, ikhlas! Santai dong jeng”, kira-kira seperti itulah ceramah dari, oleh, dan untuk saya sendiri di kepala. Saya tarik nafas, berzikir, sampai paduan suara takbir sumbang itu kembali membahana dan mengganggu konsentrasi saya. Buyar lagi keheningan hati, mau baca buku juga tidak nyaman. Lalu ketika suami mengajak saya keluar rumah, saya langsung mau. Tiada pikir dua kali.

Sekarang nuansa hati saya sudah cukup nyaman, makanya bisa menulis. Namun entah kenapa,saya merasa masih sulit untuk ikhlas menerima suara takbir sumbang yang kencang itu. Mengapa? Pertama, dengan segala ketebatasan pengetahuan agama saya, saya yakin berpaduan suara dengan anak-anak untuk bertakbir kencang bukan perintah Tuhan. Kedua, kalau pun mau takbiran kencang, apakah perlu semalaman? Memangnya orang lain tidak punya kehidupan yang perlu dihargai? Atau mungkin saya yang aneh sendiri ya, karena yang lain toh tidak terganggu? Ketiga, entah kenapa, saya merasa paduan suara takbir sumbang itu sebagai polusi suara. Seperti suara kendaraan bermotor hasil modifikasi (yang saya tidak tau sebenarnya gagal atau tidak) yang sebelas dua belas dengan jenis suara kapal kelotok. Hanya saja posisi suara kendaraan modifikasi tersebut bagi saya merupakan wujud polusi suara yang lebih buruk (lebih mengganggu). Keempat, bukankah ada kaset atau CD takbiran yang dijual umum dan jelas-jelas bunyinya indah, sehingga cukup kaset itu saja yang diputar dan paduan suara takbir yang mengikutinya tidak perlu menggunakan pengeras suara lagi?

Akhirnya, kecamuk di hati dan pikiran saya pun berakhir, dan suhu di jiwa pun sudah kembali ke temperatur suhu kamar, tidak kepanasan lagi. Mengingat kembali esensi Hari Raya Kurban juga sangat membantu.” Ikhlas ikhlas ikhlas”, begitu saya ucapkan berulang-ulang sambil memejamkan mata, agar optimal efek manteranya. Saya ikhlas karena sisa malam saya masih akan harus “diwarnai” dengan paduan suara takbir sumbang nan kencang, yang pada tahun ini memasuki tahun ke-10 saya, karena sebelumnya saya tidak tinggal di lokasi yang begitu dekat dengan Mesjid. Ya, intinya saya senang bisa ikhlas. Dalam hidup bermasyarakat, tentu kita perlu bertoleransi, apalagi untuk kebiasaan-kebiasaan tertentu yang sudah bersifat tradisi. Namun mudah-mudahan para pengurus mesjid sebelah,  kalangan pelaku lainnya, dan juga kalangan pendukung tradisi tersebut, juga bisa ikhlas memdengarkan atau membaca suara hati ini. Karena memang dalam bermasyarakat, kita perlu bertoleransi, apalagi untuk hal-hal yang bersifat aspirasi.

Semakin besar suatu bangsa, aspirasi masyarakatnya pun cenderung akan semakin bervariasi. Dengan kemampuan untuk ikhlas, semoga kita akan mampu hidup dalam harmoni di tengah kehidupan bermasyarakat dengan corak aspirasi yang bervariasi. Selamat Hari Raya Kurban, Selamat berbagi, dan salam ikhlas 🙂

(DM)

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: