Monthly Archives: October 2013

Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Halo pembaca salamduajari 🙂  pertama-tama mohon maaf karena saya belum bisa mendisiplinkan diri dalam mengunggah tulisan. Niat hati pengen rutin tiap senin dan jumat tapi kok belum jalan-jalan ya haha xD Mudah-mudahan kedepan bisa lebih disiplin. Adapun untuk kali ini, saya menemukan tulisan menarik dari Koran Tempo. Mengingat kemarin kita mengenang hari Sumpah  Pemuda, rasanya menyenangkan juga sesekali diakrabkan lagi dengan sejarah Bangsa. Nah, tulisan ini adalah karangan opini yang mengandung sejarah. Soal niat saya untuk mengunjungi Singapura setelah membaca artikel ini, jujur biasa saja, karena dari dulu tidak pernah gandrung ke sana. Saya juga belum pernah ke Singapura untuk tujuan murni jalan-jalan, baru pernah untuk urusan kunjungan kerja.  

Adapun niat berbagi artikel ini tidak lain tidak bukan adalah untuk berbagi wawasan. Wawasan saya bertambah setelah membaca artikel ini, semoga Anda juga. Demikian, salam cakrawala!

 

Singapura, Akil, dan Bung Hatta

Ditulis oleh: Asvi Warman Adam,
Sejarawan LIPI

Singapura menjadi tempat pertemuan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dengan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Tubagus Chaeri Wardana, adik kandung Atut, untuk membicarakan soal pemilihan kepala daerah. Demikian disampaikan Pia Akbar Nasution, pengacara Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, kepada media pada 16 Oktober 2013. “Pertemuannya enggak lama kok, cuma 15 menit,” kata Pia. Pertemuan itu berlangsung di Hotel JW Marriot, yang berjarak hanya 500 meter dari RS Mount Elizabeth, tempat Ratu Atut menjalani cek kesehatan. Namun hal ini dibantah pengacara Akil ataupun juru bicara keluarga Atut.

Sebuah media nasional berhasil mencatat bahwa Akil dan Atut berangkat dengan pesawat yang sama, Singapore Airlines SQ 953, pada Sabtu, 21 September 2013. Akil lebih dulu melintas dalam pemeriksaan imigrasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta daripada Atut. Akil melintas pada pukul 05.08 WIB, sementara Atut pukul 06.50 WIB. Pesawat SQ 953 jenis Boeing 777-200 itu berangkat pukul 07.55 WIB. Tapi keduanya pulang pada hari yang berbeda. Akil pulang ke Indonesia pada Senin, 23 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 825. Sedangkan Atut baru pulang ke Indonesia pada Rabu, 25 September 2013, menggunakan pesawat SQ 966.

Dalam data yang sama pada saat Akil dan Atut pergi ke Singapura, Wawan juga berada di sana. Wawan berangkat lebih dulu dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 836, pada Jumat, 20 September 2013, pukul 19.00 WIB dan baru kembali ke Indonesia pada Selasa, 24 September 2013, menggunakan pesawat Garuda Indonesia, GA 825.
Continue reading

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Tips Melawan Rasa Kantuk ketika Menyetir Jarak Jauh

Selain orang yang menyeberang sembarangan, motor berkendara dengan arah berlawanan arah, angkot yang parkir ditempat yang nyaman (murni untuk dirinya sendiri), salah satu yang sangat umum juga kita lihat di jalanan adalah truk-truk besar pengangkut berbagai jenis barang. Nah, supir truk ini cukup banyak yang harus berkendara lintas propinsi yang berjalak jauh sehingga tidak jarang dari mereka harus terus menyetir walau sudah larut malam atau bahkan, dini hari.

Berkaitan dengan itu, tentu para supir kerap harus melawan rasa kantuk. Tahukah kamu apa tips yang beredar di komunitas supir truk lintas propinsi untuk melawan rasa kantuk? Ini dia tips yang didapat oleh salamduajari dari sumber terpercaya yang tidak berkenan namanya disebut:

1. “Buka celana dalem”, ujar narasumber

2. “Basahin celana dalemnya”, tambahnya

3. “Pake lagi deh celana dalemnya”, jawabnya dengan sumringah

Kami cukup tertegun dan terkejut ketika mendengar tips itu. Tapi karena itu fakta dan masuk akal juga, jadinya kami laporkan deh. Semoga dapat menambah wawasan kamu juga yaa.. 🙂

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Tags: , | Leave a comment

Finding Resonance in Art’s Hollowness

It’s funny how memory works and how it recollects random observations we make of a given moment. Sometimes the things we remember aren’t really historic or so emotionally groundbreaking, sometimes they’re actually quite trivial details of a particular moment. I remember from years ago I was sitting in class, I don’t remember how many years ago or what class it was. The lights were turned off because we were shown a powerpoint presentation, I don’t remember by whom or of what the presentation was given. The popular kids were seated in the back of the class like usual, leaning back and balancing on the two hind legs of their chairs, occupied with their own version of playground gossip just as I was with my circle of friends a few rows in front of them. I remember silence overtaking the room as one particular slide showed up on the projector screen. It was a photograph of a child sitting on dry grounds, ribs protruding out of the skins of her torso. In the background, slightly off focus, was a vulture. That was the day I first saw the iconic Pulitzer winning photo shot by Kevin Carter of the vulture and the starving child. I don’t remember what I said after seeing that picture but I remembered feeling like I needed to get out of the room and run as far away from there as possible.

the vulture and the starving child

The only other thing I remembered from the presentation was that we were asked by the presenter on what we thought of the photograph. They asked us, “What do you think of this picture? Do you think it was the right thing to do to have taken that photo instead of actually helping the child? What would you have done in that situation?” The question really disconcerted me, I’m sure it did most if not all of my peers as well. We could not have been twelve at most. At the time I thought, “Well obviously something’s wrong with the guy if he insisted on clicking away at his camera as he watched the life extinguish out of a helpless child right before him!” which in retrospect seems kind of judgmental and off-putting of me to say. Then we were told that the photographer had died, committing suicide caused by the insufferable guilt as a direct result of the image that haunted him for the remainder of his life. Or so it was implied.

It was a memorable moment in my life because we were suddenly confronted by this very real and very complex question of prioritisation and purpose. Continue reading

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Esensi Hari Raya Kurban: Ikhlas

Besok adalah Hari Raya Idul Adha, atau yang sering juga yang kita sebut dengan Hari Raya Kurban. Dalam hidup saya, besok akan menjadi hari raya kurban saya yang ke-30. Banyak juga ya? Layaknya kondisi iman atau keyakinan yang turun naik sehingga perlu disegarkan saban hari dengan Sholat, saban tahun esensi hari raya kurban juga perlu disegarkan. Kalau tidak, hari raya ini hanya akan menjadi ritual badaniah yang saban tahun kita lakukan hanya dan hanya karena sudah menjadi tradisi. Saya tidak ingin itu terjadi setidaknya pada diri saya sendiri.

goatAdapun tulisan ini saya tulis dalam kondisi jiwa yang tidak tenang. Mengapa? Saya sedang bingung dengan diri saya sendiri, yaitu bingung karena saya sama sekali tidak lagi bisa merasakan indahnya syahdu takbir. Jujur, saya malah merasa kesal karena saya harus mendengarkan suara takbir anak-anak yang sumbang, namun dikumandangkan dengan  lantang melalui pengeras suara dari mesjid dekat tempat tinggal saya. Mungkin karena saya adalah tipe orang yang bisa menikmati indahnya zikir dalam keheningan. Keheningan membuat saya merasakan hubungan yang sangat intim dengan Tuhan, karena yang mengetahui dan merasakan, hanya saya dan Tuhan. Tidak perlu orang satu kampung tahu bahwa saya sedang berzikir. Pendeknya, saya tidak tenang karena semalaman saya harus mendengarkan takbir sumbang ini. Apakah artinya saya menjauh dari Tuhan? Masa’ saya tidak senang ketika mendengarkan namaNya dikumandangkan?

Pikiran pun berkecamuk. “Wi, dulu Nabi Ibrahim diuji keihlasannya dengan perintah untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail (walau kemudian dengan kuasaNya berubah menjadi domba yang sehat), masa lo dengerin takbir sumbang aja ga bisa ikhlas? Lagian kan esensi Idul Adha adalah napak tilas keikhlasan Nabi Ibrahim yang pada saat itu rela menyembelih anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Tuhan. Ikhlas wi, ikhlas! Santai dong jeng”, kira-kira seperti itulah ceramah dari, oleh, dan untuk saya sendiri di kepala. Continue reading

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.