Dari Office Boy Outsourcing hingga Jadi Mahasiswa FEUI

Hidup itu memang tak pernah datar..  Atau sama saja hidup tak selamanya mulus.

Ya, mungkin hal itulah yang menggambarkan hidupku (dan pastinya hidup setiap orang). Kadang kita menggelinjang kesakitan kala badai kehidupan menerjang, tidak taunya kita terbawa olehnya sampai ke tempat yang baik untuk kemudian bersyukur.

Aku dulu hanya seorang murid SMK, disebuah SMK yang belum faforit bernama SMK PGRI 1 Sentolo jika dibandingkan SMK berlabel “negeri” di Kulon Progo. SMK yang tak terlalu besar namun kekeluargaannya begitu kental. Bahkan aku yakin guru-gurunya juga berkwalitas dan sabar.

Aku banyak bermimpi di sana, dan mimpiku yang paling besar adalah melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi paling faforit di negeri ini. Bukan, aku bukan hanya hendak mengejar gengsi. Hatiku selalu berdesis ketika berita tentang ekonomi dan berbagai macam percakapan strategi bisnis serta finansial masuk di telingaku. Jadi aku yakin sekali bahwa itu adalah suara passion-ku.

Di SMK aku mengikuti beberapa lomba. Satu hal yang lucu adalah selain aku mengikutinya untuk menguji kemampuanku, aku mengikutinya juga karena aku butuh uang hadiahnya ntuk membiayai sekolahku. Ya, orang tuaku sudah tak sanggup membiayai sekolahku. Aku beruntung bisa sekolah dari hasil lomba itu. Lombanya beragam, mulai dari kompetisi ekonomi, riset, tangkas trampil perkoprasian sampai lomba artikel FEKSI. Alhamdulillah banyak yang aku menangkan dengan keterbatasan sarana dan kecerdasanku dibanding mereka yang berasal dari kota. Hinga akhirnya aku lulus SMK pada 2012.

Impian kuliah di fakultas ekonomi terbaik di negeri ini sudah seperti di depanku kala itu. Namun semuanya ternayata sirna. Aku gagal masuk UI-UGM lewat jalur undangan, gagal amsuk UGM lewat SNMPTN Tulis dan kembali gagal dalam Seleksi Masuk UI (SIMAK-UI) tahun 2012. Hatiku benar-benar hancur kala itu.

Sebulan aku mengaggur dan kemudian mencari kerja. Berbekal info dari twitter aku menuju ke walk in interview rekrutmen pegawai hotel Tentrem. Aku tak tahu apa-apa soal sistem kerja Outsourcing kala itu. Karena hanya berbekal ijazah SMK yang bukan SMK Perhotelan aku rasional mendaftar sebagai Housekeeping. Setelah melewati berbagai interview aku akhirnya diterima dan baru tahu bahwa hotel Tentrem baru akan buka pada awal tahun. Karenanya, penempatan pertamaku pada 6 September 2012 adalah sebagai Office Boy di kantor Pre-Openingnya, Office Boy Outsourcing.

Malu? pastinya. Namun euforia di kantor itu sangat hangat. Director, bahkan  sampai General Manager Hotel tak pernah menganggap rendahan sebuah posisi. Beliau memperlakukanku sebagai manusia yang terhormat walau posisiku hanya sebagai Office Boy Outsourcing. Kala aku tanya tentang beberapa hal yang aku ingin pelajari, mereka tak segan menjawab. Manajer Housekeeping yaitu Bapak Aan Tisnanda sangat sabar mengajariku ilmu-ilmu hotel. Yang paling berkesan adalah ketika Ibu Novitasari, Diector of Room, mengajariku arti bekerja dengan hati. Beliau mengajarkan bahwa uang memang tujuan kita bekerja, tapi tak semata-mata karena itu juga. Hal itu yang membuat kerjaku semangat.

Hingga, saat hotel dibuka pada Januari 2013 aku diangkat sebagai Staff Public Area Attendant. Tugasnya adalah membersihkan Public Area hotel.  Aku benar-benar merasa bahwa kerjaku dihargai saat itu. SIlahkan tanyakan kepada pegawai hotel bintang lima manapun yang pembaca sekalian kenal, betapa sulit menjadi Staff dari seorang pegawai Outsource atau Casual. Karenanya aku berusaha terus memberikan kinerja terbaiku kala itu, dan tentunya terus belajar.

Namun, bagaimanapun, mimpi untuk berkuliah di Fakultas Ekonom terbaik tak sedikitpun pudar dari benakku. Aku terus belajar dan kini aku bisa beli lebih banyak buku karena aku sudah punya penghasilan. Ikut Bimbingan belajar? Itu masih terlalu mahal, kerjaku shift pula.

Setiap aku dapat shift sore dan waktu serta kerjaanku selesai aku tak langsung pulang. Aku selalu ke Front Office untuk belajar sistem hotel dari mereka. Seorang yang berbaik hati mengajarkanku sistem kala itu adalah Pak Yosi, saat itu beliau adalah Duty Manager di sana. Hal itu berlangsung sampai 2 bulan hingga akhirnya ada lowongan menjadi Service Center Agent (Guest Service) di Front Office Departemen. Aku mendaftar, dan pada saat interview dengan Ibu Novi, beliau kaget karena tak menyangka bahwa aku yang mendaftar. Setelah melewati beberapa test bahasa inggris dan sistem, dua minggu kemudian aku resmi diangat sebagai Service Center Agent dengan tugas menghandel request dari tamu dan melanjutkan pesan ke departemen terkait serta follow up dan juga menerima reservasi.

Aku bersyukur, mulai Maret tersebut kerjaku tidak lagi mengandalkan tenaga fisik, walau harus aku akui betapa kompleks bekerja di departemen Front Office di sebuah hotel bintang lima. Karena dengannya aku akan punya tenaga lebih banyak untuk belajar soal-soal tes masuk perguruan tinggi 2013. Ya, setiap setelah kerja, aku tak peduli betapa kantuk dan lelah mendera, aku paksakan untuk belajar. Demi mimpiku.

Hingga datanglah musim tes itu. Pertama pastinya adalah Seleksi Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Aku mendaftar UGM dengan  Manajemen sebagai pilihan pertama, Ilmu  Ekonom sebagai pilihan kedua. Aku baru sadar setelah tes hari kedua selesai bahwa aku menggunakan pensil 6B !! Aku sudah coba ke panitia, namun lembar jawab sidah disegel. Aku sedikit lega setelah browsing dan menemukan bahwa perbedaan 6B hanyalah karena sulit dhapus dan sedikit lebih tebal. Namun masih bisa di scan. Aku mengingat kembali, dan lega karena aku tak pernah menghapus jawaban.

SIMAK UI pun tiba. Tantangannya adalah mengerjakan soal ujian setelah bekerja shift malam. Namun aku coba untuk tenang dan tidak panik, ya itu kuncinya: tetap tenang dan tidak panik, jangan lupa berdoa dan yakin. Entah mengapa obsesiku masih bergejolak. saking obesifnya aku membeli peraut pensil berwarna kuning, begitupun alas kertas ujian, BERWARNA KUNING. Sesuai warna almamater Universitas Indonesia. Pilihan pertamaku adalah Manajemen dan kedua adalah Ilmu Ekonomi. Aku tak peduli banyak orang berpikir aku tak strategis karena keduanya memiliki passing grade yang tinggi. Prinsipku adalah daripada aku harus kuliah di tempat yang bukan passionku, aku memilih tetap bekerja saja.

Pengumuman SBMPTN pun tiba, aku menunggunya dengan begitu cemas.Setelah beberapa saat menunggu tangis dan jingkrakku pecah saat aku diumumkan lulus di Ilmu ekonomi UGM. Aku sangat bahagia.  Libur di minggu itu aku gunakan untuk mencari berbagai keringanan karena sebagaimana aku sebutkan, biaya pendidikanku tak ada yang menangung.  Hingga akhirnya aku dapat Uang Kuliah Tunggal hanya sebesar satu juta per semester.

19 Juli 2013. Pengumuman SIMAK UI. jujur walau saat mengerjakan sangat optimis aku sudah lebih sumeleh menanti pengumuman. Aku suda tak terlalu berharap mengingat persaingan SIMAK begitu ketatnya. Bahkan aku sudah katakan, kalau aku tak diterima di pilihan pertama (manajemen S1 Reguler) aku aku akan melepasnya dan tetap memilih di UGM. Saking tidak berharapnya aku baru membuka pengumuman itu pukul 9 pagi. Itupun karena dipaksa seorang teman yang ingin tahu bagaimana hasil SIMAK ku.

Aku begitu terkejut ketika melihat bahwa aku diterima di jurusan dan fakultas serta universitas impianku. Aku diterima di Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonsia! Aku langsung membisu, hampir lepas tak sadar kala itu. Hedak menangis tapi masih mencoba mengembalikan kesadaranku. Bahkan temankupun sempat tidak percaya (begitupun aku).  Sampai aku cukup tenang, aku langsung sujud syukur agak lama tanpa berdoa dan tanpa bisa berkata apapun karena begitu besar karuniaNya ini. Tak hanya itu, aku mendapat keringanan biaya kuliah tanpa uang pangkal dan hanya dikenakan Rp. 650.000 tiap semesternya.

Seminggu kemudian aku sudah harus mengikuti proses Orientasi Belajar Mahasiswa selama seminggu, aku beruntung rekan kerja dan atasanku melepaskan jatah cutiku (bahkan melebihkan satu hari) selama delapan hari di peak season hotel (lebaran season). Setelah itu aku masih kembali bekerja dan baru meninggalkan pekerjaan pada 22 Agustus 2013. Ya, maklum, aku butuh sekali gaji terakhirku untuk tambahan tabungan kerjaku untuk menjadi modal awal kuliah sebelum nantinya mencari beasiswa. Yang buat aku terharu adalah Front Office dan Ibu Novi memberikan Farewell yang sangat mengharukan di briefing front office. Yang membuat aku takan pernah lupa kalau aku punya keluarga di Tentrem yang sangat menyayangiku. Bahkan beberapa hari sebelum farewell tersebut, Ibu Mey, General Manager memberi selamat secara personal saat kami bepapasan. Bahkan beliau menyempatkan memberi wejangan yang lumayan panjang yang akan selalu aku ingat seumur hidupku. Wejangan yang memberi semangat !

Proses orientasi, proses pengenalan belajar aku jalani. Aku sangat bahagia melihat kolam makara abu-abu yang pertama aku lihat saat ikut kompetisi ekonomi riset tingkat SMA (Kompek) tahun 2011. Aku tak kuasa menahan tetes air mata ketika masuk Auditorium Soeria Atmadja yang gambar tiap sudutnya selalu mengganggu tidur nyenyakku  selama 2 tahun.

Dan kini, saat post ini aku tulis, aku sedang berada di asrama mahasiswa. Menikmati malam sejenak dalam nostalgia karena besuk libur. Sedikit menengok jejak-jejak yang tak mudah selama setahun belakangan sambil berdoa lamaran beasiswa yang kukirim segera mendapat respon. Aku masih ingat hari-hariku sebagai seorang Office Boy Outsorcing. Aku masih ingat tatapan merendahkan dari beberapa tetanggaku. Berat sekali saat itu. Malam ini aku hendak bercumbu kembali dengan impian-impian semasa aku SMK yang kini sedang aku jalani kenyataannya. Malam ini bersama post ini aku hendak nostalgia kembali dengan Multi Purpose Cleaner yang baunya lemon dan Glass Cleaner serta Dust Cloth yang aku bawa untuk membersihkan ruangan kantor dan hotel. Begitu luar biasa Dia menggoreskan takdir untukku. Profesi Office Boy Outsourcing yang pertama kali dahulu membuatku dipermalukan oleh beberapa mata tetangga yang sinis kini selalu aku banggakan sebagai back ground ceritaku.

Malam ini aku hendak menuntaskan kerinduanku kepada memori Kakek Nenek yang merawatku sejak aku berumur dua bulan sampai dengan berat hati melepasku merantau demi mengejar mimpiku. Memori tentang saat kami berjualan bubur bersama. Tentang rumah kontrakan yang bocor jika hujan. Tentang sepeda yang dulu ia gunakan mengajakku ke pasar saat aku kecil. Sementara aku ingin melupakan sejenak tabungan yang mulai menipis dan beasiswa yang belum terjawab sambil mengingat kembali bagaimana Simbah Putiku membuatkan nasi kuning sesaat sebelum aku berangkat. Itu syukuran pertama untukku sepanjang hidupku yang diwujudkan melalui makanan. Malam ini aku hendak sejenak melupakan pikiran untuk kerja sampingan jika beasiswa tak segera aku dapatkan dan uangku keburu habis untuk mengingat ujian semester SMK di ruang khusus untuk siswa-siswa yang belum lunas membayar SPP. Mengenang kala seorang guru SMK berbelas kasih memberikan sebagian gajinya untukku guna melunasi biaya SPP kala itu karena kuota beasiswa sekolah swasta desa memang tak banyak dan hanya bisa dapat sekali (1 tahun).

Ah, betapa hebat perjalanan yang Dia susun untuk seorang anak desa pemimpi sepertiku. Kini, saatnya aku harus buktikan rasa syukurku di kampus kuning Abu-Abu ini. Di Fakultas Ekonomi terbaik di seantero negeri ini bahwa aku akan berusaha sebaik mungkin. Berprestasi setinggi-tingginya. Berkontribusi sebanyak-banyaknya. Demi semua jejak-jejakku. Demi Kakek-Nenekku yang merawatku sejak umur dua bulan. Demi istri dan anakku kelak yang aku janji kepada siapapun mereka bahwa mereka nanti tak boleh merasakan kegetiran hidup secara materi dan mental seperti yang aku alami sejak kecil. Demi janjiku pada negeri ini untuk mengibarkan bederanya di atas warna-warna lain. Dan tentunya demi almamater Universitas Indonesia!

Siapapun yang membaca post ini. Mari selalu optimis. Tidak ada impian yang terlalu tunggi bagi orang yang yakin dan terus berjuang untuknya. Untuk adik-adik SMA/SMK yang hendak berjuang melanjutkan kuliah, kakakmu ini sarankan untu memilih jurusan yang menjadi passionmu. Jangan hanya melihat gengsi universitasnya. Karena itu akan dijalani selama 4tahun dan menjadi hidupmu. Bersemangatlah !!

Asrama Mahasiswa UI, 20 September 2013

Tulisan diatas adalah kisah Gigih Prastowo yang diambil dari sini.

Advertisements
Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: