Indonesia = Miskin dan Bahagia. Bagaimana Komentar Mahasiswa?

Salah satu isu yang banyak ekonom dewasa ini diskusikan adalah yang berkaitan dengan kebahagiaan. Apakah kesejahteraan ekonomi berhubungan lurus dengan kebahagiaan? Pada sesi pertama kuliah di Kelas Ekonomi Kemiskinan semester ini, selain membahas silabus kami juga berdiskusi soal kisah-kisah kehidupan orang miskin di Indonesia. Salah satu hal yang menarik adalah soal fakta di mana tidak sedikit dari orang miskin Indonesia merasa bahagia. Hal ini sejalan dengan beberapa hasil survey yang menunjukkan Indonesia, sebagai negara berkembang yang sekitar setengah penduduknya masih hidup di bawah USD 2/kapita/hari (purchasing power parity), menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Salah satunya adalah seperti yang digambarkan pada gambar di bawah ini, dan juga yang dipaparkan pada artikel salamduajari sebelumnya.

sumber: Dornbusch et al, Macroeconomics 10th Edition, Chapter 4

sumber: Dornbusch et al, Macroeconomics 10th Edition, Chapter 4

Terkait dengan itu, kami berdiskusi terkait tema, “miskin dan bahagia, bagaimana komentar Anda?” Berikut adalah petikan-petikan komentar mahasiswa yang dirumuskan bersama. Bagi saya, semua komentarnya menarik untuk diketahui, maupun dicerna. Semoga bermanfaat ya 🙂 oh, ya, bagaimana komentar Anda sendiri?

Miskin dan Bahagia, berikut adalah komentar-komentar mahasiswa:

It is better to be uninformed as long as I am happy and don’t feel inferior”—Andalan

The simplicity of happiness (Nilai budaya yang sederhana untuk konsep bahagia)”—Hazmi

Not well-informed happiness can endanger the economy, especially because we know currently other nations are developing progressively and we are stagnant”—Naomi

“Budaya guyub membuat kaum miskin lebih mudah menerima keadaan”—Bella

“Sebagai bangsa sudah selayaknya memnuhi standard kehidupan untuk semua; kondisi tidak layak berhubungan dengan life expectancy pendek. Walaupun mereka sudah bahagia, mereka akan bahagia untuk jangka yang lebih pendek.”—Wisnu

“Kemiskinan juga soal mindset, jadi bukan karena bertambahnya referensi/informasi yang membuat seseorang ‘merasa’ miskin tapi lebih kepada pemaknaannya atas informasi tersebut”—Rifqi

“Bahagia boleh, konyol ya jangan! Jadi edukasi tetap penting!”—Renno

“Kemiskinan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi hanya konsep akademik, padahal mengejar kemakmuran itu sendiri tidak dapat menjamin kebahagiaan”—Samuel

“Kita perlu tahu mereka bahagia, sehingga kita dapat merancang program pembangunan yang sejalan dengan sumber-sumber kebahagiaan mereka”—Asta

Happiness jangan diposisikan sebagai excuse”—Hazna

Kesimpulan dari pertemuan pertama ini adalah: belum ada kesimpulan, jadi, mari belajar lagi lebih dalam agar kita sama-sama dapat lebih memahami isu kemiskinan dan bagaimana mengatasinya 🙂  (DM)

Advertisements
Categories: Dari Ruang Kelas, Snapshot | Tags: | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Indonesia = Miskin dan Bahagia. Bagaimana Komentar Mahasiswa?

  1. Pingback: Kunci Kebahagiaan: make the best of everything | salamduajari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: