Budaya Memuliakan Tamu, Kearifan Lokal?

Pontianak, 7 September 2013 – Sebagai seorang pemelajar yang ingin mengurai masalah akses keuangan untuk masyarakat pra-sejahtera, saya sering berdialog dengan berbagai kalangan yang memang, kurang disukai oleh lembaga keuangan formal, khususnya bank. Mereka-mereka adalah kalangan petani, pelaku usaha ultra mikro (pendapatan kotor atau omset usahanya kurang dari Rp 250,000/hari), nelayan, sampai pemulung. Sejauh ini, dari berbagai perjalanan saya dari sabang sampai merauke, ada satu kesamaan yang saya temukan pada budaya masyarakat kita, yaitu budaya memuliakan tamu.

Waktu saya ke Serdang Bedagai di Sumatera Utara, oleh pelaku usaha mikro penghasil opak singkong membungkusi saya berenteng-renteng buah rambutan. Jika saya tidak menolak dengan tegas, sekitar 6-10 buah durian juga ingin beliau berikan sebagai buah tangan. Waktu saya ke Kabupaten Pati di Jawa Tengah, saya dimasakkan bamdeng gpreng dan pepes jeroan bandeng untuk makan siang. Tidak kalah, waktu ke Salatiga, saya dimasakkan tahu goreng sambal kecap dan sayur ceriwis. Begitu pula yang terjadi di wilayah timur Indonesia. Di Kabupaten Timur tengah Selatan (NTT) saya dikalungi tenunan khas mereka, dan waktu ke Papua saya di-oleh-olehi kopi. Indah memang budaya ini. Indah karena menurut saya, porsinya masih “pas”. Ketika porsinya berlebihan… hmmm.

Adapun contoh alkisah yang berlebihan adalah seperti ini:

  1. Di NTT, adalah budaya untuk menjamu tamu, apalagi sanak saudara yang datang dari kampung lain dan sampai menginap di rumah. Kasus yang pernah saya dengar sendiri dari masyarakat adalah di mana si tuan rumah bisa sampai rela menyembelih hewan ternak mereka untuk menjamu tamu. Wajar jika hewan ternak yang dimiliki banyak, namun jika yang dimiliki terbatas dan dulunya dibeli dengan dana pinjaman? Aksi itu selain membuat tuan rumah kehabisan sumber mata pencaharian, juga membuat proses pengembalian pinjaman mereka juga menjadi macet.
  2. Di Papua, budaya cinta kasih sering mengalahkan disiplin berusaha. Orang sulit menolak jika ada anggota keluarga yang meminta bantuan berupa sembako, rokok, atau barang dagangan lainnya. Akhirnya, modal tidak berputar sempurna, karena barang yang sudah dibeli, tidak dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi, melainkan menjadi pemberian atau penjualan dengan hutang “lunak” untuk sanak saudara. Ada pengakuan menarik yang pernah saya dengar dari pelaku usaha mikro yang mengakui kegagalan usaha warung sembakonya dulu. Beliau berkata, “kalau nagasaki dan hiroshima hancur karena bom, maka warung saya hancur karena bon!”
  3. Di Toraja, Bali, dan Kabupaten Simalungun di Sumatera Utara (dan mungkin beberapa daerah lain di Indonesia yang tidak saya ketahui persis), orang bisa menghabiskan ratusan juta rupiah (di Tana Toraja ada warga yang bilang ke saya bahkan bisa milyaran, di Bali juga), untuk upacara kematian.
  4. Di banyak wilayah di indonesia,tidak sedikit yang rela meminjam uang demi bisa menyelenggarakan upacara pernikahan yang layak, dalam artian dapat menjamu para tamu sesuai dengan standar sosial yang berlaku. Itu dari sisi yang menyelenggarakan. Dari sisi pihak yang diundang, sebagai wujud kepedulian, sudah umum berlaku bahwa yang diundang “harus” menyumbang. Di beberapa suku tertentu, sebegitu kuatnya nilai solidaritas sampai ayam, sapi, babi, atau kambing ternak terakhir yang dimiliki tetap akan direlakan untuk disumbangkan, walau setelahnya mereka bingung soal bagaimana memulai kembali usahanya.

Melihat kasus-kasus di atas, saya jadi bingung, apakah bentuk-bentuk kearifan lokal seperti tersebut masih bisa disebut arif? Saya tidak punya jawabannya, tapi yang pasti saya mengalami kesulitan untuk memahami soal mengapa kita harus mengorbankan diri dan keluarga kita sendiri demi orang lain yang lebih jauh kaitannya dengan kita? Berbagi itu indah, tapi berkorban? Ada yang bilang ke saya bahwa hal-hal di atas tidak melulu soal solidaritas, tapi juga soal harga diri (pride), agar terhindar dari rasa malu jika tidak ikut berkontribusi (baca: berkorban). Namun dasar ini lebih tidak masuk akal lagi untuk membuat seseorang sampai “rela” memberikan hewan ternak terakhir yang dimilikinya; terlebih, sampai “rela” tercoreng nama baiknya (di sisi kehidupan yang lain) karena tidak mampu lagi membayar cicilan hutang-hutangnya sebagai akibat habisnya aset produktif yang dimiliki.

Hhmm, mungkin karena saya dibesarkan di keluarga Islam dimana bagian harta yang wajib untuk dibagi hanyalah sebesar 2.5%, dan untuk memberi lebih dari itu, tidak wajib hukumnya sehingga tidak ada dosa jika tidak melakukannya. Intinya, setiap orang yang sehat lahir batin tidak boleh menumpukan urusan hidupnya kepada rumah tangga lain. Mungkin adanya pemahaman ini di kepala saya, yang membuat saya semakin sulit mengerti. Kata orang bijak, it is easier to learn than to unlearn.

Anyway, pemikiran ini sudah lama terngiang-ngiang di kepala saya. Baru kali ini saya tuliskan karena terpicu oleh sebuah artikel di kompasiana soal Sail Komodo yang menghabiskan dana trilyunan rupiah yang pada inti ya dikeluarkan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan dan jamuan untuk para peserta Sail Komodo, yaitu 21 pelayar dari berbagai negara. Artikel itu membuat saya kembali bertanya, apakah memuliakan tamu merupakan bentuk kearifan lokal yang untuk konteks zaman saat ini, masih dapat dikatakan arif? Jujur hati kecil saya saat ini seperti berbisik kencang, “kayanya memuliakan lebay deh ya, kesannya tamu itu lebih penting daripada diri dan keluarga kita sendiri. mendingan kita budayakan kata menghormati tamu aja. Sounds more egalitarian. but anyway, whatever”.

Berikut adalah link untuk artikel kompasiana tersebut: sambut 21 bule, habis trilyunan rupiah.
(DM)

Advertisements
Categories: Kearifan Lokal | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: