Monthly Archives: September 2013

Dari Office Boy Outsourcing hingga Jadi Mahasiswa FEUI

Hidup itu memang tak pernah datar..  Atau sama saja hidup tak selamanya mulus.

Ya, mungkin hal itulah yang menggambarkan hidupku (dan pastinya hidup setiap orang). Kadang kita menggelinjang kesakitan kala badai kehidupan menerjang, tidak taunya kita terbawa olehnya sampai ke tempat yang baik untuk kemudian bersyukur.

Aku dulu hanya seorang murid SMK, disebuah SMK yang belum faforit bernama SMK PGRI 1 Sentolo jika dibandingkan SMK berlabel “negeri” di Kulon Progo. SMK yang tak terlalu besar namun kekeluargaannya begitu kental. Bahkan aku yakin guru-gurunya juga berkwalitas dan sabar.

Aku banyak bermimpi di sana, dan mimpiku yang paling besar adalah melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi paling faforit di negeri ini. Bukan, aku bukan hanya hendak mengejar gengsi. Hatiku selalu berdesis ketika berita tentang ekonomi dan berbagai macam percakapan strategi bisnis serta finansial masuk di telingaku. Jadi aku yakin sekali bahwa itu adalah suara passion-ku.

Di SMK aku mengikuti beberapa lomba. Satu hal yang lucu adalah selain aku mengikutinya untuk menguji kemampuanku, aku mengikutinya juga karena aku butuh uang hadiahnya ntuk membiayai sekolahku. Ya, orang tuaku sudah tak sanggup membiayai sekolahku. Aku beruntung bisa sekolah dari hasil lomba itu. Lombanya beragam, mulai dari kompetisi ekonomi, riset, tangkas trampil perkoprasian sampai lomba artikel FEKSI. Alhamdulillah banyak yang aku menangkan dengan keterbatasan sarana dan kecerdasanku dibanding mereka yang berasal dari kota. Hinga akhirnya aku lulus SMK pada 2012.

Impian kuliah di fakultas ekonomi terbaik di negeri ini sudah seperti di depanku kala itu. Namun semuanya ternayata sirna. Aku gagal masuk UI-UGM lewat jalur undangan, gagal amsuk UGM lewat SNMPTN Tulis dan kembali gagal dalam Seleksi Masuk UI (SIMAK-UI) tahun 2012. Hatiku benar-benar hancur kala itu.

Sebulan aku mengaggur dan kemudian mencari kerja. Berbekal info dari twitter aku menuju ke walk in interview rekrutmen pegawai hotel Tentrem. Aku tak tahu apa-apa soal sistem kerja Outsourcing kala itu. Karena hanya berbekal ijazah SMK yang bukan SMK Perhotelan aku rasional mendaftar sebagai Housekeeping. Setelah melewati berbagai interview aku akhirnya diterima dan baru tahu bahwa hotel Tentrem baru akan buka pada awal tahun. Karenanya, penempatan pertamaku pada 6 September 2012 adalah sebagai Office Boy di kantor Pre-Openingnya, Office Boy Outsourcing. Continue reading

Advertisements
Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

FEUI Selenggarakan Diskusi seputar Koperasi dan Kewirausahaan Sosial dengan Dr. Rory Duff

DSC_0004

Nuansa Diskusi di Ruang Djoko Soetono, Gedung Dekanat FEUI Lantai 3

Kewirausahaan sosial adalah suatu konsep baru namun gerakannya semakin berkembang di dunia yang kini semakin sadar akan perlunya cara baru dalam melaksanakan aktifitas ekonomi, agar juga dapat efektif dalam mengatasi masalah sosial yang dialami masyarakat sekitar. Sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gerakan ini, British Council bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi UI, dan didukung oleh UKM Center FEUI melaksanakan kerjasama dalam bentuk pengadaan diskusi yang mengangkat tema “Cooperative as the basis of Social Entrepreneurship and Social Entreprise”. Pada kesempata tersebut Dr Rory Ridley Duff, edukator yang juga seorang pakar dibidang koperasi dan kewirausahaan sosial dari Sheffield Hallam University (Inggris), berperan sebagai narasumber . Adapun sesi diskusi tersebut dihadiri oleh para dosen FEUI, tim British Council, mahasiswa S1 dan S2 FEUI, dan para perwakilan pengurus koperasi mahasiswa di lingkungan UI, serta perwakilan dari tim Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan.

Dr Rory memulai paparannya dengan membagi aktifitas ekonomi ke dalam 3 sektor besar, yaitu sektor swasta (private sector), sector publik (public sector), dan sektor ketiga (third sector). Sektor swasta beraktifitas dalam mekanisme masyarakat dengan model kegiatan berupa penawaran barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginan masyarakat dalam rangka mendapatkan keuntungan. Sektor publik beraktifitas dengan model kegiatan berupa penyediaan barang dan jasa melalui pemanfaatan anggaran Negara, sehingga tujuannya tidak untuk mendapatkan keuntungan melainkan dalam rangka memenuhi hak dan kebutuhan masyarakat umum, serta untuk menjalankan fungsi redistribusi pendapatan. Sementara yang tergolong ke dalam sektor ketiga adalah yang beraktifitas dengan model kegiatan berupa penyediaan barang dan jasa untuk memenuhi hak dan kebutuhan publik namun pembiayaan kegiatannya tidak berpaku pada anggaran Negara, melainkan dapat berasal dari dana masyarakat. Perusahaan Sosial (social enterprise) oleh Dr. Rory berada pada sektor  ketiga tersebut. Adapun antara ketiga sektor tersebut, pada implementasinya sering terdapat irisan, hal ini kemudian mewarnai jenis dan tipe dari perusahaan sosial itu sendiri, yang kemudian membuat konsep perusahaan sosial tersebut menjadi tidak mudah untuk didefinisikan secara hitam dan putih.

Namun demikian, Dr Rory memiliki konsep atas definisi perusahaan sosial tersebut, di mana sebuah perusahaan baru dapat disebut sebagai perusahaan social jika memenuhi 2 kriteria, yaitu: 1) usaha tersebut memiliki tujuan sosial (enterprise with social purpose) yang jelas dan terinternalisasi dalam visi dan misi perusahaan; 2) usaha tersebut dijalankan dan dikelola dengan dasar sosial (socialized enterprise) di mana kekuasaan dalam pengambilan keputusan tidak terpusat pada 1 pihak semata melainkan turut melibatkan berbagai stakeholders yang berkaitan dengan aktifitas perusahaan, atau dikelola secara partisipatori. Dari kedua factor tersebut, Dr Ridley-Duff menyatakan bahwa koperasi (cooperatives) memenuhi kedua kriteria di atas dan dapat dikatakan sebagai bentuk atau model nyata dari konsep perusahaan social (social enterprise). Mengapa? Karena 7 prinsip dasar koperasi (berdasarkan International Cooperative Alliance) telah menginternalisasi kedua kriteria tersebut, khususnya tercakup dalam prinsip koperasi yang ke-3 dan ke-7 yaitu member economic participation dan concern for community. Continue reading

Categories: Dari Forum Diskusi | Tags: , , | 3 Comments

Indonesia = Miskin dan Bahagia. Bagaimana Komentar Mahasiswa?

Salah satu isu yang banyak ekonom dewasa ini diskusikan adalah yang berkaitan dengan kebahagiaan. Apakah kesejahteraan ekonomi berhubungan lurus dengan kebahagiaan? Pada sesi pertama kuliah di Kelas Ekonomi Kemiskinan semester ini, selain membahas silabus kami juga berdiskusi soal kisah-kisah kehidupan orang miskin di Indonesia. Salah satu hal yang menarik adalah soal fakta di mana tidak sedikit dari orang miskin Indonesia merasa bahagia. Hal ini sejalan dengan beberapa hasil survey yang menunjukkan Indonesia, sebagai negara berkembang yang sekitar setengah penduduknya masih hidup di bawah USD 2/kapita/hari (purchasing power parity), menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Salah satunya adalah seperti yang digambarkan pada gambar di bawah ini, dan juga yang dipaparkan pada artikel salamduajari sebelumnya.

sumber: Dornbusch et al, Macroeconomics 10th Edition, Chapter 4

sumber: Dornbusch et al, Macroeconomics 10th Edition, Chapter 4

Continue reading

Categories: Dari Ruang Kelas, Snapshot | Tags: | 1 Comment

Budaya Memuliakan Tamu, Kearifan Lokal?

Pontianak, 7 September 2013 – Sebagai seorang pemelajar yang ingin mengurai masalah akses keuangan untuk masyarakat pra-sejahtera, saya sering berdialog dengan berbagai kalangan yang memang, kurang disukai oleh lembaga keuangan formal, khususnya bank. Mereka-mereka adalah kalangan petani, pelaku usaha ultra mikro (pendapatan kotor atau omset usahanya kurang dari Rp 250,000/hari), nelayan, sampai pemulung. Sejauh ini, dari berbagai perjalanan saya dari sabang sampai merauke, ada satu kesamaan yang saya temukan pada budaya masyarakat kita, yaitu budaya memuliakan tamu.

Waktu saya ke Serdang Bedagai di Sumatera Utara, oleh pelaku usaha mikro penghasil opak singkong membungkusi saya berenteng-renteng buah rambutan. Jika saya tidak menolak dengan tegas, sekitar 6-10 buah durian juga ingin beliau berikan sebagai buah tangan. Waktu saya ke Kabupaten Pati di Jawa Tengah, saya dimasakkan bamdeng gpreng dan pepes jeroan bandeng untuk makan siang. Tidak kalah, waktu ke Salatiga, saya dimasakkan tahu goreng sambal kecap dan sayur ceriwis. Begitu pula yang terjadi di wilayah timur Indonesia. Di Kabupaten Timur tengah Selatan (NTT) saya dikalungi tenunan khas mereka, dan waktu ke Papua saya di-oleh-olehi kopi. Indah memang budaya ini. Indah karena menurut saya, porsinya masih “pas”. Ketika porsinya berlebihan… hmmm.

Adapun contoh alkisah yang berlebihan adalah seperti ini:

  1. Di NTT, adalah budaya untuk menjamu tamu, apalagi sanak saudara yang datang dari kampung lain dan sampai menginap di rumah. Kasus yang pernah saya dengar sendiri dari masyarakat adalah di mana si tuan rumah bisa sampai rela menyembelih hewan ternak mereka untuk menjamu tamu. Wajar jika hewan ternak yang dimiliki banyak, namun jika yang dimiliki terbatas dan dulunya dibeli dengan dana pinjaman? Aksi itu selain membuat tuan rumah kehabisan sumber mata pencaharian, juga membuat proses pengembalian pinjaman mereka juga menjadi macet.
  2. Di Papua, budaya cinta kasih sering mengalahkan disiplin berusaha. Orang sulit menolak jika ada anggota keluarga yang meminta bantuan berupa sembako, rokok, atau barang dagangan lainnya. Akhirnya, modal tidak berputar sempurna, karena barang yang sudah dibeli, tidak dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi, melainkan menjadi pemberian atau penjualan dengan hutang “lunak” untuk sanak saudara. Ada pengakuan menarik yang pernah saya dengar dari pelaku usaha mikro yang mengakui kegagalan usaha warung sembakonya dulu. Beliau berkata, “kalau nagasaki dan hiroshima hancur karena bom, maka warung saya hancur karena bon!” Continue reading
Categories: Kearifan Lokal | Tags: | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.