Monthly Archives: July 2013

Save MASTER

Tulisan berikut diambil dari profil Kita Bisa Save MASTER Indonesia dimana proyek tersebut menggalang dana bersifat crowdfunding untuk membangun ulang sekolah gratis Master Depok yang rencananya akan digusur.


Sekolah MASTER (Masjid Terminal) sudah bertahun-tahun membina anak jalanan menjadi siswa berprestasi bahkan beberapa mendapat beasiswa PTN. Kini MASTER akan direlokasi karena pembangunan terminal terpadu. Bantu anak2 mendapatkan tempat belajar baru.
Setelah mencuatnya isu penggusuran Sekolah Master akhir-akhir ini dimedia sosial, akhirnya Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail angkat bicara. Pernyataan beliau disampaikan saat Walikota melakukan kunjungan ke Sekolah Master dalam rangka mengisi acara “Ruang Kita” yang disiarkan TvOne di Sekolah Master hari Kamis, 18 Juli 2013. Beliau menjamin bahwa sekolah Master tidak akan digusur. Beliau juga menegaskan bahwa Sekolah Master akan tetap berdiri dan dipertahankan.

Ya, besar harapan kita pernyataan Walikota Depok benar-benar dipertanggungjawabkan. Hari Senin, tanggal 22 Juli kami dari tim #SaveMaster melakukan audiensi langsung dengan Walikota Depok untuk mengeluarkan pernyataan resmi tertulis tentang jaminan tersebut. Pembangunan masjid dan asrama putra yang saat ini dilakukan di Sekolah Master tetap berlangsung. Oleh karena itu Master masih menerima donasi untuk mendukung serta membantu pembangunan fasilitas ini.

“Dengan adanya Sekolah Master, tidak ada lagi yang namanya anak-anak putus sekolah. Terima Kasih Master telah membantu saya sampai ke jenjang yg setinggi ini. Semoga ke depannya semakin banyak mencetak lulusan-lulusan yg sukses.” (Mohamad Irvanior, Sejarah Universitas Diponegoro 2012) Continue reading

Advertisements
Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Menjadi Bagian dari “Lipatan” Keluarga Besar Sabang Merauke

Merantaulah…

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena dia tertahan.

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ‘kan keruh menggenang.

Singa takkan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur takkan kena sasaran.

~ Imam Syafi’i ~ 

NAD versi Taman Mini :)

NAD versi Taman Mini 🙂

Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali)

Saya mengenal program ini dari sebuah pesan di milis penerima beasiswa Goodwill, entah kenapa saat itu juga langsung “klik” dengan program itu, langsung download form pendaftaran FSM (Famili Sabang Merauke) mengisi dan mengirim kembali sebelum ijin suami (karena yakin suami tercinta pasti setuju  ). Setelah beres semua urusan pendaftaran baru ijin suami dan didukung dengan penuh cinta, terima kasih suami

Kurang lebih 2 minggu saya dihubungi via email bahwa tim Sabang Merauke akan datang ek rumah untuk diskusi sekaligus interview “kepantasan” kami menjadi FSM. Setelah disepakati hari pertemuannya, Kak Dhani sebagai perwakilan SM (Sabang Merauke) datang dan ngobroool panjang lebar tentang aktifitas kami sehari-hari, kebiasaan yang kami lakukan, kemauan kami menerima keberagaman dari calon ASM (Anak Saang Merauke) yang akan datang.

Continue reading

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Out of the Blue: Bagaimana Google berharap dapat berbagi koneksi internet dengan balon

Ketika pertama kali terbentuk di tahun 80an, internet memiliki fungsi yang sangat berbeda dari yang kita ketahui saat ini. Di pertengahan tahun 90an ketika penggunaan internet mulai booming di kalangan publik, semuanya sangat tergila-gila dengan e-mail, chatting dan surfing the web dengan sambungan lemot—waktu itu saya masih terlalu kecil untuk bisa merasakan sendiri sih, tapi saya pernah nonton film You’ve Got Mail which is basically the same thing, right? 20 tahun kemudian internet telah berubah menjadi suatu hal yang baru sama sekali. Kita diperkenalkan pada istilah-istilah baru seperti ‘google’, ‘blog’ dan ‘tweet’, dan juga pada situs jejaring sosial yang tampaknya berhasil memperbudak kehidupan sehari-hari kebanyakan dari kita (RT ini kalau setuju!). Internet telah merombak pengertian dari kata ‘jarak’ dimana kini segalanya tersedia di ujung jari kita namun tetap saja terasa amat jauh. But that’s a story for another day.

Siapa yang dapat menduga 30 tahun yang lalu bahwa suatu teknologi yang dirancang untuk kegunaan militer kini telah menjadi integral dalam kehidupan kita sehari-hari? Setidaknya bagi mereka yang memiliki akses internet. Banyak orang menganggap hanya karena kakek dan nenek dan saudara jauh kita semua terhubung di dunia maya bahwa kakek dan nenek dan saudara jauh setiap orang juga menikmati hal yang sama. Kenyataannya hanya 1 dari 3 orang di muka bumi ini memiliki akses internet, di Indonesia sendiri hanya 22% penduduk kita merupakan pengguna internet. Karena dunia masa kini menuntut semua orang semakin terhubung, internet proficiency menjadi suatu hal yang begitu diperlukan selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu memastikan bahwa lebih banyak orang dapat menyambung ke internet untuk melihat foto-foto kucing dan hal penting lainnya telah menjadi suatu prioritas. Google, para pelopor teknologi informasi, telah memikirkan sebuah solusi bernama Project Loon yang bertujuan menyediakan akses internet yang cepat dan murah untuk sisa 2 dari 3 orang tadi. Bagaimana mereka berupaya menyebarkan aksesibilitas bagi daerah-daerah terpencil di muka bumi? Jawaban mereka? Dengan meniup balon.

Berikut adalah terjemahan postingan blog official Google mengenai Project Loon pada 14 Juni oleh Mike Cassidy, pemimpin Project Loon:

Introducing Project Loon: Balloon-powered Internet access

Internet adalah salah satu teknologi yang paling mengubah hidup kita sejauh ini. Tetapi bagi 2 dari 3 orang di dunia, sambungan internet yang cepat dan murah tidak tersedia bagi mereka. Dan masalah ini belum juga terpecahkan.

Beberapa hambatan dari konektivitas internet yang terkait masalah geografis—daerah hutan, kepulauan, pegunungan. Beberapa hambatan lainnya terkait biaya yang muncul. Contohnya saat ini dalam kebanyakan negara di bumi bagian selatan, biaya sambungan internet dapat melebihi tingkat pendapatan sebulan.

Memecahkan perihal diatas bukan sekedar masalah waktu tetapi juga memaksa kita memandang masalah aksesibilitas dari sudut pandang lainnya. Dengan demikian kami mempersembahkan moonshot terbaru dari Google[x]: Akses internet tenaga balon.

Continue reading

Categories: Kreasi dan Inovasi | Leave a comment

Konglomerasi Sosial? Mengapa Tidak?

Senang sekali bisa punya kolega sehebat Mas Ruwi dan Mas Onte ini. Saya ga mau panjang lebar disini, bagi yang ingin jadi wirausaha yang ramah lingkungan dan mensejahterakan masyarakat luas, belajarlah dari pengalaman dua orang “gila” beserta tim-nya ini! 😀 selamat membaca!   (Sumber tulisan asli disini)

Konglomerasi Sosial a la Perkumpulan Telapak

Sore itu sekitar pukul 16.00, Kota Hujan mengeluarkan hawa mendung. Awan pekat menjalari perjalanan kami menuju Perkumpulan Telapak, yang berlokasi di Perumahan Taman Yasmin Sektor V, Jl. Palem Putri III, No. 1, Bogor. Tiba di lokasi, kami disambut sebuah bangunan mungil, dengan logo kecil di dindingnya berupa “selembar daun hijau”. Di bawahnya ada 2 telapak kaki tersembunyi. Jejak-jejak kaki juga tercetak jelas di lantai semen yang sudah mengering. Hal ini meyakinkan kami bahwa benar bangunan yang ada di depan adalah tempat yang kami cari. Masuk ke dalam bangunan itu, pemandangan khas organisasi muncul di depan mata. Orang-orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tepat di depan pintu, ada meja dengan sekat tembus pandang, di mana seorang pria tengah berkonsentrasi dengan ketikannya. Di ruangan yang lain ada sekumpulan orang yang tengahmengadakan meeting kecil.

Telapak, Khusnul Zaini, Silverius Oscar Unggul, Onte

Khusnul Zaini dan Silverius Oscar Unggul (Onte)

Salah seorang dari mereka yang tengah rapat itu tiba-tiba mengetahui keberadaan kami. Pria paruh baya berperawakan kurus, dengan rambut gondrong sebahu itu pun datang menyambut. Pribadinya terkesan sederhana namun santun. Senyum ramah terus menghiasi wajahnya yang friendly. Tak disangka, dialah Khusnul Zaini, Presiden Telapak periode tahun ini. Jabatan ini adalah jabatan tertinggi di Badan Perkumpulan Telapak (BPT). Adapun wakilnya ada 2 orang yaitu Muchlis Ladiku Usman (Pendoks) dan Muhammad Djufryhard. Sementara itu, Silverius Oscar Unggul adalah mantan Wakil Badan Pengurus Perkumpulan Telapak periode sebelumnya.

Fokus Telapak yang pertama sebenarnya adalah mengkampanyekan anti illegal loging hutan-hutan Indonesia. Fokus utamanya ada di Papua dan Kalimantan. Tapi kemudian investigasi dilakukan secara merata, karena anggota Telapak tersebar dimana-mana. Ada yang di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua, dll.

Seiring berjalannya waktu, kalangan anggota berpikir untuk menjadikan Telapak sebagai bentuk konglomerasi sosial, yakni yang semula hanya fokus di kampanye anti illegal loging, kini merambah di beberapa unit bisnis, misalnya, Kotahujan.com, Gekko Studio, T-port, Koperasi Telapak, Poros Nusantara, serta Poros Nusantara Media. Koperasi Telapak banyak tersebar di seluruh nusantara dengan fokus yang berbeda-beda. Misalnya Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) di Kulon Progo. KWML ini fokus di tanaman obat-obatan/jamu-jamuan. Ada lagi Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJLI) di Kendari yang fokus di kayu jati, dll. Total anggota sekarang sudah 174 di 27 propinsi, dengan 19 badan teritori.

Tiba-tiba muncullah di antara kami seorang lelaki berpostur tinggi besar dengan guratan wajah khas Indonesia timur. Dia kemudian menyambangi kami, dan memperkenalkan diri sebagai Silverius Oscar Unggul, atau kerap disapa Onte. Onte adalah satu contoh dari tokoh sosial enterpreneur yang sukses membaktikan diri untuk kejayaan alam. Nama Onte ini berasal dari singkatan “orang Entete” (Nusa Tenggata Timur, tempat ia dibesarkan). Sejak kecil ia sudah dekat dengan alam. Hobinya naik turun gunung, keluar masuk hutan. Hal ini dilakukannya sampai selesai belajar di Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo, Kendari. Berangkat dari hobinya ini, Onte menemukan fakta bahwa penggundulan hutan semakin merajalela. Dengan pemikirannya yang idealis kala itu, ia pun memiliki gagasan untuk memerangi illegal logging. Melalui LSM Yascita, binaannya pada tahun 1998, serta keterlibatannya sebagai Vice Presiden Telapak masa itu, iapun mengembangkan community legal logging. kampanye pun dilakukan melalui berbagai media, baik radio (Radio Swara Alam), Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia (KHJLI), sampai membangun Televisi Lokal sendiri di Kendari. Terbukti televisi lokalnya kini menjadi salah satu unit bisnis yang membanggakan di bawah binaan Telapak. Pria yang memiliki tato di lengan ini, kini banyak diganjar berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri tentang kiprahnya dalam memberantas illegal logging.

Berikut wawancara lengkap Gustyanita Pratiwi dan Darandono dari SWA dengan Khusnul Zaini dan Silverius Oscar Unggul dari Telapak:

Bagaimana awalnya misi Telapak ini? Apa latar belakang Bapak melakukan kegiatan yang memiliki misi sosial ini?

Khusnul Zaini : Organisasi ini memang awalnya adalah yayasan (1995). Setelah lama berselang, terjadi perdebatan di antara anggota yayasan sendiri. Kalau namanya anggota yayasan kan terbatas hanya beberapa orang. Dalam undang-undang yayasan, jelas yang menentukan A,B,C-nya adalah Dewan Anggota. Perdebatan di internal ini intinya kami mau bagaimana? Apakah hanya sebatas ini saja (eksklusif), atau organisasi kami menjadi terbuka. Sampai voting, diputuskan untuk terbuka, meskipun kemudian ada beberapa anggota yayasan yang sebagai pendiri kemudian keluar. Oke, kalau keputusannya menjadi perkumpulan, dia tidak setuju, dia keluar. Setelah itu, prosesnya adalah melalui rekruitmen. Rekruitmen ini dilakukan sejak tahun 2002 (ketika sudah menjadi perkumpulan). Waktu itu memang masih transisi dari yayasan menjadi perkumpulan. Kami belum men-declare sebagai organisasi gerakan. Antara 2002-2006 itu memang menjadi masa-masa transisi. Kalau kami bisamendeclare sebagai organisasi gerakan, artinya konsekuensinya menjadi sangat besar. Kami harus berani melawan arusmainstream yang umum. Tahun 2006, setelah kami mubes di Bali, kami men-declare sebagai organisasi gerakan dengan arahan Gerpak (Gerakan Telapak). Sama juga seperti Orde Baru dulu. Zamannya Soeharto dulu kan ada Repelita. Kami juga ada seperti itu. Setiap mubes maka diputuskan, ada kegiatan yang terkait bidang politik, ekonomi, budaya, maupun keorganisasian.

Continue reading

Categories: Generasi Hijau | Leave a comment

Bank Rakyat Indonesia beri Pelatihan Keuangan Mikro sampai Palestina

Depok, salamduajari.com – Sebagai negara berkembang, Indonesia adalah negara yang lebih banyak belajar kepada negara-negara yang lebih maju. Tapi bukan berarti tidak ada yang bisa dipelajari dari Indonesia. Dari salah sedikit success story  yang menjadi pelajaran bagi dunia yang berasal dari Indonesia,  kisah sukses Bank Rakyat Indonesia adalah salah satunya, karena BRI telah membuktikan bahwa membuka akses untuk kalangan pelaku usaha mikro dan kalangan pra-sejahtera  itu bukanlah hal yang mustahil. Lebih dari itu, bahkan dapat menguntungkan sehingga kesinambungan layanannya dapat dijaga. Saya mendengar bahwa BRI sampai harus menyediakan divisi khusus untuk melayani ribuan tamu dari seluruh penjuru dunia yang ingin belajar dari pengalaman BRI. Well, tidak mengherankan memang, mengingat seeing is believing. Pengalaman BRI membuat dunia akhirnya bisa melihat sendiri bahwa Bank Komersial bisa turut membuka akses keuangan bagi kalangan pra-sejahtera yang dulu selalu dicap sebagai unbankables. Karena dunia sudah melihat, akhirnya dunia percaya. Ya, di dunia keuangan, kisah BRI adalah sebuah revolusi. Inspirasi Bank Rakyat Indonesia untuk dunia tampaknya masih terus bersinar hingga kini, seperti yang dipaparkan pada berita berikut ini, di mana Bank Rakyat Indonesia sampai diundang ke Palestina untuk berbagi ilmu mengenai microbanking. Semoga BRI semakin bersinar dan terus menjadi Bank RAKYAT Indonesia yang membanggakan.

 

Berikan Pelatihan, Bankir BRI Dikirim ke Palestina

Bank Rakyat Indonesia terkenal dengan komposisi portofolionya yang lebih dari 80% adalah kredit untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Bank Rakyat Indonesia terkenal dengan komposisi portofolionya yang lebih dari 80% adalah kredit untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengirimkan bankirnya ke Palestina untuk berpartisipasi dalam program “International Trainning Program on Microfinance for Palestine” melalui Kementerian Luar Negeri.

“Kepala Kerja Sama Perbankan Mikro BRI Agus Rachmadi sudah berangkat ke Palestina,” kata Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (11/4/2013).

Ali mengatakan pengiriman bankir ke Palestina merupakan bagian dari komitmen BRI membantu pemerintah untuk menggalang kerja sama kawasan dan kemanusian, terutama untuk Palestina.

Menurut dia, BRI juga akan berpartisipasi dalam lokakarya selama tiga hari di Palestina atau Yordania. Para peserta lokakarya itu adalah praktisi perbankan mikro dan pejabat Palestina.

“Kami juga akan berbagi pengalaman bagaimana peran besar perbankan mikro dalam membangun perekonomian,” ujarnya.

Menurut rencana, kata dia, BRI akan melatih 24 pejabat dan praktisi keuangan mikro Palestina di Ramallah hingga 19 April 2013. Dalam pelatihan itu akan dipilih enam orang untuk magang di Jakarta dan belajar lebih lanjut tentang perbankan mikro.

Ali mengatakan partisipasi BRI di dunia internasional bukanlah hal baru. Sebab, sampai saat ini banyak warga dari berbagai negara datang ke BRI untuk belajar keuangan mikro kepada BRI. Continue reading

Categories: Berita Baik | Leave a comment

Blog at WordPress.com.