Monthly Archives: June 2013

Ada Solusi Daur Ulang Sampah dari Doktor Muda Indonesia

Depok, Salamduajari.com – Senang mengetahui bahwa saat ini semakin banyak metode atau cara yang dapat dilakukan untuk mengelola dan mendaur ulang sampah. Sampah ternyata bisa dikonversi menjadi bahan baku. Dengan demikian, sampah bukan lagi merupakan “sampah”. Alias, ketika kita sudah tahu bagaimana cara mengelola dan mendaur ulang sampah, sampah secara kemaknaan sesungguhnya bukan lagi merupakan sampah, melainkan bahan baku produktif atau bahkan, “emas” bagi mereka-mereka yang dapat mengolahnya menjadi suatu produk yang bernilai ekonomis. Berikut berita baik dari seorang Doktor muda Indonesia lulusan Jepang, yang menawarkan solusi untuk mendaur ulang sampah. Berita ini dilansir dari sini.

 

Doktor Muda Indonesia Lulusan Jepang Beri Solusi Daur Ulang Sampah

Pandji-prawisudha  (sumber: tribunnews.com)

Pandji-prawisudha
(sumber: tribunnews.com)

TRIBUNNEWS.COM – Seorang doktor warga Indonesia, Pandji Prawisudha,  dari Department of Environmental Science and Technology Tokyo Institute of Technology, Jepang, berusaha kuat mencari solusi bagi daur ulangsampah di Indonesia dengan keterbatasan yang ada. Berikut wawancara khusus korespondenTribunnews.com, Richard Susilo, di Tokyo, Jepang, baru-baru ini dengannya.

Tribunnews.com (T): Bisa cerita mengenai penelitian anda mengenai pengolahan sampah?

Pandji (P) : Penelitian s3 saya  mengenai pengolahan sampah plastik menjadi produk yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar. Seperti yang kita ketahui, sampah plastik, terutama dari PVC, memiliki kandungan klorin (Cl) yang jika dibakar akan menjadi donor dalam pembentukan dioksin, gas yang secara umum diakui beracun bagi manusia. Penelitian yang kami lakukan adalah mengurangi kandungan klorin di dalam plastik, menggunakan proses hidrotermal, sehingga produknya lebih ramah lingkungan karena sangat sedikit mengandung klorin.

Proses hidrotermal sendiri saya analogikan seperti panci bertekanan (“presto”) yang tidak hanya mengempukkan tulang, tapi juga “mengempukkan” hampir semua jenis sampah, baik organik maupun plastik. Sayang sekali karena ilmu saya lebih bersifat teknologi, sisi pengelolaan (manajemen) tidak tersentuh dalam studi S-3 saya.

T: Indonesia penuh keterbatasan, termasuk keterbatasan dana, bagaimana solusinya?
P:  Betul sekali bahwa keterbatasan uang yang ada di Indonesia menjadi tantangan dalam menyelesaikan masalah sampah di Indonesia. Saya pikir ada tiga komponen utama yang perlu diperhatikan dalam mengolah sampah yaitu kondisi sosial masyarakat, uang (anggaran pengolahan sampah) dan teknologi. Kalau kita analogikan kondisi sosial sebagai jalan, uang sebagai ban mobil dan teknologi sebagai mobilnya. Continue reading

Categories: Berita Baik | Leave a comment

Eksperimen Joshua Bell, Apakah kita sudah cukup menghargai keindahan?

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS. Sumber: www.peaceformeandtheworld.ning.com

Joshua Bell memainkan biola seharga 3.5 juta dollar di kereta bawah tanah AS.
Sumber: http://www.peaceformeandtheworld.ning.com

Di Stasiun Metro, Washington DC, pada suatu pagi yang dingin di bulan Januari tahun 2007, seorang lelaki dengan sebuah biola memainkan enam buah partitur klasik selama kurang lebih 45 menit. Selama itu, sekitar 1097 orang lalu lalang melewatinya, sebagian besar dari mereka akan berangkat bekerja, yang sebagian besar dari mereka bekerja untuk pemerintah, seperti analis kebijakan, project manager, petugas anggaran, fasilitator, dan mungkin konsultan.

Setelah sekitar empat menit, seorang lelaki paruh baya menyadari bahwa ada seorang musisi yang sedang bermain musik. Ia memperlambat langkahnya dan berhenti selama beberapa detik, kemudian ia kembali terburu-buru mengejar jadwalnya.

Sekitar empat menit kemudian, pemain biola tersebut menerima dollar pertamanya. Seorang wanita memasukkan uang ke dalam topi sang pemain biola, tanpa berhenti, sambil langsung berlalu begitu saja.

Pada menit keenam, seorang laki-laki muda bersandar ke dinding untuk mendengarkan permainan biola itu, kemudian memandang jam dindingnya dan kembali berjalan.

Pada menit kesepuluh, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berhenti, namun ibunya segera membawanya pergi. Anak itu berhenti dan kembali memandang pemain biola, akan tetapi sang ibu mendorong anak tersebut dengan kuat dan anak itupun akhirnya pergi, sambil terus melihat ke belakang sepanjang perjalanan. Aksi serupa kembali terulang pada beberapa anak yang lain, namun setiap orangtua- tanpa terkecuali- memaksa anak mereka untuk segera pergi.

Pada menit keempat puluh: musisi tersebut memainkan biolanya terus menerus. Hanya ada enam orang yang berhenti dan mendengarkannya sesaat. Sekitar dua puluh orang memberi uang sambil berlalu begitu saja. Musisi tersebut akhirnya berhasil mengumpulkan 32 dollar.

Setelah satu jam: musisi itu selesai memainkan biolanya dan terdiam sesaat. Tak seorang pun melihat ke arahnya dan memberikan tepuk tangan. Tak ada yang mengapresiasinya sama sekali.

Tidak ada yang mengetahui bahwa pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, salah satu musisi terbaik di dunia. Ia baru saja memainkan salah satu bagian musik yang paling rumit yang pernah ditulis di dunia, dengan biola seharga 3,5 juta dollar. Dua hari sebelumnya, tiket pertunjukan Joshua Bell di sebuah teater di Boston berhasil terjual habis dimana setiap penontonnya membayar rata-rata 100 dolar untuk duduk dan mendengarkan  Ia memainkan musik yang sama.

Ini adalah kisah nyata. Joshua Bell yang memainkan incognito di stasiun Metro D.C merupakan eksperimen sosial tentang persepsi yang dilakukan oleh Washington Post untuk mengetahui selera dan prioritas masyarakat.

Eksperimen ini memunculkan beberapa pertanyaan:

Dengan nuansa kondisi dan waktu yang kurang nyaman, apakah keindahan tetap dapat menembus hati manusia?

Dialihbahasakan dari bagian artikel ini.

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Blog at WordPress.com.