Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin

"Black Untitled, 1948" (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.

“Black Untitled, 1948” (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.

"No 5/No 22" (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.

“No 5/No 22” (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.

"Number 1" (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

“Number 1” (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

Gerakan seni modern Amerika selama tahun 1950-60an sangatlah unik. Sepertinya tidak ada gerakan lain yang dapat begitu mengundang perselisihan intelektual dibanding ekspresionisme abstrak. Bahkan dalam kongres Amerika pun perdebatan mengenai pendanaan karya seni seolah tidak pernah berhenti. Seorang anggota kongres zaman itu pun pernah berkata, “Saya hanya warga Amerika bodoh yang membayar pajak untuk sampah seperti ini.” Meski demikian kaum bohemia dan para intelektual muda liberal yang memegang peran begitu penting dalam lingkaran seni di zaman tersebut sangat mendukung gerakan ini. Bahkan sekarang hampir terdapat sebuah konsensus bahwa cipratan cat warna-warni Jackson Pollock, yang sering diejek seolah dibuat oleh seorang bocah berumur 5 tahun, adalah mahakarya seni yang penuh makna.

Bagaimana sebuah gerakan yang memicu sedemikian banyak pendapat yang saling bertentangan ini dapat terus berkembang, bahkan mendominasi dunia seni dunia selama berlangsungnya era perang dingin, dan kemudian diagungkan pada masa kini? Terdapat banyak spekulasi sekitar peran CIA sebagai patron untuk seniman era tersebut seperti Pollock, de Kooning, dan Rothko, bagaikan Paus bagi gerakan seni renaisans Italia, dan spekulasi tersebut tidak pernah dibantah maupun dikonfirmasi hingga pertengahan tahun 1990an ketika kejadian saat perang dingin sudah mulai mendingin (pun intended? Maybe). Pada tahun 1995, sebuah artikel dalam koran The Independent memastikan spekulasi tersebut sebagai kenyataan. Yah, memang sudah lama waktu berlalu setelah berita ini pertama kali muncul tetapi bagi saya ini adalah informasi yang lumayan mencengangkan ketika pertama kali membacanya dalam sebuah situs yang sering membahas propaganda dalam karya seni, khususnya dalam era peperangan. Kemudian saya berpikir apakah mungkin hingga kini pun, para seniman kontemporer dengan statemen politik kentalnya masing-masing hanyalah bagian dari skema rumit yang elegan dalam upaya mengarahkan jalur perubahan kebudayaan manusia  ke arah tertentu? Sepertinya hampir sudah pasti begitu, tapi cukup sudah sesi konspirasinya! Dibawah ini adalah terjemahan artikel Open Culture mengenai kisah dibalik gerakan ekspresionisme abstrak Amerika dan peran CIA.

How the CIA Secretly Funded Abstract Expressionism During the Cold War

Mengenai kemungkinan akan karya seni yang proletar, kritikus sastra Inggris William Empson pernah menyatakan, “alasan dibalik dapatnya masyarakat Inggris menikmati film propaganda Rusia adalah karena propaganda yang terkandung begitu irrelevan untuk dianggap menjengkelkan.” Mungkin karena inilah para seniman Amerika dan kaum bohemia dapat begitu tertarik dengan ikonografi dari politik rezim-rezim terpencil, baik dari segi fantasi maupun ironi. Yang dianggap realisme sosialis yang menjemukan bagi satu pihak adalah sebuah eksotika yang radikal bagi pihak lain.

Namun apakah ekspor budaya Amerika memiliki efek yang sama? Kita hanya perlu menengok kesuksesan branding terdangkal AS untuk menjawab, “Ya.” Tetapi tiada seorangpun yang akan menggolongkan lukisan-lukisan abstrak ekspresionis dengan hal-hal seperti fast-food dan Disney. Walaupun demikian, karya-karya seniman seperti Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Willem de Kooning termasuk bagian dari program rahasia CIA selama puncaknya perang dingin yang bertujuan mempromosikan ideologi Amerika diluar negeri.

Para seniman yang terlibat sama sekali tidak mengetahui bahwa karya mereka digunakan sebagai propaganda. Dalam operasi yang disebut agen CIA sebagai “Long Leash,” mereka mengikuti beberapa pameran yang secara tersembunyi diselenggarakan oleh CIA, contohnya pameran keliling “The New American Painting” yang ditunjukkan dalam kota-kota besar Eropa selama 1958-59 dan menyertakan karya modern primitive seperti Dwarf (1947) milik seniman surealis, William Baziotes.

Tentunya aspek yang terlihat paling janggal dari twist ini adalah bahwa karya avant-garde di Amerika tidak pernah begitu diterima oleh masyarakat umum. Mainstream America selalu memiliki kecurigaan dan kebencian akan eksperimentasi seni  yang bizarre. Hal ini seringkali berakhir sebagai kontroversi mengenai pendanaan seni dari kongres. Sebuah artikel dari Independent mengenai peran CIA dalam mempromosikan gerakan ekspresionisme abstrak menggambarkan sikap warga Amerika selama perang dingin sebagai berikut.

“Selama tahun 1950-60an… mayoritas warga Amerika tidak menggemari atau bahkan membenci modern art—Presiden Truman merangkum pandangan masyarakat secara umum ketika mengatakan: “Jika itu dianggap seni, maka saya adalah seorang Hottentot.” Sedangkan para senimannya, kebanyakan merupakan mantan komunis yang hampir tidak diterima oleh masyarakat zaman McCarthy, dan bukan termasuk golongan orang yang akan menerima dukungan dari pemerintah AS.”

Lantas mengapa mereka didukung sedemikian rupa? Jawaban yang singkat berbunyi:

“Sifat ignorant yang kolot ini, digabung dengan penentangan histeris Joseph McCarthy akan apapun yang bersifat avant-garde atau tidak tradisional, sangatlah memalukan. Ini mencela image Amerika sebagai negara dengan demokrasi mutakhir dan kaya akan budaya.”

Hubungan satu arah antara pelukis modern dan CIA—yang hanya baru-baru ini dikonfirmasi oleh petugas kasus Donald Jameson—dikatakan mampu menunjukkan bahwa karya realis kaum Sosialis Soviet sebagai “lebih kaku dan terkekang dari yang sebenarnya.”

In a way pemahaman kami juga ditolong dengan sikap Moskow di masa itu yang sangat brutal mencela segala bentuk ketidaksesuaian dengan  nilai dan pola mereka yang rigid. Dengan itu kami dapat berargumen bahwa apapun yang mereka kritik dengan tangan besinya patut didukung one way or another.”

Lenin with Villagers

Perbandingan “Lenin with Villagers” (1959) karya Evdokiya Usikova (atas) dan “Dwarf “(1947) karya William Baziotes (bawah).

baziotes'dwarf

William Empson melanjutkan pernyataan diawal dengan mengatakan bahwa, “Masyarakat Tory yang ditunjukkan propaganda Tory dengan intensitas yang sama [dengan propaganda Rusia sebelumnya] akan merasa sangat jenuh. Jika beliau benar, kemungkinan besar kaum sosialis secara umum di Eropa pada masa itu sudah begitu bosan dengan Soviet-approved art. Yang mengaggetkan dari pengungkapan ini adalah karya-karya avant-garde, yang demikian merubah dunia seni Amerika, dan membuat para anggota kongres dan para taxpayers gusar, ternyata dikooptasi dan dikoleksi oleh sekian banyak agen intelijen AS yang suave seperti poster-poster karya Shepard Fairey.

***

Segmen menarik lainnya dari artikel Independent termasuk komentar ketua pertama Divisi Organisasi Internasional (IOD) CIA, Tom Braden:

“Kami meninginkan semua penulis, musisi, seniman untuk bergabung dan mendemonstrasikan bahwa Barat dan AS sangat mengabdi pada kebebasan berekspresi dan pada prestasi intelektual, tanpa adanya pembatas kaku yang mengatur apa yang harus ditulis, dan harus dikatakan, dan harus dilakukan, dan harus dilukis, sebagaimana yang terjadi di Uni Soviet. Saya rasa [IOD] adalah divisi terpenting CIA, dan menurut saya [IOD] memegang peran yang sangat besar dalam Perang Dingin.”

Braden juga pernah menjabat sebagai Executive Secretary dari Museum of Modern Art yang memegang andil begitu besar dalam memperkenalkan dan menambah exposure ekpresionisme abstrak.

Sumber dari sini dan sini.

Advertisements
Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: