Monthly Archives: May 2013

Sekarang gue udah mantap

Cerita: DM Gambar: AG

Cerita: DM Gambar: AG

Categories: Komik: Gray Area | Leave a comment

Perubahan pada Planet Bumi Kita

Teknologi membuat banyak hal yang dulu tidak mungkin dilakukan, menjadi mungkin. Termasuk salah satu diantaranya adalah potret satelit yang menangkap beberapa lokasi di planet bumi kita, yang kemudian disusun dari waktu ke waktu, membentuk suatu animasi keren yang membuat kita dapat melihat tranformasi yang terjadi pada permukaan bumi.

Berikut adalah beberapa animasi transformasi di beberapa titik permukaan bumi yaitu Dubai, dimana kita dapat melihat perluasan daratan yang telah dibuat manusia menyerupai pohon Palm; Arab Saudi, dimana kita bisa melihat transformasi wilayah gurun pasir menjadi wilayah pertanian yang dimungkinkan oleh adanya teknologi irigasi; Las Vegas (Amerika Serikat), dimana lahan kosong menjadi dipenuhi oleh titik-titik abu-abu pembangunan gedung-gedung perkotaan; dan Brazil yang mengalami deforestasi, sebagian karena alih fungsi kawasan hutan sebagai lahan pengembangan kedelai, sehubungan dengan kebijakan negara tersebut yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan menggantikannya dengan bahan bakar minyak nabati berupa ethanol yang diproses dari kacang kedelai.

dubai

saudi

vegas

brazil

Diambil dari sini.

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Tak bisa menteri, bankir pun jadi

Cerita: DM Gambar: AG

Cerita: DM Gambar: AG

Categories: Komik: Gray Area | Leave a comment

Emangnya filsafat kenapa??

Cerita dan gambar: AG

Categories: Komik: Gray Area | 1 Comment

Apalah Arti Lukisan Dalam Perang Dingin

"Black Untitled, 1948" (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.

“Black Untitled, 1948” (1948) karya Willem de Kooning. Kini Dipajang di Metropolitan Museum of Art, New York.

"No 5/No 22" (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.

“No 5/No 22” (1950) karya Mark Rothko. Kini dipajang di Museum of Modern Art, New York.

"Number 1" (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

“Number 1” (1949) karya Jackson Pollock. Kini dipajang di Museum of Contemporary Art, Los Angeles.

Gerakan seni modern Amerika selama tahun 1950-60an sangatlah unik. Sepertinya tidak ada gerakan lain yang dapat begitu mengundang perselisihan intelektual dibanding ekspresionisme abstrak. Bahkan dalam kongres Amerika pun perdebatan mengenai pendanaan karya seni seolah tidak pernah berhenti. Seorang anggota kongres zaman itu pun pernah berkata, “Saya hanya warga Amerika bodoh yang membayar pajak untuk sampah seperti ini.” Meski demikian kaum bohemia dan para intelektual muda liberal yang memegang peran begitu penting dalam lingkaran seni di zaman tersebut sangat mendukung gerakan ini. Bahkan sekarang hampir terdapat sebuah konsensus bahwa cipratan cat warna-warni Jackson Pollock, yang sering diejek seolah dibuat oleh seorang bocah berumur 5 tahun, adalah mahakarya seni yang penuh makna.

Bagaimana sebuah gerakan yang memicu sedemikian banyak pendapat yang saling bertentangan ini dapat terus berkembang, bahkan mendominasi dunia seni dunia selama berlangsungnya era perang dingin, dan kemudian diagungkan pada masa kini? Terdapat banyak spekulasi sekitar peran CIA sebagai patron untuk seniman era tersebut seperti Pollock, de Kooning, dan Rothko, bagaikan Paus bagi gerakan seni renaisans Italia, dan spekulasi tersebut tidak pernah dibantah maupun dikonfirmasi hingga pertengahan tahun 1990an ketika kejadian saat perang dingin sudah mulai mendingin (pun intended? Maybe). Pada tahun 1995, sebuah artikel dalam koran The Independent memastikan spekulasi tersebut sebagai kenyataan. Yah, memang sudah lama waktu berlalu setelah berita ini pertama kali muncul tetapi bagi saya ini adalah informasi yang lumayan mencengangkan ketika pertama kali membacanya dalam sebuah situs yang sering membahas propaganda dalam karya seni, khususnya dalam era peperangan. Kemudian saya berpikir apakah mungkin hingga kini pun, para seniman kontemporer dengan statemen politik kentalnya masing-masing hanyalah bagian dari skema rumit yang elegan dalam upaya mengarahkan jalur perubahan kebudayaan manusia  ke arah tertentu? Sepertinya hampir sudah pasti begitu, tapi cukup sudah sesi konspirasinya! Dibawah ini adalah terjemahan artikel Open Culture mengenai kisah dibalik gerakan ekspresionisme abstrak Amerika dan peran CIA.

How the CIA Secretly Funded Abstract Expressionism During the Cold War

Mengenai kemungkinan akan karya seni yang proletar, kritikus sastra Inggris William Empson pernah menyatakan, “alasan dibalik dapatnya masyarakat Inggris menikmati film propaganda Rusia adalah karena propaganda yang terkandung begitu irrelevan untuk dianggap menjengkelkan.” Mungkin karena inilah para seniman Amerika dan kaum bohemia dapat begitu tertarik dengan ikonografi dari politik rezim-rezim terpencil, baik dari segi fantasi maupun ironi. Yang dianggap realisme sosialis yang menjemukan bagi satu pihak adalah sebuah eksotika yang radikal bagi pihak lain.

Namun apakah ekspor budaya Amerika memiliki efek yang sama? Kita hanya perlu menengok kesuksesan branding terdangkal AS untuk menjawab, “Ya.” Tetapi tiada seorangpun yang akan menggolongkan lukisan-lukisan abstrak ekspresionis dengan hal-hal seperti fast-food dan Disney. Walaupun demikian, karya-karya seniman seperti Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Willem de Kooning termasuk bagian dari program rahasia CIA selama puncaknya perang dingin yang bertujuan mempromosikan ideologi Amerika diluar negeri.

Para seniman yang terlibat sama sekali tidak mengetahui bahwa karya mereka digunakan sebagai propaganda. Dalam operasi yang disebut agen CIA sebagai “Long Leash,” mereka mengikuti beberapa pameran yang secara tersembunyi diselenggarakan oleh CIA, contohnya pameran keliling “The New American Painting” yang ditunjukkan dalam kota-kota besar Eropa selama 1958-59 dan menyertakan karya modern primitive seperti Dwarf (1947) milik seniman surealis, William Baziotes. Continue reading

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.