Ikan Keberuntungan Temuan Ilmuan Kanada yang Menyelamatkan Banyak Jiwa di Kamboja

Seekor ikan kecil menjadi solusi masalah kekurangan zat besi di kalangan wanita Kamboja. Masalah tersebut dipecahkan oleh seorang peneliti dari University of Guelph.

Seekor ikan kecil menjadi solusi masalah kekurangan zat besi di kalangan wanita Kamboja. Masalah tersebut dipecahkan oleh seorang peneliti dari University of Guelph

Inti dari kisah ini adalah seekor ikan kecil. Namun Christopher Charles, seorang peneliti dari University of Guelph, menyatakan bahwa ikan kecil tersebut telah menjadi solusi dari sebuah masalah medis di pedalaman hutan Kamboja, dan ia bersumpah bahwa kisah ini bukanlah dongeng namun merupakan suatu kisah nyata. Semuanya berawal tiga tahun yang lalu ketika Charles, sang jenius  dari Milton yang baru saja mendapatkan gelar sarjananya dalam ilmu biomedis, mengerjakan sebuah penelitian kecil di Kamboja. Tugasnya adalah membantu ilmuwan lokal untuk membujuk wanita-wanita di pedesaan untuk menaruh bongkahan besi ke dalam panci ketika memasak, dalam rangka meningkatkan kadar zat besi dalam asupan konsumsi mereka dan mengurangi resiko anemia. Secara teori upaya ini memang bagus, tetapi dalam praktek, para wanita tersebut enggan melakukannya.

Tugas tersebut adalah tantangan yang begitu menggoda khususnya karena Kamboja adalah negara dengan kasus kekurangan zat besi yang cukup parah, di tambah dengan fakta bahwa60 persen wanita mengalami persalinan prematur, pendarahan selama melahirkan, dan bayi mereka mengalami perkembangan otak yang buruk. Sebagai penyakit yang merupakan cerminan dari fenomena kemiskinan, kekurangan zat besi telah menyerang sekitar3.5 milyar orang di dunia. Kegiatan tersebut  memang merupakan suatu penelitian awal namun telah berhasil membuat Chris Charles sangat penasaran. Tetapi di saat yang sama ia juga harus segera kembali ke Guelph untuk memulai program S2-nya.

Beberapa minggu sebelum ia harus kembali, Charles menghubungi pembimbing akademisnya untuk menarik program S2-nya dalam penelitian tentang hormon. Namun karena kerja kerasnya, , pembimbingnya justru tidak memperbolehkan Charles untuk menarik diri dari program S2-nya, melainkan justru memberitahu Charles bahwa sesungguhnya ia telah menemukan proyek penelitian S2 yang sesungguhnya.

Dari basecamp barunya yang berupa pondok bambu, Charles menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan dua orang peneliti dari Research Development International di Kamboja dengan pendanaan dari University of Guelph, International Development Research Centre di Ottawa, serta hibah penghargaan program doctor dari Canadian Institutes of Health Research.

“Terkadang saya mempertanyakan, sesungguhnya saya ini sudah menenggelamkan diri ke dalam hal apa? Saya berada di suatu desa di mana air bersih yang mengalir tidak ada, begitu juga dengan listrik sehingga saya tidak dapat menggunakan komputer. Seolah saya hanya menyulitkan diri sendiri.”, ujar Charles.

Orang-orang yang harus dihadapi adalah kalangan orang termiskin (poorest of the poor) yang tidak mampu membeli daging merah atau pil zat besi yang memang tidak murah, selain itu para wanitanya tidak ingin menggunakan panci besi karena lebih berat dan mahal harganya. Padahal, sedikit saja tambahan zat besi ke dalam air dan makanan dapat menyelamatkan nyawa mereka. Tetapi benda mengandung zat besi berbentuk apakah yang para wanita desa tersebut bersedia masukkan dalam panci mereka?

“Kami sudah tahu bahwa bongkahan besi saja tidak akan berguna… jadi kami harus memikirkan ide bentuk yang menarik,” ujar Charles. “Tugas kami berubah menjadi sebuah tantangan pemasaran untuk masyarakat.”

Tim peneliti awalnya mencoba bentuk lingkaran besi kecil. Ternyata perempuan-perempuan Kamboja tetap tidak ingin menggunakannya.Kemudian mereka membentuk besinya menjadi bunga lotus. Mereka juga tidak menyukainya.

Tetapi ketika Tim Charles membentuk besinya sehingga menyerupai seekor ikan dari sungai di kawasan tersebut yang dipercayai memberi keberuntungan? Bingo! Perempuan-perempuan tersebut dengan senang hati memasukannya ke dalam panci mereka. Selang beberapa bulan berikutnya, tingkat zat besi di desa tersebut mulai meningkat.

“Kami merancang ukuran ikannya sekitar 3 sampai 4 inci, cukup kecil untuk diaduk dengan mudah, namun cukup besar untuk memberikan sekitar 75 persen kebutuhan zat besi untuk sehari,” kata Charles. Mereka menemukan seorang pekerja skrap logam yang bisa membuat ikan tersebut seharga $1.50 per buahnya, dan sejauh ini mereka telah menggunakan ulang ikan tersebut selama 3 tahun.

“Kami memperoleh hasil yang luar biasa; kelihatannya kasus anemia telah turun secara drastis dan wanita desa merasa sehat dan tidak begitu sering pusing lagi. Ikan besi ini sangat manjur.”

Dalam 3 tahun, Charles telah menemukan solusi dari permasalahan kekurangan zat besi yang begitu mempesona karena kesederhanaannya. Solusi itu mungkin sekali telah menyelamatkan nyawa banyak orang, dan tentu saja telah memberinya gelar S2 dan tidak lama lagi gelar S3 (PhD). Di sepanjang jalan, pria berumur 26-tahun ini telah mempelajari bahasa Khmer, dan telah menjadi ahli dalam seni pengambilan darah, bahkan dari seseorang yang tengah mengayuh sebuah kano sembari ia menjaga keseimbangan di kano satunya lagi, dan mendapati bahwa orang tersebut mengidap demam berdarah.

Kini Charles telah kembali ke Guelph, mengolah data untuk menyerahkan penelitiannya untuk publikasi, serta menfinalisasi disertasi S3-nya.

Pembimbing akademis yang ia hubungi 3 tahun lalu yaitu Alastair Summerlee, seorang professor endokirnologi,  yang juga merupakan Presiden University of Guelph, hampir sama antusiasnya dengan Charles. Summerlee tahu bahwa ia telah mengambil resiko ketika membolehkan Charles mengubah jalur penelitian akademisnya.

We were flying by the seat of our pants, Chris harus bekerja di suatu tempat dimana ia harus mempelajari segalanya (termasuk bahasa Khmer) dengan trial and error, sedangkan saya selalu khawatir apakah ini merupakan keputusan yang benar atau bukan. Apakah dia mampu menyelesaikannya?” kata Summerlee.

“Tetapi hasilnya sungguh luar biasa. Dia telah mempresentasikan temuannya di Asia, Eropa dan Amerika Utara dan mendapatkan pengakuan. Selain itu ada kemungkinan besar bahwa penemuan yang sederhana ini dapat memberi dampak yang signifikan terhadap kondisi kesehatan perempuan-perempuan di Asia.”

Pelajaran lain yang telah Charles dapati adalah bahwa pemasaran atau marketing merupakan sisi lain dari ilmu pengetahuan.

“Karena pengobatan paling efektif sedunia pun tidak akan berguna jika tidak ada yang ingin menggunakannya.”

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel Louise Brown dalam The Star tanggal 12 November 2011.

Advertisements
Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: