Memakai GAP: Kebanggaan Bagimu, Kehancuran Bagi Citarum

This slideshow requires JavaScript.

Sebuah pepatah lawas Inggris mengajarkan kita untuk tidak menilai segala sesuatu hanya dari bungkusnya saja. “Don’t judge book by its cover,” begitu bunyinya. Sebagai salah seorang yang pernah pembeli produk pakaian merk GAP, saya risau setelah membaca artikel yang kemarin dikirim oleh seorang sahabat yang kebetulan seorang ekologis asal Perancis. “I just read this :(” tulisnya sembari memberi link tulisan tentang pabrik tekstil merk GAP dan beberapa merk terkenal lainnya yang sukses membuat Sungai Citarum menjadi semacam sungai “sop kimia” yang kaya warna, ada ungunya, ada birunya. Sungai citarum menjadi menarik dilihat (bungkusnya), tetapi bahaya untuk digunakan (isinya). GAP memang tergolong merk yang terkenal (bungkusnya), sehingga tidak sedikit orang yang rasa percaya dirinya meningkat ketika mengenakan GAP, sebagian mungkin ada yang sampai merasa bangga karena memakai merk terkenal. Tapi di Indonesia, proses produksi merk terkenal itu (isinya) membuat sungai Citarum kita rusak dan akhirnya merugikan masyarakat sekitar yang tidak lagi dapat menikmati manfaat dari Sungai Citarum.

“Don’t judge book by its cover,” begitu bunyi pepatah bijaknya. Haruskah kita berbangga mengenakan suatu merk terkenal, walau proses produksinya mengakibatkan kerugian bagi banyak jiwa dan juga mengganggu keseimbangan lingkungan hidup? Jika kita merenungkan pertanyaan itu dengan mengamalkan pepatah bijak Inggris itu, harusnya hati nurani dan akal sehat kita akan bermuara pada satu jawaban yang sama. Jawaban itu sangat jelas, sebegitu jelasnya tertulis di alam pikir dan bersuara di hati kita, sehingga menuliskan jawaban itu di tulisan ini tidak akan terlalu banyak memberikan nilai tambah bagi kita. Namun saya yakin membaca artikel utuh yang dikirim oleh sahabat saya itu dapat memberi lebih banyak nilai tambah bagi kita, berikut adalah artikelnya, ditranslasi dari sumber ini. (DM)

 

GAP jadikan  Sungai Citarum Indonesia seperti Sup Ragam Warga

Ketika GAP menciptakan slogannya yang berbunyi “be true to your hue,” sepertinya kemungkinan mereka membicarakan perairan Indonesia sangat kecil. Tetapi menurut laporan Greenpeace, konglomerat retail yang anak perusahaannya termasuk Banana Republic, Old Navy, Piperline, dan Athleta, termasuk sekelompok merk yang telah menjadikan sungai Citarum di Jawa Barat sebagai cocktail limbah kimia dengan warna kemerahan yang tidak lazim. Artikel Toxic Threads: Polluting Paradise yang dipublikasikan Rabu kemarin merinci bagaimana hubungan bisnis GAP dengan PT. Gistex, yang mengoperasikan pabrik penghasil polusi tersebut, telah mengubah daerah aliran sungai yang dahulu jernih menjadi got yang berisikan zat-zat beracun yang mengganggu hormon dan sifatnya sangat persisten.

“Promosi iklan GAP yang terbaru menyatakan bahwa kita semua harus ‘Be Bright,’ namun dengan berkolaborasi dengan supplier yang buruk, garmen GAP mengubah Citarum menjadi sebuah sup ragam warna” kata Ashov Birry, seorang aktivis perairan bebas racun untuk Greenpeace Asia Tenggara. “GAP dan merk-merk besar lainnya harus bekerja sama dengan supplier mereka di Indonesia dan tempat lain untuk menghilangkan penggunaan zat kimia yang membahayakan dalam supply chain dan produk mereka sebelum terlambat.”

Greenpeace yang mengambil sampel dari tiga muara sungai tempat keluaran limbah pabrik PT. Gistex menemukan serangkaian zat-zat kimia yang berbahaya, termasuk nonylphenol, tributyl phosphate, serta kadar larutan antimony yang tinggi (sebuah metalloid beracun yang digunakan untuk membuat bahan polyester. Air limbah dari dua muara sungai kecil yang berselang juga memiliki properti alkaline, hal ini menandakan bahwa limbah tersebut tidak menjalani pengolahan paling dasar sekalipun. Laporan yang menunjukkan air limbah dengan tingkat pH 14 dapat membakar kulit ketika bersentuhan langsung dengan air, dan dapat menghasilkan dampak yang sangat parah, bahkan berkemungkinan besar fatal, pada kehidupan mahluk dalam air dia kawasan pembuangan limbah.

“Masyarakat yang hidup di sepanjang sungai ini dan bergantung pada airnya berhak tahu kandungan apa saja yang mengalir dalamnya, dan konsumen merk seperti GAP berhak tahu zat-zat kimia apa saja yang digunakan dalam produksi garmen mereka,” lanjut Birry.

Penyelidikan mengungkapkan perusahaan-perusahaan lain yang berhubungan dengan PT. Gistex termasuk Adidas, Brook Brothers dan H&M.

Menurut Greenpeace kini industri tekstil adalah salah satu kontributor pencemaran air beracun terbesar di Jawa Barat, dimana 68 persen pabrik di daerah Citarum atas merupakan pabrik tekstil.

Diterjemahkan dari tulisan Jasmin Malik Chua berjudul Gap Turns Indonesian River Into an Unnaturally Multicolored Chemical Soup (diakses pada 22 April 2013).

Advertisements
Categories: Generasi Hijau | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: