Monthly Archives: April 2013

Merk Lokal yang Go International

Tahukah anda bahwa walaupun belum banyak, indonesia sudah memiliki beberapa merk yang sudah Go International selain Indomie dan Tolak Angin? Ini dia beberapa merk national yang sedang go international 🙂

Dalam dunia bisnis, kita sering dengar kata “branding”. Branding adalah konsep yang ternyata paling banyak salah dimengerti dalam dunia pemasaran.

Branding bukanlah periklanan dan bukan pula pemasaran atau humas. Branding adalah cara membentuk konsumen potensial agar memandang Anda sebagai satu satunya pemecahan masalah mereka.

Begitu Anda dipandang sebagai satu satunya, tidak ada tempat lain untuk berbelanja. Sedangkan Merek adalah “kepribadian sejati perusahaan.” Merek adalah apa yang dipikirkan dan dikatakan konsumen.

Selain itu merek adalah sebuah janji dan branding merupakan tindakan mewujudkan janji yang dibuat perusahaan kepada dunia.

 

ouval research

Ouval Research

Maraknya komunitas skateboard di Bandung membuat trio Rizki, Maskom dan Firman, pada 1997 menciptakan Ouval Research. Tujuan semula adalah untuk menyuplai peranti juga fesyen buat para skateboarder.

Kekuatan label ini terletak pada koleksi kaosnya yang hadir dengan print unik dan erat sekali dengan budaya street style yang dinamis, fun dan berjiwa muda. Dari kaos, koleksi Ouval Research berkembang hingga ke aksesori, mulai dari tas, sepatu, bahkan sampai MP3 dan otopet.

Kini Ouval Research semakin memperlihatkan keseriusan dan kemajuan bisnisnya hingga mengekspor produknya ke mancanegara seperti Singapura di butik Fyeweraz dan skateboard di Jerman.

 

le monde

Le Monde

Le Monde diambil dari Bahasa Prancis yang artinya dunia. Perusahaan ini merupakan bisnis keluarga memiliki yang didirikan oleh Zakiah Ambadar (Jackie Ambadar) dengan aset Rp 13 miliar dengan omset Rp 3 miliar per bulan.

Saat ini, perusahaan perlengkapan bayi ini mempunyai 10 outlet yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bogor dan Malang. Selain memiliki banyak outlet, Le Monde telah melakukan franchise sejak tahun 2001.

Kini produk produk Le Monde sudah diekspor keberbagai negara di Asia, Australia, Jerman, hingga negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Bahrain. Berkat keberhasilannya menjaga mutu prima, Le Monde pernah menyabet penghargaan Best Asean Infant Wear 2005.

 

mimsy

Mimsy

Christyna Theosa, seorang mahasiswi Art Center College of Design Pasadena, Perempuan kelahiran Tuban, 2 Januari 1982, sukses dengan tas buatannya yang diberi nama label Mimsy pada 2004.
Ia banyak bereksperimen dengan bahan dan warna untuk menciptakan desain yang elegan, unik, dan classy, namun juga seksi dan funky. Ia mendesain clutch-nya dengan bahan terbaik seperti kulit Italia, kain lace Jepang dan Prancis, pita sutra, beludru, hingga kristal Swarovski.

Semua tas dan clutch-nya juga dilapisi dengan bahan suede Italia dan satin. Tas-tas buatannya ini dijual dengan kisaran harga Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta. Kini tas karyanya bisa ditemui di Amerika (New York, Los Angeles, Chicago), Jepang, Malaysia, dan tentunya Indonesia (Grand Indonesia Shopping Town).

 

petersaysdenim

PeterSaysDenim

PeterSaysDenim adalah nama merek celana jins yang cukup terkenal di Bandung, didirikan oleh Peter Firmansyah. Produk-produknya sudah diekspor ke beberapa negara. Bahkan jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek PeterSaysDenim, bahkan dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat (AS), I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs PeterSaysDenim.

 

al madad

Al-Madad

Al Madad adalah merek cokelat yang digagas Sofihah dan mulai dikenal pasar lokal sejak 2008 lalu. Sofihah memang berniat mengangkat kekhasan lokal Banten dari produk cokelatnya. Mulai penamaan yang bernuansa religi dan budaya khas Banten, hingga penggunaan bahan baku cokelat yang berasal dari sejumlah pabrikan cokelat di Banten.

Sejumlah pabrikan ini juga menggunakan bahan baku cokelat dari perkebunan yang ada di provinsi berusia 10 tahun ini. Produk lokal cokelat Al Madad di bawah kepemimpinan Sofi, membuktikan kemampuan bisnis skala kecil memenuhi permintaan konsumen dan menarik kepercayaan perusahaan untuk menjadi mitra.

Dengan tambahan modal dari mitra, Sofi mampu menambah produksi cokelat untuk tetap konsisten memenuhi permintaan pasar. Dalam dua tahun, Al Madad dikenal sebagai produk unggulan khas Banten, serta berhasil menggaet pasar di kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Bukan mustahil nantinya dark chocolate asli Banten ini mendunia. Toh sejumlah produk impor nyatanya mengambil bahan baku dari lahan yang sama, tanah Banten.

 

jco

J.Co Donuts & Coffee

Johnny Andrean yang sebelumnya terkenal sebagai pengusaha salon yang sukses. Tak kurang dari 168 jaringan salon dan 41 sekolah salon dimilikinya, namun insting sang penata rambut kemudian membawanya terjun ke bisnis makanan.

Sejak tahun 2003 ia aktif mengembangkan J.COJ.COadalah produk dalam negeri dengan menggunakan konsep dari luar negeri dan disempurnakan dengan modernisasi dan kualitas terbaik. J.CO ditujukan untuk menyerbu pasar asing.

 

klenger burger

Klenger Burger

Pada awalnya adalah Velly Kristanti dan suaminya, Gatut Cahyadi, ingin mencoba sebuah usaha sendiri, mereka pun nekat keluar dari pekerjaan dan memulai bisnis sendiri tahun 2004, dari bisnis advertising syariah, bisnis IT, ternyata semua berujung gagal.

Kebetulan pada awalnya mereka punya usaha Pondok Sayur Asem di daerah Pekayon, Bekasi, yang sempat tidak mereka pedulikan. Berawal dari situ, ide membuat makanan untuk anak muda yang cepat, halal, dan nikmat pun terbersit dan burger dipilih sebagai pilot project-nya.

Segala macam buku tentang burger dipelajari hingga akhirnya Velly membuat sendiri burger yang Indonesia banget. Terbuat dari roti yang lembut dan daging berurat serta saus spesial, burger bikinan Velly ternyata digemari dan semakin laris dipesan.

Intinya, bikin orang jadi ‘klenger’!. Begitulah nama ‘klenger’ akhirnya dikenal masyarakat, khususnya anak muda yang menjadi target market Klenger Burger.

 

77

Es Teler 77

Es Teler 77 bermula ketika Murniati Widjaja memenangkan juara kompetisi memasak dengan membuat minuman tradisional Indonesia itu. Saat itu pada 1982, Murniati dengan dukungan suaminya membuka restoran khusus es teler yang diberinya nama Es Teler 77. Dua angka di belakang bukan tanpa makna. Bagi keluarga Widjaja, 77 merupakan nomor keberuntungan. Modal Rp 1 juta dipakainya untuk mendirikan tenda kecil di emperan pusat perbelanjaan Duta Merlin, Harmoni, Jakarta Pusat. Terkadang, dagangannya terpaksa tutup ketika hujan mendera dan genangan mulai meninggi. Pada 1987, franchise pertama dibuka di Solo Jawa Tengah. Namun saat ini, Es Teler 77 telah mencapai 180 cabang dan mempekerjakan dua ribu orang, hampir di seluruh provinsi ada. Tak hanya di dalam negeri, Es Teler 77 telah go international ke Singapura dan Australia, masing-masing tiga outlet. “Kami sedang bersiap merambah Beijing dan Jeddah dengan mengikuti pameran di sana pada Mei ini,” kata Anton yang merupakan generasi kedua dari bisnis ini.

 

partners in crime

Partner in Crime

Fahrani memang sudah malang melintang di dunia modeling Internasional. Namun cewek bernama lengkap Fahrani Pawaka Empel ini ternyata punya insting bisnis yang baik. Yaitu merek sepatu buatannya, Partner In Crime. bisnis sepatu wanitanya berlabel Partner in Crimes, mendapat sambutan positif dari publik, baik lokal maupun international. Karakter yang rebellious dengan detail stud yang sangat digemari wanita urban mendominasi desainnya, yang tak hanya kondang di Bali. Disalurkan lewat butik multibrand di Jakarta, merek ini sudah berekspansi ke Ibiza, spanyol. Rencananya kedepan giliran Australia yang bakalan ‘ditodong’. Merek ini siap menjajah benua Kangguru.

 

hatten

Hatten Bali Wine

Wine yang beredar di Indonesia masih didominasi produk Impor, tetapi ada Wine Lokal yang mutunya tak kalah dengan impor yaitu Hatten Bali Wines. Wine ini mulai diproduksi oleh anak negeri asal Bali bernama I B Rai Budarsa tahun 1994. Gus Rai, panggilan akrabnya, sungguh tak asing dengan ilmu membuat minuman dari anggur, lantaran keluarganya sudah membuat brem dan arak Bali sejak tahun 1960-an, plus latar belakang pendidikannya di jurusan food processing, dan ia memang pecinta wine. Anggur-anggur didatangkan dari vineyard alias ladang anggur pribadi seluas 14,5 hektar yang berlokasi di Singaraja, Bali. Tidak hanya vineyard, Hatten juga mempunyai winery untuk memproduksi lebih dari 8 jenis wine, dan itu membuat Hatten Wines menjadi winery pertama di tanah air yang bisa dikatakan 100% Indonesia. Hatten Wine Rose hingga kini menjadi produk andalan dari Hatten Wine, dan sempat memenangkan penghargaan di London pada tahun 2003. Ekspor Hatten Wines kini sudah mencapai negara-negara Eropa seperti Belgia, Inggris dan Belanda, Aserta Singapura hingga Maladewa.

Sumber: Dari posting seorang kawan di milis.

Advertisements
Categories: Kreasi dan Inovasi, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Ikan Keberuntungan Temuan Ilmuan Kanada yang Menyelamatkan Banyak Jiwa di Kamboja

Seekor ikan kecil menjadi solusi masalah kekurangan zat besi di kalangan wanita Kamboja. Masalah tersebut dipecahkan oleh seorang peneliti dari University of Guelph.

Seekor ikan kecil menjadi solusi masalah kekurangan zat besi di kalangan wanita Kamboja. Masalah tersebut dipecahkan oleh seorang peneliti dari University of Guelph

Inti dari kisah ini adalah seekor ikan kecil. Namun Christopher Charles, seorang peneliti dari University of Guelph, menyatakan bahwa ikan kecil tersebut telah menjadi solusi dari sebuah masalah medis di pedalaman hutan Kamboja, dan ia bersumpah bahwa kisah ini bukanlah dongeng namun merupakan suatu kisah nyata. Semuanya berawal tiga tahun yang lalu ketika Charles, sang jenius  dari Milton yang baru saja mendapatkan gelar sarjananya dalam ilmu biomedis, mengerjakan sebuah penelitian kecil di Kamboja. Tugasnya adalah membantu ilmuwan lokal untuk membujuk wanita-wanita di pedesaan untuk menaruh bongkahan besi ke dalam panci ketika memasak, dalam rangka meningkatkan kadar zat besi dalam asupan konsumsi mereka dan mengurangi resiko anemia. Secara teori upaya ini memang bagus, tetapi dalam praktek, para wanita tersebut enggan melakukannya.

Tugas tersebut adalah tantangan yang begitu menggoda khususnya karena Kamboja adalah negara dengan kasus kekurangan zat besi yang cukup parah, di tambah dengan fakta bahwa60 persen wanita mengalami persalinan prematur, pendarahan selama melahirkan, dan bayi mereka mengalami perkembangan otak yang buruk. Sebagai penyakit yang merupakan cerminan dari fenomena kemiskinan, kekurangan zat besi telah menyerang sekitar3.5 milyar orang di dunia. Kegiatan tersebut  memang merupakan suatu penelitian awal namun telah berhasil membuat Chris Charles sangat penasaran. Tetapi di saat yang sama ia juga harus segera kembali ke Guelph untuk memulai program S2-nya.

Beberapa minggu sebelum ia harus kembali, Charles menghubungi pembimbing akademisnya untuk menarik program S2-nya dalam penelitian tentang hormon. Namun karena kerja kerasnya, , pembimbingnya justru tidak memperbolehkan Charles untuk menarik diri dari program S2-nya, melainkan justru memberitahu Charles bahwa sesungguhnya ia telah menemukan proyek penelitian S2 yang sesungguhnya.

Dari basecamp barunya yang berupa pondok bambu, Charles menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan dua orang peneliti dari Research Development International di Kamboja dengan pendanaan dari University of Guelph, International Development Research Centre di Ottawa, serta hibah penghargaan program doctor dari Canadian Institutes of Health Research.

“Terkadang saya mempertanyakan, sesungguhnya saya ini sudah menenggelamkan diri ke dalam hal apa? Saya berada di suatu desa di mana air bersih yang mengalir tidak ada, begitu juga dengan listrik sehingga saya tidak dapat menggunakan komputer. Seolah saya hanya menyulitkan diri sendiri.”, ujar Charles.

Orang-orang yang harus dihadapi adalah kalangan orang termiskin (poorest of the poor) yang tidak mampu membeli daging merah atau pil zat besi yang memang tidak murah, selain itu para wanitanya tidak ingin menggunakan panci besi karena lebih berat dan mahal harganya. Padahal, sedikit saja tambahan zat besi ke dalam air dan makanan dapat menyelamatkan nyawa mereka. Tetapi benda mengandung zat besi berbentuk apakah yang para wanita desa tersebut bersedia masukkan dalam panci mereka?

“Kami sudah tahu bahwa bongkahan besi saja tidak akan berguna… jadi kami harus memikirkan ide bentuk yang menarik,” ujar Charles. “Tugas kami berubah menjadi sebuah tantangan pemasaran untuk masyarakat.”

Tim peneliti awalnya mencoba bentuk lingkaran besi kecil. Ternyata perempuan-perempuan Kamboja tetap tidak ingin menggunakannya.Kemudian mereka membentuk besinya menjadi bunga lotus. Mereka juga tidak menyukainya.

Tetapi ketika Tim Charles membentuk besinya sehingga menyerupai seekor ikan dari sungai di kawasan tersebut yang dipercayai memberi keberuntungan? Bingo! Perempuan-perempuan tersebut dengan senang hati memasukannya ke dalam panci mereka. Selang beberapa bulan berikutnya, tingkat zat besi di desa tersebut mulai meningkat.

“Kami merancang ukuran ikannya sekitar 3 sampai 4 inci, cukup kecil untuk diaduk dengan mudah, namun cukup besar untuk memberikan sekitar 75 persen kebutuhan zat besi untuk sehari,” kata Charles. Mereka menemukan seorang pekerja skrap logam yang bisa membuat ikan tersebut seharga $1.50 per buahnya, dan sejauh ini mereka telah menggunakan ulang ikan tersebut selama 3 tahun.

“Kami memperoleh hasil yang luar biasa; kelihatannya kasus anemia telah turun secara drastis dan wanita desa merasa sehat dan tidak begitu sering pusing lagi. Ikan besi ini sangat manjur.”

Dalam 3 tahun, Charles telah menemukan solusi dari permasalahan kekurangan zat besi yang begitu mempesona karena kesederhanaannya. Solusi itu mungkin sekali telah menyelamatkan nyawa banyak orang, dan tentu saja telah memberinya gelar S2 dan tidak lama lagi gelar S3 (PhD). Di sepanjang jalan, pria berumur 26-tahun ini telah mempelajari bahasa Khmer, dan telah menjadi ahli dalam seni pengambilan darah, bahkan dari seseorang yang tengah mengayuh sebuah kano sembari ia menjaga keseimbangan di kano satunya lagi, dan mendapati bahwa orang tersebut mengidap demam berdarah.

Kini Charles telah kembali ke Guelph, mengolah data untuk menyerahkan penelitiannya untuk publikasi, serta menfinalisasi disertasi S3-nya.

Pembimbing akademis yang ia hubungi 3 tahun lalu yaitu Alastair Summerlee, seorang professor endokirnologi,  yang juga merupakan Presiden University of Guelph, hampir sama antusiasnya dengan Charles. Summerlee tahu bahwa ia telah mengambil resiko ketika membolehkan Charles mengubah jalur penelitian akademisnya.

We were flying by the seat of our pants, Chris harus bekerja di suatu tempat dimana ia harus mempelajari segalanya (termasuk bahasa Khmer) dengan trial and error, sedangkan saya selalu khawatir apakah ini merupakan keputusan yang benar atau bukan. Apakah dia mampu menyelesaikannya?” kata Summerlee.

“Tetapi hasilnya sungguh luar biasa. Dia telah mempresentasikan temuannya di Asia, Eropa dan Amerika Utara dan mendapatkan pengakuan. Selain itu ada kemungkinan besar bahwa penemuan yang sederhana ini dapat memberi dampak yang signifikan terhadap kondisi kesehatan perempuan-perempuan di Asia.”

Pelajaran lain yang telah Charles dapati adalah bahwa pemasaran atau marketing merupakan sisi lain dari ilmu pengetahuan.

“Karena pengobatan paling efektif sedunia pun tidak akan berguna jika tidak ada yang ingin menggunakannya.”

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel Louise Brown dalam The Star tanggal 12 November 2011.

Categories: Dunia Kita, Tahukah Kamu? | Leave a comment

Bersyukur masih ada Polisi Berdedikasi

Depok, salamduajari – Sudah lama rasanya tidak menulis di segmen Berita Baik. Akhirnya hari ini (25/04) ada berita baik yang dapat disebarluaskan, walau sebenarnya berita ini bukan dari hari ini ya.. salamduajari saja yang baru tahu tentang hal ini. Anyway, di tengah pesimisme masyarakat dalam memandang reformasi birokrasi di tubuh lembaga kepolisian yang dinilai oleh kebanyakan masyarakat sangat bobrok, mungkin berita ini semacam oase di padang pasir. Setidaknya itu yang salamduajari rasakan, makanya berita ini disajikan disini. Berikut adalah liputan lengkap tentang seorang polisi yang terlihat sangat berdedikasi dalam menjalankan perannya sebagai pengayom masyarakat, seperti yang dilansir dari www.merdeka.com

 

Pak Polisi ini rela basah-basahan tolong pemotor saat banjir

sumber foto: @merdeka.com/arie basuki

sumber foto: @merdeka.com/arie basuki

Hujan deras yang mengguyur Tangerang dan sekitarnya, membuat aliran Sungai Angke meluber hingga ke Jalan KH Hasyim Ashari, Tangerang, Jumat (19/4). Genangan air setinggi lutut orang dewasa, membuat lalu lintas di jalan itu mengular hingga berkilo-kilo meter.

Untung peristiwa ini tak berlangsung lama, karena kesigapan AKP Rinaldi, perwira polisi yang rela basah-basahan mengatur lalu lintas.

Pantauan merdeka.com, AKP Rinaldi tidak sendirian. Dia bersama temannya bertugas mengatur lalu lintas. Namun, hanya Rinaldi yang rela basah kuyup. Dia membantu mendorong pengendara sepeda motor yang mogok terjebak banjir.

Terlebih, di sekitar lokasi banjir memang banyak lobang menganga, akibatnya tidak sedikit pemotor yang terjebak lobang yang samar karena tertutup air.

Tak segan, Rinaldi mendorong pemotor yang terjebak lobang. Tidak hanya pemotor, pejalan kaki juga banyak yang terperosok ke dalam lobang. Hingga kini, genangan di sekitar lokasi belum juga surut.

Categories: Berita Baik | 1 Comment

Antisocial Networking

PATHDi era teknologi informasi seperti sekarang ini, situs atau aplikasi berupa media komunikasi sosial via internet tampaknya terus berkembang. Dulu ada friendster, lalu facebook, lalu ada twitter, dan terakhir ada Path, yang mirip facebook tapi maksimum teman hanya 150, jadi bisa share hal-hal yang lebih private ke orang-orang yang emang limited edition. Nah, ini adalah kisah dialog antara dua senyawa yang sudah cukup lama eksis di Path (senyawa A) dan yang baru mau mulai mengeksiskan diri (senyawa B)

Senyawa B: gw heran, si Rani ini rajin banget update Path, buset dah, ini timeline gw isinya dia mulu.

Senyawa A: emang temen lo di Path berapa orang?

Senyawa B: oh..?

(Senyawa A tanpa banyak bicara langsung mengambil alih kemudi gadget senyawa B, untuk segera mencari tahu jumlah teman yang dimiliki senyawa B di Path).

Senyawa A: Nih (menunjukkan kepada senyawa B bahwa daftar teman yang dimilikinya ternyata hanya 3 orang), pantesan aja yang muncul di timeline loe dia-dia mulu, orang lo ga ada temen laen! Kesian banget sih..

Senyawa B: (hanya merenung sendiri, haruskah dirinya menggarap serius soal eksistensi dirinya di dunia digital baru bernama Path itu)

Categories: Random Conversation | Leave a comment

Berita baik untuk para PNS :D

Menjelang Pemilu 2014 , gaji pokok PNS dan Pensiunan akan naik lagi, nggak tanggung-tanggung :

Gol 1 gaji pokoknya 4,750,000.-
Gol 2 gaji pokoknya 5.750.000,
Gol 3 gaji pokoknya 8,750,000.-
Gol 4 gaji pokoknya 9,750,000.-

Belum termasuk tunjangan kerja, tunjangan fungsionil dlsb.

Akan dibayarkan dalam bentuk mata uang YEN.
Dengan ketentuan sbb:

Gol 1 YEN ono duit’e,
Gol 2 YEN ora lali,
Gol 3 YEN ono sisane soko koruptor
Gol 4, YEN presiden’e mbahmu

PS:

diambil dari posting facebook di grup Dosen Indonesia xD bagi yang tertarik untuk tahu standar gaji PNS per 2013 silakan klik disini dan untuk gaji pejabat negara bisa klik disini

Categories: Random Conversation | Leave a comment

Memakai GAP: Kebanggaan Bagimu, Kehancuran Bagi Citarum

This slideshow requires JavaScript.

Sebuah pepatah lawas Inggris mengajarkan kita untuk tidak menilai segala sesuatu hanya dari bungkusnya saja. “Don’t judge book by its cover,” begitu bunyinya. Sebagai salah seorang yang pernah pembeli produk pakaian merk GAP, saya risau setelah membaca artikel yang kemarin dikirim oleh seorang sahabat yang kebetulan seorang ekologis asal Perancis. “I just read this :(” tulisnya sembari memberi link tulisan tentang pabrik tekstil merk GAP dan beberapa merk terkenal lainnya yang sukses membuat Sungai Citarum menjadi semacam sungai “sop kimia” yang kaya warna, ada ungunya, ada birunya. Sungai citarum menjadi menarik dilihat (bungkusnya), tetapi bahaya untuk digunakan (isinya). GAP memang tergolong merk yang terkenal (bungkusnya), sehingga tidak sedikit orang yang rasa percaya dirinya meningkat ketika mengenakan GAP, sebagian mungkin ada yang sampai merasa bangga karena memakai merk terkenal. Tapi di Indonesia, proses produksi merk terkenal itu (isinya) membuat sungai Citarum kita rusak dan akhirnya merugikan masyarakat sekitar yang tidak lagi dapat menikmati manfaat dari Sungai Citarum.

“Don’t judge book by its cover,” begitu bunyi pepatah bijaknya. Haruskah kita berbangga mengenakan suatu merk terkenal, walau proses produksinya mengakibatkan kerugian bagi banyak jiwa dan juga mengganggu keseimbangan lingkungan hidup? Jika kita merenungkan pertanyaan itu dengan mengamalkan pepatah bijak Inggris itu, harusnya hati nurani dan akal sehat kita akan bermuara pada satu jawaban yang sama. Jawaban itu sangat jelas, sebegitu jelasnya tertulis di alam pikir dan bersuara di hati kita, sehingga menuliskan jawaban itu di tulisan ini tidak akan terlalu banyak memberikan nilai tambah bagi kita. Namun saya yakin membaca artikel utuh yang dikirim oleh sahabat saya itu dapat memberi lebih banyak nilai tambah bagi kita, berikut adalah artikelnya, ditranslasi dari sumber ini. (DM)

 

GAP jadikan  Sungai Citarum Indonesia seperti Sup Ragam Warga

Ketika GAP menciptakan slogannya yang berbunyi “be true to your hue,” sepertinya kemungkinan mereka membicarakan perairan Indonesia sangat kecil. Tetapi menurut laporan Greenpeace, konglomerat retail yang anak perusahaannya termasuk Banana Republic, Old Navy, Piperline, dan Athleta, termasuk sekelompok merk yang telah menjadikan sungai Citarum di Jawa Barat sebagai cocktail limbah kimia dengan warna kemerahan yang tidak lazim. Artikel Toxic Threads: Polluting Paradise yang dipublikasikan Rabu kemarin merinci bagaimana hubungan bisnis GAP dengan PT. Gistex, yang mengoperasikan pabrik penghasil polusi tersebut, telah mengubah daerah aliran sungai yang dahulu jernih menjadi got yang berisikan zat-zat beracun yang mengganggu hormon dan sifatnya sangat persisten.

“Promosi iklan GAP yang terbaru menyatakan bahwa kita semua harus ‘Be Bright,’ namun dengan berkolaborasi dengan supplier yang buruk, garmen GAP mengubah Citarum menjadi sebuah sup ragam warna” kata Ashov Birry, seorang aktivis perairan bebas racun untuk Greenpeace Asia Tenggara. “GAP dan merk-merk besar lainnya harus bekerja sama dengan supplier mereka di Indonesia dan tempat lain untuk menghilangkan penggunaan zat kimia yang membahayakan dalam supply chain dan produk mereka sebelum terlambat.”

Greenpeace yang mengambil sampel dari tiga muara sungai tempat keluaran limbah pabrik PT. Gistex menemukan serangkaian zat-zat kimia yang berbahaya, termasuk nonylphenol, tributyl phosphate, serta kadar larutan antimony yang tinggi (sebuah metalloid beracun yang digunakan untuk membuat bahan polyester. Air limbah dari dua muara sungai kecil yang berselang juga memiliki properti alkaline, hal ini menandakan bahwa limbah tersebut tidak menjalani pengolahan paling dasar sekalipun. Laporan yang menunjukkan air limbah dengan tingkat pH 14 dapat membakar kulit ketika bersentuhan langsung dengan air, dan dapat menghasilkan dampak yang sangat parah, bahkan berkemungkinan besar fatal, pada kehidupan mahluk dalam air dia kawasan pembuangan limbah.

“Masyarakat yang hidup di sepanjang sungai ini dan bergantung pada airnya berhak tahu kandungan apa saja yang mengalir dalamnya, dan konsumen merk seperti GAP berhak tahu zat-zat kimia apa saja yang digunakan dalam produksi garmen mereka,” lanjut Birry.

Penyelidikan mengungkapkan perusahaan-perusahaan lain yang berhubungan dengan PT. Gistex termasuk Adidas, Brook Brothers dan H&M.

Menurut Greenpeace kini industri tekstil adalah salah satu kontributor pencemaran air beracun terbesar di Jawa Barat, dimana 68 persen pabrik di daerah Citarum atas merupakan pabrik tekstil.

Diterjemahkan dari tulisan Jasmin Malik Chua berjudul Gap Turns Indonesian River Into an Unnaturally Multicolored Chemical Soup (diakses pada 22 April 2013).

Categories: Generasi Hijau | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.