Michelangelo, Sang Pujangga

Michelangelo Buonarroti

Michelangelo Buonarroti

Pelajaran pertama yang kebanyakan orang peroleh mengenai kesenian zaman Renaisans Italia diajarkan ketika berusia 7 atau 8 tahun. Waktu itu para pelajar diajarkan 4 nama tokoh penting dalam perkembangan kesenian dan kesusastraan renaisans yang bahkan tidak berasal dari sekolah atau buku pintar yang sering dicekokan oleh orang tua yang ambisius. Tidak, nama-nama tersebut dapat dipelajari dari kartun Kura-kura Ninja. Empat tokoh penting yang berkontribusi banyak kepada ilmu pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan lingkungannya, serta bagaimana ia dapat mengekspresikan pengetahuan tersebut dalam seni adalah Leonardo, Donatello, Michelangelo dan Raphael.

Dalam kesempatan ini mari kita pelajari dengan lebih seksama sang kura-kura ninja dengan ikat kepala warna kuning, Michelangelo. Michelangelo Buonarroti adalah seniman asal Tuscanny, Italia yang paling dikenal karena patung mahakaryanya “David” serta lukisan-lukisan fresco (atau lukisan di langit-langit dan dinding) yang menghiasi Gereja Sistine di Vatikan. Nama beliau tentu sudah tidak asing lagi di telinga kebanyakan orang, setidaknya bagi yang belum pernah mendengar namanya (atau selama ini memang beranggapan bahwa Michelangelo hanyalah nama siluman kura-kura belaka) pasti tahu atau pernah melihat karya-karyanya.

This slideshow requires JavaScript.

Kemampuan visualnya, yang membuat lukisan-lukisan fresconya tampak seolah timbul dari lekukan langit-langit, serta pahatan yang begitu mulus sehingga terlihat bagaikan bongkahan marmer yang mengkilat meleleh dengan sendirinya dan menghasilkan bentuk patung manusia yang sempurna, is simply without question. Tetapi sebenarnya apa saja yang kita ketahui tentang Michelangelo? Seperti apakah proses yang ia lalui ketika berkarya? Bagaimana perasaannya ketika sang Paus tak henti mengkritik karyanya yang dianggap vulgar dan cocoknya dipamerkan di rumah bordil? Salah satu fakta menarik yang jarang diketahui adalah Michelangelo bukan hanya seorang pemahat dan pelukis ulung, tetapi ternyata juga seorang pujangga yang telah menerbitkan ratusan puisi yang indah. Dari puisi-puisi inilah para pengamat yang dulu hanya dapat melihat keindahan karya seni Michelangelo dapat mengenal lebih dalam pribadi yang menciptakannya dan sebetapa sensitif jiwa yang terkandung dalam tubuh sang pemahat misterius.

“Cahaya akan disorotkan secara intensif kepada sang seniman melalui sisi yang berbeda-beda. Sumber dari dorongan-dorongan kuat yang menggerakan Michelangelo dalam perjuangan artistiknya akan sering kita temukan dalam puisinya.” Demikian pengantar dari Christopher Ryan, yang menerjemahkan 109 puisi Michelangelo dari saat ia beranjak umur 30 hingga hari-hari terakhirnya.

Sekitar tahun 1509-1510, ketika ia tengah melukis Gereja Sistine, Michelangelo menulis sebuah sonet kepada seorang Giovanni da Pistoia dimana ia menggambarkan betapa menyedihkan pengalamannya melalui selera humornya yang sardonic. Sonet tersebut menceritakan penderitaan fisik dan emosional yang harus dilalui Michelangelo ketika ia mengerjakan pièce de résistance dari sepanjang karirnya. Selain itu, terlihat pula bahwa Michelangelo sendiri ternyata tidak menganggap dirinya seorang pelukis dan bahkan menyebut lukisannya sebagai pittura morta atau lukisan yang mati:

I’ ho già fatto un gozzo in questo stento,

come fa l’acqua a’ gatti in Lombardia

o verd’altro paese che si sia,

c’a forza ‘l ventre appica sotto ‘l mento.

        La barba al cielo, e la memoria sento

in sullo scrigno, e ‘l petto fo d’arpia,

e ‘l pennel sopra ‘l viso tuttavia

mel fa, gocciando, un ricco pavimento.

        E’ lombi entrati mi son nella peccia,

e fo del cul per contrapeso groppa,

e’ passi senza gli occhi muovo invano.

        Dinansi mi s’allunga la corteccia,

e per piegarsi adietro si ragroppa,

e tendomi com’arco sorïano.

                Però fallace e strano

surge il iudizio che la mente porta,

ché mal si tra’ per cerbottana torta.

                La mia pittura morta

difendi orma’, Giovanni, e ‘l mio onore,

non sendo in loco bon, né io pittore.

Dimana telah diterjemahkan oleh Christopher Ryan:

In this difficult position I’ve given myself a goiter – as does the water to the peasants of Lobardy, or anyway of some country or another – for it shoves my stomach up to hang beneath my chin.

My beard points to heaven, and I feel the nape of my neck on my hump; I bend my breast like a harpy’s, and, with its non-stop dripping from above, my brush makes my face a richly decorated floor.

My loins have gone up into my belly, and I make my backside into a croup as a counterweight; and I cannot see where to put my feet.

In front of my hide is stretched, and behind the curve makes it wrinkled, as I bend myself like a Syrian bow.

So the thoughts that arise in my mind are false and strange, for one shoots badly through a crooked barrel.

Defend my dead painting from now on, Giovanni, and my honour, for I am not a well placed, nor indeed a painter.

Sayangnya terjemahan puisi Michelangelo ke bahasa Indonesia masih sedikit. Tetapi ada sisi positifnya, khususnya bagi individu-individu yang ingin mengetahui Michelangelo lebih dalam lagi, karena memang di Indonesia masih banyak ruang kosong yang perlu diisi tentang sastra Italia. Oleh karenanya, kita kini  sebagai bagian dari masyarakat awam mungkin baru bisa meraba-raba mengenai makna dari kata-kata bahasa Italia tersebut, dengan mencoba memahami terjemahan Bahasa Inggrisnya.  Namun setidaknya, kita sudah mendapatkan sedikit gambaran mengenai kisah dibalik langit-langit gereja Sistine nan megah, juga sedikit cerita tentang seorang pria super perasa yang mengayunkan kuasnya selama empat tahun dalam posisi berdiri dan menengadah. Suatu posisi yang sungguh tidak mengenakkan. Namun demi keindahan, ia rela. Ya, karena ia adalah Michelangelo sang pujangga.

Advertisements
Categories: Dibalik Karya Seni | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Michelangelo, Sang Pujangga

  1. Pingback: The statue’s name is David | fajarkusumaningayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: