Mengapa Manusia Menikah?

Melihat dan mendengar seringnya pemberitaan mengenai perceraian, tanpa terasa mungkin sebagian dari kita mendapatkan kesan bahwa dewasa ini semakin banyak orang yang bercerai. Selebriti A bercerai, tokoh B bercerai, bahkan terkadang kita juga mendengar berita bahwa artis A kembali bercerai dari pasangan kedua atau ketiganya. Seringnya pemberitaan memberikan kesan kepada kita seolah-olah kasus perceraian terjadi cukup sering, sehingga membuat sebagian dari kita mungkin menjadi takut untuk menikah.  Di Indonesia sendiri dilaporkan bahwa kasus perceraian mengalami peningkatan. Pada 2010 dilaporkan sekitar 285,184 perceraian di seluruh Indonesia, meningkat dari angka 216,286 pada 2009. Memang secara kasus meningkat, tapi jangan-jangan kasus cerai meningkat karena jumlah pernikahannya juga meningkat?

Hal tersebut  logis untuk dipertanyakan karena setiap tahun jumlah penduduk Indonesia tumbuh sekitar 1.49% per tahun atau sekitar 3.5 juta jiwa per tahun. Jadi wajar jika kita curiga bahwa setiap tahun mungkin jumlah pernikahan juga meningkat. Sayangnya hasil pencarian saya tidak menemukan angka jumlah perkawinan per tahun, hanya menemukan angka untuk tahun 2010 yaitu sekitar 2 juta orang menikah, dengan interpretasi yang mungkin sotoy, berarti sama saja dengan 1 juta pernikahan.  Dengan demikian, rasio perceraian:pernikahan di Indonesia pada 2010 sekitar 28.5%. Tinggi ya? Kalau dibandingkan dengan rasio perceraian:pernikahan Amerika Serikat yang sekitar 53%, ya masih tergolong rendah; tapi kalau dibandingkan dengan Brazil yang sekitar 21%, agaknya cukup tinggi yah.  Tapi ada fakta menarik dari Inggris dan Amerika Serikat lho, yaitu tren tingkat perceraian di kedua negara tersebut mengalami penurunan pada 2000-2011.

Sekilas dari gambaran di atas, di mana di Indonesia rasio peristiwa cerai versus pernikahan sekitar 1:3, sementara di Amerika Serikat sekitar 1:2, memang rasanya cukup wajar lah ya kalau masyarakat mulai merasa lebih khawatir atau takut untuk menikah. Pertanyaan mendasar pun lantas muncul ke permukaan. Kalau pada akhirnya akan cerai juga, ngapain nikah  ?

Orang bijak pernah berkata, kalau ingin merubuhkan pagar, sebaiknya kita mempelajari terlebih dulu soal mengapa pagar tersebut didirikan. Hal ini kemudian membuat saya kembali kepada nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang kita miliki. Satu hal yang menarik bagi saya pribadi adalah tradisi suap-suapan (atau saling menyuapi) yang umum dilakukan oleh setiap pasangan yang baru menikah. Kasarnya, peristiwa saling menyuapi itu merupakan pose  atau adegan wajib yang harus dilakukan dan diabadikan (difoto) bagi setiap pasangan yang baru resmi menikah. Suatu hari saya bertanya dengan seorang kolega senior, mengapa sih pasangan pengantin baru tuh harus difoto pada saat saling menyuapi? Berikut jawaban yang saya dapat (ditulis berdasarkan ingatan):

“Inilah lo lo ini anak-anak muda udah ga kenal lagi dengan nilai-nilai budaya leluhur. Tapi baguslah lo nanya. Jadi gini, tradisi suap-suapan tu merupakan simbol bahwa sebagai sepasang suami istri, dua insan tu berjanji sehidup semati, saling menemani dalam kondisi susah senang. Nanti akan ada masanya sang istri ga berdaya, bahkan sampai ga berdaya untuk makan sendiri sehingga harus disuapin, Begitu pula sebaliknya, mungkin suami yang akan sebegitu tidak berdayanya sampai ga bisa makan sendiri jadi harus disuapin sama sang istri. Pada saat suap-suapan itu, kedua mempelai mestinya saling memaknai bahwa kalau orang ini ga berdaya, gw yang akan nemenin dan ngerawat dia; harus dua-duanya memaknai itu, karena kalo cuma salah satu aja, pasti akan ada yang tersakiti. Jadi pada saat lo mutusin mau nikah, jangan mikir seneng-senengnya aja. Bayangkan masa-masa susahnya, ketika pasangan lo ga berdaya. Siap ga lo ngerawat dia? Kalau siap, ya menikahlah.”


Jawaban itu membuat saya tertegun dan akhirnya menulis artikel ini. Kita generasi muda terkadang suka ribet sendiri mencari jawaban dari pakar konseling pernikahan lah, dari penasihat spirituil lah, atau mungkin dari para penasihat hukum (umumnya terkait dengan perjanjian pra-nikah yang sekarang mulai tren). Padahal jawabannya sangat sederhana, sudah ada dari zaman dahulu kala, berupa kearifan lokal warisan leluhur kita sendiri. Intinya, kita menikah bukan semata-mata untuk melanjutkan klan atau memperoleh keturunan; bukan juga untuk menghalalkan persetubuhan; bukan juga sekedar untuk membahagiakan kedua orang tua atau sanak saudara. Kita menikah, karena kita ingin menjadi teman hidup seseorang, yaitu teman hidup dalam susah dan senang, sehat dan sakit, sehidup dan semati. (DM)

Advertisements
Categories: Kearifan Lokal | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Mengapa Manusia Menikah?

  1. Nggak cuma menikah gan, kadang2 juga bercerai 🙂

  2. Its like you read my mind! You appear to know so much about this, like you wrote the book in it or something.
    I think that you can do with some pics to drive the message
    home a little bit, but instead of that, this is great blog.
    A great read. I will certainly be back.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: