Cara berpikir atau cara pandangnya yang salah?

oh, really?

oh, really?

Dalam suatu mata kuliah pembangunan karakter terdapat beberapa  sesi yang  membahas tentang silogisme , yaitu metode penalaran deduktif yang menurunkan suatu kesimpulan khusus dari dua premis atau proposisi yang bersifat lebih umum. Saya ingin bercerita tentang salah satu sesi tentang silogisme tersebut. Saya lupa tepatnya kapan sesi itu terjadi (yang pasti pada semester ke-2 tahun 2012), yang pasti sebelumnya  mahasiswa telah diminta menonton sebuah film  dan menemukan kesalahan penalaran pada beberapa tokoh yang ada pada film tersebut. Dalam kelompok  mereka berdiskusi dan kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Sejujurnya saya sudah agak lupa dengan silogisme-silogisme yang kami bahas hari itu,  saya bahkan lupa film-nya apa, tapi ada 1 yang masih melekat karena membuat saya ingin menulis artikel ini, yaitu  yang berkaitan dengan silogisme  si Ayah yang mengkhawatirkan masa depan anak putrinya (let say namanya Danita)  jika menikah dengan pria yang hanya merupakan lulusan perguruan tinggi di dalam negeri. Adapun putrinya sendiri baru saja pulang dari luar negeri. Sekali lagi mohon tempatkan fokus Anda pada pesan yang tersirat dari tulisan ini, karena saya sudah lupa dengan persis ceritanya, jadi mungkin tulisan ini berkategori inspired by true story, bukan based on true story. Anyway, kira-kira  salah satu silogisme  yang dipresentasikan oleh beberapa kelompok hari itu adalah seperti ini:

Premis mayor: Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang  menjanjikan

Premis minor: Ajie (tokoh utama pria, nama buatan karena lupa nama aslinya siapa) bukan lulusan luar negeri

Kesimpulan: Aji memiliki masa depan yang tidak menjanjikan.

Intinya adalah, mahasiswa menilai ada yang salah pada cara berpikir atau proses penalaran pada Ayah Danita. Lalu saya bertanya lagi kepada mahasiswa untuk menanggapi silogisme orang tua Danita yang telah dipaparkan.  Jika memang premis mayor dan minornya seperti di atas, di mana letak tidak logisnya orang tua Danita? Karena bagi saya, kesimpulan yang diturunkan sudah konsisten dan sejalan dengan induknya (premis-premisnya). Saya lalu beri contoh silogisme yang kurang tepat atau mengandung sesat pikir:

Premis mayor: Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang  menjanjikan

Premis minor: Ajie bukan lulusan luar negeri

Kesimpulan:  Ajie tidak becus —> disini terdapat lompatan pemikiran disini, sehingga tidak ada kaitan langsung antara kesimpulan induk (premis) dan kesimpulan turunannya.

Kemudian mahasiswa menjadi lebih paham bahwa tidak ada yang salah pada proses berpikir Ayahnya Danita. “lalu apa yang salah?”, tanya saya. Saya pun kemudian mengajak mahasiswa membahas premis-premisnya. “Ajie bukan lulusan luar negeri. Benar atau tidak? Fakta atau bukan?” tanya saya, Semua mahasiswa sepakat bahwa itu merupakan fakta karena memang di film itu ceritanya Ajie bukanlah merupakan lulusan perguruan tinggi luar negeri. “Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang menjanjikan. Fakta atau bukan? Benar atau tidak?”, lanjut saya. Nah, perdebatan mulai terjadi antar mahasiswa sendiri, pendapat mulai bercabang. Namun yang membuat saya tercengang adalah bahwa cara pandang seperti premis mayor di atas masih dirasakan benar oleh para mahasiswa yang sudah berbeda generasi dengan orang tua Danita. Saya pikir cara pandang tersebut hanya terjadi di kalangan orang tua-orang tua kita saja, yah, mereka-mereka yang lahir sekitar 1-2 dekade  setelah kemerdekaan. Ternyata?  Berikut pandangan-pandangan mahasiswa yang muncul pada sesi perdebatan tersebut:

1. Lulusan luar negeri memang memiliki masa depan yang lebih menjanjikan dari pada kita-kita yang cuma kuliah di Indonesia. Kayaknya kalau lulusan luar negeri tuh lebih mentereng aja gitu disini. Jadi sepertinya tidak ada yang salah pada premis mayor di atas.

2. Kalau saya memposisikan diri sebagai ayahnya Danita, di mana putri saya sendiri merupakan lulusan luar negeri, saya tidak akan  mudah merelakan kalau calon suami putri saya cuma lulusan dalam negeri. Jadi tidak ada yang salah pada premis mayor di atas.

3. Kalau saya memposisikan diri sebagai Ajie, saya akan mengerti atas kekhawatiran orang tua Danita. Wajar orang tuanya khawatir, jadi saya tentunya harus benar-benar membuktikan  bahwa lulusan dalam negeri juga bisa memiliki masa depan yang menjanjikan, Intinya, tidak ada kesalahan mendasar pada premis mayor di atas, adalah wajar jika orang tua berpandangan demikian.

4. (Pandangan ini cukup melegakan bagi saya), menurut saya terdapat kesalahan pada premis mayor di atas, karena masa depan kan tidak hanya ditentukan dari pendidikan saja, tapi juga akhlak kita, attitude, ada juga kan anak-anak muda yang menang sekolah luar negeri doang padahal di sana dia kebanyakan main aja, sekolah di luar negeri pun lebih karena orang tuanya mampu bayar, bukan karena pinter. Ada kan? Jadi ketika lulus dari mana dijadikan patokan akan sukses atau tidaknya seseorang, rasanya  terlalu sempit. Dengan demikian,  saya melihat ada yang salah pada premis mayor di atas.

Saya jujur senang sekali ada bunyi-bunyi pendapat seperti pada poin 4 di atas. Pendapat itu membuat arah pendapat bercabang, sehingga terjadi perdebatan yang sehat dan aktif.  Mungkin juga saya senang  karena  ada yang sependapat dengan saya. Paling tidak, pendapat mahasiswa tersebut tidak membuat saya merasa aneh sendiri haha. Akhirnya saya mengakhiri sesi kelas hari itu dengan meminta izin kepada mahasiswa untuk menyampaikan pendapat pribadi saya, sambil menekankan, bahwa pendapat ini adalah pendapat, soal kalian memandangnya sebagai pendapat yang benar atau tidak (khususnya pada mahasiswa yang berpendapat seperti pada poin 1 -3), silakan dicerna dan direnungkan sendiri.

Adapun  hari itu pada intinya saya menyatakan pendapat bahwa Ayah Danita adalah orang-orang yang logis (tidak ada yang salah pada proses penalarannya), tapi memiliki cara pandang yang salah, seperti yang terlihat pada premis mayornya  yang menunjukkan kepercayaan bahwa lulusan perguruan tinggi luar negeri sepertinya akan selalu memiliki masa depan yang cerah. Jadi, kesalahan tidak terjadi pada proses penarikan kesimpulan (silogisme), tapi pada premisnya itu sendiri, atau dengan kata lain, kesalahan tidak terjadi pada cara berpikir tapi pada cara pandang. Saya lalu menyampaikan kesedihan pribadi saya atas cara pandang tersebut, terlebih setelah mengetahui bahwa cara pandang tersebut telah diteruskan ke generasi muda, seperti yang terkuak pada sesi kelas hari itu. Saya sedih karena ternyata bukan hanya bangsa asing yang memandang rendah diri kita, tapi juga diri kita sendiri. Bangsa kita, agaknya masih memiliki tantangan mental yang besar, karena kita sendiri memiliki mentalitas “tidak bisa menghargai diri sendiri”. Kita tidak bisa naif, kelengkapan dan kualitas fasilitas  pendidikan memang jauh lebih baik di luar negeri (baca: negara-negara maju), namun bukan berarti tidak ada tempat belajar yang baik di negeri kita; bukan berarti  semua lembaga pendidikan di luar negeri adalah baik; dan bukan berarti pula fasilitas tersebut merupakan faktor kunci yang menentukan kualitas seseorang. Tetap, it depends on how eager we are to learn . Selain itu, tingkah laku atau akhlak atau attitude telah terbukti sebagai faktor penentu kesuksesan di dunia kerja maupun usaha maupun kehidupan secara umum. Mengapa lantas faktor ini menjadi seakan-akan kalah penting dibandingkan status lulusan seseorang?

Yang paling buruk adalah ketika orang tua sama sekali tidak mau repot menggali perilaku atau akhlak calon menantunya manakala Ia bukan berasal dari keluarga ternama atau bukan lulusan luar negeri. Status sosial seakan jauh lebih penting daripada akhlak seseorang. Status sosial seakan merupakan resep jitu yang menjanjikan kebahagiaan. Nah, jika ada orang tua yang masih berpandangan seperti itu, saya yakin orang tua-orang tua tersebut bukan hanya mengalami kesalahan cara pandang, tapi juga cara berpikir.

Lantas kalau kita jadi anak-anak dari orang tua seperti itu, apa yang harus kita lakukan? Hmm, kalau saya sih berontak hahaha. Tapi tetap, akan terjadi perbedaan antara proses berontak dengan  cinta  dengan  berontak dengan benci atau dendam. Remember, we just want to make them understand and accept our decision, we don’t want to harm our parents, don’t we? 

Advertisements
Categories: Dari Ruang Kelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: