Harapan atas kebahagiaan di era Internet: mengenal dan mengenang Aaron Swartz

"Information is power. But like all powers, there are those who want to keep it for themselves" - Aaron Swartz
“Information is power. But like all powers, there are those who want to keep it for themselves” – Aaron Swartz

Saya  lupa kapan tepatnya, mungkin 2-3 hari lalu, seperti biasa saya senang melihat-lihat timeline halaman facebook, jika ada link yang menarik yang ditempatkan pada status teman-teman, saya buka. Nah, hari itu saya membuka link tentang Aaron Swartz, aktivis muda yang giat memperjuangkan hak masyarakat atas informasi, khususnya informasi-informasi yang proses pengumpulan dan pelaporannya dibiayai oleh dana publik yaitu dana pajak. Saya tertarik untuk membuka link itu karena hak atas informasi belum disadari banyak orang, apalagi untuk konteks Indonesia di mana masyarakat hanya diam  dan nyaris tidak menuntut apa-apa terkait sulitnya mendapatkan informasi, baik dari informasi tentang proses membuat SIM, mengurus paspor, mengurus perizinan usaha, membuat badan hukum, mengurus sertifikasi halal, sampai informasi atas nomor-nomor telepon aparat atau satuan kerja yang diperlukan masyarakat dalam mengurus segala bentuk keperluan. Semua informasi tersebut tidak hanya sulit diakses, terkadang bahkan, tidak ada. Sehingga luas memang ruang gerak bagi calo atau oknum untuk mengambil keuntungan dari ketiadaan informasi tersebut. Beda orang beda prosedur, beda orang beda harga untuk setiap urusan. Sayangnya, itulah Indonesia. Saya sendiri terbilang cukup rajin menyuarakan hak atas informasi publik tersebut manakala punya kesempatan untuk berdialog dengan kalangan pemerintahan. Pendek kata, akhirnya saya berkunjung ke link tersebut, dan untuk pertama kali saya jadi mengenal seorang sosok yang bernama Aaron Swartz.

Ia berusia 26 tahun, cukup tampan, dan digelari orang computer prodigy karena kegeniusannya di bidang teknologi informasi. Ia merupakan salah satu pembangun system RSS (yang logonya sering kita lihat di berbagai liputan di internet) ketika umurnya 14 tahun! Ia hanya kuliah 1 tahun di Stanford University sebelum resmi drop-out (mungkin karena ia menyadari semua yang diajarkan di kampus dapat ia pelajari sendiri?), namun eksistensinya di dunia internet membuatnya menjadi peneliti pada suatu pusat studi Korupsi, yaitu di Harvard Ethics Center Lab on Institutional Corruption. Adapun dari banyaknya hal yang mungkin Ia pertanyakan, Aaron percaya bahwa informasi, khususnya yang dibiayai oleh dana publik dan terkait dengan ilmu pengetahuan, harusnya dapat diakses oleh masyarakat (publik) secara gratis. Hal ini yang membuatnya mengakses dokumen-dokumen rekaman sidang Amerika Serikat – yang dikenai biaya jika masyarakat hendak mengaksesnya – lalu menyediakannya kembali ke dunia internet secara gratis. Hal ini dilakukannya pada 2008, berhasil dihentikan oleh pemerintah AS, namun Aaron waktu itu tidak dikenai hukuman apapun.

Serupa tapi tak sama, pada 2011 Aaron memanfaatkan akses yang dia miliki terhadap sistem komputer di MIT (Massachusetts Institute of Technology) untuk mengunduh sekitar 4.8 juta dokumen laporan penelitian atau artikel akademik berbasis anggota (subscription based) dari database JSTOR (sebuah penerbit jurnal akademik ternama dunia). Dokumen-dokumen tersebut kemudian Ia publikasikan kembali secara gratis di internet. Aksi tersebut di satu sisi membuatnya dipandang sebagai pahlawan bahkan legenda di kalangan aktivis internet, namun di sisi lain (pihak JSTOR) merasa dirugikan dan menuntutnya secara hukum, yang menyebabkan Aaron terancam hukuman penjara sampai dengan 35 tahun dan denda sebesar 1 juta dolar atau sekitar 9 milyar rupiah. Hal ini konon membuatnya merasa depresi dan kehilangan harapan, yang membuatnya harus mengakhiri hidupnya sendiri dengan gantung diri, dan ditemukan tewas oleh kekasihnya sendiri pada Jumat, 11 Januari 2013. Tragis. “Lagi-lagi, mengapa yang menyuarakan keadilan yang harus menjadi korban? God, we’re twisted, we’re screwed”, gumam saya dalam hati.

Berdasarkan teori umum yang berlaku, aksi bunuh diri umumnya dilatarbelakangi oleh suatu bentuk penyakit mental atau depresi. Dari blog pribadinya, pada 27 November 2007 Aaron sempat menulis tentang kondisi sakitnya, di mana saat itu ia menulis sedang dihinggapi oleh 4 jenis penyakit: flu, migraine, sakit perut, dan depresi (depressed mood) yang digambarkan sebagai suatu kondisi emosional di mana segala sesuatu yang ada dipikiran hanyalah hal-hal yang suram. Disitu ia juga mengutip seorang ekonom bernama Richard Layard yang giat mengadvokasi bahwa tujuan akhir dari suatu kebijakan publik seharusnya untuk mengoptimalkan tingkat kebahagiaan masyarakat. Salah satu kesimpulan turunan dari premis tersebut adalah bahwa pemerintah perlu memberi perhatian lebih dalam menangani masalah depresi masyarakat, karena depresi dikabarkan sebagai penyebab utama ketidakbahagiaan, di atas kemiskinan; selain itu depresi terjadi pada 1 dari 6 orang di Amerika Serikat; lebih tinggi dari pada tingkat kejadian kanker payudara atau AIDS, yaitu 1 dari 8 dan 1 dari 150. Sadly, depression (like other mental illnesses, especially addiction) is not seen as “real” enough to deserve the investment and awareness of conditions like breast cancer (1 in 8) or AIDS (1 in 150). And there is, of course, the shame” , keluh Aaron dalam tulisannya.

Ya, mungkin memang benar, bahwa dunia kita menjadi dunia yang seperti sekarang, dunia yang timpang, dunia yang masih diwarnai dengan peperangan dan disemarakkan oleh ketidakadilan, bukan karena sumber daya yang Tuhan berikan tidak cukup, tapi lebih karena kecerobohan kita sendiri dalam mengalokasikan sumber daya tersebut. Amerika Serikat mengalokasikan sekitar 58% anggarannya untuk urusan militer dan hanya 4% untuk pendidikan, sementara Indonesia, mengalokasikan sekitar Rp 124 trilyun untuk subsidi BBM dan  sekitar Rp 99 trilyun untuk penanggulangan kemiskinan. Alokasi, alokasi, alokasi. Itu masalah kita. Tapi untuk menyuarakan itu, dibutuhkan keberanian, seperti keberanian Aaron. Namun lagi-lagi, kisah tragis para pejuang seperti Munir di Indonesia atau Aaron di Amerika Serikat, membuat para orang tua takut dan menasihati anak-anak mereka agar pilih jalan yang “aman”. “Biarkan sajalah nak, yang penting kita bisa hidup tenang dan senang, kami khawatir kamu kenapa-kenapa nanti”, adalah bunyi-bunyi nasihat orang tua yang cukup umum. Atau seperti ini, “untuk apa kamu sibuk mikirin orang lain, kaya orang mikirin kamu aja! Udah, cari kerja yang bener, nabung yang cukup, ngapain kerja-kerja ga jelas yang ga ada duitnya”. Tampaknya hal ini hal kecil, tapi ternyata tidak, karena faktor pengalinya sangat besar, nasihat orang tua tersebut menjadi semacam nilai umum masyarakat, yang berdampak akhir pada cara pandang bahwa fokus pada diri sendiri adalah hal yang benar, sementara peduli dengan kesejahteraan orang lain atau kalangan sekitar adalah bentuk hal yang membuang waktu alias tidak benar alias tidak logis. Lalu masih saja kita mengeluhkan mengapa orang-orang dewasa ini begitu egois? Dan masih saja kita bingung mengapa dunia kita begitu meresahkan? Memangnya kita sudah mengalokasikan cukup waktu atau tenaga kita untuk memikirkan perasaan atau kondisi orang selain diri kita sendiri?

Anyway, tulisan ini sudah cukup panjang. Harus segera saya akhiri. Berhubung Aaron adalah seorang aktivis internet, saya  jadi teringat suatu iklan yang menampilkan jumlah temuan hasil pencarian atas kata-kata tertentu di google. Jadi saya ingin menutup tulisan ini dengan menampilkan pencarian saya atas beberapa pasangan kata di google pada hari ini. Tidak ada yang istimewa dari temuan itu, tak banyak yang dapat disimpulkan pula, karena angka jumlah temuan (results found) hanya menunjukkan jumlah posting yang berkaitan dengan kata-kata yang saya masukkan. Tapi paling tidak kita jadi tahu, ternyata banyak juga ya jumlah posting tentang perang, jumlahnya 11.61 milyar posting! Mudah-mudahan kebanyakan tentang strategi perang atau sejarah yang bersifat wawasan ya, jadi belum tentu semuanya itu tentang berita-berita atas suatu peristiwa perang yang menyeramkan dan menyedihkan :’/ tapi entah kenapa, mengetahui lebih banyak posting tentang happiness daripada sadness, juga lebih banyak cerita tentang laughter daripada sorrow, membuat saya cukup senang.

Perlu digarisbawahi memang, bahwa semua pasangan kata tersebut dapat diinterpretasikan dua arah.  Hasil temuan dari kata war – yang lebih erat dengan konotasi negatif – bisa jadi dipenuhi oleh posting atau cerita tentang sejarah atau analisis strategi yang digunakan sehingga dapat bermanfaat dalam menambah wawasan pembaca, yang berarti postingnya itu sendiri dapat membawa dampak positif bagi masyarakat. Atau seperti pada kata injustice, ternyata website yang muncul teratas adalah http://www.injustice.com yang rupanya merupakan situs untuk pemasaran produk game aja, kok (yang kalau boleh saya kategorikan sebagai bentuk informasi yang androgyny, somewhere in between positive or negative, or even neither of both of them).  Sebaliknya, hasil temuan dari kata peace – yang lebih erat dengan konotasi positif –  bisa jadi mengandung posting atau cerita tentang betapa suramnya masa depan dunia ketika sebuah perjanjian perdamaian dilecehkan atau dilanggar, atau tentang bagaimana konsep perdamaian dunia adalah suatu konsep yang tidak mungkin dicapai karena hal-hal mengerikan yang telah dilakukan oleh manusia;  pendeknya, posting itu dapat saja mengandung suatu cerita yang membuat pembaca malah merasa takut, khawatir, pesimis, bahkan tenggelam dalam keputusasaan. Intinya, it can go both ways. Tapi saya merasa optimis bahwa di era internet ini masih besar harapan maupun ruang untuk mengoptimalkan tingkat kebahagiaan masyarakat, seperti yang diidam-idamkan oleh ekonom Richard Layard yang dikutip oleh Aaron. Mengapa? Karena dengan internet kita dapat dengan lebih mudah berbagi informasi. Kita dapat memenuhi dunia internet dengan berita atau cerita atau fakta yang mungkin tidak mengenakkan tapi membangkitkan semangat kita untuk melakukan yang lebih baik, sehingga  wawasan dan kemampuan kita untuk mengangkat kesejahteraan dan  kebahagiaan masyarakat pun dapat berkembang pula; dan kita tidak perlu memenuhi internet dengan bukan dengan berita, cerita,  fakta, atau bentuk informasi lainnya yang hanya menyebarkan rasa takut berlebihan dan menimbulkan keresahan yang sesungguhnya tidak perlu.

Ya, saya optimis bahwa harapan atas kebahagian di era internet ini tentu masih ada. Aaron di tengah tekanan besar yang dihadapinya, telah merasa patah arang, kehilangan harapan, dan mungkin merasa tak ada lagi ruang baginya untuk berjuang menegakkan keadilan di dunia informasi. Tapi dear Aaron, izinkan kami mengenangmu sebagai pejuang yang kisah sedihnya justru menjadi bahan bakar bagi mereka-mereka yang ditinggalkan, ya, bahan bakar untuk terus berjalan melanjutkan perjuanganmu. Rest in peace Aaron, senang dapat mengenalmu sebagai seorang pejuang keadilan, senang dapat mengenangmu sebagai seorang legenda. (DM)

PS:

Semoga peran internet sebagai alat penyaluran informasi yang bermanfaat bagi kebahagiaan masyarakat luas juga akan semakin besar. Setidaknya salamduajari hadir di dunia internet untuk itu 🙂

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements
Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: