Monthly Archives: January 2013

Kreatifitas Rakyat Endonesa!

Sebelumnya salamduajari pernah menulis tentang peribahasa, namun pada tulisan tersebut yang dibagi adalah beberapa peribahasa dari Jerman, Italia, dan Jawa. Nah, bagaimana dengan peribahasa Indonesia? Beberapa yang umum kita dengarkan adalah “tiada rotan, akar pun jadi”; atau kalau yang serupa tapi tak sama, ada pepatah melayu yang berbunyi “Apa yang kurang pada belida, sisik ada tulang pun ada”. Konon bagaimana bunyi peribahasa dapat menggambarkan karakteristik masyarakatnya. Berhubung kedua pepatah tersebut berasal dari Indonesia, maka  melalui bunyi-bunyi peribahasanya, mungkin orang Indonesia adalah orang-orang yang secara umum mudah bersyukur, atau bukan orang yang sulit untuk dibuat merasa cukup, atau cukup kreatif dalam memanfaatkan apa yang ada seoptimal mungkin? Well, kadang kayanya dicukup-cukupin, juga sih. Eh, apa itu  perasaan gw aja, ya? Jangan-jangan mereka memang benar-benar merasa cukup, karena memang menganut kata pepatah itu, “tiada rotan, akar pun jadi”. Ya, jangan-jangan mereka memang merasa cukup, walau pun harus melakukan ini:

IMG-20130115-potret rakyat

potret kreatifitas orang Endonesa! 🙂

Jujur, saya jadi bingung mesti seneng apa sedih ngeliat gambar ini.. anyway.. semoga mereka bahagia, dan semoga kamu-kamu juga. HAVE A NICE WEEKEND! (DM)

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

Mengapa Manusia Menikah?

Melihat dan mendengar seringnya pemberitaan mengenai perceraian, tanpa terasa mungkin sebagian dari kita mendapatkan kesan bahwa dewasa ini semakin banyak orang yang bercerai. Selebriti A bercerai, tokoh B bercerai, bahkan terkadang kita juga mendengar berita bahwa artis A kembali bercerai dari pasangan kedua atau ketiganya. Seringnya pemberitaan memberikan kesan kepada kita seolah-olah kasus perceraian terjadi cukup sering, sehingga membuat sebagian dari kita mungkin menjadi takut untuk menikah.  Di Indonesia sendiri dilaporkan bahwa kasus perceraian mengalami peningkatan. Pada 2010 dilaporkan sekitar 285,184 perceraian di seluruh Indonesia, meningkat dari angka 216,286 pada 2009. Memang secara kasus meningkat, tapi jangan-jangan kasus cerai meningkat karena jumlah pernikahannya juga meningkat?

Hal tersebut  logis untuk dipertanyakan karena setiap tahun jumlah penduduk Indonesia tumbuh sekitar 1.49% per tahun atau sekitar 3.5 juta jiwa per tahun. Jadi wajar jika kita curiga bahwa setiap tahun mungkin jumlah pernikahan juga meningkat. Sayangnya hasil pencarian saya tidak menemukan angka jumlah perkawinan per tahun, hanya menemukan angka untuk tahun 2010 yaitu sekitar 2 juta orang menikah, dengan interpretasi yang mungkin sotoy, berarti sama saja dengan 1 juta pernikahan.  Dengan demikian, rasio perceraian:pernikahan di Indonesia pada 2010 sekitar 28.5%. Tinggi ya? Kalau dibandingkan dengan rasio perceraian:pernikahan Amerika Serikat yang sekitar 53%, ya masih tergolong rendah; tapi kalau dibandingkan dengan Brazil yang sekitar 21%, agaknya cukup tinggi yah.  Tapi ada fakta menarik dari Inggris dan Amerika Serikat lho, yaitu tren tingkat perceraian di kedua negara tersebut mengalami penurunan pada 2000-2011.

Sekilas dari gambaran di atas, di mana di Indonesia rasio peristiwa cerai versus pernikahan sekitar 1:3, sementara di Amerika Serikat sekitar 1:2, memang rasanya cukup wajar lah ya kalau masyarakat mulai merasa lebih khawatir atau takut untuk menikah. Pertanyaan mendasar pun lantas muncul ke permukaan. Kalau pada akhirnya akan cerai juga, ngapain nikah  ?

Orang bijak pernah berkata, kalau ingin merubuhkan pagar, sebaiknya kita mempelajari terlebih dulu soal mengapa pagar tersebut didirikan. Hal ini kemudian membuat saya kembali kepada nilai-nilai kebijaksanaan lokal yang kita miliki. Satu hal yang menarik bagi saya pribadi adalah tradisi suap-suapan (atau saling menyuapi) yang umum dilakukan oleh setiap pasangan yang baru menikah. Kasarnya, peristiwa saling menyuapi itu merupakan pose  atau adegan wajib yang harus dilakukan dan diabadikan (difoto) bagi setiap pasangan yang baru resmi menikah. Suatu hari saya bertanya dengan seorang kolega senior, mengapa sih pasangan pengantin baru tuh harus difoto pada saat saling menyuapi? Berikut jawaban yang saya dapat (ditulis berdasarkan ingatan):

“Inilah lo lo ini anak-anak muda udah ga kenal lagi dengan nilai-nilai budaya leluhur. Tapi baguslah lo nanya. Jadi gini, tradisi suap-suapan tu merupakan simbol bahwa sebagai sepasang suami istri, dua insan tu berjanji sehidup semati, saling menemani dalam kondisi susah senang. Nanti akan ada masanya sang istri ga berdaya, bahkan sampai ga berdaya untuk makan sendiri sehingga harus disuapin, Begitu pula sebaliknya, mungkin suami yang akan sebegitu tidak berdayanya sampai ga bisa makan sendiri jadi harus disuapin sama sang istri. Pada saat suap-suapan itu, kedua mempelai mestinya saling memaknai bahwa kalau orang ini ga berdaya, gw yang akan nemenin dan ngerawat dia; harus dua-duanya memaknai itu, karena kalo cuma salah satu aja, pasti akan ada yang tersakiti. Jadi pada saat lo mutusin mau nikah, jangan mikir seneng-senengnya aja. Bayangkan masa-masa susahnya, ketika pasangan lo ga berdaya. Siap ga lo ngerawat dia? Kalau siap, ya menikahlah.”


Continue reading

Categories: Kearifan Lokal | 3 Comments

Cara berpikir atau cara pandangnya yang salah?

oh, really?

oh, really?

Dalam suatu mata kuliah pembangunan karakter terdapat beberapa  sesi yang  membahas tentang silogisme , yaitu metode penalaran deduktif yang menurunkan suatu kesimpulan khusus dari dua premis atau proposisi yang bersifat lebih umum. Saya ingin bercerita tentang salah satu sesi tentang silogisme tersebut. Saya lupa tepatnya kapan sesi itu terjadi (yang pasti pada semester ke-2 tahun 2012), yang pasti sebelumnya  mahasiswa telah diminta menonton sebuah film  dan menemukan kesalahan penalaran pada beberapa tokoh yang ada pada film tersebut. Dalam kelompok  mereka berdiskusi dan kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Sejujurnya saya sudah agak lupa dengan silogisme-silogisme yang kami bahas hari itu,  saya bahkan lupa film-nya apa, tapi ada 1 yang masih melekat karena membuat saya ingin menulis artikel ini, yaitu  yang berkaitan dengan silogisme  si Ayah yang mengkhawatirkan masa depan anak putrinya (let say namanya Danita)  jika menikah dengan pria yang hanya merupakan lulusan perguruan tinggi di dalam negeri. Adapun putrinya sendiri baru saja pulang dari luar negeri. Sekali lagi mohon tempatkan fokus Anda pada pesan yang tersirat dari tulisan ini, karena saya sudah lupa dengan persis ceritanya, jadi mungkin tulisan ini berkategori inspired by true story, bukan based on true story. Anyway, kira-kira  salah satu silogisme  yang dipresentasikan oleh beberapa kelompok hari itu adalah seperti ini:

Premis mayor: Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang  menjanjikan

Premis minor: Ajie (tokoh utama pria, nama buatan karena lupa nama aslinya siapa) bukan lulusan luar negeri

Kesimpulan: Aji memiliki masa depan yang tidak menjanjikan.

Intinya adalah, mahasiswa menilai ada yang salah pada cara berpikir atau proses penalaran pada Ayah Danita. Lalu saya bertanya lagi kepada mahasiswa untuk menanggapi silogisme orang tua Danita yang telah dipaparkan.  Jika memang premis mayor dan minornya seperti di atas, di mana letak tidak logisnya orang tua Danita? Karena bagi saya, kesimpulan yang diturunkan sudah konsisten dan sejalan dengan induknya (premis-premisnya). Saya lalu beri contoh silogisme yang kurang tepat atau mengandung sesat pikir:

Premis mayor: Anak muda lulusan luar negeri memiliki masa depan yang  menjanjikan

Premis minor: Ajie bukan lulusan luar negeri

Kesimpulan:  Ajie tidak becus —> disini terdapat lompatan pemikiran disini, sehingga tidak ada kaitan langsung antara kesimpulan induk (premis) dan kesimpulan turunannya.

Continue reading

Categories: Dari Ruang Kelas | Leave a comment

Harapan atas kebahagiaan di era Internet: mengenal dan mengenang Aaron Swartz

"Information is power. But like all powers, there are those who want to keep it for themselves" - Aaron Swartz
“Information is power. But like all powers, there are those who want to keep it for themselves” – Aaron Swartz

Saya  lupa kapan tepatnya, mungkin 2-3 hari lalu, seperti biasa saya senang melihat-lihat timeline halaman facebook, jika ada link yang menarik yang ditempatkan pada status teman-teman, saya buka. Nah, hari itu saya membuka link tentang Aaron Swartz, aktivis muda yang giat memperjuangkan hak masyarakat atas informasi, khususnya informasi-informasi yang proses pengumpulan dan pelaporannya dibiayai oleh dana publik yaitu dana pajak. Saya tertarik untuk membuka link itu karena hak atas informasi belum disadari banyak orang, apalagi untuk konteks Indonesia di mana masyarakat hanya diam  dan nyaris tidak menuntut apa-apa terkait sulitnya mendapatkan informasi, baik dari informasi tentang proses membuat SIM, mengurus paspor, mengurus perizinan usaha, membuat badan hukum, mengurus sertifikasi halal, sampai informasi atas nomor-nomor telepon aparat atau satuan kerja yang diperlukan masyarakat dalam mengurus segala bentuk keperluan. Semua informasi tersebut tidak hanya sulit diakses, terkadang bahkan, tidak ada. Sehingga luas memang ruang gerak bagi calo atau oknum untuk mengambil keuntungan dari ketiadaan informasi tersebut. Beda orang beda prosedur, beda orang beda harga untuk setiap urusan. Sayangnya, itulah Indonesia. Saya sendiri terbilang cukup rajin menyuarakan hak atas informasi publik tersebut manakala punya kesempatan untuk berdialog dengan kalangan pemerintahan. Pendek kata, akhirnya saya berkunjung ke link tersebut, dan untuk pertama kali saya jadi mengenal seorang sosok yang bernama Aaron Swartz.

Ia berusia 26 tahun, cukup tampan, dan digelari orang computer prodigy karena kegeniusannya di bidang teknologi informasi. Ia merupakan salah satu pembangun system RSS (yang logonya sering kita lihat di berbagai liputan di internet) ketika umurnya 14 tahun! Ia hanya kuliah 1 tahun di Stanford University sebelum resmi drop-out (mungkin karena ia menyadari semua yang diajarkan di kampus dapat ia pelajari sendiri?), namun eksistensinya di dunia internet membuatnya menjadi peneliti pada suatu pusat studi Korupsi, yaitu di Harvard Ethics Center Lab on Institutional Corruption. Adapun dari banyaknya hal yang mungkin Ia pertanyakan, Aaron percaya bahwa informasi, khususnya yang dibiayai oleh dana publik dan terkait dengan ilmu pengetahuan, harusnya dapat diakses oleh masyarakat (publik) secara gratis. Hal ini yang membuatnya mengakses dokumen-dokumen rekaman sidang Amerika Serikat – yang dikenai biaya jika masyarakat hendak mengaksesnya – lalu menyediakannya kembali ke dunia internet secara gratis. Hal ini dilakukannya pada 2008, berhasil dihentikan oleh pemerintah AS, namun Aaron waktu itu tidak dikenai hukuman apapun.

Continue reading

Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Jakarta’s True Colors: My City, My Agony

Ini adalah sebuah tulisan lama yang drafting-nya sudah dimulai sejak Agustus 2008. Saya ga ngerti mengapa tulisan ini ga selesai-selesai. Ini awal tahun yang baru, mungkin ada baiknya memulai dengan menyelesaikan hal-hal yang belum terselesaikan. So, this is it.. the finally finished unfinished piece.

This slideshow requires JavaScript.

“Indonesia’s sprawling capital Jakarta is an urban planner’s nightmare. In just three generations its population has exploded from two to thirteen million people. At first glance, Jakarta’s wide boulevards, slick malls, and glass-sheated skyscrapers suggest order and prosperity. A few hours spent exploring the city, however, quickly undermines this impression. Traffic crawls. Exhaust fumes cover buildings with a layer of grime. The city’s sanitation system are inadequate. Its waterways are clogged with garbage and sewage.

There is no single, prominent slum area in Jakarta. Instead, the urban poor are scattered, living in hundreds of pockets of poverty throughout the city. One-quarter of Jakarta’s population live in kampungs, poorer neighborhoods that are often remnants of villages absorbed by the swelling metropolis. Another 5 percent are the slum dwellers found in ubiquitous illegal settlements that have formed under highway overpasses, near railway tracks, and along the edges of riverbanks and drainage canals. The Indonesian language has no precise word for these communities, whose inhabitants scratch out raw dwellings in the cracks of Jakarta’s public spaces.

Aside from routine evictions, fires, and cramped living quarters, slum dwellers must also contend with the threat of severe flooding, as two-fifth of Jakarta sits below sea level. Many of the poorest neighborhoods are located near the city’s trash-filled storm drains, and have little protection from the annual monsoons that send torrents of water into the city from the surrounding deforested hills. Two weeks after my stay in early 2007, all but one of the five homes pictured in this chapter were destroyed in one of Jakarta’s worst ever floods, displacing all the families in them. The one remaining home was demolished during an eviction six month later.”

Having read that article, the beat of my excited heart suddenly stopped. I was very excited to have the opportunity to study in Norway. I was also very excited to have a free chance to visit the Nobel Peace Center in Oslo, such a cozy place to learn. It is such a comprehensive, interactive, and absolutely representative place to perpetuate the history of the Nobel Prize and the story of all its laureates.  There was also an awesome photography exhibition with an advanced multimedia installation, screening a slideshow of pictures and the audio testimony of the people portrayed. It was an intriguing exhibition that induced me to come over and have a look. Unfortunately, this cool exhibition turned out to be the reason that ended all my excitement.

The article was taken from “The Place We Live”, by Jonas Bendiksen, a photography exhibition capturing slum life in four big cities of the world. Together with Caracas (Venezuela), Mumbai (India), and Nairobi (Kenya), Jakarta’s slums were represented in his photographs. The lady in the Nobel Peace Center said that his mission was to give some kind of a wake-up call for people in the developed world that in the same planet we live, there are still some areas with conditions far, far worse than in their countries. I think he did a very good job. I believe many people were inspired or awaken by his exhibition but to me it was far more than a wake-up call. It was like a slap in the face, no, worse, it was like a spit on the face as it slammed my dignity, especially among other international students from about 43 countries.

There was a moment that I felt angry, “why should they expose this ugly side as if there is no beautiful side of Indonesia??”, “why should this be the first impression my potential new friends will have of my country?? “. But then I told myself that I shouldn’t feel angry because everything in the slideshow revealed the true colors of Jakarta. So yes, I shouldn’t have felt angry, I should have probably just felt… sad? I actually didn’t know how I felt, it was like a mixture of many feelings, but I know for sure that I should be more aware that there are many of our brothers and sisters who live in the hard-paper house under the highways; some of them live very close to the railway, and some others live by the dirty river and use its water to wash, shower, and cook. How contrasted it was with what I saw in Norway, where the water quality was so good that the same water used for cooking and drinking was used to shower, and wash as well. This Norwegian photographer, Bendiksen, lived in the slums for about two weeks in each country, not only to take the pictures of them, but also to live the inhabitant’s life, the life in the slums. Have any of us done remotely the same thing to at least grasp the concept of real empathy?

Maybe some of us had done something, but probably couldn’t do anything more other than helping them to at least have a good meal for one day. Maybe there were some of us who could do more, but it still would not have been enough to solve the root of this big problem since there are only few people who care that much. Or maybe, we have too many “mind your own business” kinds of people. Maybe?

We almost always have incidences where concerts of international artists are sold-out in spite of how expensive they are. Many Jakarta citizens spend the average monthly labor wage over the course of one night. Some of them even have more than 10 cars in their garage, or probably have a mobile phone which costs almost as much as a brand new middle-class family car. Do they ever at least think about the human beings that live under the highway? Maybe yes. But maybe they end up with conclusions like, “that’s the result of your own laziness,” and that’s why they don’t do anything. And unfortunately, maybe the middle class put the blame on the rich as they believe that the rich are the ones who are really obliged to help the poor. Thus, as the final result, nobody is actually doing a significant thing to help the poor in a holistic way; that is by empowering them and enabling them to help themselves. All of us, together, never do anything significant to solve the problem. Instead we all contribute to the sin of making Jakarta as part of the top 4 city with the ‘grandest’ slums in the world. We, Indonesians, especially Jakarta citizens: the government, businessman, academics, students, and all other members of society, are contributing in the destruction of Indonesia’s image. In a place where many countries have names of their people written on the Nobel Laureates wall, we on the other hand have the portrait of our poor brothers and sisters living in the slum quarters to show to the world.

Sad? Angry? Disappointed? Ashamed? I felt all of that. What are the many fancy malls and classy skyscrapers for if we still have to see a large lot of slums stretching behind them? What kind of city view do we, the people of Jakarta, actually want or would love to see? Mr Governor, I would love to see a view of Jakarta that shows the warm face of togetherness. Do you think it is attainable or quite simply too naive? Hhmm… probably too naive. Okay then, I will just try to get used to Jakarta’s current bitchy face of to-get-theirs-ness. If a wise man said, “where there is a will, there is a way”, in this case it is probably more accurate to say, if you can’t get a villa on a hill, you can always live under the highway. Doesn’t that sound more realistic, Mr Governor?

(DM)

Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Blog at WordPress.com.