Kereta Khusus Perempuan yang “Lebay”

Kereta-Khusus-Wanita-

Saya bukan pemakai rutin kereta commuter line, tapi termasuk yang cukup sering menggunakan moda transportasi tersebut, khususnya ketika jalur jalan raya Depok-Jakarta-Depok sedang dalam jam-jam macet. Walaupun ramai, kereta commuter tetap efektif dalam menghemat waktu perjalanan (namun tetap perlu digaris bawahi soal masalah ketidaktepatan jadual yang masih cukup sering terjadi sehingga waktu perjalanan memang lebih hemat, tapi waktu menunggu keretanya? Belum tentu lebih hemat).

Pada sabtu kemarin (15/12) saya memilih untuk menggunakan moda kereta commuter Tn. Abang, untuk menuju stasiun Karet (karena tujuan akhir saya adalah daerah Permata Hijau). Siang itu memang terjadi masalah, jadual sedang tidak dapat dideteksi. Jadi daripada tidak jelas saya menunggu sampai kapan, saya putuskan naik kereta apa saja yang penting menyelamatkan saya dari kemacetan di Lenteng Agung. Yang mengejutkan adalah, kereta Commuter yang akhirnya muncul adalah yang ke Kota dan merupakan Kereta Khusus Wanita. Saya baru tahu ternyata ada Kereta Khusus Wanita, jadi bukan hanya gerbong khusus saja, tapi seluruh keretanya khusus wanita!

Saya sendiri adalah seorang wanita tapi mengapa saya merasa terganggu dengan kebijakan penyediaan kereta khusus wanita tersebut. Mengapa?
1. Masyarakat menggunakan kereta dengan berbagai tujuan, ada yang memang ada keperluan pribadi sehingga berangkat solo seperti saya, ada juga yang bepergian untuk keperluan keluarga sehingga berangkat bersama-sama dengan suami, anak, atau anggota keluarga lainnya yang berjenis kelamin pria. Mengapa kalangan ini, yang mungkin tiba lebih dulu di stasiun kereta, jadi harus menunggu lebih lama dibanding kalangan yang mungkin baru datang tapi memang merupakan sekelompok wanita?

2. Pada hari itu jadual kereta sedang tidak jelas, jadi saya merasa ada ketidakadilan yang terjadi pada mereka-mereka yang menunggu bersama teman atau keluarga pria. Mereka harus menunggu kereta berikutnya yang tidak jelas kapan datangnya hanya karena mereka bersama laki-laki. Bukankah ini menjadi bentuk lain diskriminasi? Pada siang itu ada sepasang suami istri, dan 2 keluarga yang saya lihat sendiri dilarang masuk karena membawa anak laki-laki yang berusia lebih dari 5 tahun. “Tapi ini kan anak, mba”, rayu calon penumpang pada satpam wanita yang bertugas waktu itu. “Ga bisa bu, kecuali untuk anak-anak berusia 5 tahun ke bawah”. Walau setelah peristiwa itu saya dengar pengumuman di kereta bahwa yang diperbolehkan masuk adalah anak laki-laki berusia 3 tahun ke bawah. Entah yang mana yang benar.

3. Sebagai pendukung kampanye persamaan gender, saya merasa ada yang kebablasan dan salah arah disini. Yang diharapkan adalah persamaan hak atau ketersediaan akses bagi perempuan, bukan pengistimewaan bagi perempuan dengan pemberian hak atau akses berlebihan yang ujung-ujungnya melahirkan bentuk diskriminasi atau pembatasan hak bagi kaum laki-laki. Hal ini menjadi semacam usaha mewujudkan keadilan dengan menciptakan ketidakadilan baru. Hal inii kemudian juga berarti tujuan mewujudkan keadilan yang dicita-citakan menjadi tergagalkan dengan sendirinya. Saya sangat penasaran dengan latar belakang penerapan Kereta Khusus Wanita ini, karena berdasarkan logika sederhana, keputusan tersebut benar-benar tidak masuk akal.

Pendek kata, saya wanita, saya pendukung kampanye persamaan hak atau akses untuk wanita (gender equality), dan saya berpandangan bahwa penyediaan fasilitas Kereta Khusus Wanita tidak sejalan dengan visi persamaan gender tersebut, atau dengan bahasa kekinian adalah: “lebay”. Mengapa bukan gerbong khusus wanitanya saja yang ditambah? Dengan demikian, bukankah kalangan yang berangkat dengan kerabat atau keluarga tidak lagi harus menunggu lebih lama hanya karena mereka bersama laki-laki?

Ayolah, seorang wanita ga akan pernah bisa jadi seorang ibu tanpa laki-laki, dan laki-laki ga akan pernah bisa jadi bapak tanpa wanita. Wanita dan laki-laki adalah partner setara yang saling melengkapi. Jika perempuan harus terlalu diistimewakan dengan menghilangkan sebagian hak laki-laki, tentu ada yang salah sedang terjadi disini. (DM)

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: