It’s Time to Give Back

Jakarta, salamduajari.com—Gandhi pernah berkata, “Jika kita dapat mengubah diri sendiri, kecenderungan yang ada di dunia juga akan ikut berubah. Ketika seseorang mengubah sifatnya, begitu juga perilaku dunia terhadapnya akan berubah […] Kita tidak perlu menunggu untuk melihat apa yang dilakukan orang lain.” Kita semua memiliki kesempatan untuk merubah dunia tiap harinya dari saat membuka mata hingga saat menutupnya lagi di malam hari. Kenyataan yang indah, tapi disaat bersamaan juga pelik, adalah bahwa dunia kita ini hanyalah komunitas besar yang beranggotakan tiap individu yang pada akhirnya menentukan bagaimana dunia ini didefinisikan, dan begitu pula tiap individu didefinisikan oleh kondisi dunia. Jika kondisi sekarang tidak mengenakkan maka ubahlah. Atau dalam simplifikasi filsafat Gandhi yang sering salah kutip: Be the change you want to see in the world.

Jika seperti saya, anda termasuk bagian masyarakat yang merasa bahwa ada begitu banyak hal yang salah di dunia ini namun mengekspresikan sentimen ini dalam bentuk keluhan-keluhan yang tidak ingin didengar siapapun, dan sama juga seperti saya, anda sudah muak mendengar ocehan-ocehan tadi yang sebagiannya keluar dari mulut kita sendiri, mungkin kabar tentang syuting video pendek microfinance yang berlangsung di Cilincing, Jakarta Utara pada awal minggu ini akan anda sambut sebagai refreshing change of pace. Koperasi Kasih Indonesia, koperasi simpan pinjam yang memberikan pendanaan bagi penduduk miskin Cilincing yang menjadi anggota, telah merubah game-plannya dengan memulai proyek syuting 5 video pendek (satunya ±8 menit) untuk mengajarkan pada anggotanya melalui medium yang menarik akan hal-hal seperti pentingnya membedakan keinginan dan kebutuhan, perlunya menabung dan terutama, pentingya cita-cita.

Kami sampai di lokasi sekitar enam jam setelah syuting dimulai, dan menyangka akan disambut dengan wajah-wajah lelah yang ingin semuanya cepat selesai (setidaknya begitu prasangka saya pribadi). Alas, ekspektasi dan kenyataan seringkali adalah dua hal yang saling bertolak belakang karena ketika sampai di set ternyata segerombol warga telah mengerumuni kamera dan dengan begitu semangat menonton proses syuting. Para kru tengah merekam adegan tentang menabung, dengan kamera, props dan pemain yang telah siap ditempat, mereka masih berkerja dengan tingkat antusiasme dan kelincahan yang patut dikagumi, apalagi mengingat bahwa mereka sudah bergerak dari pagi. Pastinya mereka capek, baik secara fisik dan mental, tapi mereka melangsungkan syuting dengan kadar profesionalisme yang tidak kalah dengan tingkat idealisme yang mendorong mereka untuk bergabung dalam proyek ini.

Kemudian sutradara Petrus Sitepu berseru, “cut!” yang menandakan akhir dari adegan tersebut, dan semuanya masuk ke dalam rumah kecil kuning yang dijadikan backdrop adegan tadi. Selagi data kamera dipindahkan kedalam komputer, semuanya istirahat sebentar, dengan pengecualian bapak sutradara yang harus memastikan bahwa semuanya sudah oke. Disinilah kami berkesempatan untuk duduk bersama para kru dan melihat bagaimana dekat mereka dengan satu sama lain, serta betapa terlibat semuanya dalam proses syuting tersebut. Pengambilan pendekatan baru dalam mengajarkan penduduk miskin akan perilaku konsumsi serta pentingnya memanage keuangan rumah tangga melalui media yang menarik, kreatif dan tidak terasa menceramahi ini adalah proyek yang ambisius to say the least. Hal ini juga berarti sangat penting agar semuanya yang terlibat dalam proses untuk merasa terhubung dan tertarik dengan pesan yang ingin disampaikan, karena berhasil tidaknya proyek ini sangat bergantung pada komitmen dari kru dan pihak-pihak lain yang terlibat.

Komitmen sseringkali berhubungan erat dengan sampai manakah seseorang dapat berempati pada pesan tadi. Bagi Thilma Komaling, yang menjadi produser, menulis screenplay, dan juga memerankan lead, alasan dibalik ia bergabung dalam tim tersebut adalah keinginannya untuk “Giving back dengan apa yang kita tahu dan pernah lewati” terkait dengan hutang dan konsumerisme. Sebagai contoh, ia telah dicerahkan dengan model microfinance yang diterapkan di Bangladesh, dimana layanan institusi microfinance seharusnya tidak sebatas penyaluran dana namun juga meningkatkan kesadaran mengenai sustainable living; seperti penggunaan solar panel untuk membangkit listrik, serta pentingnya pendidikan dan sanitasi dalam suatu masyarakat. Maka dari itu, proyek ini adalah kesempatannya untuk mempraktekkan model dari Bangladeh tadi di Indonesia.

Serley Banowati yang memerankan opposite lead (Bawang Putih to Tilma’s Bawang Merah) merasa bahwa karakter yang dimainkannya, seorang ibu yang peduli menabung, sangat mirip dengan sifat aslinya. Dibesarkan dalam lingkungan yang dengan jelas memisahkan keinginan dengan kebutuhan, Serley yang prihatin akan masalah konsumerisme khususnya dikalangan anak-anak selalu berkata pada dirinya, “saya bisa beli tapi buat apa ya?” Sehingga ia berharap bahwa kesadaran yang sama dapat diturunkan kepada ibu-ibu rumah tangga lainnya. Alasan ia bergabung dalam tim ini adalah karena ingin berbagi dengan para ibu-ibu agar mereka mengerti apa bedanya butuh dan ingin. Hal lain yang meresahkan baginya adalah masih kurangnya pemikiran kedepan dikalangan masyarakat miskin, dimana tidak ada pola pikir yang begitu memprioritaskan kondisi di masa yang akan datang. Serley juga berharap karena proyek ini kemungkinan adalah yang pertama dari jenisnya di Indonesia, lebih banyak orang akan merasa tergerak untuk bergabung dalam tujuan mereka. Setelah gerakan tersebut menggandeng lebih banyak stakeholders, maka kita dapat mulai membicarakan prospek adanya kemajuan riil dan berkelanjutan yang kemudian akan meningkatkan pula kesadaran mengenai pendidikan, sanitasi dan masalah lingkungan.

Setelah data rekaman terkahir telah dipindahkan ke komputer, kedua aktris (yang mengaku ini adalah debut akting mereka) harus berganti kostum untuk adegan selanjutnya. Hujan gerimis mulai turun dan semuanya bergegas mencari semacam kain atau paying untuk melindungi peralatan film dari air. Karena khawatir keberadaan kami justru menghalangi kru film dalam melaksanakan tugas, kami pun pulang. Dalan perjalanan pulang itulah rasanya pelajaran hari itu muncul di langit: it’s time to give back and initiate change.

 

Cast

Thimla Komaling – Ibu Ani

Serley Banowati – Ibu Siti

Derry Himawan – Suami Ibu Ani

 

Production Team

Petrus Sitepu – Director

Chamelia – Director of Photography

Panekibo – Cameraman

Arif Haqiki – Soundman

 

Dengan demikian kami ingin berterima kasih kepada kru film atas dedikasi dan kerja keras mereka dan semoga proses post-filming berlangsung dengan lancer.

Kelima video pendek akan digunakan oleh KKI dalam briefing anggotanya mengenai tujuan jangka panjang dari model microfinance sendiri. Video-video ini juga pada akhirnya akan diupload di YouTube. Links will follow.

 

Advertisements
Categories: Berita Baik | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: