Monthly Archives: November 2012

Swedia Kekurangan Sampah

sweden-landfill-waste-to-energy-program-flickrSwedia yang haus akan sampah telah berpaling ke Norwegia untuk sampahnya . Swedia adalah teladan dalam mendaur ulang. Berkat sistem pengelolaan sampahnya yang sangat efisien, sebagian besar limbah domestik yang terhasilkan dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Hasilnya, Swedia telah kehabisan sampah dan tampaknya keberhasilan tersebut justru telah menjadi masalah sendiri. Karena tidak dapat menghasilkan burnable waste yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energinya, Swedia harus menghadapi pahitnya menjadi model of recycling. Secara rata-rata 38% dari seluruh limbah di Eropa berakhir menjadi landfill, sedangkan bagi Swedia hanya 1%.

Angka tersebut diperoleh dari Eurostat, dimana dinyatakan bahwa hanya 1% dari seluruh sampah domestik sampai pada TPA. Hal ini begitu bertolak belakang dengan negara-negara Eropa lainnya. Di Swedia sebagian dari limbah antara didaur ulang atau dijadikan kompos. Mereka harus mengimpor 800.000 ton sampah per tahun dari Eropa untuk pembangkit listirknya. Kebanyakan impor sampah ini datang dari Norwegia. Limbah ini digunakan untuk program Waste-to-Energy yang diimplementasikan Swedia dimana tujuan akhirnya adalah agar dapat merubah limbah menjadi tenaga panas dan listrik. Norwegia setuju untuk mengekspor sebagian dari limbahnya karena jauh lebih ekonomis dibanding ketika harus membakar limbah tersebut. Bagian dari persetujuan tersebut adalah untuk memberi kembali limbah beracun dalam bentuk abu yang tersisa dari proses pembakaran yang kaya akan dioksin kepada Norwegia. Continue reading

Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Generasi Hijau: Generasi yang mampu melihat insentif antar generasi

Categories: Generasi Hijau | Leave a comment

Mengintip Apresiasi HAM dan Kondisi Bangunan Penjara di Norwegia

Tahukah Anda bahwa ada orang yang memilih untuk hidup “miskin”? Saya beri tanda petik karena sudut pandang miskinnya adalah dari kacamata saya, kalangan manusia yang masih membutuhkan dan menginginkan makan enak, rumah layak dan bersih, juga pendidikan, dan kebutuhan pendukung lainnya. Awalnya saya jg berpikir bahwa semua orang pasti ingin hidup sejahtera, kalau mereka miskin, pasti bukan karena pilihan atau rencananya untuk hidup serba kekurangan. Tapi ternyata…

Perubahan cara pandang tersebut didapat waktu saya di Norwegia. Dulu saya berpikir, di negeri orang yang sangat kaya tentunya tidak ada fakir miskin atau peminta-minta. Apalagi seperti Norwegia – salah satu negara dengan tingkat pendapatan per orang tertinggi di dunia, kurang lebih 20x dari Indonesia – dimana pengangguran pun diberi santunan berupa pembinaan maupun uang tunai. Ternyata tidak juga, di kota Oslo, saya masih menjumpai pengemis. Tetapi tetap, ada yang berbeda.

Kalau di Indonesia karena mereka tidak diurus negara, sementara di Oslo, karena mereka tidak mau diurus, alias, mereka memilih untuk hidup demikian. Ya, karena menghargai Hak Asasi Manusia, pemerintah Norwegia tidak dapat memaksa untuk menertibkan dan membina mereka. Jika mereka menolak fasilitas pembinaan yang ditawarkan dan mengatakan lebih suka hidup di jalanan, maka pemerintah tidak boleh memaksa. Jadi, ya, ternyata setiap orang memang memiliki filosofi hidup masing-masing. Tidak semua menginginkan harta, sebagian ingin menghindari segala bentuk kepemilikan atau rasa memiliki terhadap materi-materi duniawi. Mereka hidup murni untuk hidup.

Itu hanya sedikit gambaran mengenai penghargaan Norwegia sebagai negara, terhadap Hak Asasi Manusia. Sebagai gambaran tambahan, orang-orang yang sudah terbukti melanggar hukum pun harus dihormati haknya, kalau di sana ya.. Mau bukti? Silakan lihat foto-foto kondisi penjara di Halden, Norwegia. Jangan iri yaaaa.. 🙂

This slideshow requires JavaScript.

Foto diatas berserta inskripsinya diambil pada tahun 2010 dari artikel TIME.

 

Categories: Dunia Kita | Leave a comment

Keniscayaan Kerja di Bank

Cerita dan gambar: AG

Categories: Komik: Gray Area | Leave a comment

It’s Time to Give Back

Jakarta, salamduajari.com—Gandhi pernah berkata, “Jika kita dapat mengubah diri sendiri, kecenderungan yang ada di dunia juga akan ikut berubah. Ketika seseorang mengubah sifatnya, begitu juga perilaku dunia terhadapnya akan berubah […] Kita tidak perlu menunggu untuk melihat apa yang dilakukan orang lain.” Kita semua memiliki kesempatan untuk merubah dunia tiap harinya dari saat membuka mata hingga saat menutupnya lagi di malam hari. Kenyataan yang indah, tapi disaat bersamaan juga pelik, adalah bahwa dunia kita ini hanyalah komunitas besar yang beranggotakan tiap individu yang pada akhirnya menentukan bagaimana dunia ini didefinisikan, dan begitu pula tiap individu didefinisikan oleh kondisi dunia. Jika kondisi sekarang tidak mengenakkan maka ubahlah. Atau dalam simplifikasi filsafat Gandhi yang sering salah kutip: Be the change you want to see in the world.

Jika seperti saya, anda termasuk bagian masyarakat yang merasa bahwa ada begitu banyak hal yang salah di dunia ini namun mengekspresikan sentimen ini dalam bentuk keluhan-keluhan yang tidak ingin didengar siapapun, dan sama juga seperti saya, anda sudah muak mendengar ocehan-ocehan tadi yang sebagiannya keluar dari mulut kita sendiri, mungkin kabar tentang syuting video pendek microfinance yang berlangsung di Cilincing, Jakarta Utara pada awal minggu ini akan anda sambut sebagai refreshing change of pace. Koperasi Kasih Indonesia, koperasi simpan pinjam yang memberikan pendanaan bagi penduduk miskin Cilincing yang menjadi anggota, telah merubah game-plannya dengan memulai proyek syuting 5 video pendek (satunya ±8 menit) untuk mengajarkan pada anggotanya melalui medium yang menarik akan hal-hal seperti pentingnya membedakan keinginan dan kebutuhan, perlunya menabung dan terutama, pentingya cita-cita.

Kami sampai di lokasi sekitar enam jam setelah syuting dimulai, Continue reading

Categories: Berita Baik | Leave a comment

Menyatukan Dunia Melalui Musik

Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and life to everything” -Plato

Lupakan bahasa Inggris, bahasa matematis atau gerakan tubuh, Playing For Change telah membuktikan bahwa sesungguhnya bahasa universal yang dapat dimengerti setiap jiwa di dunia ini adalah bahasa musik.

Playing For Change adalah gerakan yang bertujuan untuk menginspirasi dan menghubungkan orang-orang, serta menciptakan kedamaian di bumi melalui media musik. Gerakan ini dimulai ketika kru Playing For Change mendengar musisi jalanan (for lack of a better term for “street performers”) bernama Roger Ridley menyanyikan lagu Stand By Me di Santa Monica, Kalifornia pada tahun 2005 dan sejak itu mereka telah mengelilingi dunia untuk merekam ratusan musisi jalanan membawa berbagai macam lagu yang mempromosikan perdamaian, kasih sayang dan keterikatan antar manusia seperti One Love karya Bob Marley, A Change Is Gonna Come karya Sam Cooke, dan pastinya Imagine karya John Lennon. Bahkan telah merekam film dokumenter berjudul Playing For Change: Peace Through Music.

“Tidak satupun dari musisi ini pernah bertemu secara langsung, musiklah yang telah menyatukan mereka, serta keyakinan bahwa kita dapat berkontribusi lebih banyak kepada dunia jika melakukannya bersama-sama dibanding secara terpisah.” Kata Mark Johnson, pelopor gerakan tersebut.

Situs resminya dapat dilihat disini, sedangkan channel youtube disini.

Categories: Dibalik Karya Seni | Leave a comment

Pemberdayaan Ibu-Ibu Bantaran Kali Manggarai

 Sebagai lembaga yang aktif dalam proses pemberdayaan usaha kecil menengah dan mendorong kewirausahaan, UKMC UI selalu bersemangat untuk mendorong anak muda yang ingin beriwirausaha, khususnya jika bentuknya merupakan wujud kewirausahaan sosial, dimana bidang kegiatan yang diusahakan merupakan suatu masalah sosial. Dreamdelion – yang digagas oleh Alia Noor  Anoviar, mahasiswa FEUI angkatan 2009 – adalah sebuah badan usaha yang peduli dengan pendidikan karakter anak-anak dan membiayai aktifitasnya dengan memberdayakan para ibu-ibunya untuk terlibat dalam kegiatan kerajinan tangan yang produktif dan bernilai komersial. Pendek kata, Dreamdelion mendidik anak-anak, dan memberdayakan para ibu.

Dreamdelion merupakan suatu usaha baru, yang lebih sering daripada tidak bersifat ringkih manakala tidak disertai dengan pendampingan melekat karena umumnya belum memiliki sumber daya, konsep, dan rencana bisnis yang matang. Selain itu, pelaku usaha baru juga umumnya rentan dengan tantangan teknis dan operasional yang sering membuat mereka patah semangat dan tidak lagi meneruskan rencananya untuk berwirausaha. Sehingga tidak sedikit memang, usaha baru yang harus mengibarkan bendera putih, sebelum sempat menaikkan bendera perusahaannya sampai ke atas puncak tiang. Hal tersebut sebisa mungkin tidak boleh terjadi pada Dreamdelion, oleh karena itu UKMC UI mendampingi Dreamdelion melalui program Inkubasi Bisnis.   Continue reading

Categories: Berita Baik | 1 Comment

Selamat datang para panda!

Salamduajari menyambut baik lahirnya 7 bayi panda yang super manis iniiiiiiii… Kalian manis dan lucu sekaliiii.. Kelahiran kalian adalah berita baik untuk duniaaaa 🙂 mudah-mudah tidak ada manusia kurang ajar yang membuat kalian tidak bahagia yaaa…

Berikut berita singkatnya seperti yang dilansir dari english.cntv.cn.

Continue reading

Categories: Berita Baik | Leave a comment

Paradoks Kehidupan

Categories: Dari Mana Saja | Leave a comment

10 Questions for the Dalai Lama: Wawancara Majalah Time

Time Magazine interviewed His Holiness in New York City in May of 2010 for its “10 Questions to His Holiness the Dalai Lama”.

Question: Do you ever feel angry or outraged? —Kantesh Guttal, PUNE, INDIA

His Holiness: Oh, yes, of course. I’m a human being. Generally speaking, if a human being never shows anger, then I think something’s wrong. He’s not right in the brain. [Laughs.]

Question: How do you stay so optimistic and faithful when there is so much hate in the world? —Joana Cotar, FRANKFURT

His Holiness: I always look at any event from a wider angle. There’s always some problem, some killing, some murder or terrorist act or scandal everywhere, every day. But if you think the whole world is like that, you’re wrong. Out of 6 billion humans, the troublemakers are just a handful.

Question: How has the role set out for you changed since you first came to be the Dalai Lama? —Andy Thomas, CARMARTHEN, WALES

His Holiness: I became the Dalai Lama not on a volunteer basis. Whether I was willing or not, I [had to study] Buddhist philosophy like an ordinary monk student in these big monastic institutions. Eventually I realized I have a responsibility. Sometimes it is difficult, but where there is some challenge, that is also truly an opportunity to serve more.

Question: Do you see any possibility of reconciliation with the Chinese government in your lifetime? —Joseph K.H. Cheng, MELBOURNE

His Holiness: Yes, there is a possibility. But I think past experience shows it is not easy. Many of these hard-liners, their outlook is very narrow and shortsighted. They are not looking at it in a holistic way. However, within the People’s Republic of China, there is wider contact with the outside world. There are more and more voices of discontentment among the people, particularly among the intellectuals. Things will change — that’s bound to happen.

Question: How can we teach our children not to be angry? —Robyn Rice, GRAND JUNCTION, COLO.

His Holiness: Children always look to their parents. Parents should be more calm. You can teach children that you face a lot of problems but you must react to those problems with a calm mind and reason. I have always had this view about the modern education system: we pay attention to brain development, but the development of warmheartedness we take for granted.

Question: Have you ever thought about being a normal person instead of being the Dalai Lama? —Grego Franco, MANILA

His Holiness: Yes, at a young age. Sometimes I felt, “Oh, this is a burden. I wish I was an unknown Tibetan. Then I’d have more freedom.” But then later I realized that my position was something useful to others. Nowadays I feel happy that I’m Dalai Lama. At the same time, I never feel that I’m some special person. Same — we are all the same.

Question: Do you miss Tibet? —Pamela Delgado Córdoba, AGUASCALIENTES, MEXICO

His Holiness: Yes. Tibetan culture is not only ancient but relevant to today’s world. After seeing the problems of violence, we realize that Tibetan culture is one of compassion and nonviolence. There is also the climate. In India during monsoon season, it is too wet. Then, I very much miss [ Tibet].

Question: What do you say to people who use religion as a pretext to violence or killing? —Arnie Domingo,QUEZON CITY, PHILIPPINES

His Holiness: There are innocent, faithful people that are manipulated by some other people whose interest is different. Their interest is not religion but power or sometimes money. They manipulate religious faith. In such cases, we must make a distinction: these [bad things] are not caused by religion.

Question: Have you ever tried on a pair of trousers? —Ju Huang, STAMFORD, CONN.

His Holiness: When it’s very, very cold. And particularly in 1959, when I escaped, I wore trousers, like laypeople dressed. So I have experience.

Question: Do you believe your time here on earth has been a success? —Les Lucas, KELOWNA, B.C.

His Holiness: Hmmm. That’s relative. It’s so difficult to say. All human life is some part failure and some part achievement.

 

Sumber:

http://www.dalailama.com/messages/transcripts/10-questions-time-magazine

Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.