Bagaimana agar negara kaya membayar biaya perubahan iklim

Tidak dibahasnya masalah perubahan iklim dalam debat presidensial antara Barack Obama dan Mitt Romney adalah pertanda jatuhnya topik tersebut sebagai salah satu prioritas kebijakan AS sejak terjadinya krisis finansial. Ini merupakan celah menyedihkan yang harus diperhatikan oleh presiden AS selanjutnya.

Meskipun ternyata dari segi global masih ada harapan. Minggu lalu dewan Green Climate Fund, sebuah lembaga internasional penting namun tidak begitu tenar, telah menetapkan pendanaan di Korea Selatan. Ini adalah langkah yang baik berhubung Korea Selatan telah menjadi sosok pemimpin dalam mempromosikan gerakan “green growth”, yaitu pertumbuhan ekonomi yang digabung dengan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Green Climate Fund yang disetujui oleh ke-191 negara yang menandatangani UNFCC adalah aparat utama dalam memberdayakan negara-negara berkembang untuk menanamkan investasi dalam sumber energy terbaharukan, serta penyesuaian perubahan iklim (membuat perekonomian lebih tahan akan perubahan iklim yang telah atau sedang terjadi). Green Climate Fund telah diberikan tugas yang berat: agar mengumpulkan dana sebesar $100 milyar per tahun untuk negara berpendapatan rendah sebelum tahun 2020.

Negara kaya harus membiayai negara miskin untuk tiga alasan.

Pertama, mereka berhutang pada negara miskin. Sekitar 75% emisi rumah kaca selama ini dihasilkan oleh negara kaya, tetapi negara miskinlah, khususnya di daerah tropis, yang paling terpukul oleh perubahan iklim yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Jika terdapat hukum sipil versi global, negara miskin dapat menuntut negara kaya atas telah merusak iklim mereka. Namun yang ada adalah persetujuan akan kompensasi.

Kedua, telah disepakati bahwa tindakan terkait perubahan iklim harus dilaksanakan dalam konteks pembangunan. Artinya pembangunan negara miskin harusnya tidak dihambat oleh biaya penggunaan low-carbon energy dan beban adaptasi akan perubahan iklim.

Ketiga, telah disepakati pula kenyataan pragmatis bahwa tanpa dana tambahan untuk perubahan iklim, negara miskin tidak mampu mengadopsi strategi pembangunan yang menggabungkan low-carbon energy dengan penyediaan listrik universal. Mereka akan terpaksa menggunakan sistem pembangkit listrik yang biayanya lebih kecil dan sifatnya carbon-intensive.

Tetapi negara kaya belum menyepakati formula untuk mencapai target $100 milyar. Bagi yang telah berpartisipasi dalam backroom negotiations, AS-lah yang telah menolak mekanisme pendanaan yang jelas dan akuntabel. Ini sudah dapat diduga. Kini AS hampir menolak seluruh panggilan untuk membagi beban keuangan dari pambangunan berkelanjutan. Contohnya, anggaran pembangunan resmi AS, walaupun secara absolut jumlahnya besar, persentase terhadap PDBnya paling kecil bila dibanding ekonomi maju lainnya; hanya 0.18% dari pendapatan nasional.

Asas utama dari mendanai Green Climate Fund sudah jelas. Penghasil polusi harus membayar kerusakan yang mereka buat, oleh karena itu kontribusi seharusnya terkait dengan emisi karbon. Pembayaran harus berdasarkan kesanggupan membayar (dan setidaknya secara implisit berdasarkan pertanggungjawaban historis). Dan penggunaan dana harus ditujukan kepada negara berpenghasilan rendah yang membutuhkan tambahan dana tersebut.

Berikut adalah cara sederhana untuk mencapai target $100 milyar yang sejalan dengan asas tadi. Dunia akan mengadopsi dasar assessment rate sejumlah $5 per ton karbon dioksida yang dihasilkan tiap negara. Negara berpenghasilan tinggi akan membayar $5 per emisi tersebut secara full. Negara berpenghasilan menengah ke atas akan membayar setengah dari tarifnya, atau $2.5 per ton. Negara berpenghasilan menengah ke bawah akan membayar setengahnya lagi, atau $1.25 per ton. Negara berpenghasilan rendah tidak harus membayar Green Climate Fund tetapi tetap menjadi resipien. Skema penggolongan negara Bank Dunia dalap digunakan untuk mengelompokkan negara-negara sesuai income.

Dengan menggunakan laporan International Energy Agency akan emisi per negara tahun 2010, terlihat bahwa retribusi atas dasar $5 per ton akan menghasilkan $101 milyar. Beban terbesar akan ditanggung AS dengan jumlah $27 milyar atau setara 0.18% PDB. Ini mencerminkan emisi karbon dioksida AS pada tahun 2011 yang sebesar 5.4 milyar ton. Kontributor terbesar kedua adalah Cina dengan jumlah $19 milyar atau setara 0.17% PDB. Ini mencerminkan emisi Cina yang sebesar 7.7 milyar ton dengan penetapan tarif $2.5 per ton.

Misalkan negara-negara menutupi assessment tersebut melalui retribusi karbon yang disalurkan kepada konsumen melalui pom bensin dan tagihan listrik rumahan. Retribusi sebesar $5 per ton emisi karbon dioksida akan berjumlah sekitar 1.1¢ per liter, atau 4.4¢ per gallon bensin. Begitu pula dengan retribusi akan listrik yang dihasilkan pembangkit listrik batubara akan berjumlah 0.5¢ per kilowatt-jam.

Keunggulan pendekatan ini adalah keadilan –karena berdasarkan prinsip penghasil polusi yang membayar setelah dilakukan penyesuaian terhadap kesanggupan membayar— serta kesederhanaan, transparansi, dan kepastiannya. Tidak ada lagi proposal pendanaan tersedia yang mencakup sifat-sifat tersebut, dan kemungkinan tidak akan ada juga. AS telah menolak formula yang sederhana ini karena akan membuatnya bertanggung jawab sesuai besaran emisi dan kesanggupan membayarnya jika bukan atas pertanggungjawaban historisnya dalam menempatkan seluruh planet pada ketidakstabilan iklim yang kini kita hadapi.

Keunggulan lainnya adalah retribusi atas dasar emisi karbon akan mendorong negara-negara menuju intervensi dalam bentuk kebijakan domestic yang tepat: menetapkan social cost dari emisi karbon melalui carbon tax atau penjualan lisensi emisi karbon. Yang menarik adalah AS ternyata telah menetapkan social cost karbon sebesar $21 per ton karbon dioksida untuk tujuan analisis cost-benefit oleh lebaga-lembaga regulasi AS, namun pemerintah belum mengambil langkah selanjutnya yaitu dengan memasukkan social cost dari karbon tadi kedalam transaksi pasar melalui pajak pembetulan atau lisensi. Pergeseran kearah retribusi karbon global untuk Green Climate Fund akan mendorong transisi market-based menuju low-carbon energy.

 

Artikel diatas ditulis oleh Jeffrey Sachs dan dimuat dalam The Financial Times serta website Sachs.

Advertisements
Categories: Generasi Hijau | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: