Liberal Arts untuk Kualitas Demokrasi Indonesia

The School of Athens karya Raphael (1510–1511) yang menggambarkan sekolah dimana para filsuf yunani zaman dulu berkumpul dan berfilsafat

 

Iklim pendidikan di Indonesia adalah salah satu hal yang suka membuat risih sebelum tidur (not really). Dimana masih ada beberapa daerah di Indonesia yang memperbolehkan seorang guru memberi hukuman fisik jika salah satu siswanya menjawab pertanyaan dengan salah, dan dimana mempertanyakan sesuatu di kelas yang bertentangan dengan pengetahuan konvensional akan berujung pada pengucilan. Terkadang saya bertanya-tanya apakah pendidikan kita ini bertujuan untuk menghasilkan pemikir kritis dan kreatif, atau sekedar manusia patuh. Berpikir kritis berarti kita harus mengerti apa itu yang kita kritik: If we cannot control the criticism, control the information on which to base the criticism.

Dibawah ini adalah kolom opini mengenai hubungan liberal arts (rumpun ilmu yang menekankan analisis atas suatu fenomena dengan berbagai sudut pandang dan alur logika) dengan demokrasi: bahwa penyebab kebanyakan masalah di masyarakat bukanlah westernisasi atau globalisasi atau berbagai macam faktor lainnya yang bersifat eksternal, melainkan ketidaktahuan masyarakat akan peran masing-masing dan ketidakmampuan mereka dalam “menyaring” informasi. Pengetahuan dan kemampuan tersebut dipandang dapat diperoleh dari pendidikan liberal arts. Jika masyarakat Indonesia sudah mendapatkan ilmu ini, sudah terbiasa menyaring informasi, memperdebatkan suatu masalah sebelum menyetujui, tentunya dengan memasukkan segala pertimbangan termasuk nilai-nilai lokal yang diyakini, tentunya demokrasi di Indonesia akan lebih efektif dalam menghasilkan pemimpin terbaik untuk bangsa.

 

Seringkali dikatakan bahwa degradasi moral yang terlihat di masyarakat serta kekerasan yang terjadi di banyak SMA baru-baru ini merupakan hasil dari westernisasi dan sekulerisme. Namun bagi beberapa orang masalahnya bukanlah sekedar bentroknya nilai-nilai barat dan timur tetapi yang berakar pada perubahan dalam sistem pendidikan modern yang mempengaruhi seluruh dunia.

Dalam bukunya yang polemik Not For Profit: Why Democracy needs the Humanities, Martha C. Nussbaum menyatakan bahwa demokrasi dimana-mana sedang dilanda bahaya karena masyarakat semakin lama semakin dirampas akan pendidikan bersifat liberal arts yang sangat dibutuhkan agar demokrasi tersebut dapat berkembang.

Walaupun bukunya membahas beberapa negara, fokus utama adalah pada AS dan India dimana keduanya memiliki demokrasi yang terus berkembang namun keduanya juga semakin mengurangi perhatian pada pendidikan liberal arts seperti kesusastraan, filsafat, sejarah sosial dan ekonomi, serta agama. Bahkan pemerintah mereka, yang ditambah pula dengan kesepakatan global, justru mendorong perguruan-perguruan tinggi untuk mempromosikan program studi yang berorientasi profesi demi sedikit tambahan profit. “Akibat kehausan akan keuntungan nasional, negara-negara, berserta sistem pendidikan masing-masing, dengan sembarangnya mengesampingkan skill yang dibutuhkan untuk mempertahankan sebuah demokrasi… Masa depan demokrasi di dunia sedang terombang-ambing,” kata Nussbaum.

Seperti halnya Stefan Collini, seorang profesor Cambridge, menulis dalam bukunya yang lebih detil dan bertopik luas, “What are Universities For?” dalam konteks diskusi mengenai perubahan dalam sistem perguruan tinggi Inggris, ia mengajukan sebuah kritik yang sopan tapi tegas akan pandangan instrumental terhadap pendidikan yang mendominasi pendirian pemerintah mengenai perguruan-perguruan tinggi Inggris kini. Dalam bukunya Collini mengingatkan pada pembacanya bahwa jawaban dari pertanyaan J.M. Keynes, “untuk apakah ekonomi?”adalah “bahwa pencarian kekayaan bukanlah suatu akhir namun merupakan sebuah sarana untuk hidup dengan bijak dan baik.” Collini menyatakan bahwa, “pembahasan apapun mengenai posisi perguruan tinggi dalam masyarakat kontemporer akan menimbulkan rasa adanya tujuan yang sama yang melampaui tujuan pengumpulan kekayaan.”

Bahwa dua orang pemikir unggul seperti Nussbaum dan Collini dapat mengajukan pernyataan- pernyataan tadi tentang sistem peguruan tinggi mereka harusnya dapat menghasilkan rasa perlunya merenungkan bagaimana kondisi di Indonesia. Apakah perguruan tinggi kita mengikuti downward spiral seperti yang digambarkan oleh Nussbaum dan Collini, ataukah budaya pendidikan Indonesia cukup kuat untuk menolak dorongan mencari untung tadi?

Pastinya akan ada yang berpendapat bahwa budaya dari pendidikan Taman Siswa, ethos dari pesantren, serta nilai Pancasila yang mendasari sistem pendidikan nasional adalah pertahanan yang kokoh terhadap degradasi yang ditemukan di tempat lain. Bukankah Indonesia telah melakukan segala upaya untuk mencegah implementasi tanpa pemikiran lanjut akan nilai-nilai barat mencurigakan yang mungkin mengancam negara-negara lain? Tetapi ini bukanlah sekedar masalah Barat vs. Timur atau Kristen vs. Kong Hu Cu dan Islam seperti yang telah konyolnya diutarakan Samuel Huntington dalam thesisnya tentang “clash of civilizations.”

Salah satu argument Nussbaum yang terkait adalah bahwa pendidikan liberal arts, ketika diajarkan dengan benar, mendorong salah satunya pemikiran kritis yang rasional serta kapasitas untuk membayangkan bagaimana memposisikan diri kita dalam sudut pandang orang lain dengan agama, budaya, kelompok etnis, jenis kelamin, maupun endowmen fisik yang berbeda dari yang kita miliki. Dengan kata lain, dengan liberal arts kita didorong untuk melampaui latar belakang masing-masing dan untuk dapat membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Kemampuan ini diperoleh melalui diskusi, membaca, kerjasama, serta panduan terarah. Setelah kita memiliki kemampuan untuk membayangkan hal tadi melalui proses empati untuk berada di posisi orang lain, kecil kemungkinannya kita akan melihat seseorang sebagai aneh, menjijikan atau sebagai seorang musuh, dan sebagai hasil akan kecil pula kemungkinan bagi kita untuk mengucilkan atau menjauhi mereka.

Dalam dokumentasinya yang teliti akan kondisi di India, Nussbaum menunjukkan bahwa negara yang begitu bangga akan filsafat Hindu yang khas ini telah menuju arah yang sama dengan negara-negara Barat dalam meninggalkan basis liberal arts dalam budaya pendidikannya. Menurut Nussbaum, di Gujarat pengabaian tersebut telah secara tidak langsung menyebabkan dampak yang mengerikan: kekerasan antara kelompok agama pada tahun 2002 yang menelan korban sedikitnya 1000 nyawa, sebagian besarnya Islam. Jika hal ini dapat terjadi di India maka mungkin juga terjadi di negara-negara Asia lainnya.

Buku Nussbaum patut dibaca siapapun yang prihatin akan trend yang diikuti sistem pendidikan Indonesia, serta ingin tahu seperti apa alternatif dari merosotnya pendidikan liberal arts.

Meski demikian, terdapat beberapa daerah dimana kita dapat optimis. Misalnya, buku tersebut mengkritik pendidikan Singapura dalam konteks pujian Presiden AS Barack Obama bahwa sistem di Singapura layak dicontoh. “Mereka menghabiskan semakin sedikit waktu untuk mengajar hal-hal yang tidak perlu, dan lebih banyak waktu untuk hal-hal yang diperlukan.” Nussbaum menginterpretasi pernyataan tersebut sebagai penolakan implisit akan hal-hal yang diperlukan dalam sebuah demokrasi.

Namun sepertinya Singapura juga telah merubah pikiran. Dari perkembangan baru-baru ini saja terlihat bahwa mereka telah mengakui pentingnya pendidikan liberal arts dengan alasan-alasan sama yang disajikan oleh Nussbaum et al, serta telah membangun perguruan tinggi liberal arts yang akan mendorong pemikiran kritis dan pemikiran moral yang begitu penting dalam kehidupan masyarakat sipil. Indonesia dapat belajar dari re-evaluasi Singapura akan kepentingan liberal arts dalam mengembangkan karakter moral dari suatu negara.

Sumber harapan lainnya adalah keadaan di Indian Institutes of Technology (IIT) yang merupakan insititut-institut yang berprestasi di India. Demikian rupanya banyak anak-anak cerdas Indonesia bercita- cita masuk ITB, anak-anak cerdas India ingin masuk IIT dimana persaingan penerimaannya begitu ketat. Namun sepertinya mulai terlihat bahwa sekolah-sekolah IITS berserta alumninya telah menyadari bahwa skill professional yang diajarkan disana sifatnya terlalu menjurus, dan para siswa “tidak dianjurkan mempelajari teknik penelitian mandiri.” (keluhan yang mirip telah dilontarkan mengenai sekolah- sekolah berprestise di Indonesia)

Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan liberal arts telah muncul kembali, dan IIT “berada di barisan depan dalam memperkenalkan program ilmu humaniora bagi seluruh pesertanya… [yang dianggap] memegang fungsi penting dalam mendukung interaksi saling manghargai antara siswa dengan agama maupun kasta yang berbeda, dan juga mempersiapkan mereka memasuki masyarakat dimana perbedaan-perbedaan seperti tadi harus dihadapi dengan penuh hormat.” Lagi-lagi suatu contoh yang akan sangat menguntungkan untuk dipertimbangkan.

Indonesia, setidaknya bagi beberapa perguruan tinggi, tidak jauh dibelakang. Dalam institute saya sendiri, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, kurikulum S1 sejak awal telah menginkorporasikan elemen liberal arts dengan penekanan khusus pada teater, seni budaya, serta pembahasan luas mengenai organisasi sosial yang meliputi sejarah, filsafat, ekonomi, dan antropologi sosial. Mungkin lebih banyak institusi pendidikan di Indonesia dapat mempelajari model ini, ketimbang dijadikan korban dari dorongan-dorongan pemikiran arus utama yang mengajarkan semata mengejar profit. Memang ini adalah model yang harus dihargai jika kita ingin melindungi demokrasi di Indonesia.

 

Opini diatas ditulis oleh C.W. Watson, profesor emeritus di School of Anthropology and Conservation di University of Kent, serta profesor di SBM ITB, dan dimuat dalam koran Jakarta Globe, Jumat, 12 Oktober 2012.

Advertisements
Categories: Koridor Opini | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: