Niluh Djelantik: Cita-cita, Cinta, dan Sepatu

Bersantai di rumah pada malam sabtu memang nikmat, khususnya karena ada salah satu acara  TV favorit yang sering memberi saya informasi dan inspirasi baru. Untuk malam ini, sosok inspiratif yang diperkenalkan adalah Niluh Djelantik, seorang wanita wirausaha yang dari aura wajahnya, terasa sekali bahwa beliau ini merupakan pribadi yang bekerja dengan cinta. Tak heran produk yang dihasilkan pun (baca: sepatu wanita), dicintai.
Sebagai seorang anak yang hampir selalu dibelikan sepatu baru dengan dua ukuran lebih besar, cita-cita Niluh kecil adalah sangat sederhana. “bu, suatu saat nanti aku ingin membeli sepatu baru dengan ukuran yang pas”, ucapnya kepada ibunya. Hal itu pun tercapai ketika ia sudah mulai bekerja. Sepatu pertama yang berukuran pas dan dibeli sendiri pada tahun 1995 itu berbanderol harga Rp 15,000. Pas ukurannya, tapi masih  kurang nyaman dipakai katanya. Sejalan dengan peningkatan karirnya sebagai pemasar profesional dan sering safari ke luar negeri untuk menjalankan tugas, Niluh menjadi semakin mampu memanjakan kakinya, agar tampil penuh gaya dan tetap, nyaman. Sepatu pun, menjadi salah satu bagian utama dalam hidupnya.
Kisah Niluh tersebut, membuat saya kembali terpikir dengan suatu ucapan: if you want to be good, you have to be bad. Dalam artian, kita bisa menghargai dan menjaga suatu barang atau kondisi tertentu dengan baik, jika kita sudah pernah merasakan suatu barang atau kondisi yang tidak baik. Mungkin Niluh sudah hapal betul tidak nyamannya dan begitu tidak enak dilihatnya sepatu yang berukuran lebih besar, sehingga dia kapok, dan untuk sisa hidupnya dia hanya ingin sepatu yang nyaman dan cantik. Bukan hanya untuknya, tapi juga untuk wanita-wanita lainnya, baik di indonesia maupun dunia.
Saya sendiri bukanlah pemakai sepatu  wanita hak tinggi, tapi saya bisa melihat sepatu sebagai suatu karya seni. Sepatu-sepatu Niluh adalah karya seni, karena 100% hasil kerajinan tangan para seniman sepatu di Bali. Menurut pengakuannya, pengrajin Niluh bukanlah hanya pekerja, tapi juga terlibat aktif dalam proses desain, karena Niluh aktif berdiskusi dengan pengrajinnya dalam menentukan konsep desain dari suatu edisi sepatu.
Lama waktu yang diperlukan untuk membuat sepasang sepatu dapat beragam, berkisar antara 2 hari sampai 1 minggu. Selain model (desain), salah satu keutamaan produk yang Niluh selalu ingin jaga adalah kenyamanan. Untuk sepatu dengan tinggi hak sekitar 13 cm, Niluh mengatakan sepatu dapat dipakai dengan nyaman selama 6-8 jam. Hhmm, tampaknya tetap perlu dicatat bahwa yang mengatakan itu adalah pemakai sepatu hak tinggi berpengalaman yaaaa.. Kalau saya mungkin akan tetap merasakan sedikit penderitaan haha.
Anyway, harga sepatu Niluh Djelantik berkisar dari Rp 500,000 s.d 3,000,000.    Kalau ke Bali lagi nanti boleh juga kali ya mampir untuk lihat-lihat, walau melihat tinggi kebanyakan sepatunya di TV tadi membuat saya agak merasa tertekan. Tapi, penasaran juga melihat langsung merk sepatu Indonesia yang sudah pernah dipakai oleh beberapa bintang besar dunia, daaan, syapa tahu  aja ada model yang pas haha *ngarep! Tapi ga juga kok, tadi di TV Niluh bilang tidak semua hak sepatunya berukuran 13 cm kok, ada yang lebih pendek  xD *tetep ngarep. (DM)
Advertisements
Categories: Koridor Inspirasi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: